
2 hari sudah Raina dirawat dan kini saatnya ia pulang dan tentunya itu hal yang sangat menggembirakan baginya.
bagaimana tidak bosan, jika seharian saja ia duduk, tidur dan makan setelahnya tidur lagi.
"gimana dok keadaan adik saya, apa sudah boleh pulang" tanya Angga yang kini berada di ruang dokter bersama Cinta
"untuk saat ini sudah baik pak, tapi saran kami sebaiknya adik anda tetap menjalani konsul dengan psikolog mengingat kondisi adik anda yang sempat trauma berat" jawab sang dokter sambil membaca laporan cek Raina
"iya dok...makasih" ucap Angga
"emm...dok memangnya adek kami bisa pulih seperti semula dok" tanya Cinta tiba-tiba
"tentu saja selagi rutin dalam terapinya maka bisa di pastikan adik anda bisa sembuh" jawab sang dokter sambil tersenyum
"jika sewaktu-waktu ia kambuh..maksudnya tiba-tiba histeris gitu kita harus apa dok" tanya Cinta lagi yang kini diangguki Angga
"jika seandainya itu terjadi maka langkah awal janganlah panik cukup di tenangkan dan bisikan hal-hal yang posistif" jawab sang dokter
"terima kasih dokter...sekali lagi makasih" ucap Angga dan Cinta bersamaan setelah itu beranjak keluar dari ruangan dokter
selama perjalan menuju ruang rawat Reian, dari jauh Cinta melihat sosok Yogi yang berdiri tak jauh dari depan ruang rawat Reina.
"loh kak.itu bukannya Yogi ya" tanya Cinta sambil menggoyang-goyangkan lengan Angga
"iya..loh kok tiba-tiba sweety" ucap Angga terkejut
Angga dan Cinta bergegas menghampiri Yogi, saat semakin dekat ternyata Yogi tak sendiri, ia bersama Aagler
"nih anak kemarin-kemarin kemana tiba-tiba nongol aja" batin Cinta yang kesal melihat Aagler yang tiba-tiba muncul
"Gi kok..."ucap Angga terpotong saat Yogi memilih memeluk Cinta
"hai" ucap Yogi hangat sesekali mencium kening Cinta
sempat terkejut akan sikap Yogi tapi setelahnya Cinta tersenyum hangat
"datang kok nggak ngabarin sih Gi" ucap Cinta saat pelukan mereka terlepas
"surprise aja" jawab Yogi
"masuk yuk" ajak Angga
saat pintu ruang rawat Cinta terbuka, terlihatlah Reina yang sedang bersenda gurau dengan sang Bunda namun posisinya membelakangi pintu, sedangkan Bunda Mila yang memang posisinya menghadap pintu tersenyum hangat menyambut kedatangan Angga
Reina yang melihat arah pandang sang Bunda menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang
dan...
"Aaaaaa.....pergi...bunda..hikss...hikss...bunda tolong..aaaaaa" Reina tiba-tiba histeris melihat kedatangan Yogi dan Aagler di tambah lagi penampilan Aagler yang misterius baginya
"sayang...tenanglah nak" ucap Bunda Mila mencoba menenangkan, tapi Reina yang saat ini histeris karena takut menolak disentuh siapa pun
"pergi..bunda tolong.....hiksss...bunda..hiks...kak tolong..hiks tolong" ucap Reina lirih sesekali teriak memanggil sang bunda dan Angga tapi saat yang dipanggil mendekat ia menjauh kesudut ruangan
"dek..hei ini kakak sayang" bujuk Angga mencoba lebih dekat lagi
"memang separah ini kondisinya" ucap Yogi yang masih berdiri di tempatnya melihat semuanya, sedangkan disamping kanan dan kirinya ada Cinta dan Aagler
"iya..setiap lihat orang baru maka ia akan seperti itu" jawab Cinta lesu lagi-lagi rasa bersalah menyeruak di hatinya
"parah juga yaa" gumam Yogi yang masih melihat perjuangan Angga dalam menenangkan adiknya
"tolong...bunda...kak..tolong hiks..hiksss" suara Reina semakin parau bahkan saat ini nafasnya agak sesak
"Cinta panggil dokter" ucap Angga meminta bantuan kemudian tanpa pikir panjang ia mendekap erat Reina yang kembali histeris dalam pelukannya
"aaaaaaa....lepas...tolong....bundaaaa...tolong...lepas..."ucapnya sambil memberontak
Angga mengingat saran dari dokter tadi, dimana salah satu cara yaitu membisikan kata-kata yang posistif
"Rein ini kakak sayang..kak Angga sudah yah hmmm..."bisik Angga di telinga Reina yang masih memberontak bahkan memukulnya
"tolong...hiksss...hiksss..tolong...."ucapnya lirih sambil memeluk erat Angga
tiba-tiba dokter datang dan menyutikkan obat penenang di lengan Reina
berangsur-angsur kesadaran Reina mulai mengilang dan akhirnya jatuh dalam pelukan Angga yang masih mendekapnya erat.
Angga kembali menitihkan air mata sambil mendekap erat sang adik, sedangkan sang bunda sedari tadi menangis melihat putri semata wayangnya menderita di depan matanya
Angga meletakkna Reina di atas tempat tidur, kemudian bergabung bersama Yogi dan Aagler yang duduk di sofa
"trauma adikmu sangat parah Ngga carikan terapis psikiater yang terbaik buat dia kalau perlu aku akan membantu mencarinya" ucap Yogi
"iya Gi makasih"
"oh iya kapan loe sampainya" tanya Angga
"baru aja" jawab Yogi, Angga hanya manggut-manggut
"soal perusahaan...."ucap Angga terpotong
"sepertinya tak etis membahas pekerjaan saat ini"potong Yogi
"hmmmm...."
malam harinya......
Cinta dan Yogi akhirnya memutuskan menginap diapartemen yang sama dengan Angga tapi untinya saja yang berbeda
"Yogi makan dulu gih" panggil Cinta
tanpa berkata Yogi menghampirinya dan duduk di kursi, seperti biasa Cinta akan melayaninya dan mereka makan bersama
"Gi kamu disini berapa lama" tanya Cinta saat makan malam telah usai dan kini medeka berdua duduk di ruang tamu
"entahlah...ayah menyuruhku untuk menyelesaikan masalah yang ada disini dulu" jawab Yogi sesekali menyeruput kopinya
Cinta hanya manggut-manggut
"emm...Gi aku ke kamar dulu yaa" pamit Cinta yang memang saat ini sangat mengantuk
"hmm..aku juga ngantuk"ucap Yogi
akhirnya mereka beriringan menuju kamar yang berada di lantai 2, baru saja Cinta akan buka pintu kamar tiba-tiba tangannya ditarik sama Yogi
"eh..eh..ehh"
"mulai saat ini kamu tidur disini bareng aku" ucap Yogi membuat Cinta melongo tak percaya
"hufffff.....kita ini suami istri Cinta dan hal ini lumrah bagi kita" ucao Yogi yang tahu kebingungan Cinta
"dan soal dulu-dulu....maaf" ucapnya lagi setelah itu melangkah masuk ke kamar mandi, meninghalkan Cinta di tengah kebingungannya dan kecanggungannya
"duh gimana nih...."gumamnya sedikit panik