
Sebelum baca jangan lupa like, vote untuk support author agar lebih semangat lagi๐๐
๐ท๐ท๐ท
Di sebuah ruangan Amanda sudah mulai tersadar dalam posisi duduk dan terikat pada kursi. Kepalanya masih merasa sedikit pusing dan pundaknya juga masih terasa sakit seperti di hantam suatu benda yang keras. Kini Amanda hanya bisa mencoba untuk menahan rasa sakit itu dan mengedarkan pandangannya melihat keadaan di sekitanya.
"Aku ada di mana sekarang?"tanya Amanda sambil melihat tempat yang terlihat sedikit asing baginya.
"Kau sudah sadar?"ucap seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
Seorang laki-laki yang terlihat berusia hampir sama seperti Papanya datang menghampiri Amanda sambil membawa pemukul baseball di tangannya.
โTernyata kau sudah bangun? Gimana, apa kau sudah puas tidurnya?"tanyanya lagi sambil memegang dagu Amanda.
Amanda langsung refleks mengelak dan membuat tangan Admaja terlepas dari dagu Amanda.
" Kau sangat berani ya!! Apakah kau sedang melawanku saat ini?"ucap Admaja menjambak rambut Amanda dengan kuat sehingga Amanda meringis kesakitan.
Kini terlihat Admaja melemparkan pemukul base ball itu ke sembarang arah.
"Siapa kau?? Apa salahku dan kenapa kau menculikku?"tanya Amanda yang berteriak kepada Admaja.
"Diam!! Kau terlalu berisik sekali! Apa kau memang sangat penasaran mengenai siapa diriku yang sebenarnya?? Kalau iya, lebih baik kau diam dulu dan dengarkan perkataanku baik baik! "ucap Admaja sambil mejambak rambut Amanda lagi.
"Aku adalah musuh terbesar Papamu! Jika Seandainya Papamu tidak ada mencari masalah denganku saat itu, mungkin saat ini kami masih berdamai dan mungkin semua kekacauan ini juga tidak akan terjadi"ucap Admaja sambil mengambil kursi yang ada di sekitar itu dan meletakkannya di hadapan Amanda, lalu setelah itu dia duduk berhadapan dengan Amanda.
Amanda terkejut saat mendengar penuturan orang yang ada di hadapannya saat ini. Dari perkataannya Amanda dapat menyimpulkan kalau kekacauan yang dikatakannya oleh Admaja pasti ada kaitannya dengan kematian keluarganya dan hingga dirinya yang sampai terpisahkan dengan orangtua kandungnya.
โApa yang ingin kau coba lakukan sekarang? Apa yang kau rencanakan?โucap Amanda yang kembali berteriak.
Amanda tahu pasti ada rencana dibalik penculikkannya saat ini. Admaja tersenyum saat Amanda bertanya seperti itu. Kini dia melipat tangan di dadanya dan menatap Amanda.
"Gadis pintar! Apa kau tahu apa yang ingin kurencanakan saat ini?? Coba kita main tebak-tebakan dulu"ucap Admaja sambil menampilkan senyum smirknya.
"Apa kau ingin membunuhku juga??"ucap Amanda yang terlihat sedikit takut saat mengucapkan kata kata itu.
"Ya, awalnya aku berpikir akan membunuhmu tapi aku berubah pikiran karena dengan dirimu aku bisa memancing Papamu untuk datang kesini. Setelah itu aku akan membunuh kalian berdua"ucap Admaja sambil tertawa mengejek.
"Oh ya, apa kau ingin ku beritahu berita penting?"ucap Admaja sambil menatap Amanda dan memegang dagu Amanda dan mencengkeramnya dengan kuat.
Amanda sontak langsung meludahi wajah Admaja. Marah. Itulah yang di rasakan oleh Admaja. Dia langsung menampar wajah Amanda, sehingga Amanda meringis kesakitan.
Bukan hanya itu, Admaja membuka tali yang mengikat Amanda pada kursi itu.
"Apa yang anda ingin lakukan? Anda mau membawaku ke mana??"tanya Amanda saat Admaja menarik dirinya dengan paksa.
