
Reno pun memasuki mobil dan berangkat ke kantor tanpa sarapan pagi. Dia terlihat marah ketika sesuatu yang berhubungan dengannya di campuri oleh Sherlin.
Kini mobil Reno tiba di depan gedung yang menjulang tinggi tempat dia bekerja. Dia memasuki kantornya, semua para staf karyawan menunduk hormat pada Bossnya.
Reno hanya lewat dan mengabaikanya. Bagi karyawan nya dam para staff itu sudah terbiasa melihat perlakuan Bosnya.
Reno sudah di ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya .
"Meli apa jadwal untuk hari ini?" Tanya Reno pada Sekretarisnya yang sudah ada di ruangan Reno.
"Hanya pertemuan dengan Pak Hamis,Tuan Reno. Pertemuan mengenai kerja sama dengan perusahaan Pak Hamis." Ucap Meli sambil berniat menggoda Reno .
"Baiklah Meli. Tolong kau atur jadwalnya." Ucap Reno.
"Jadwalnya akan segera kuatur Tuan Reno." Tutur Meli sambil duduk dipangkuan Reno dan dia langsung mencium bibir tipis Reno.
Reno yang sudah gelap dengan gairahnya langsung mengangkat tubuh Meli keatas meja dan mencium bibir Meli.
Reno yang sudah kalang kabut langsung membuka semua pakaian Meli. Kini Meli sudah polos di hadapan Reno. Mereka pun melakukan hubungan layaknya suami istri. Ketika melakukan itu Reno tak pernah lupa untuk menggunakan pengaman. Itu dilakukan Reno agar wanita yang pernah melakukan itu dengannya tidak mengandung benihnya.
Reno tidak ingin jika wanita wanita itu akan mengambil kesempatan untuk memanfaatkannya.
Selain itu dia juga bisa terhindar dari penyakit menular yang akan merugikan dirinya.
"Kau boleh keluar." Ucap Reno setelah membenahi celananya
"Baik Tuan Reno. Terima kasih." Ucap Meli dengan suara centilnya.
***
Sherlin sibuk dengan pekerjaannya dengan membersihkan mansion yang besar itu. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia duduk sambil istirahat dekat teras samping rumah karena dia sedikit kelelahan.
Saat duduk termenung, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia melihat sesuatu yang berkilau karena pantulan sinar cahaya matahari.
Lalu dia melihat keatas dan terdapat jendela dari ruangan kerja Reno.
"Apakah Reno membuang cincin ini?" Ucap Sherlin.
"Reno. Apakah kau memang tidak menginginkan pernikahan ini? Sampai cincin ini pun kau buang." Gumam Sherlin dengan suara lirih. Ia menahan air matanya agat tidak menangis.
Dia terus memegang cincin itu.
"Sherlin. Kau tidak usah sakit hati." Ucapnya pada dirinya sendiri.
'Kau harus kuat menghadapi semua ini. Mungkin ini adalah takdirmu, karena takdir baik memang tidak akan pernah berpihak padamu.' batin nya.
Sherlin membuka kaitan kalungnya dan membuang mata kalung itu. Ia menjadikan cincin yang di buang Reno sebagai pengganti permata tadi. Kalung itu sudah melekat di lehernya jenjangnya.
Tali kalung itu cukup panjang sehingga tidak kelihatan oleh orang lain karena Sherlin memasukkannya kedalam baju bagian dalam.
"Untung aku menemukannya, hanya ini bukti pernikahanku dengannya. Kalau kau tidak bisa memakainya, biarkan aku yang menyimpannya dekat dengan hatiku, Reno. "ucap Sherlin.
***
Selamat membaca ya readersku
Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya
Dan jangan lupa juga memberi komentar kalian
Saranghae all
Salam manis dari author
Insani Syahputri