Always Love You My Husband

Always Love You My Husband
Season 2 ( 51 )



Tanpa basa basi, mereka pun kini dilarikan ke rumah sakit. Begitu juga dengan Admaja, Polisi pun juga turut ikut ke sana untuk memastikan dan mengawasi Admaja jika dia masih bernyawa.


Setelah sampai di rumah sakit, Amanda pun langsung di bawa ke ruang operasi untuk di periksa oleh tim medis. Dokter yang bertugas untuk memeriksa kondisi Amanda merasa sedikit khawatir, pasalnya tubuh Amanda yang ada di ruang operasi itu mendadak tidak ada indikasi detak jantung.


( Reno dan Calvin di bawa ke ruangan lain. Di rumah sakit itu kan banyak dokter, jadi mereka di periksa masing-masing di ruangan yang berbeda. Jadi adegan mereka di periksa di skip ya teman-teman. Author hanya fokus pada Amanda saja. Wkwkwk)


Sherlin dan yang lainnya, kini sudah tiba di rumah sakit dengan raut wajah cemas bercampur dengan rasa khawatir setelah mendapat kabar dari Albert kalau mereka semua dalam keadaan terluka.


Sherlin terlihat menangis di dekat pintu ruang operasi itu. Orang yang paling dia sayangi kini sedang terluka dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Albert menyuruh Clara untuk menghibur Sherlin. Dia tahu kalau jiwanya saat ini sedang tergoncang saat melihat suami dan anaknya dalam keadaan seperti itu.


Beberapa jam kemudian dokter pun kini sudah keluar dari ruang operasi itu dan Sherlin pun langsung bergegas bertanya bagaimana keadaan putrinya di dalam sana?


Sherlin tadi cukup merasa lega saat melihat suaminya sudah baik-baik saja. Reno hanya luka di bagian lengan kakinya dan itu sudah di obati oleh dokter.


Kini yang dia khawatirkan adalah putrinya. Dokter pun menjelaskan kalau keadaan Amanda sangat ini sangat mengkhawatirnya.


Ternyata peluru berkaliber 20 mm itu mengenai jantung Amanda. Kini Amanda dalam keadaan kristis dan terlihat banyak beberapa alat yang tidak tahu apa fungsinya menempel di tubuhnya.


Dokter mengatakan kalau Amanda harus melakukan pencangkokan alias transplasi jantung dan harus mendapatkan donor jantung secepatnya.


Dokter juga mengatakan kalau peluru itu ternyata melukai bagian jantung koroner Amanda hingga tidak berfungsi dengan baik lagi.


Sherlin langsung jatuh tersungkur ke lantai di saat dokter itu sudah masuk ke dalam ruang Amanda untuk memeriksa keadaan putrinya.


Sherlin tidak tahu harus mau berkata apa-apa lagi. Putrinya kini hanya hidup dan bergantung pada alat-alat yang menempel padanya. Donor jantung. Di mana dia harus mencari dan mendapatkanya? Apakah dirinya boleh mendonorkan jantung pada putrinya? Memikirkan itu membuat tubuh Sherlin lemah dan akhirnya dia pun tak sadarkan diri lagi.


Clara pun menyuruh Albert untuk membawa Sherlin ke ruangan yang ada di rumah sakit itu agar kondisi tubuh Sherlin dapat di periksa oleh perawat.


🌷🌷🌷


Sekitar dua minggu lebih, Akhirnya Reno sudah terlihat baikan. Kini Sherlin dan Reno sedang ada di ruangan Amanda dan melihat putri mereka yang hanya terbaring lemah di ranjang itu.


Raut wajah sedih tergambar jelas pada wajah mereka. Mereka tidak bisa menyalahkan siapapun atas apa yang sedang mereka alami saat ini. Ini takdir dari Tuhan dan mereka tidak bisa menentangnya apalagi menghindarinya. Semuanya terjadi begitu saja tanpa ada perencanaan.


Di ruangan lain, Calvin hanya duduk terdiam di atas kasur yang ada di rumah sakit itu. Semua terasa gelap dan hening. Tiba-tiba Calvin mendengar suara pintu yang terbuka.


“Good morning Son!”ucap Albert yang datang bersamaan dengan Clara.


“Pagi sayang!”sapa Clara pada putranya.


“Mom, mana Amanda? Tolong antarkan aku ke ruangannya! Aku sangat mengkhawatirkannya”tanya Calvin sambil mencari keberadaan orangtuanya.