Amanda menangis saat dirinya diperlakuan seperti binatang. Terlihat saat ini tangan Amanda yang kini sudah di ikat dan di gantung pada tiang. Beruntung Amanda masih berpijak pada sebuah kursi yang ada di bawah telapak kakinya, sehingga membuat tangan Amanda masih baik-baik saja meskipun dalam keadaan di ikat dan di gantung.
"Apa kau tahu kalau Doni dan keluarganya sudah meninggal??"Ucap Admaja sambil memukul kayu base ball itu pada telapak tangannya.
Amanda melotot dan seakan-akan tidak percaya dengan pertanyaan Admaja. Amanda tidak percaya kalau Pamannya sudah meninggal karena Papanya pernah berkata kalau Doni baik-baik saja.
"Di lihat dari reaksimu, sepertinya kau belum mengetahui kabar duka ini!"ucap Admaja sambil tersenyum jahat.
"Baiklah!! Aku akan memberitahumu satu hal lagi dan aku yakin kalau kau pasti akan terkejut!"ucap Admaja.
"Kaulah yang sudah membunuh pamanku!!"tutur Amanda.
"Benar!! Yang kau katakan itu benar sangat-sangat benar!! Doni meninggal dunia karena aku yang sudah membunuhnya"ucap Admaja.
"Jika saja waktu itu Doni mau di ajak kompromi dan mau memberitahukan keberadaan Papamu secara baik-baik mungkin dia akan masih hidup sampai hari ini"ucap Admaja lagi.
Flashback
Admaja mendobrak pintu rumah Doni dengan cara menendang pintu itu dengan cara kasar.
Doni yang sedang bersama istri dan anak semata mayangnya sedang asyik menonton di ruang keluarga terkejut dengan kedatangan Admaja.
Doni sontak menyuruh anak dan istrinya untuk masuk ke dalam kamar. Tak lupa juga Doni berpesan pada istrinya untuk mengunci puntu kamar itu dan jangan membukanya sampai Doni yang menyuruhnya.
"Admaja, akhirnya yang ku takut- takutkan datang juga!! Aku tahu suatu saat kau pasti akan mencariku"ucap Doni saat istri dan anaknya sudah masuk ke dalam kamar.
"Baiklah!! Ternyata kau sudah tahu maksud Kedatanganku! Jadi aku tidak perlu berbasa-basi lagi"ucap Admaja sambil duduk dan terlihat dia juga mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket kulitnya.
"Di mana Reno tinggal saat ini?? Dan aku sangat yakin kalau kau pasti mengetahuinya, jadi aku harap kau harus memberitahuku. Kalau tidak, kau akan tanggung akibatnya"ucap Admaja sambil memainkan pistol revolver di tangannya.
"Aku tidak akan memberitahumu!"tegas Doni.
"Bahkan jika aku membunuhmu, kau juga tidak akan memberitahukannya padaku"ucap Admaja lagi.
Doni dengan mantap menjawab dia tidak akan memberitahukan Admaja bahkan jika nyawanya jadi taruhannya.
Mendengar jawaban Doni, Admaja pun mengokang pistol revolver miliknya.
"Sekali lagi aku katakan padamu kalau aku tidak akan memberitahumu"ucap Doni yang masih pada pendiriannya.
Tanpa disadari Doni, tenyata tarikan pelatuk pistol terlepas dan peluru itu mengenai kakinya Doni sehingga Doni langsung terjatuh ke lantai.
Admaja masih bertanya lagi tapi Doni masih tetap pada pendiriannya, hal itu malah membuat Admaja tak segan-segan menembak peluru itu ke tubuh Doni tanpa ada rasa belas kasihan.
Kini tubuh Doni sudah berlumuran darah tapi itu tak membuat Admaja peduli dengan orang yang ada di hadapan matanya.
Mendengar adanya suara penembakan dari luar, istri Doni pun keluar dari kamar dan menyuruh anaknya untuk tetap tenang dan diam di kamar itu. Istri Doni menjerit saat melihat keadaan suaminya.
Mendengar pertanyaan Admaja, istri Doni langsung mengatakan kota tempat tinggal Reno saat ini.
Mendengar hal itu, Admaja malah menembak satu peluru lagi ke arah Doni sebagai tanda terima kasihnya pada istri Doni yang sangat bodoh itu.
