Arsyila {Princess Of My High School}

Arsyila {Princess Of My High School}
Bag 70 : Dia Milikku



...Happy Reading💓🔥...


...*******...


Sudah hampir setengah jam Arsyila tertidur dan seringkali ia mengeluarkan racauan tidak jelas dari mulutnya.


~Sst sekilas kejadian saat dirinya yang hampir terbawa ombak pun kembali sedikit demi sedikit dalam ingatan Arsyila yang kini masih terpejam.


"Kamu udah baikan?".


"Udah..Makasih, kamu yang nyelametin aku tadi ya?". Pemuda di depannya hanya mengangguk.


"Kalo bukan karna kamu, aku mungkin udah tenggelam dan di makan ikan paus". Ujarnya membuat pemuda didepannya terkekeh kecil.


"Ayo aku bantu bangun".


"Terimakasih".


"Nama kamu siapa?".


Mm apa ya yang bagus..Nama Arsyila jelek. 💡Aha! pake nama akhir aja. ~Batin gadis kecil tersebut.


"Panggil aja Nea".


"Oh okey deh".


"Kalo kamu?".


"Papa biasa manggil aku Farel".


"Farell.."


~Racau Arsyila dalam mimpi.


Razan yang masih setia menunggu Arsyila pun di buat terkejut.


"Farrel??". Beo Razan.


"Siapa Farrel?". Chika bertanya-tanya. Kebetulan disana hanya ada mereka berdua karna kondisi tenda yang tidak memungkinkan untuk di huni banyak orang dan agar Arsyila tidak merasa gerah.


"Zan? udah sadar?". Aldo masuk ke dalam dengan membawa air mineral yang sengaja dibelikan untuk Arsyila.


"Gk, dia masih ngeracau gk jelas".


"Zan kayaknya Arsyila demam, suhu tubuhnya panas banget". Adu Chika yang sedang duduk di samping Arsyila yang masih terpejam sambil mengontrol kondisinya.


Razan lalu mendekat ke arah Arsyila dan mengecek suhu tubuhnya. Benar yang dikatakan Chika, Arsyila demam.


"Do, hubungi Bus yang kita pesan, kita akan segera pulang. Minta anak-anak siapin barang-barang mereka". Perintah Razan.


Aldo yang mengerti pun mengangguk lalu mengikuti apa yang dikatakan Razan.


_________


"Aishh kok cepet banget sih pulangnya".


"Iya ihh, bukannya di pengumuman kita pulangnya jam 11 siang".


"Gue denger-denger sih karna si Arsyila sakit".


"Ish dia yang sakit, kenapa gk dipulangin sendiri aja".


"Eh gk boleh gitu..Gimana kalo lo yang sakit?".


"Aihh ini tuh gara-gara Intan sama Rehan!".


"Iya tuh! jahat banget gk si? harus dikeluarin nih dari sekolah!".


Bisik-Bisik para siswi yang akan menaiki bus sambil menyindir Intan dan Rehan yang ada di belakangnya.


"Gk usah di dengerin". Rehan mengelus sekilas punggung milik Intan lalu mengajaknya masuk ke dalam bus.


Semua murid sudah berkumpul di dalam bus tersisa Arsyila yang masih didalam pelukan Chika dan naik paling terakhir diikuti Razan dan Aldo di belakangnya.


Semua murid yang ada di dalam bus itu hanya menonton kegiatan mereka tanpa ada yang bersuara.


"Zan Arsyila duduk di kursi mana?". Tanya Chika.


"Depan".


"Oh Oke". Chika lalu membawa Arsyila untuk sampai ke tempat duduknya.


"Duduk disini ya Syil..." Ujar Chika meski tak ada jawaban dari Arsyila.


"Chik, lo ke bus kelas aja sama Aldo biar gue yang jagan dia". Pinta Razan.


"Lo yakin?".


"Iya".


"Oke deh kalo gitu kita berdua pergi dulu ya bye". Chika lalu menarik tangan Aldo dan turun dari bus tersebut setelah mendapat anggukan dari Razan.


