
Sherlin pun keluar dari manshion itu.
Ternyata diluar masih ada Heri yang masih setia menunggu kedatangan Sherlin.
"Ayo kita pergi dari sini, kau tidak perlu berurusan dengan Reno lagi"ucap Heri.
"Aku tidak tau mau ke mana lagi Heri, aku tidak mungkin pulang kerumah.Aku tidak ingin mama sedih melihat keadaan ku yang seperti ini "ucap Sherlin yang sangat bingung dengan keadaan nya saat ini.
"Ya sudah kita ke rumah ku dulu,yang penting kita pergi dari tempat ini"ucap Heri.
Kemudian pun meninggalkan rumah besar itu. Bi Ina dan Pak Tarno sangat sedih melihat kepergian Sherlin,karna mereka sudah menganggap Sherlin sebagai anak nya sendiri.
"Semoga kau mendapatkan kebahagiaan mu nak"batin Bi Ina yang melihat mobil Heri yang meninggalkan mansion itu.
Mereka pun sudah sampai di rumah Heri.Rumah itu lumayan besar dan cukup luas.
Mereka pun masuk dan di sambut oleh Ibunya Heri.
"Siapa gadis cantik yang kau bawa ini nak?"ucap Mama Heri.
"Dia teman ku Ma nama nya Sherlin,malam ini dia akan menginap disini"ucap Heri pada Mamanya.
"Baiklah,ayo mari masuk Nak Sherlin "ucap Mama Heri pada Sherlin dan membawa nya kedalam rumah tapi meninggalkan Heri seolah Heri itu tidak terlihat.
"Ma,aku juga anak mu!! Bahkan juga anak kandung mu. Kenapa sih mama tidak mengajak ku juga"ucap Heri kemudian menyusul kedua wanita itu.
Sherlin dan Mama Heri hanya tertawa mendengar omongan nya Heri.
Malam ini Sherlin pun menginap di rumah Heri.
Reno di mansionnya hanya meminum minuman berakohol,dia masih sangat sedih atas kematian adiknya.
Dan dia bersumpah akan membunuh pelaku pembunuh adiknya yang itu.
~~
Dipagi hari Sherlin pun memutuskan untuk pergi dari rumahnya Heri.
Dia meninggalkan sepucuk surat di nakas meja itu dan kemudian pergi disaat pemilik rumah itu masih tidur .
Jam 7 pagi Heri mengetok pintu kamar yang di tempati Sherlin.
"Sherlin, apa kau sudah bangun??"ucap Heri berkali kali.
Saat Heri tak mendapati jawaban dari Sherlin, Heri pun memutuskan untuk masuk ke kamar itu.
"Pintunya tidak di kunci "batin Heri
Dia ternyata tak melihat tanda tanda keberadaannya Sherlin,tapi malah melihat sepucuk surat yang ada pada nakas di kamar itu.
Kemudian dia mengambil surat itu dan membacanya.
Hai Heri
Saat kau baca surat ini mungkin aku sudah pergi jauh
Hehehe..
Aku minta maaf karna tidak pamit sama mu dan juga tante.
Aku sangat berterima kasih sekali padamu, karna masih peduli sama ku.
Reno memang benar, aku hanyalah wanita sial, yang selalu membuat kesialan dan masalah untuk orang lain.
Untuk itu aku sudah memutuskan untuk pergi jauh Heri.
Jauh sekali...
Sampai kalian tidak bisa menemukan kan wanita sial seperti ku.
Aku mohon pada mu untuk tidak mencari ku
Aku hanya ingin sendiri saja untuk saat ini. Sampai aku bisa merubah nasib ku yang sangat buruk ini.
Kau jangan khawatir, aku akan baik baik saja disana dan aku juga bisa menjaga diri ku sendiri.
Dan satu lagi, jangan beritau hal ini pada sahabat sahabat ku dan juga Mama ku
Aku tidak ingin mereka bersedih karna diriku.
Aku tidak mau kalau hal itu terjadi
Sekali lagi terima kasih Heri
Selamat tinggal
Dari Sahabat mu
Sherlin Liliana Sanjaya
Heri yang membaca itu sampai menitikkan air mata.
Dia sangat sedih kenapa Sherlin lebih memilih meninggalkan nya saat dia memiliki banyak beban hidup yang sangat sulit untuk nya, daripada tinggal bersama nya dan berjanji akan membuat Sherlin bahagia.
Bagaimana tidak,saat sedang menuju keruangan nya dia menampilkan raut wajah dingin dan mematikan sehingga para karyawan kantornya takut untuk bertatap muka dengan Reno.
Bahkan Doni dan Meli pun sampai tidak mau mengajak Reno untuk mengobrol.
Paling jika hanya ada hal yang penting untuk dibicara mengenai bisnis saja baru mereka menemui Reno.
Hari ini ada seorang pria yang ingin mengunjungi Reno di kantor nya,dan dia memaksa untuk bertemu dengan Reno.
Akhirnya Resepsionis pun mengijinkan dia masuk dan pria itu pun memasuki ruangan Reno.
"Siapa yang mengijinkan mu masuk keruangan ini?"ucap Reno saat dia melihat pria dihadapan nya.
