
Didalam sebuah kamar, perempuan itu terlihat sedang menangis. Dia menatap foto figura papanya yang sengaja dia bawa dari rumah.
"Pa, kenapa aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan sedikit saja?" Tanya Sherlin pada foto Papanya sambil menangis.
"Aku terlalu bodoh, Pa. Hisk... Aku pikir dia menikahiku karena dia masih mencintaiku, tapi ternyata aku salah besar. Semua itu hanya sandiwaranya saja. Dia sangat membenciku tapi aku tidak hisa membuang kenyataan bahwa aku sangat mencintainya, Pa." Tuturnya dengan air matanya mengalir deras di pipi.
"Papa. Kenapa tuhan mempermainkan takdirku? Kenapa tuhan tidak memberiku sedikit kebahagiaan? Kenapa dia selalu memberikanku cobaan yang begitu berat?" Ucap Sherlin sambil menatap foto Papanya dengan mata sembabnya karena terlalu lama menangis .
'Apakah aku mendapat kebahagiaan? Apakah suatu hari nanti aku mendapat cinta dari suamiku?'batin Sherlin.
Berlarut dalam tangis dan kesedihan membuat Sherlin terlelap dalam tidurnya.
Sedang mkan Reno pergi ke Club, menemui teman-temannya, sekalian menghilangkan stres.
"Hai Bro. Dari mana saja kau selama ini?" Tanya Ryan.
"Iya. Sudah 2 minggu menghilang entah kemana. Malah tidak bisa di hubungi lagi. Sibuk apaan sih?" Tanya Arka.
Rian dan Arka adalah teman Reno.
Mereka sudah berteman ketika Reno menjabat sebagai Ceo diperusahaannya. Mereka bertemu karena partner bisnis.
Ryan adalah Ceo di sebuah perusahaan yang diwariskan oleh orangtuanya. Sedang kan Arka adalah seorang artis yang bernaung di perusahaan Reno.
"Gue sibuk mengurus pernikahan."
Ucap Reno sambil meminum wine yang sudah disediakan diruangan Vvip itu.
"Kau sudah menikah?" Tanya Rian.
"Hmm." Gumam Reno.
"Kapan?"
"2 hari yang lalu."
"Kau sudah nikah malah datang ke sini. Bukan seharusnya kau menikmati indahnya pernikahan bersama istrimu. Apalagi masih hangat-hangatnya. Malam pertama gimana?" Ucap Arka tapi dia malah mendapatkan tatapan mematikan dari Reno.
"Kau bisa diam gak?" Ucap Reno dengan ketus.
"Tidak ada. Gue menikah dengannya hanya karena terpaksa. Gue menerimanya sebagai istri supaya aku bisa membalaskan sakit hatiku padanya. Aku akan menyakitinya,setelah puas aku akan menceraikannya dan membuangnya." Tutur Reno dengan emosi dan sudah dalam keadaan mabuk lantaran Reno sudah minum terlalu banyak .
"Jika kau tidak menyukai istrimu dan kalau kau tidak mau. Kau bisa beri dia padaku.
Kan sayang kalau dia dianggurin." ucap Ryan.
"Diam kau." Ucap Reno dalam mode marah.
"Walau pun aku membencinya tapi dia hanya milik lku. Aku tidak suka memberikan peliharaanku pada orang lain sebelum aku puas menyakitinya.Setelah puas baru aku akan membuangnya." Ucap Reno.
"Santai bro aku hanya bercanda," kata Ryan.
"Kau tidak menyesal menyakitinya? Entar kau akan menyesal. Ingat bro penyesalan itu selalu akan datang terakhir." ucap Arka memperingatinya.
"Baiklah. Sekarang saja kau bilang benci. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. " Ucap Arka.
"Kau apa tidak bisa diam? Mulutmu terlalu banyak bicara." Ucap Reno kesal dan marah.
"Ok. Gue akan diam." Ucap Arka.
Malam pun makin larut akhirnyanya Reno pulang ke rumah, dia antar oleh temannya karena Reno dalam keadaan mabuk berat.
Ryan dan Arka takut akan terjadi sesuatu nanti di dalam perjalanan jika Reno pulang sendiri apalagi dalam keadaan mabuk seperti itu.
Sesampainya di mansion, mereka memencet bel rumah itu dan ternyata Sherlin yang membukakan pintu.
Perempuan itu ternyata menunggu kepulangan Reno. Bukan hanya itu dia juga sudah menyiapkan makan malam untuk Reno karena itu adalah kewajibannya sebagai istri.
"Reno? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Sherlin.
"Dia tidak apa-apa. Dia hanya mabuk." kata Arka.
'Apa dia istrinya Reno? Kalau iya, dia terlihat sangat cantik tapi kenapa Reno sangat membenci nya?' batin Ryan.
"Oh, terima kasih karena sudah mengantarnya." Ucap Sherlin dengan lembut.
"Iya sama-sama. Kalau begitu kami pergi dulu." Ucap Ryan sambil memberikan Reno pada Sherlin.
Mereka pun pergi. Sherlin memapah Reno yang masih dalam keadaan mabuk menuju kamarnya dilantai atas dengan jalan sempoyongan.
Tapi belum sampai tangga, Reno mendorong Sherlin dengan kuat sehingga Sherlin terjatuh ke lantai.
"Jangan sentuh aku." Ucap Reno yang merasa jijik dengan Sherlin.
"Kau jangan memainkan peranmu sebagai istri yang baik dihadapanku karena aku sangat merasa jijik melihatmu." Ucap Reno sambil menjambak Sherlin.
"Kau tidak perlu mengurusiku. Aku tidak perlu itu, lebih baik kau urusi saja urusanmu." Ucap Reno lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Sherlin yang menangis.
Para pelayan di sana merasa kasihan terhadap Sherlin melihat perbuatan dan perkataan Tuannya.
Ternyata mereka sedari tadi menyaksikan kejadian itu.
Sherlin pergi kekamar. Ia cukup malu ketika dirinya di tonton oleh para pelayan mansion itu.
sesampai dikamar ia membaringkan tubuhnya di kasur yang kecil itu, dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang tipis.
Selama dikamar dia hanya menangis mengingat kejadian tadi. Malam pun semakin larut dan Sherlin pun akhirnya terlelap dalam tidurnya.
***
Selamat membaca ya readersku
Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya
Jangan lupa untuk terus di baca ya