~Always Be With You~

~Always Be With You~
Pergi?



malam ini Cinta memasak makan malam buat Raga sebagai tanda terimah kasih karena sudah berbaik hati menampung ia di sini


"selesai" ucapnya riang sesekali mengelus perutnya yang kini terasa lebih berisi


"makasih sayang hari ini kamu nggak rewel jadinya mommy bisa masak deh buat om baik"


"karena masakannya udah sekarang kita telepon om baik yuk mudah-mudahan hari ini dia pulang, kan sayang kalo nggak makanannya jadi mubazir"


Cinta melangkah menujuh kamarnya rasanya nggak sabar segera menghubungi Raga agar segera pulang dan memakan masakannya


tut... tut...tut


"nomor yang anda tuju... "


"nggak aktif, mungkin sibuk kali yaa" gumam Cinta namun sekali mana cukup untuk memastikan,. makanya ia kembali mencoba


"halo" ucap seseorang dari seberang sana dan siapa lagi kalo bukan Raga


astaga mendengar suaranya saja Cinta sudah gugup pasalnya setelah waktu itu komunikasi mereka sedikit renggang


"emmm... halo" balas Cinta gugup


"iya ada apa" ucap Raga dingin


"aku cuman mau nanya hari ini kamu pulang ke apartemen?


"sepertinya tidak, mommy ku menyuruhku pulang ke rumah" balas Raga lagi


mendengar itu Cinta berpikir mungkin dirumah Raga akan ada acara dan bisa jadi calon istrinya juga ada disana. Dan dengan ini ia kembali sadar bahwa memang pergi adalah jalan satu-satunya agar tidak menjadi benalu untuk kedua kalinya buat seseorang. Entah itu YOGI maupun RAGA


"ahh iya..klo begitu aku tutup dulu"


"hmmm"


tut... tut.. tut


Cinta terduduk lemas diatas tempat tidurnya kenapa memikirkan itu saja dadanya sesak


tidak... tidak... Cinta menggeleng keras mengenyahkan pikiran itu benar apa yang dikatakan calon istri Raga tadi


"sebaiknya kamu pergi dari sini aku tidak ingin kehadiranmu menjadi beban buat calon suamiku"


Cinta melangkah menuju meja rias yang ada disana mencari kertas dan pulpen yang mungkin ada disana


"dapat" gumamnya seolah takdir mendukung keadaanya saat ini


setelahnya Cinta membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kembali ke dalam koper. hal ini membuat ia teringat kondisinya beberapa bulan yang lalu hal yang sama dimana ia juga memilih pergi meninggalkan Yogi demi ke bahagiaannya


"nggak papa kan kita pergi ( tanyanya pada sang anak ) mommy nggak mau sayang kehadiran kita justru menjadi beban buat orang lain" dengan mengelus perutnya Cinta berjalan meninggalakan kamarnya. tatapannya jatuh pada makanan yang baru ia masak dengan penuh suka cita beberapa menit yang lalu


dengan senyum Cinta berjalan menuju dapur mengambil memo kemudian menempelkannya pada tudung saji diatas meja makan


sesaat Cinta memandang segala penjuru ruangan tak menyangka bahwa tuhan sedikit berbaik hati padanya dimana ia kembali di beri kesempatan bertemu dengan Raga dan mengucapkan kata MAAF yang selalu menghantui dirinya


"makasih" guamanya kemudian mayeret kopernya keluar dari apartemen itu


•••••••


Ternyata apa yang ia katakan saat ditelepon tadi hanya kebohongan belaka, buktinya dini hari Raga pulang ke apartemennya.


sengaja menunggu waktu dini hari agar ia tak bertemu dengan Cinta. Mengingat rasa kecewanya dan keinginan Cinta agar bertindak sebagai orang asing saja,.maka dengan mengacuhkannya adalah hal yang Raga lakukan


bahkan ia tak menyangka 2 bulan sudah berjalan sejak waktu itu dan kini rasa kecewanya sudah hilang. ia berpikir tidak masalah karena saat ini Cinta sudah ada di samping nya walau hanya dianggap sebagai orang asing pun ia tak masalah


gelap...itulah yang menyambut kedatangannya. sejanak ia mengernyit bingung biasanya lampu pada nyala karena selama Cinta disini ia tidak pernah mematikan lampu.


ceklek


melewati kamar Cinta, ia kembali di buat bingung karena di dalam sana ruangan gelap dan pintunya juga tidak tertutup rapat


dengan pelan Raga mendorong pintu kemudian meraba tembok mencari saklar lampu


ceklek


deg... dadanya tiba-tiba sesak mendapati kamar Cinta rapi dan tak mendapati tempat tidur yang baru saja di pakai. semuanya Rapi


"Cinta.... "panggil Raga melangkah menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam kamar Cinta. walk in closed dan kamar mandi bahkan balkon pun ia periksa tapi...