“Mom di sini sayang!”ucap Clara sambil memegang tangan putranya.


Clara sangat sedih melihat kondisi Calvin saat ini. Dia sangat terluka saat mendapat penjelasan dari dokter kalau putranya ternyata mengalami kebutaan permanen akibat cairan yang mengenai matanya yang terjadi gudang saat itu.


Sedangkan Calvin hanya pasrah saat dokter mengatakan kalau saat ini dia belum mendapatkan donor mata yang cocok untuknya.


Sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan itu, yang dia butuhkan saat ini adalah hanya ingin menemui Amanda, tapi orangtuanya selalu mengatakan kalau mereka akan mengantarkannya jika dia sudah cukup pulih.


“Kau harus pulih dulu, baru Mommy akan mengantarmu menemui Amanda”ucap Clara sambil mengupas kulit apel untuk Calvin.


“Aku tidak akan sembuh Mom kalau aku belum mendapatkan donor mata yang cocok untukku!”ucap Calvin yang berteriak.


“Apa yang terjadi pada Amanda? Kenapa kalian tidak ada yang mau mengantarkanku untuk menemuinya? Apa dia baik-baik saja? Jika saja aku tidak buta, aku sudah akan pergi untuk menemuinya tanpa bantuan kalian!”ucapnya lagi sambil menangis.


“Son, kau tenanglah dulu”ucap Albert sambil memeluk putranya.


“Aku hanya ingin menemui Amanda, Dad!”ucap Calvin yang masih menangis dalam pelukan Albert.


Hati Clara sebagai Ibu terasa sangat sakit dan perih saat melihat putranya menangis seperti itu.


Tak mau terlarut dalam kesedihan, kini Clara ingin memberi sarapan kepada putranya itu. Dia begitu telaten menyuapi bubur ayam itu ke dalam mulut Calvin.


Setelah memberi sarapan kepada Calvin, Albert dan Clara permisi kepada Calvin untuk pergi sebentar. Mereka mengatakan pada Calvin kalau mereka ingin menemui dokter untuk menanyakan tentang kemajuan kondisi Calvin sekaligus ingin menanyakan soal donor mata untuk putranya itu.


Mereka juga berjanji kepada Calvin. Jika mereka sudah selesai menemui dokter, mereka berjanji akan mengantarnya untuk menemui Amanda di ruangannya.


Calvin terlihat senang saat orangtuanya berkata seperti itu. Dia pun menyuruh orangtuanya untuk segera pergi, dan tak lupa Calvin juga berkata pada Albert dan Clara agar cepat kembali.


Clara mencium kening Calvin sebentar, setelah itu pun mereka pergi dari ruangan itu. Tapi ada yang cukup aneh dari arah langkah mereka kerena langkah mereka bukan mengarah ke kantor dokter melainkan ke sebuah ruangan seseorang.


Calvin kini berdiam diri lagi dalam kegelapan dan keheningan. Sejenak dia menghelakan nafasnya. Dan meratapi nasibnya yang terlalu menyedihkan.


“Sekarang aku buta! Apa mungkin aku juga tidak akan melihat lagi untuk selamanya?”Calvin yang terlihat tersenyum pahit meratapi nasibnya.


“Tidak selamanya dek! Jika pendonornya sudah ada, maka kamu bisa melihat lagi!”ucap seorang perawat yang masuk ke dalam ruangan Calvin untuk mengganti cairan infus milik Calvin.


“Itu pun kalau ada yang mau mendonorkannya!”ucap Calvin dalam hatinya.


Setelah itu Calvin hanya diam membisu dan membiarkan dua perawat itu menyelesaikan pekerjaannya.


Tak lama kemudian, perawat itu menyingung soal nama yang sangat akrab di dengarnya. Amanda! Itulah yang Calvin dengar. Mungkin dia memang buta tapi telinganya masih berfungsi dan dia dapat memastikan kalau perawat itu mengatakan sesuatu soal Amanda.


“Maaf, apa anda barusan ada menyebut nama Amanda?”tanya Calvin.


“Iya dek. Aku merasa sangat prihatin melihatnya kondisinya yang kini terbaring lemah. Pokoknya aku selalu merasa kasihan setiap kali aku masuk ke dalam ruangannya!”ucap perawat itu.


“Bagaimana keadaan saat ini?”tanya Calvin yang merasa sangat khawatir.