Saat itu juga Doni menghembuskan nafas terakhir kalinya. Terlihat setetes air mata Doni yang terakhir kalinya juga mengalir di pipinya.
Istri Doni berlari menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Ya dia berniat untuk menghubungi polisi. Admaja yang menyadari hal itu langsung menghentikan langkah wanita itu dengan menembakkan peluru itu ke arah kakinya.
Admaja berniat ingin pergi, tapi sebelum itu dia harus melenyapkan seisi rumah itu untuk menghilangkan jejaknya.
Tanpa ada hati nurani, Admaja dengan tega membunuh anak dan istri Doni dengan menggunakan pistol revolvernya. Dan lebih parahnya lagi, Admaja hanya membiarkan mayat-mayat itu tergeletak seperti itu.
Hal itu dikarenakan, Admaja tidak mau meninggakan jejak dan polisi akan tahu setelah melakukan penyelidikan.
Sehari setelah kasus pembunuhannya itu, Admaja sudah sampai di kota tempat tinggal Doni.
Saat dia sedang pergi mencari tempat tinggal untuk dia tempati selama mencari keberadaan Reno, Admaja tak sengaja berpapasan dengan seorang anak muda.
Admaja mendengar kalau orang itu bergumam dan menyebutkan nama Reno Putra Pratama Musuhnya.
Admaja berpikir kalau anak muda ini pasti bisa membantunya menemukan keberadaan Reno.
Dia pun berpura-pura di hadapan anak itu. Dia berubah menjadi seperti orang linglung yang sedang mencari keberadaan keluarganya. Dia berbohong kalau dirinya di buang dan tidak punya tempat tinggal untuk saat ini. Untungnya anak muda itu bersimpati dan mau mengajaknya untuk tinggal bersama.
Ternyata memang benar, Admaja akhirnya bisa mengetahui tempat tinggal Reno hanya dengan satu hari saja.
Admaja kemudian menyusun rencana untuk membunuh Reno. Admaja memanfaatkan anak muda itu untuk memuluskan rencananya.
Ya, anak muda itu tidak tahu kalau selama ini dia di manfaati oleh Admaja untuk mencari informasi tentang Reno.
Flashback end
"Kenapa anda kejam sekali pada Paman Doni?"ucap Amanda yang sudah menangis.
"Dia memang pantas mendapatkan itu!"ucap Admaja tanpa merasa bersalah dengan ucapannya.
"Anda manusia tidak memiliki hati nurani!"ucap Amanda.
"Jangan salahkan aku! Ini semua terjadi karena ulah Papamu yang terlihat sok jagoan itu"ucap Admaja.
"Ah ya...Aku sangat penasaran, kenapa Papamu tidak memberitahumu mengenai berita ini padahal Papamu hadir di pemakaman Doni dan keluarganya"ucap Admaja.
"Papamu jahat sekali! Dan ya...Apa yang menyebabkan Papamu sampai tega menyembunyikan berita duka ini?"ucap Admaja yang ingin memprovokasi Amanda dan Reno.
Ya. Yang dia inginkan saat ini adalah Amanda membenci Reno sehingga hubungan mereka jadi retak dan hancur.
"Andalah yang orang jahat di sini, bukan Papaku!! Aku yakin Papaku pasti punya alasan lain kenapa dia sampai menyembunyikan hal ini dariku"ucap Amanda yang ingin mempercayai Papanya.
Amanda yakin kalau Papanya pasti punya alasan kenapa sampai menyembunyikan hal itu.
Dan dia ingat sesuatu saat di kantor Papanya.
Amanda ingat kalau Papanya ingin mengatakan sesuatu padanya, dan dia sangat yakin pasti Papanya ingin mengatakan berita duka ini padanya.
"Terserahmu! Yang jelas hari ini aku akan membunuh semua orang yang berkaitan dengan Reno! Papamu!"ucap Admaja.
๐ท๐ท๐ท
Aku tidak akan pernah bosan kepada kalian untuk jangan lupa beri like dan vote kalian ya pada novel ini๐๐๐
Oke๐ jangan lupa ya
Dapat pahala loh kalau membantu orang
Ayo juga follow akun instagram author, pasti nanti aku follback kok
Ig:@insani.syahputri71
Terima kasih ya karena sudah mau membaca