Always Love You My Husband

Always Love You My Husband
Chapter 7



'Maafkan aku Reno. Aku tidak tahu kalau perlakuanku padamu dimasa lalu telah membuatmu seperti ini. Kau tidak tau, kenapa aku sampai harus melakukan itu.Seandainya kau tau, apakah kau mau memaafkanku? 'batin Sherlin sambil menangis.


Flashback on


Reno Putra Pratama. Saat di Sma Ia adalah siswa yang paling populer baik dalam bidang akademik maupun non akademik.


Dia menjadi siswa yang paling genius. Bagaimana tidak karena tiap semester dia selalu mendapat juara 1 dikelas dan juara umum. Bahkan dia juga mendapatkan juara disetiap olimpiade sains, ekonomi, maupun olahraga yang dia ikuti.


Reno memiliki pesona dan paras wajah yang tampan, yang mana itu bisa memikat para hati wanita yang ada disekolah nya.


Perempuan paling beruntung mendapatkan hati Reno saat itu adalah Sherlin yang juga menjadi primadona dikalangan siswa di sekolah yang sama dengan Reno.


Reno mengutarakan perasaan nya pada Sherlin dan ingin Sherlin menjadi pacarnya. Dia jatuh hati pada pesona Sherlin karena menurutnya Sherlin gadis yang pintar baik, hatinya lembut dan juga cantik.


Reno ingin Sherlin menjadi pacarnya sekaligus cinta pertamanya. Tak sia-sia ternyata pernyataan hati Reno diterima oleh Sherlin, karena Sherlin juga memiliki perasaan pada Reno.


Sejak saat itu mereka akhirnya berpacaran. Semua orang yang ada disekolah itu sangat iri terhadap mereka berdua.


Mereka bak dewa dan dewi yang sangat sempurna. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di suatu hari Reno melihat Sherlin berpelukan dengan laki-laki lain.


"Sherlin. Apa yang kau lakukan?" Ucap Reno terlihat marah bercampur cemburu.


"Seperti yang kau lihat Reno." Ucap Sherlin dengan santai.


"Kebetulan kau ada disini. Reno, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku ingin mengakhiri hubungan ini denganmu." ucap Sherlin secara tiba-tiba.


"Apa maksud ucapan mu, Sherlin?" ucap Reno mencekal lengan Sherlin.


"Apakah kau tidak bisa bersikap lembut pada wanita?" Ucap Tito pada Reno. Tito adalah pria yang memeluk Sherlin tadi.


"Ini tidak ada urusannya denganmu brengsek." Ucap Reno dengan nada marah.


"Sudah Tito, kau tidak perlu berurusan dengannya." Ucap Sherlin pada Tito.


"Dan kau Reno. Aku tidak akan mengulangi kata itu lagi. Jadi dengarkan baik-baik. Mulai hari hubungan kita berakhir sampai disini." Ucap Sherlin lalu beranjak pergi tapi langsung dicegah oleh Reno.


"Tapi kenapa Sherlin? Tolong kau beri aku alasannya." Ucap Reno amarahnya semakin memuncak sehingga dia meninju dinding yang ada dibelakang Sherlin sehingga membuat tangan Reno terluka. Tapi itu tidak seberapa sakit dibandingkan dengan sakit dihatinya karena Sherlin tiba-tiba meminta untuk memutuskan hubungan mereka.


"Kamu mau tau alasanya? Baik akan aku beritau padamu Reno. Pertama kau itu pria membosankan karena setiap hari kau hanya peduli dengan buku-buku mu itu, bahkan kau juga seperti itu saat sedang bersamaku. Kenapa tidak sekalian saja kau berpacaran dengan buku itu. Kedua, sekarang aku sudah menjalin hubungan dengan Tito, karena dia lebih perhatian dan sangat peduli padaku.Terlebih dia juga sangat kaya dibandingkan denganmu." Ucap Sherlin.


