~Always Be With You~

~Always Be With You~
Bincang-Bincang



Angga dan Aagler berlari menjauh dari amukan monster menuju area parkir tapi sayang saking inginnya menjauh tanpa mereka sadari mereka barlari menuju tangga darurat


berlari melewati berbagai anak tangga dari lantai paling atas yaitu 12 sampai lantai 9 barulah mereka sadar


"kenapa kita lewat tangga darurat sih hos...hos..hoss" ucap Angga sambil berhenti sejenak dan menyandarkan punggungnya di dinding, peluh keringat membanjiri tubuhnya


"entah hos..hos..kalau takut gini amat yaa nggak konsen jelas-jelas samping ruangan loe ada lift" jawab Aagler yang ikut menyandarkan tubuhnya


"hmm..baru kali ini gue lihat Cinta marah ternyata serem juga"


"yaudah kita naik lift aja capek banget nih" ajak Aagler menuju lift yang ada dilantai tersebut


ting...


pintu lift terbuka dilantai lobi, Angga dan Aagler berjalan beriringan dengan sisa peluh yang masih membanjiri wajahnya menuju mobil Angga yang terparkir


sesampainya disana telah berdiri wanita cantik dengab tampan kesalnya menatap mereka berdua


"kok lama" tanyanya


"hmm..itu"jawab Angga gagu


"ck..cepetan bukain" ucap Cunta yang masih saja kesal


tanpa menjawab Angga segera membuka pintu mobilnya kemudian Cinta masuk dan duduk di kursi belakang diikuti Angga dan Aagler yang duduk di kursi depan dengan Angga menyetir


selama mobil berjalan tidak ada percakapan diantara mereka bertiga. Cinta yang masih kesal hanya menampilkan wajah juteknya melihat arah luar jendela, sedangkan Angga dan Aagler tidak ada yang berani buka suara takutnya kena sembur serta tabokan.


Senja kini berganti malam...


Angga dan Cinta menuju unit apartemennya sedangkan Aagler tadi sudah pamit pulang menuju hotel tempat ia menginap, padahal tadi Angga mengajak ia makan malam bersama tapi secara halus Aagler menolak


"masih marah" tanta Angga saat ia dan Cinta memasuki lift meuju unitnya


Cinta tak menjwab hanya mengedikkan bahu tanda acuh mendapat itu Angga menghembuskan nafas frustasi


"maaf tadi itu meeting dadakan" ucap Angga mencoba menjelaskan


"nggak nanya tuh" jawab Cinta cuek


"ya tanya dong terus nanti aku jawab" ucap Angga mencoba memaksa membujuk Cinta agar mau bicara padanya


"idih maksa"


"biarin" jawab Angga menyebalkan membuat Cinta tambah merengut kesal


"ck..."Cinta cemberut dengan bibir mengerucut


"nggak mau peluk nih..nggak rindu" tanya Angga merentangkan tangannya


seketika membuat Cinta menoleh antara mau atau tidak tapi sayang rasa rindunya begitu besar mengalahkan rasa kesalnya saat ini tanpa basa basi lagi iapun segera masuk dalam dekapan hangat lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya


"kangen" ucapnya manja


Angga hanya tersenyum mendengarnya di dekapnya erat tubuh mungil yang hanya setinggi dadanya saja itu erat


"aku juga" balsnya seraya melepaskan pelukannya kemudian mengacak rambut Cinta gemas


"ihh..jangan di acak-acak nanti jelek" ucap Cinta manja


"biarin kan kamu bilang kamu itu cantik jadi biar ranbutnya mengembang kayak rambut singapun tetap cantik kok"


"baru nyadar dari mana aja selama ini" cibir Cinta


" mulai deh sombingnya jadi nyesel gue mujinya" batin Angga


ting


pintu lift terbuka Angga dan Cinta segera menuju unitnya, di tekannya bell hingga manampilkan sosok wanita paruh baya dengan senyum hangat di balik pintu


"baru pulang" ucap Bunda Mila


"iya bu maaf pulangnya telat" jawab Angga sambil mencium tangan bundanya


"biasanya nggak inget pulang" cibir Bunda Mila


Angga hanya menggatuk kepalanya gemes


"yasudah kamu masuk mandi gih terus kita makan malam bersama" perintah Bunda Mila kepada Angga


Angga kemudian menuju kamarnya melewati ruang tv ia menyapa adiknya


"Rain" sapa Angga


"hmm...jangan banyak makan micin Rain nggak bagus"


