
"keluar... KELUAR" teriak Yogi menggema membuat Cinta yang masih berdiri mematung dibalik punggung Aagler bergetar ketakutan
sedangkan Aagler hanya mampu menahan sakit di punggungnya akibat lemparan Yogi.
pandangan Aagler kini beralih menatap lekat wajah Cinta yang berdiri di hadapannya, sesaat pandangan mereka bertemu disana Aagler dapat melihat ketakutan yang dirasakan Cinta
"Gler... Yogi" lirih Cinta kemudian beralih manatap Yogi yang membelakangi nya, ingin rasanya Cinta mendekap tubuh tegap sang suami yang ia yakini memiliki masalah besar sehingga bersikap seperti itu. tentunya sebagai istri sudah kewajibannya menenangkan suami jika sedang gelisah
namun apalah daya, Yogi sendiri yang menginginkan ia keluar, sehingga tak ada kesempatan baginya untuk mendekat.
"tak apa, sebaiknya kita keluar dulu" jawab Aagler, kemudian menggiring Cinta keluar dari ruangan Yogi
"mau kemana, apa sebaiknya kita pulang" ucap Aagler setelah mereka keluar dari ruangan Yogi
ting
Cinta tak menjawabnya, membuat Aagler pasrah mengikuti langkah Cinta kemanapun ia pergi
bahkan di dalam mobil pun Cinta hanya diam, tak seperti biasanya mengoceh tentang beberapa hal.
karena tak tahu arah tujuan ingin kemana, akhirnya Aagler berinisiatif membawa Cinta ke suatu tempat
kurang lebih sejam dalam perjalanan, Aagler menghentikan mobilnya membuat Cinta yang sedari tadi diam akhirnya bertanya
"ini dimana" tanyanya lesu
"pantai" jawab Aagler kemudian keluar disusul Cinta dengan langkah ogah-ogahannya
"indah" sahut Cinta yang kini berdiri tepat disamping Aagler yang juga memandang indahnya laut lepas
kemudian mereka berjalan menyusuri pantai tanpa adanya percakapan, hingga mereka berhenti dibawah pohon rindang untuk berteduh
"tunggulah sebentar, aku akan kembali" ucap Aagler berlalu tanpa mendengar jawaban Cinta
Cinta kembali memandang laut lepas yang disuguhkan mata, pikirannya kembali menerawang kejadian di kantor Yogi
tentunya berbagai pertanyaan bersarang di benaknya tentang sikap Yogi tadi, bukannya pagi tadi semuanya baik-baik saja bahkan mereka sempat telponan sebelum ia ke kantor Yogi untuk makan siang
"nih" sahut Aagler sambil menyodorkan kelapa muda di depannya
"makasih" jawab Cinta menerimanya
"nggak usah dipikirkan mungkin Yogi lagi ada masalah" ucap Aagler yang kini duduk sambil memeluk kedua lututnya
"hmm" gumam Cinta membenarkan mungkin memang Yogi lagi ada masalah, biarlah malam nanti ia bicarakan lagi
mereka hanya duduk tanoa bersua lagi, hingga tanpa terasa siang kini beranjak senja
"berdirilah, ini sudah petang aku akan mengantarmu pulang" sahut Aagler yang kini beranjak dari duduknya
"sebentar lagi, kumohon aku ingin melihat matahari terbenam rasanya sudah lama aku tidak melihatnya " pinta Cinta namun tak menatap Aagler
mau tak mau Aagler menuruti keinginan Cinta, ia hanya berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku hoddienya
"bukankah senja itu jahat, keindahannya hanya sementara kemudian tanpa bersalah ia hilang tenggelam dalam peraduannya tanpa memikirkan mata tak puas orang-orang yang masih ingin melihatnya" sahut Cinta yang menyaksiakan detik-demi detik sang surya tenggelam
"itulah kodratnya dan juga pembelajaran bagi kita semua, jangan bersifat seperti senja yang hanya datang memberi angan kemudian berlalu tanpa kata" ucap Aagler membuat Cinta mendongak padanya
"maksudanya"
setelah matahari benar-benar tenggelam, akhirnya Cinta beranjak kembali menyusuri bibir pantai sedangkan Aagler mengikutinya di belakang
dalam suasana ini, dapat Aagler lihat betapa Cinta sangat menikmati berjalan di bibir pantai sesekali merentangkan tangan kemudian memperbaiki rambutnya yang terbang tertiup angin, setelahnya tertawa riang jika lagi-lagi angin meniup rambutnya membuatnya kembali berantakan
tentunya Aagler merasa berhasil setidaknya, Cinta sesikit teralihkan akan masalah yang tiba-tiba muncul ini. Bukan berarti Aagler tak memikirkan masalah itu, tentunya ia juga bertanya-tanya mengapa Yogi seperti itu bukannya semuanya baik-baik saja tapi....
"apa ini ada sangkut pautnya dengan seseorang"
seketika ia teringat saat tanpa sengaja pandangannya saling beradu dengan sosok yang ia temui di lobby kantor tadi
"tapi apa mungkin" Aagler tersentak kala Cinta berteriak memanggilnya, rupanya ia sudah ketinggalan cukup jauh akibat melamun
dengan sedikit berlari, Aagler menyusul Cinta yang kini sudah berdiri disamping mobilnya
Sejam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah dapat mereka lihat mobil Yogi telah terparkir di depan
"makasih" ucap Cinta yang hanya dibalas anggukan oleh Aagler
setelah mobil Aagler berlalu barulah Cinta memasuki rumah. Namun tak mendapati Yogi di ruang tamu, mungkin ia di kamar pikirnya
ceklek
tak dilihatnya Yogi disana, namun ia mendengar percikan air dari arah kamar mandi
dengan gerakan reflek, Cinta menyiapkan pakaian Yogi seperti biasanya
ceklek
Yogi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pengganganya dengan rambut yang masih basa
"aku udah menyiapkan pakaian untukmu pakailah, aku akan menyiapkan makan malam" ucap Cinta mencoba biasa-biasa saja seolah tak ada terjadi
"makasih" jawab Yogi dingin membuat Cinta mengernyit heran
"Gi... "panggil Cinta namun tak dijawab oleh Yogi
"Gi.."kali ini Cinta berdiri di hadaoan Yogi, tapi apa hanya tatapan datar nan dingin yang ia dapatkan seperti saat mereka berada diawal pernikahan.
"kamu kenapa" tanya Cinta lembut
"jika ada masalah bicaralah siapa tahu dengan itu kamu akan merasa lega" imbuhnya lagi
"berhentilah banyak bicara saat ini aku tidak ingin mendengar apapun" jawab Yogi dingin kemudian berlalu pergi keluar kamar
Cinta menyusulnya pikirnya Yogi kearah dapur untuk makan malam, namun saat ia sampai dilantai bawah Yogi malah menuju pintu keluar
"Gi... kamu mau kemana" tanya Cinta
"bukan urusanmu, tidurlah jangan menugguku" jawab Yogi sambil berlalu tidak peduli Cinta yang masih mengikutinya sampai di teras depan
"Gi.... " panggil Cinta mencekal lengan Yogi. namun bentakanlah yang didapatkannya
"MASUK... " bentak Yogi sambil melepaskan cekalan tangan Ci ta kemudian berlalu pergi
Cinta hanya mampu berdiri mematung melihat mobil Yogi yang sudah keluar gerbang
"kamu kenapa" lirih Cinta yang bi gun akan sikap Yogi ini