"Kenapa liat-liat??!".


Judes Razan membuat atensi murid yang tadi memperhatikannya langsung merunduk bahkan ada yang pura-pura mengajak teman di sampingnya mengobrol. Ia tidak suka jika dijadikan bahan tontonan apalagi nanti ada yang sengaja mencari-cari bahan gosip ketika melihat dirinya sedang duduk di dekat Arsyila.


"Kak Chika..Dingin". Rengek Arsyila yang mengira orang yang disampingnya adalah Chika. Mata Arsyila masih terpejam, karna suhu tubuhnya yang tidak normal serta kepalanya yang teramat pusing membuat matanya sangat sulit untuk dibuka.


Razan hanya diam lalu membuka jaket yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Arsyila.


"Kak Chika peluk Syila lagi, masih dingin". Arsyila merengek, ia memang menjadi sangat manja saat sedang sakit begini.


"In-


Razan hampir memanggil Intan yang ada di sebelahnya karna tidak mungkin ia akan memeluk Arsyila dan mengikuti sikap manja Arsyila ini namun sayangnya Arsyila sudah lebih dulu mendusel di lengannya.


"Kak Chika kepala Syila pusing..".


Razan menghela nafas lalu mulai memijit-mijit pelan kepala Arsyila.


Tangan kirinya yang bebas ia angkat lalu merangkul pundak Arsyila dari belakang hingga Arsyila semakin dekat dengannya sesekali ia memperbaiki posisi jaketnya yang hampir terjatuh dari pundak kecil Arsyila.


Dapat ia rasakan panas dari tubuh Arsyila yang menyengat sampai masuk ke dalam baju kaosnya menerpa pori-pori di kulitnya.


Arsyila terus merengek sambil meracau tidak jelas.


"Sakit huhu...".


"Ssssut". Razan memijat-mijat kecil kepala Arsyila.


"Aissh kesempatan banget kan buat mereka makin deket!". Kesal Arlina yang duduk dibelakang Nia dan Sania.


"Siapa suruh buat Arsyila sakit". Sahut Jihan yang ada disampingnya.


"Kok nyalahin gue si?!".


"Huh". Jihan menghela nafas panjang.


"Kak Razan juga, lirik gue kek sekali!". Arlina masih menggerutu.


"Udah deh ikhlasin aja, gk capek apa ngejer kk Razan mulu, udah tau kk Razan cinta matinya ama Arsyila ". Tegur Jihan, lama-lama ia juga mulai muak dengan tingkah Arlina begitupun dengan genknya yang sudah berantakan.


Dulu sebelum ada Nia ia sangat nyaman berteman dengan Sania namun mungkin saja itu disebabkan karna Sania yang sudah mempunyai pendukung untuk melakukan kebiasaan buruknya hingga ia semakin berani dan membuat anggotanya mulai menyadari sikapnya.


"Cinta mati apaan???".


Jihan hanya memutar bola matanya malas, lalu memiringkan kepalanya ke jendela agar bisa tertidur daripada mendengar gerutuan Arlina.


Cekrek📸


"Rasain lo! siapa suruh kegatelan jadi cewek".


Gumam salah seorang siswi lalu mengirimkan hasil jepretannya ke salah satu kontak di ponselnya.


___________


Sudah sekian jam berlalu, dan kini satu persatu bus yang ditumpangi murid SMA Cakranegara sudah tiba di pintu gerbang sekolah. Ada banyak jemputan diluar serta kendaraan yang masih terparkir rapi di area sekolah yang dijaga ketat oleh satpam.


"Syil.." Panggil Razan pelan agar Arsyila terbangun. Sebelah lengannya sudah sangat keram karna ditiduri Arsyila sedari awal mendudukkan dirinya di kursi tersebut.


"Nnngh". Arsyila mengerang lalu mengangkat kepalanya dan duduk tegak sambil bersender di kursinya. Perlahan Arsyila membuka matanya dan menghadap samping.


Ia terkejut mendapati Chika yang sudah berubah rupa menjadi Razan dan tengah duduk sambil menatapnya.