"bund...cemilan kripiknya tolong sembunyiin itu sih Raina makan terus nanti elerginya pada muncul kalo kebanyakan makan micin bund" teriak Angga ke dang bunda yang saat ini di dapur dengan Cinta


"sekali-kali bang" ucao Raina mengerut kesal


"sekali-kali tapi langsung banyak"


Angga kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar rasanya berendam air hangat sangat ia perlukan saat ini untuk merilekskan tubuhnya yang lelah


Beberapa saat kemudian...


setelah acara makan malam selesai Cinta, Raina dan Bunda Mila sudah duduk rapi di ruang tv sambil nonton sinetron andalan sebagian warga +62 di channel ikan terbang kemudian datanglah Angga yang sudah terlihat rapi dengan tapilan casualnya datang meminta izin pada sang Bunda


"mau kemana" tanya Bunda


"keluar bentar bunda"


"ngapain" tanya bunda sedikit mengintrogasi diikuti tatapan tajam dari Cinta yang kebetulan duduk disamping bunda


"nonkrong bunda sama temen"


"temen apa demen" sahut Cinta menyela yang otomatis bunda dan Raina menatap ke arahnya


"apa bener yang nak Cinta bilang" tanya bunda


"en..enggak bunda bukan itu"


"dasar jomblo udah tua juga tali belum ada gandengan" sahut Raina mencibir


"emang udah ada" tanya Bunda lagi


Angga hanya prustasi mendapat pertanyaan seperti itu


"enggak Bunda, aku cuma mau keluar bentar bareng Aagler"


"ikut" ucap Cinta cepat


"nggak kamu disini aja ama Bunda dan Rain" ucao Angga yang sukses membuat Cinta cemberut


"yaudah bund..aku pamit..assalamualaikum"


Angga kemudian meninghalkan mereka menuju cafe tempat ia dan Aagler janjian


sesampainya disana di edarkannya pandangan keseluruh tempat sehingga matanya menangkap sosok misterius siapa lagi kalau bukan Amggler yang duduk di meja paling pojok


"maaf lama" ucao Angga dambil menarik kursi dan duduk


"sens aja..mau pesan apa"ucap Anggler sambil memanggil waiters


"coffe latte aja" dan segera sang pelayan mencatat dan berlalu pergi


"ada apa" tanya Aagler heran pasalnya tadi ia agak sibuk sebelum Angga menelpon dan ajak ketemuan


"nggak ada apa-apa cuman mau ngobrol doang"


"soal Cinta"


"siapa lagi yang gue khawatirin disana kalau bukan Cinta loe tau kan walaupun dia bukan adek kandung gue tapi sayang dan khwatir gua sama seperti gue ke Raina adek kandung gue"


"apa saja yang terjadi selama gue balik kesini" tanya Angga mulai serius


"nggak ada yang berarti kecuali waktu saat itu saat ia hampir diculik"


"HAA... kok bisa"


"entahlah..gue juga ngga tahu waktu gue tanya ke Yogi apakah dia punya musuh atu tidak dia hanya jawab mungkin"


"gue heran kenapa kasus seperti ini baru terjadi..jika memang si Yogi punya musuh mengapa tidak dari dulu ia balas dendam" ucap Angga heran pasalnya selam ia disana masalah seperti ini tidak pernah terjadi


"entahlah..tapi tidak bisa dipungkiri jika Yogi memang memiliki musuh mengingat ia termasuk pengusaha sukses pasti banyak orang yang iri padanya dan mungkin ia menjadikan Cinta sebagai alasan untuk menjatuhkan Yogi"


"bisa jadi...loe harus lebih ketat lagi dalam menjaganya"


"tanpa loe minta pasti gue lakuin..sejak Yogi menjadikan ku sebagai bodyguardnya maka disaat itu pula gue bertekad akan selalu menjaganya"


"gue lega dengernya" sesaat Angga bernafas lega


"gue terlalu sayang sama dia apalagi dia sudah nganggap gue kakaknya sendiri dan sebagai seorang kakak rasa khawatir, takut kadang muncul dalam diri gue mengingat seperti apa kehidulan ia disana. saat oigi mengutus gue ke sini ada rasa khawatir meninggalkan ia disana tapi saat ada loe gue jadi lega" ucap Angga sambil tersenyim hangat ke Aagler yang dibalas sunyum pula oleh Aagler dibalik maskernya


"boleh gue tanya sesuatu..." tanya Aagler