~Always Be With You~

~Always Be With You~
Raga Berkunjung



Sesuai yang dikatakannya semalam, Hari ini Raga datang ke Mansion yang telah lama ia tinggalkan karena sibuk berkelana


"selamat datang Tuan" ucap security saat membuka pintu gerbang, ada rasa tekejut saat mengetahui majikannya yang datang


Raga kembali malajukan mobilnya menuju Mansion utama.


saat turun dari mobil, Raga dapat melihat Mommy dan Daddy nya sedang duduk di gazebo samping rumah yang luas itu


Dengan langkah cepat, Raga berjalan menemui sosok yang selama ini ia rindukan ada rasa bersalah dihatinya yang rela meninggalkan wanita yang telah melahirkannya hanya untuk menenangkan diri akibat patah hati


"mommy...daddy" panggilnya lirih membuat dua manusia yang saat ini asik bercengkrama teralihkan


"sayang.."jawab sang Mommy terkejut saat ia melihat sang anak kini berdiri tak jauh darinya


"sayang...ya tuhan anak mommy"pekiknya sedikit berlari menghampiri Raga


akibat terlalu bahagia, sehingga ia tak memperhatikan langkahnya menyebabkan ia tersandung dan hampir tersungkur ke tanah


"SAYANG.." pekik suaminya


hap


tangan kekar membalut lembut tubuhnya kemudian membawanya masuk kedalam dekapan hangat tubuh yang sangat dirindukannya itu


"Raga...sayang...anak mommy" tangis pilu itu terdengar sangat menyayat relung hati yang mendengarnya


"anak mommy...hikss..hikss" ucapnya lirih seraya mengusap lembut punggung kekar sang putra, begitupun Raga yang memberikan kecupan bertubi-tubi ke kepala sang mommy yang tingginnya hanya sampai lehernya saja


melihat adegan haru itu membuat sang Tuan Phelen tersenyum getir dengan satu air mata lolos dari pelupuk matanya, buru-buru ia menyekanya sebelum ada orang yang melihat, tapi sayang sang putra melihantnya dan hanya tersenyum hangat menatapnya


"maafin Raga ya mom..maaf" ucap Raga sesal


"kenapa nggak kasih tau mommy sayang kalau kamu ada masalah, kenapa harus pergi tanpa bilang-bilang" jawabnya yang masih sesegukan


Raga menghapus deraian air mata dipipi sang Mommy kemudian mencium kening dan kedua pipinya


"maaf mom.."


Tuan Phelen mendekat kearah sang istri dan sang putra


"sudah puas jalan-jalannya" ucap sang daddy seraya memeluk sang istri yang masih menangis itu


"maaf dad..." jawab Raga menundukkan kepalanya, hari ini ia sadar betapa bodohnya tindakannya selama ini pergi tanpa pamit meninggalkan kekhawatiran dan kerinduan bagi sang mommy


"sudahlah yang penting sekarang kamu sudah pulang" ucap sang daddy seraya menepuk bahunnya


"MOMMY...DADDY" teriak lelaki dari dalam rumah


"MOMMY...DADDY...KALIAN DIMANA" teriaknya lagi


"DISINI SAYANG" balas sang Mommy dengan suara seraknya sedangkan Tuan Phelen hanya menggeleng gemas.


"Mommy" panggil sosok itu seraya mendekat kepada sang Mommy, ia belum menyadari kehadiran sosok lelaki yang membelakanginya itu


"Mom dari tadi juga dicariin ternyata..." ucapnya terpotong setelah melihat lelaki yang kini di depannya dan..


bughh


bughh


dua bogem mentah mendarat sempurna di pipi kanan dan perut Raga


"aaaaa...sayang hentikan..."pekik sang mommy yang terkejut melihat Raga yang tersungkut ke tanah


"masih ingat pulang hah..masih inget punya mommy" ucapnya geram dengan netra tajam menatap Raga"