"tidak ada" menayadari itu Raga dilanda rasa panik namun ia mencoba menekannya tak ingin penyakit yang ia anggap sembuh itu kembali muncul


Raga memeriksa lemari dan sebelum membukanya ia berdoa semoga apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Ia berpikir mungkin Cinta ngidam dan keluar mencari makan.


Raga membuka kasar pintu lemari dan hasilnya


"aaaaaaarrrrggggg" ia berteriak frustasi saat didapati tak ada satupun baju Cinta disana.


"tidak... tidak... "Raga menggeleng keras hingga tatapan jatuh pada kertas putih di atas meja rias dengan cepat Raga meraihnya


*hai.... maaf aku pergi.


bukannya tak ingin pamit hanya saja aku terlalu berat mengatakannya.


Apa aku mengulangi kesalahan yang sama? jika iya sekali lagi aku minta maaf.


mungkin memang benar berlagak layaknya orang asing akan lebih baik untuk kita berdua Raga... aku tak ingin aku dan kamu menjadi toxic.


maaf kesalahanku waktu dulu. jujur aku melakukannya karena adanya alasan yang kuat dan mungkin memang seperti inilah jalan takdir kita berdua. Jangan salahkan takdir mungkin waktu itu dia sedikit bermain dengan kita.


Dan yahh.. kamu salah jika berpikir kenangan yang kita lakukan tidak berharga sedikitpun untukku nyatanya tidak, sampai detik ini pun kenangan itu masih menari indah di kepalaku.


Raga bolehkah aku meminta sesuatu darimu?


jangan terlalu larut akan masa lalu walau nyatanya jujur aku pun sulit lepas darinya. kamu berhak bahagia, maka jangan ragu carilah pendamping yang bisa menemanimu.


kadang aku berpikir bukannya lucu jika kamu yang setampan ini tidak laku.. hahaha jangan yaaa.


aku pergi Raga bukannya melarikan diri apalagi kabur hanya saja saat ini aku butuh ketenangan, kesunyian dan kesendirian.


salam dariku dan dedek bayinya katanya terima kasih om baik*.....


Raga meremat kuat kertas itu rasanya sungguh sesak kejadian waktu itu membuat ia kembali merasa bersalah kenapa ia tidak mampu mempertahankan wanita yang dicintainya agar tidak pergi lagi darinya.


"Cinta... hiksss... hiksss"


cukup lama Raga menangisi nasib sialannya ini, dengan langkah berat ia menuju dapur untuk sekedar minum air dingin untuk menenangkan hatinya itu


pandangannya jatuh pada memo kecil yang tertempel di atas meja


"jangan lupa di makan aku memasakkannya untukmu tapi jika sudah basi jangan dimakan yaa nanti sakit perut"


kembali ia sedih melihat makanan yang tertata di atas meja, semuanya makanan kesukaannya. ia teringat waktu dulu Cinta bertanya apa makanan kesukaannya dan lihatlah kini semuanya tersaji di atas meja makan


menyesal... sungguh ia menyesal seandainya ia tidak berlagak menghindar maka ini semua tidak bakalan terjadi. Cinta masih disni disampingnya dan dia akan membuatkan Cinta susu hamil dan menuruti segala ngidamnya


seandainya saja ia tak bodoh maka semua ini tak akan terjadi, mungkin saat ini ia dan Cinta akan duduk di sini dan menikmati semua makanan ini


"bodoh... bodoh... bodoh" gumamnya sambil memukul kepalanya tak lupa derai air mata yang turun kian deras


Raga berlari menuju kamarnya ledakan emosi yang mengguncang jiwanya memaksa ia harus kembali meminum pil yang ia hindari setahun belakangan ini


depresi... apa penyakitnya kambuh lagi