"Aku ingin menjelaskan soal kejadian di mall itu.Sebenarnya aku bukan kekasih nya Sherlin. Aku hanya berpura pura supaya aku bisa menghancurkan hidupnya"ucap pria itu yang ternyata adalah Candra.
"Apa sebenarnya maksud mu?"tanya Reno dengan geram.
"Aku sebenarnya sedang bersandiwara saat itu, agar rencana ku dan Aurellia tidak terbongkar.Jadi kami membuat rencana untuk mencelakai Sherlin dengan menabrak nya agar dia bisa bungkam.Tapi kami terkejut dengan kedatangan Cherly yang mendorong Sherlin ketepi jalan dan membuat Cherly yang menjadi target nya.Aku sangat sedih karna aku membunuhnya wanita yang sudah mulai aku sukai.Dan untuk menebus kesalahan ku,aku akan menceritakan semua nya pada mu dan kamu bisa menghukum ku "ucap Candra yang menjelaskan pada Reno.
Reno yang mendengar perkataan Candra yang mengatakan bahwa dia yang menyebabkan kematian adiknya langsung meninju Candra.
"Brengsek!! Jadi kau yang membuat adik ku meninggal dunia hah"ucap Reno sambil melayang pukulan secara bertubi tubi.
"Aku tidak akan memaafkan mu dan aku akan membunuh mu ********.Jangan harap aku bisa memaafkan mu, meski kau mengatakan bahwa kau menyukai nya"ucap Reno yang masih menghajar Candra.
Candra hanya diam tak membalas, karna ini mungkin hukuman yang harus dia terima.
Doni yang mendengar keributan dari ruangan bos nya, langsung masuk dan melerai pertikaian itu.
"Bos, nanti dia bisa meninggalkan dunia"ucap Doni menghentikan Reno.
"Biarkansaja, justru aku akan senang jika dia bisa meninggalkan dunia dan menyusul neraka sana"ucap Reno yang sudah diamankan Doni.
"Aku akan membawa nya ke kantor polisi, agar dia bisa di hukum atas tindakan nya"ucap Doni yang membawa Candra keluar dari ruangan itu menuju kantor polisi.
Dia tidak mau kalau bos nya nanti yang malah jadi tersangka kasus pembunuhan.
Reno pun bergegas menuju ke apartemen nya Aurelia.
Tadi Reno mendengar bahwa Candra bekerja sama dengan Aurellia.
"Aku tidak akan memaafkan mu jika kau juga terlibat dalam hal ini Aurel"batin Reno yang sudah membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Saat dia sudah diapartemen,Reno langsung menuju kedalam. Belum dia memutar knop pintu dia mendengar suara Aurelia.
"Brengsek, kenapa Candra menyerah kan diri kepolisi.Bagaimana dengan rencana ku untuk mengambil semua harta Reno"ucap Aurellia yang marah ketika dia tau bahwa candra sudah di bawa ke kantor polisi.
Dan dia juga tidak tau bahwa Reno sudah mendengar omongan nya.
"Aku harus merencanakan sesuatu "ucap Aurelia.
"Apa yang ingin kau rencana lagi ?"ucap Reno.
"Eh Sayang, kau kok tidak bilang kalau mau kesini"ucap Aurellia yang sedang bersandiwara.
"Kau jangan memanggil ku seperti itu dengan mulut mu wanita murahan"ucap Reno sambil mencengkeram dagu Aurellia.
"Auuw sakit Reno!!Lepaskan.Dan kenapa kau berbicara seperti itu?"ucap Aurelia sambil mendorong tangan Reno.
"Kau mau tau kenapa?? Ini!!! "ucap Reno sambil melemparkan Handphone Cherly yang ternyata ditemukan Reno didepan apartemen itu.
Ternyata waktu itu handphone Cherly terjatuh saat Cherly pergi meninggalkan tempat itu.
Reno yang melihat Hp adik nya langsung membuka handphone yang tanpa kata sandi itu.
Dan saat dibuka ternyata itu berisi video panas Candra dan Aurelia yang mungkin direkam adiknya.
Aurelia yang melihat video itu cukup terkejut.
"Hahaha,akhirnya kau mengetahui nya"ucap Aurelia yang tiba tiba tertawa.
"Baguslah,meskipun rencana ku tidak berhasil setidaknya aku sangat senang melihat orang orang yang mencintai mu sudah tersakiti.Adik mu sudah meninggal dunia dan kau sudah bercerai dengan Sherlin.
Lagipula kau tidak bisa memenjarakan aku karna yang membunuh adikmu adalah dirinya sendiri,siapa suruh dia menjadi pahlawan kesiangan untuk menggantikan Sherlin"ucap Aurelia dengan senang.
"Sialan kau"ucap Reno yang ingin menampar Aurellia, tapi langsung ditepis Aurelia.
"Kau pergi dari sini karna aku sudah tidak sudi melihat mu"ucap Reno yang sudah gelap mata dengan kemarahan nya.
"Baiklah aku akan pergi dari sini, dan aku pun sudak muak melihat mu"ucap Aurellia yang kemudian pergi.
***
Maaf jika ada typo yang berserakan dan penyusunan kata nya tidak beraturan.
Selamat membaca
Jangan lupa beri like dan komentar, serta jadikan favorit kalian ya.