“Kondisinya sangat kritis, dek! Saat ini dia sangat membutuhkan donor jantung tapi sampai sekarang belum ada orang yang bersedia untuk mendonorkannya”ucap perawat itu.


“Kayak mana mau mendonorkan jantung, soalnya semua orang belum pada ada yang mau mati dulu!”ucap perawat yang satunya lagi.


“Donor jantung?”tanya Calvin yang hanya mengabaikan perkataan perawat yang satu lagi.


“Iya. Anak gadis itu saat ini sangat membutuhkan jantung seseorang yang masih berfungi dengan baik, kerena jantung koronernya ada yang terluka akibat peluru yang mengenai jantungnya itu”jelas perawat itu.


“Tolong antarkan aku ke ruangannya!”pinta Calvin yang terlihat memohon sekali kepada perawat itu.


“Tapi orang tua anda berpesan untuk---“ucap perawat itu


“Gadis itu adalah kekasihku! Aku sangat ingin menemuinya!”ucap Calvin sekali lagi.


Perawat itu tidak tahu harus berkata apa-apa lagi saat ini. Mereka cukup kasihan melihat pasangan itu. Yang satu butuh donor mata dan yang satunya lagi membutuhkan donor jantung. Sungguh Tragis sekali. Itu lah yang mereka simpulkan.


Mereka pun bersedia membawa Calvin menuju ruangan Amanda.


Sesampainya di depan pintu ruangan itu, perawat langsung membuka pintu itu dan ingin masuk tapi tiba tiba Calvin berkata dan menghentikan langkah mereka.


“Terima kasih karena sudah mau mengantarku sampai ke sini! Kalian sudah boleh pergi! Aku akan masuk sendiri saja”ucap Calvin.


Para perawat itu pun pergi dari tempat itu. Calvin ingin masuk tapi langkahnya terhenti saat dia mendengar suara orangtuanya terdengar dari dalam ruangan itu.


“Mereka ada di sini! Bukankah mereka mengatakan kalau mereka ingin menemui dokter?”batin Calvin.


“Kenapa mereka tidak ada memberitahukanku yang sebenarnya mengenai kondisi Amanda?”batin Calvin lagi.


Calvin pun berdiam diri di dekat pintu ruangan itu. Dia hanya fokus mendengar suara dokter yang menjelaskan kondisi Amanda kepada orang yang ada di dalam ruangan itu.


Dokter itu mengatakan kalau Amanda harus segera mendapatkan donor jantung secepatnya. Karena itu tidak akan baik bagi tubuh Amanda jika tubuhnya selalu bergantung pada alat-alat yang menempel pada tubuhnya itu.


“Peluru itu seharusnya mengenaiku! Tapi Amanda malah menyelamatkanku dan membuat kondisinya menjadi buruk seperti itu”batin Calvin yang merasa sakit saat mendengar dokter menuturkan soal kondisi Amanda.


“Aku yang akan menjadi pendonor untuk Amanda!”ucap Calvin dan membuat orang yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut.


“Calvin!! Kenapa kau bisa sampai di sini?”ucap Clara saat melihat Calvin yang berjalan ke arah mereka sambil meraba raba sekitarnya.


“Siapa yang mengantarmu sampai ke sini?”ucap Clara lagi.


“Itu tidak penting Mom!! Kenapa kalian menyembunyikan hal ini di belakangku?”ucap Calvin yang marah pada orang yang ada di dalam ruangan itu.


“Maaf, nak Calvin!! Sebenarnya kami tidak ada niat untuk menyembunyikan semua ini darimu, kami hanya tidak ingin kau---“ucap Reno.


“Biar saya yang menjadi pendonor jantung untuk Amanda, dok”ucap Calvin yang berbicara pada dokter itu.


“Tolong anda pikirkan lagi nak! Anda masih muda, perjalanan anda masih panjang---”ucap dokter itu tapi terpotong.


“Ini sudah keputusanku, Dok. Seharusnya aku yang ada di posisi Amanda saat ini. Dan sekarang aku rela mati untuk dia”ucap Calvin yang bertekad.


“Nak, secepatnya kita pasti akan mendapatkan pendonor untukmu dan juga untuk Amanda”ucap dokter itu lagi.


“Tapi anda mengatakan kalau Amanda harus mendapatkan donor jantung secepatnya”ucap Amanda


“Saya memang berkata seperti itu dan kita berdoa saja semoga secepatnya ada yang mau mendonorkan jantung untuk Amanda”jelas dokter itu.


