~Always Be With You~

~Always Be With You~
"Ada saatnya Kamu akan tahu"



Yogi memasuki ruang rawat Cinta, di lihatnya disana Cinta masih terbaring lemah belum sadarkan diri. Di dekatinya dan duduk tepat disamping tempat tidur Cinta


Yogi masih diam merenung memandang lekat wajah pucat di depannya, perlahan tangannya bergerak menggenggam erat jemari Cinta dan di kecupnya pelan


"maafkan aku Cinta, maafkan diriku yang brengsek ini. Seandainya aku bisa melihat masa depan, maka aku memilih tidak akan menikahi mu dan membuat mu menderita sedemikian rupa seperti ini. Seandainya aku tidak hadir, mungkin kamu akan berbahagia dengan kekasihmu waktu itu. Begitu banyak luka yang ku torehkan Cinta sehingga aku yakin bahwa mungkin kata benci sangat cocok kamu sematkan untukku ini" ucapnya sendu, kini tangan yang satunya bergerak mengelus lembut perut buncit Cinta


"bahkan karena diriku kita hampir kehilangan dia. Aku hampir membunuhnya...membunuh anakku sendiri"lanjutnya lirih menatap sendu perut buncit itu


"kamu tahu Cinta seberapa bahagianya diriku saat tau kamu mengadung anak kita, aku sangat bahagia tapi aku tidak tahu harus menunjukkannya kemana. kamu pergi, mama papa membenciku bahkan Angga menjahui ku...aku selalu bermimpi bisa seperti ini mengelus perutmu yang buncit ini dan merasakan gerakan dan tendangannya, ada disaat kamu lagi ngidam-ngidamnya dan menjadi pendengar yang baik setiap kamu berkeluh kesal jika dia rewel di dalam sana " Yogi berucap panjang lebar mencurahkan semua yang di pendammnya, sesekali dia terkekeh saat ingatannya ke masa-masa ia dan Cinta menikah hingga detik ini dan dapat ia pastikan bahwa hanya lukalah sebagian besar mengisi perjalanan mereka berdua.


"dan aku sangat bersyukur setidaknya kesempatan itu bisa hadir walau dalam keadaan seperti ini"


dapat Yogi rasakan gerakan pelan di jemari Cinta, membuat ia cepat-cepat menghapus air matanya


"Cinta..."panggil Yogi pelan


lenguhan pelan keluar dari bilah bibir mungil itu, perlahan matanya mengerjap kemudian terbuka perlahan menyesuaikan cahaya yang ada disana


"ssshhhh" ringisan kecil darinya membuat Yogi kembali bertanya dengan panik


" Cinta...ada yang sakit" tanya Yogi membuat Cinta menoleh ke arahnya


"Gi, kok kita di rumah sakit" tanya Cinta lirih


"tadi perut mu sakit makanya...."


"haaaa....perut ku" Cinta panik saat mendengar Yogi mengatakan soal perutnya dengan cepat ia menyentuh perutnya dan tepat tangannya diatas tangan Yogi yang juga masih disana


"syukurlah, aku kira dia kenapa-napa" ucapnya penuh syukur


"tapi kata dokter sat ini kandungan ku lemah, kamu masih butuh pantauan dalam 24 jam ini. semoga dia baik-baik saja"


setelah itu hening melanda mereka, hingga tiba-tiba Cinta baru sadar bahwa Yogi juga terluka saat itu


"Gi...luka mu" tanya Cinta membuat Yogi reflek menyentuh keningnya. Ia baru sadar benturan tadi membuat keningnya jadi terluka seperti ini


"tidak, semuanya baik hanya saja kepalaku sedikit sakit tapi tidak masalah" jawab Cinta


"Cinta maafkan aku, karena aku kamu jadi seperti ini. seandainya aku tidak menemuinya semua ini mungkin tak akan terjadi" sesal Yogi


"aku capek dengar kamu sedari tadi minta maaf terus Gi, sudahlah mungkin memang seperti ini jalannya. tidak mungkin juga selamanya aku menjauhkan anak ini darimu sedangkan kamu sendiri ayahnya...tapi" Cinta diam sejenak membuat Yogi menatapnya penuh harap


"aku ingin kamu mengerti sekarang keadaannya sudah berbeda, aku tidak menyalahkan kamu atas semuanya tapi kamu sendiri yang memilihnya. Gi..sekarang kamu punya tanggung jawab yang lain selain aku, disana ada wanita lain yang juga sama seperti ku sedang mengadung anakmu, jangan buat dia kecewa sama seperti yang kamu lakukan ke aku..cukup aku tidak yang lain" lanjut Cinta penuh bijak, bahkan setiap kata yang dilontakarkan sangat tulus


Yogi hanya terseyum tipis dan mengangguk, tak ingin membantah cukup mendengarkan


"jadi kapan kalian menikah" tanya Cinta


"aku menundanya" jawab Yogi


"kenapa?"


"tidak ada, hanya saja kami sepakat akan menikah setelah anak itu lahir. lagi pula aku ingin menebus sedikit kesalahanku kepadamu....Cinta" panggil Yogi pelan


"hmmm"


"masih kah ada kesempatan untukku jika seandainya aku meminta 3 bulan ini biarkan aku tetap di sampingmu dan menjalankan peranku sebagai suami dan ayah yang baik buat anak kita" pinta Yogi pandangannya lurus menatap manik sendu di depannya, sedangkan Cinta hanya mampu diam tak berkutik


"jika kamu berpikir aku egois, kamu memang benar tapi tidak masalah. aku hanya ingin kebaikan hatimu Cinta"


"kamu tahu kamu adalah orang paling jahat yang pernah ku kenal...bagaimana bisa kamu meminta itu setelah banyaknya luka yang kamu torehkan. Di saat aku berharap lebih ke kamu, kamu malah meruntuhkan harapanku Gi. bahkan sampai kini pun aku nggak tahu sebenarnya kamu itu kenapa" lirih Cinta penuh isak


"jika kamu menginginkan kesempatan itu, katakan alasan kamu berubah selama ini" tanya Cinta dengan sorot mata yang tajam membuat Yogi diam membeku


"tidak ada" jawab Yogi membuat Cinta kembali terisak merasa tidak terima disaat ia ingin memulai semuanya, membangun bahtera rumah tangga yang harmonis kenapa semuanya seperti ini


"kamu jahat" pekik Cinta emosi membaut Yogi mendekap dalam pelukannya sesekali ia mengecup pucuk kepala Cinta dan mengelus lembut surai nya walau Cinta memukul keras dada bidangnya


"ada saatnya kamu akan tahu Cinta doakan saja semoga itu secepatnya" bisik Yogi lirih  membuat gerakan tangan Cinta terhenti