
dalam perjalanan, Cinta masih sedih sangat terdengar sekali jika sesekali ia sesegukan dan menghapus air matanya walau itu ia lakukan secara diam-diam tak ingin Aagler terganggu dengan dirinya
tapi karena dasarnya Aagler memiliki pendengaran yang tajam membuat ia mendengar hal itu
"sudah makan" tanya Aagler dengan nada sesikit santai
"hiks.. belum" jawab Cinta disela tangisnya membuat Aagler menyunggingkan senyum tipis di balik maskernya
"mau makan diluar aku yang traktrir" ucap Aagler lagi berniat agar Cinta bicara dan melupakan kesediannya
"makasih" cicit Cinta
seseungguhnya Aagler tak menyukai situasi seperti ini, ia lebih menyukai Cinta yang cerewet lagi bawel
setelahnya hening hingga mereka sampai di apartemen tempat Angga
"turunlah, buat malammu bahagia untuk saat ini jangan pikirkan Yogi bersenang-senanglah dengan Reina dan juga Angga" ucap Aagler saat mobil mereka telah sampai pada area apartemen
"kamu nggak turun"
"tidak, ada sesuatu yang harus aku kerjakan"
"kamu kerja sampingan" tanya Cinta menyelidik membuat Aagler sedikit gugup
"emmm.... bisa dibilang iya"
"emang gaji yang Yogi kasih kurang " tanya Cinta lagi
Astaga bener-bener yaa perempuan emosinya cepat berubah-ubah buktinya Cinta, baru aja menangis sekarang cerewet lagi Tapi Aagler suka itu
"tidak, cukup bahkan sangat cukup hanya saja pekerjaan ini...apa yaa... ya gitu deh aku belum bisa riseign karna karyawan nya kurang.. ya itu" balas Aagler kikuk
sebenarnya Cinta kurang yakin tapi nggak papalah orang ini privasi Aagler, dia nggak berhak untuk tahu lebih
saat Cinta sudah berada diluar tepatnya disamping mobil Aagler dengan kaca mobil diturunkan, sehingga Cinta dan Aagler saling bertatap mata
"jangan sedih, buat apa kamu sedih sedangkan ia bisa jadi berbahagia di luar sana" saran Aagler setelahnya menancap gas dan berlalu meninggalkan Cinta yang sempat terpaku akibat perkataannya
"terus mengapa anda sangat bersedih bahkan terpuruk akan hal itu bukan kah lucu jika anda bersedih disini sedangkan ia disana tengah berbahagia"
sesaat Cinta ingat perna mendengar kata-kata seperti itu
"kata itu.... " batin Cinta bergumam
sedangkan Aagler saat ini sibuk melacak keberadaan Yogi melalui alak pelacak kecil yang sempat ia tempelkan di cap belakang mobilnya sebelum ia masuk kedalam rumah Cinta, namun mendapati Cinta dan Yogi bertengkar di teras depan membuat ia yakin ada something terjadi pada Yogi. Maka itulah ia melakukan ini, sedikit mencari tahu
"semoga alatnya anggak jatuh" gumamnya
"kafe palas teduh" gumamnya saat titik itu terhenti di cafe tak jauh dari tempatnya
•••••
Aagler memasuki cafe dengan penampilannya yang berbeda, tak ada hoodie begitupun dengan maskernya. Saat ini ia hanya memakai pakaian casualnya celana levis hitam panjang dengan aksen robek-robek di bagian paha dan kaos putih lengan panjang rak lupa topi hitam nya
dengan penampilannya tentunya membuat orang-orang yang melihatnya kagum dan terpesona, namun Aagker tak peduli saat ini tujuan utamanya dua sosok yang saat ini asyik bercengkerama tanpa menyadari bahwa kini ia duduk tepat di belakangnya
"kapan ini berakhir Gi, aku lelah loh" ucap wanita itu
"sialan ternyata dia selingkuh, berengsek loe Yogi" geram Aagler tertahan membuat ia berjanji akan merebut Cinta setelah ini. Apapun caranya dan bagaimanapun nantinya
"jangan salahkan gue kalo ngerebut bini loe yang cantik itu, bangsat" batinnya setelahnya tanpa menyeduh minuman di depannya Aagler bangkit meninggalkan cafe itu tanpa mendengar pembicaraan lanjut mereka berdua
••••••
"kok Yogi kek gitu sih" geram Angga saat Cinta menceritakan semuanya. Ia tahu ini aib rumah tangganya tapi yakinlah dadanya sesak menampung segala beban yang ada dan saat ini membutuhkan tempat yang cocok untuk ia utarakan dan itu adalah Angga
Angga yang membuka pintu apartemennya terkejut saat melihat Cinta ada di depannya tentunya dengan wajah sembabnya
"sialan loe Gi" batinnya marah
"aku nggk tahu kenapa Yogi kek gitu padahal kita nggak ada apapa" ucap Cinta lagi dengan sedih membuat Angga tak tega untuk tidak merangkulnya
"astaga kenapa nih anak nggak pernah bahagia sih sekalinya bahagia lah sedih lagi" batin Angga
"sudahlah biar besok aku ngomong ke Yogi, sekarang kamu tidur aja udah larut nih"
"iya kak makasih" balas Cinta sedikit tersenyum membuat Angga juga tersenyum
••••••
keesokan harinya Cinta masih nyaman berbaring diatas tempat tidurnya, oh bukan lebih jelasnya malas untuk sekedar beranjak membuat ia hanya meringkuk nyaman dalam selimutnya
panggilan Reina pun tak ia sahuti bahkan saat ini sekedar mengeluarkan suarapun ia enggan
"kak aku masuk yaaa" ucap Reina lagi
ceklek
"pantes nggak dijawab orang masih tidur hihihi"
Reina membuka gorden dan jendela agar sinar matahari masuk kedalam dan hal itu membuat Cinta terusik
"Kqk bangun gih Bunda nunggu di bawah buat sarapan "
"duluan aja Rein, kaka lagi nggak enak badan" balas Cinta lemah
"kaka sakit" ucap Reina kemudian mendekat dan menyentuh kening Cinta
"ia kaka sakit dan kaka panas" panik Reina dan berlari keluar sambil berteriak meninggalkan Cinta yang baru saja mau menahannya
"astaga" Cinta hanya mampu menepuk jidatnya, bahkan dari kamarnya pun ia masih mendengar suara teriakan Reina yang bener-bener menggema itu
Bunda Mila dan Angga yang mendengar teriakan histeris dari Reina terperanjat apa Reina kembali kambuh
"sayang ada apa kenapa teriak-teriak kek gitu" ucap Bunda Mila panik saat Reina kini berdiri di hadapannya sambil mengatur nafasnya
"dek ngomong kamu kenapa, jangan buat kaka ama bunda khawatir Rein" ucap Angga menimpali jujur saat ini ia khuwatir
"nggak kak Rein nggak papa hehehe" jawab Reina cengengesan membuat Bunda mila dan Angga buang nafas lega
"TAPI KAK CINTA SAKIT" kembali Reina berteriak histeris saat mengingat Cinta yang saat ini sakit membuat ia kembali panik
"APA" sahut Angga dan Bunda Mila bersamaan