“Sebenarnya tadi ada pasien yang sudah meninggal karena kecelakaan tapi kondisi jantungnya ternyata juga tidak berfungsi dengan baik dan itu akan sia-sia saja jika kami melakukan transplasi ke jantungnya Amanda”jelas dokter itu.


“Biar saya yang akan jadi pendonor untuk Amanda, dok! Aku mohon”ucap Calvin.


“Tapi---“ucap dokter itu.


“Lagian aku sedang buta dan aku tidak mau Amanda melihat diriku yang seperti ini”ucap Calvin lagi.


“Dokter sudah katakan kalau mereka akan mendapatkan pendonornya untuk kalian berdua secepat mungkin!”tegas Albert.


“Tidak Dad, aku sudah memutuskan untuk mendonorkannya!”ucap Calvin.


“Aku tidak tega melihat Amanda berbaring lemah seperti itu”ucap Calvin lagi.


“Lalu bagaimana dengan Mommy? Apa kau tidak memikirkan perasaan Mommy? Apa kau ingin meninggalkan Mommy sendirian”ucap Clara.


Calvin berjalan sambil meraba-raba sekitarnya untuk mendekati Mommynya. Clara langsung memegang tangan Calvin yang terlihat berusaha mencari wajah nya.


Terlihat Calvin mengelus wajah Clara di saat tangannya sudah menyentuh wajah mommynya yang paling dia sayangi.


“Aku sangat menyayangimu Mom! Sangat!”ucap Calvin dengan nada suara yang terdengar bergetar.


Clara menangis mendengar putranya yang berkata seperti itu, sedangkan Albert hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Mereka seakan-akan berat untuk menerima keputusan yang di buat oleh Calvin kali ini.


Kini giliran Reno yang mendekati Calvin. Dia juga terkejut mendengar keputusan Calvin yang ingin mendonorkan jantungnya untuk putri kesayangannya.


“Calvin!”panggil Reno sambil memegang pundak Calvin.


“Paman sangat terharu melihat tindakanmu yang sangat membuktikan kalau dirimu benar-benar sangat tulusmencintai putriku. Tapi kali ini Paman sarankan agar kau jangan ambil keputusan sendiri tanpa merundingkannya dengan orangtuamu. Aku juga tidak setuju kalau kau ingin jadi pendonor untuk putriku”ucap Reno.


“Benar nak! Coba kau pikiran perasaan Ibumu! Apa kau ingin meninggalkannya? Kita berdoa saja semoga tuhan memberikan pertolongan untuk kita”ucap Sherlin yang juga ikut mencoba membujuk Calvin.


“Keputusanku sudah bulat dan tidak seorang pun bisa mengubah lagi!”ucap Calvin.


“Mom, dengarkan aku!!”ucap Calvin yang kini sudah beralih berbicara dengan Clara.


“Mom! Jika saja saat itu Amanda tidak datang tepat waktu, mungkin aku juga akan mengalami hal seperti yang dialami oleh Amanda, atau mungkin bisa saja aku sudah meninggal dunia seperti Paman Admaja”ucap Calvin.


“Mom, aku mohon padamu untuk mendukung keputusanku! Aku sangat bahagia bisa menjadi anakmu dan aku juga berharap agar bisa lagi untuk menjadi anakmu di kehidupan selanjutnya”ucap Calvin yang terlihat menangis sambil memohon kepada Clara.


“Kenapa harus keputusan yang ini?”ucap Clara tidak kuasa menahan kesedihannya pun kini sudah menitikkan air matanya.


“Mommy tanya sekali lagi? Apa kau yakin dengan keputusanmu?”tanya Clara dengan air mata yang sudah jatuh berderai membasahi pipinya.


“Calvin sudah sangat yakin Mom! Calvin sangat mencintai Amanda dan Calvin tidak ingin melihat Amanda terbaring lemah seperti itu”ucap Calvin yang kini sudah memeluk Clara untuk mencoba untuk menguatkan dirinya.


“Albert, bagaimana ini?”tanya Clara.