Reno terkejut mendengar penuturan Sherlin. Dia sangat sakit hati karena dia sudah berpacaran dengan Tito karena Tito lebih kaya darinya.


'Apakah kau perempuan seperti itu, Sherlin? Apakah aku salah menilaimu?' batin Reno.


"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusanmu, Sherlin. Satu hal yang perlu kau ingat bahwa aku pernah sangat mencintaimu,tapi sekarang kau telah mengubahnya. Terima kasih. Aku akan terus mengingat kejadian ini." Ucap Reno kemudian pergi dari tempat itu.


"Terima kasih Tito karena sudah membantuku. Sekarang kau sudah boleh pergi." Ucap Sherlin ketika Reno sudah menghilang dari hadapannya.


"Secara tidak sadar, kau juga menyakiti hatimu Sherlin. Aku tidak tahu apa alasanmu sampai melakukan ini semua." ucap Tito lalu beranjak pergi.


"Aku sebenarnya juga tidak ingin semua ini terjadi." ucap Sherlin.


"Mamamu menyuruhku untuk tidak berhubungan denganmu lagi. Dia tidak menyukaiku. Aku bisa apa? Suatu saat kau pasti akan memilih mamamu dibanding aku. Jikapun kau lebih memilihku, aku tidak bisa membuatmu jadi membenci mamamu suatu saat nanti. Jadi ini adalah keputusan yang paling tepat untuk hubungan kita." Ucapnya lagi.


Setelah kejadian itu Reno pindah dari sekolah dan memilih sekolah keluar negeri .Dia memutuskan kontak baik dengan Sherlin maupun teman sekolahnya,


Reno menghilang begitu saja bagai ditelan bumi.


Flashback end


Bi Ina tidak tega melihat Sherlin yang menangis seperti itu. Dia sudah menganggap Sherlin sebagai anaknya sendiri ketika melihat Sherlin yang polos masih tertidur di dalam mobil tadi.


"Nak sherlin. Ayo Bibi antar ke kamarmu." Ajak Bi Ina sambil menghapus air mata Sherlin.


"Jangan nangis lagi Nak.Nanti wajahnya cantiknya jadi hilang." Kata Bi Ina sambil menghibur Sherlin.


"Baik Bi." Ucap Sherlin kemudian berdiri dan mengikuti Bi Ina berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai bawah.


Kini Mereka sudah sampai dikamar milik Sherlin.


"Maaf Nak. Ini kamar yang di tunjukkan tuan Reno untukmu." Ucap Bi Ina.


Sherlin memandang sekelilingnya.Bi ina yang melihat itu jadi sedikit kasihan karena kamarnya Sherlin terlihat seperti gudang. Ruang kamar itu terlihat kecil yang hanya berisikan kasur kecil, meja bekas, lemari bekas. Bisa dikatakan kamar para pelayan disini lebih baik daripada kamarnya Sherlin.


"Tidak apa-apa Bi. Setidaknya Sherlin memiliki tempat untuk beristirahat." Ucap Sherlin tersenyum.


"Baiklah Nak." Ucap Bi Ina.


"Tempat ini sudah Bibi bersihkan, kamu beristirahat dulu. Kamu terlihat sangat lelah, Nak." Ucap Bi Ina penuh pengertian.


Memang kamarnya Sherlin dulu adalah tempat gudang.


Reno menyuruh Bi Ina membersihkan Ruang itu, karena akan ada anggota baru yang akan datang ke mansion itu.


"Bibi pergi kedapur dulu, karena Bibi mau masak. jika ada keperluan, kamu tinggal panggil Bibi saja ya." Ucap Bi Ina.


"Iya Bi, nanti Sherlin akan panggil Bibi jika ingin sesuatu." ucap Sherlin dengan lembut


dan Bi Ina pun beranjak dari kamarnya Sherlin.


***


Happy reading readers ku


Salam manis ku pada readersku


Insani Syahputri