"sayang hentikan mereka..sayang" lirih sang Mommy kepada Tuan Phelen membuat sang suami hanya mampu menghembuskan nafasnya pelan, pembawaannya yang lemah lembut, berkharisma tak menutupi ketegasannya


"Excel..hentikan" sahut Tuan Phelen lembut namun penuh penekanan membuat Excel yang ingin melayangkan kembali pukulannya ke wajah sang kakak terhentikan


"bangun..."ucap Excel megulurkan tangannya kepada Raga yang masih tersungkur itu


Raga menerima uluran tangan sang adik kemudian berdiri di sampingnya


"sayang...kamu nggak kenapa-napakan" ucap sang Mommy memeriksa wajah Raga


"dasar anak nakal..kenapa kamu mukul kakakmu ha" omel sang Mommy sambil menjewer telinga Excel


"awww..shh..mom sakit..aduh" aduhnya


"dasar nakal" gerutu sang Mommy melepaskan tangannya membuat Excel hanya mampu mengusal kupingnya yang terasa panas


"nggak mau meluk" sahut Raga membuat Excel jengah namun kakinya tetap melangkah dan memeluk sang kakak


"loe hutang penjelasan ke gue" bisiknya seraya menepuk punggung kekar sang kakak dan melepaskan pelukannya


"yaudah kita masuk dulu diluar udah panas" kemudian mereka berempatpun masuk kedalam


Raga melangkahkan kakinya menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai 2 dimana kamarnya berada


ceklek


saat pintu kamar terbuka, pemandangannya masih sama saat terakhir kali di tinggalkannya, dengan langkah kecil ia menuju walk in closet


tepatnya menuju lemari yang menyimpan segala kenangannya


diambilnya kotak dan album foto kemudian membuka satu persatu lembaran kenangan masa lalu itu


"kamu masih sama cantiknya Cinta" gumamnya pelan


"karena kebodohanku dan obsesiku membuatku lupa bahwa ada keluarga yang menantikaku dan mengkhawatirkan ku disini"


"huffff....move in itu berat juga"


"berat apanya" sahut Excel yang tiba-tiba datang


"Excel" awab Raga yang terkejut


"hmm" jawabnya kemudian duduk disamping sang kakak yang masih menatap sendu sebuah foto


"cantik" puji Excel


"tentu...dia cantik dan juga baik"


"hmm...beruntunglah orang yang mendapatkannya"


"sangat...dan tersiksalah bagi orang yang ditinggalkannya" ucap Raga seraya menyandarkan kepalanya di sofa


"maksudnya" tanya Excel heran


"seperti aku ini yang ditinggalkannya kemudian menjadi menyedihkan seperti ini"


"oh jadi ini alasan kakak pergi gitu aja"


"hmmm...aku hanya pergi menenangkan diri dan tak terasa membutuhkan waktu cukup lama berharap sakitnya hilang tapi sayang berkurang sedikitpun tidak"


"ternyata cinta itu melelahkan juga"


"sangat...rasanya sangat melelahkan"jawab Raga memejamkan matanya


"maka lepaskanlah..gampangkan"


seketika mata Raga kembali terbuka membuat Excel dapat melihat seberapa menyedihkan kakaknya ini


"ibarat pohon yang besar dimana akarnya kuat dan kokoh akan melindungi sang pohon agar tidak mudah tumbang begitu saja dan akan terasa sangat sulit bagimu untuk mencabutnya, begitupun dengan cintaku padanya sudah sangat kuat tertanam dan tak mampu di hempaskan begitu saja" setelah itu Raga kembali memejamkan matanya


"hem...jika seperti itu sangat sulit jadinya"


"sekarang dia dimana" tanya Excel


"pergi dan susah untuk digapai" jawab Raga


"maksudnya"


"dia sudah nikah dan pergi begitu saja"


"ck..kalau begitu loe sudah nggak ada harapan lagi jadinya" ucap Excel yang hanya membuat Raga tersenyum misterius