"Kak Razan!"..."K..Kok kak Razan bisa duduk di sini? bukannya kak Chika??". Arsyila langsung menyerbu Razan dengan pertanyaan.


"Gue dari tadi disini". Beritahu Razan.


"Ken- ah ssst kepala aku". Erang Arsyila saat merasakan kepalanya kembali berdenyut.


"Tuh kan..Baru bangun juga udah langsung ngejos! udah tau dirinya sakit". Kini giliran Razan yang mengomentari".


"Ck".


"Syil..Nggak pulang?". Intan bangun dari tempat duduknya bersama Rehan, sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menonton perdebatan Arsyila dan Razan hingga dirinya merasa bosan, jika dibiarkan perdebatan mereka tidak akan kelar.


"Intan..Bantuin bangun".


"Hm sini, minggir dulu kak". Pinta Intan sopan lalu Razan pun menurut dan berdiri disamping Rehan.


"Gk usah, ntar ada yang salah faham". Balas Arsyila lalu berjalan melewati Razan dibantu Intan.


"Duluan kak". Pamit Rehan lalu mengikuti Arsyila dan Intan dari belakang.


"Gue udah wa Devan buat nganter lo, dia nunggu diparkiran". Ujar Intan, karna tadi Arsyila berangkat bersama Devan maka pulang pun Arsyila tetap menjadi tanggung jawabnya.


"Hm makasih".


"Mau sejauh apapun lo lari..Gue bakal tetep ngejer lo Syil, karna sekarang gue udah tau pasti siapa lo..Lo Nea, gadis yang gue cari selama ini, gk ada yang berhak milikin lo selain gue!". Gumam Razan menatap punggung Arsyila yang sudah hilang dari pandangan matanya.


___________


Drrrt


Ponsel Aydan bergetar, ia baru saja sampai setelah sekian lama perjalanan untuk kembali menuju istana megahnya. Awalnya ia tidak terlalu memperdulikan bunyi ponselnya namun nampaknya orang yang mengirimkan pesan memberikannya spam setelah tadinya sempat berjeda.


"Aish siapa sih". Gerutu Aydan sambil meraih ponsel yang terselip disakunya dan duduk diruang tamu untuk melepas sejenak rasa penatnya.


"Ini apa?!".


Aydan langsung bangkit dari duduknya dengan wajah terkejut saat melihat foto yang dikirimkan seseorang dari WA. Nampak jelas Razan yang sedang memeluk bahu Arsyila dari belakang, begitupun Arsyila yang bersandar dipundak tegap milik Razan. Seketika darah Aydan terasa mendidih.


Tanpa sepatah kata ia langsung bergegas kembali menuju mobilnya berniat menemui Arsyila untuk dimintai penjelasan.


"Eh mau kemana??". Tanya Herman yang baru saja masuk ke dalam rumah saat Aydan berjalan berlawanan arah dengannya. Aydan tak menjawab membuat papanya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setibanya di rumah Arsyila..


Tok Tok Tok


Tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.


Aydan mengetuk kembali pintu rumah Arsyila hingga ketukan kelima baru pintu besar tersebut terbuka menampakkan Arsyila yang masih terlihat pucat.


"Aydan". Arsyila sedikit terkejut lalu tersenyum paksa meski ia sedang tidak bertenaga. Aydan yang semulanya ingin marah-marah pun mencancel rencananya saat melihat wajah pucat Arsyila.


"Kamu sakit?". Tanya Aydan.


"Hm, masuk". Pinta Arsyila lalu mereka berdua pun duduk di kursi ruang tamu.


"Adhira sama bunda mana?".


"Pergi ngontrol".


"Hm..Gimana liburannya?".


"Biasa aja".


"Kok?".


"Gk ada kamu, gk ada yang istimewa". Balas Arsyila, ia tidak ingin Aydan cepat mengetahui musibah yang menimpa dirinya kemarin.


"Hm".


Aydan kenapa?


-Batin Arsyila melihat jawaban singkat Aydan.