Albert menghela nafasnya yang terasa sangat sesak dan sangat susah untuk dikeluarkan. Dadanya juga terlalu sesak untuk menahan agar dirinya tidak menangis. Dia sebenarnya tidak ingin putranya mengambil keputusan yang menurutnya sangat bodoh sekali. Tapi dia berpikir lagi dan mencoba untuk tidak egois. Apa yang dikatakan Calvin memang benar. Jika Amanda tidak datang saat itu, mungkin Calvin juga akan mengalami nasib seperti yang dialami oleh Amanda saat ini, atau bahkan bisa saja Calvin sudah meninggal dunia.


“Jika itu sudah jadi keputusannya dan dia sudah tekad untuk tidak mau mengubah keputusannya itu, maka aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengubah keputusannya itu”ucap Albert.


Kemudian dia pergi ke arah jendela untuk menghindari tatapannya pada Calvin agar dirinya tidak menangis jika dia terus menatap putranya yang terlihat masih menangis.


“Tuhan, bagaimana mungkin aku harus merelakan kepergian putraku?”ucap Clara sambil menangis tersedu.


“Baiklah, terserahmu Calvin!! Mommy tidak tahu harus melakukan apa-apa saat ini?”ucap Clara sambil memeluk Calvin dengan erat.


“Mom, tolong antar aku ke ranjangnya Amanda”pinta Calvin.


Clara pun menuntun Calvin menuju ke ranjang Amanda yang kini hanya terbaring lemah.


Kini Calvin sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang Amanda.


Calvin memegang tangan Amanda dan menciumnya.


“Sayang, kenapa kau masih tidur saja?”ucap Calvin yang berbicara lembut pada Amanda yang tengah memejam matanya itu.


“Maafkan aku ya! Jika di saat kau sudah membuka matamu dan kau tidak ada melihat diriku, kau jangan mencariku ya! Karena diriku sudah pergi jauh, tapi kau jangan khawatir kerena aku selalu ada di dekatmu. Karena jantungku akan selalu terus berdetak di dalam dirimu”ucap Calvin sambil menghapus air matanya.


“Terima kasih karena sudah mencintaiku! Bahkan aku sangat terkejut di saat aku mengetahui kalau kau lebih menyukai Calvin yang terlihat culun itu”ucap Calvin sambil tersenyum pahit.


“Kau ingat dengan janji dan lagu yang kita nyanyikan saat lomba di sekolah waktu itu? Aku yakin kau masih mengingatnya! Akhirnya aku bisa menepati janjiku! Kita pernah saling berjanji untuk saling mencintai sampai hari di mana maut akan memisahkan kita, dan sialnya hari itu akan segera tiba! Aku akan pergi Amanda! Aku akan pergi untuk selamanya! Demi dirimu aku rela memberi nyawaku agar kau dapat bertahan hidup, sayang! Saat ini aku hanya akan menatapmu sampai aku puas dan ikhlas untuk melepaskanmu agar aku dapat pergi dengan tenang. Sekali lagi maafkan aku karena tidak bisa selamanya untuk berada di sampingmu dan menemanimu!! Keinginanku untuk menikahimu harus pupus sampai disini saja”ucap Calvin yang menangis terisak-isak.


Orang yang ada di dalam ruangan itu merasa sangat sesak dan tidak tahan menahan kesedihan saat mendengar Calvin berkata seperti itu pada Amanda.


“Berat rasanya jika suatu saat kau akan melupakanku dan hatimu akan dimiliki oleh laki-laki lain!”ucap Calvin.


“Tapi Amanda, kau harus ingat satu hal! Jika suatu saat kau sudah berpaling hati! Kau harus datang ke rumahku! Dan ya, kau jangan lupa kalau kau juga harus membawanya datang bersamamu saat hari itu datang”bisik Calvin.


“Kau tahu kan rumahku yang mana? Ya, tempat peristirahatanku untuk selamanya dan yang terakhir kalinya”ucap Calvin.


“Maafkan aku karena tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu!”ucap Calvin sambil mencium punggung tangan Amanda.


“Dok, tolong urus prosedur operasinya secepat mungkin!”ucap Calvin yang berbicara dengan dokter secara tiba-tiba.


“Oke nak, saya akan mengurus prosedurnya secepatnya”ucap dokter itu sambil menghapus air matanya


🌷🌷🌷


Aku tidak akan pernah bosan kepada kalian untuk jangan lupa beri like dan vote kalian ya pada novel ini😊😊😊


Oke👌 jangan lupa ya


Dapat pahala loh kalau membantu orang


Ayo juga follow akun instagram author, pasti nanti aku follback kok


Ig:@insani.syahputri71


Terima kasih ya karena sudah mau membaca