"Kamu kapan pulangnya? kok gk ngabarin?".


"Baru pulang, baru aja nyampe rumah".


"Hah?? terus langsung kesini?".


"Iya".


"Hadeh..Emang gk bisa dilain waktu".


"Gk bisa, udah terlanjur kangen".


"Bohong..Bukan satu atau dua bulan aku kenal kamu Ay, sekarang bilang..Apa tujuan kamu langsung ke sini?".


Aydan lalu merogoh ponselnya lalu memperlihatkan foto tadi ke depan wajah Arsyila.


"Kamu bisa jelasin?".


"Ck". Arsyila berdecak lalu menghela nafas panjang.


"Masih adaa aja yang mau buat masalah".


"Ini foto kamu sama Razan kan?". Tanya aydan.


"Hm..Tapi itu gk seperti apa yang ada di gambar, pasti kamu ngeliatnya aku romantis-romantisan kan??".


Aydan mengangguk.


"Aku demam berat dari sebelum naik bus dan dianter kk Chika, terlalu pusing bikin aku sulit untuk membuka mata. Sampai duduk pun aku kira masih kk Chika yang jagain tau-taunya kk Razan. Sumpah aku gk tau kalo itu kk Razan". Arsyila mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan Aydan. Namun Aydan masih terlihat ragu-ragu.


"Ck Ay-Ay...Kamu harusnya gk boleh secepat itu percaya sama orang lain, kamu tau sendiri kan disekolah banyak yang iri sama kita. Mereka pasti mau buat kamu cemburu biar kita pisah".


"Berarti kamu gk beneran sama di Razan itu kan?". Arsyila menggeleng.


"Mana mungkin, aku masih inget kamu kok".


"Kalo inget kenapa pesan aku yang kemarin gk dibales". Aydan cemberut.


"Gk ada sinyal, aku hampir ngambek tau ngira kamu gk kasih kabar..Tau-Taunya pas nyampe rumah baru deh dapet spam".


Aydan yang mendengar itu bernafas lega, ternyata memang benar masalah yang diselesaikan dengan kepala dingin akan lebih cepat mendapat titik temu daripada mengamuk tidak jelas.


"Berarti kamu sama Razan.."


"Gk Ay, aku sama kk Razan gk ada apa-apa".


"Hm baguslah".


"BTW dapet foto dari mana??".


"Nomer gk di kenal".


"Coba sini liat hp nya".


Mulailah sisi detektif wanita bekerja.


"Nia! ish".


"Masa si??". Aydan mengambil kembali ponselnya.


"Itu nomernya Nia, hapus!".


"Hm".


"Hapuss Ayy". Kesal Arsyila lalu merebut ponsel Aydan dan menghapus nomer tersebut tak lupa memasukkannya ke daftar hitam.


"Cemburu?".


"Udah tau malah nanya! nih". Arsyila mengembalikan ponsel milik Aydan.


"Muka pucet kamu ilang".


"Iya kan? tiap hari aja tuh chattan sama cewek biar muka aku cerah ceria". Sindir Arsyila.


"Siapa yang chattan, orang dia yang ngechat duluan".


"Terserah". Arsyila menatap ke depan dengan wajah kesal.


"Hahaha capek aku ilang liat kamu ngambek soalnya makin manis".


"Oh".


"Dirumah lagi sepi ya Syil..Gimana kalo-


"Kalo apa?!". Arsyila menatap garang Aydan.


"Hehe nonton tv...Hayooo pikiran kamu kemana???". Aydan mengintrogasi membuat wajah Arsyila langsung memerah.


"Hahaahaha uuu".


"Apa si".


"Traveling".


"Gk!".


"Mess.."


"Ay!!!".


"Haha yaya nggak".


...*****...


Makasih ya yg udah sabar nungguin partnya..jangan nebak dulu, endingnya masih rahasia. Author udah usaha buat ringkes partnxa tapi takutnya gk sesuai sm yg disetting. tapi tenang aja..Gk lama bakal nympe end kok😌


See you next Chapter💓🔥