
"suster...suster...tolong adik saya sus..."ucap Angga panik dengan Raina yang berada di dalam gendongannya
2 perawat datang sedikit berlari membawa brankar
Angga langsung menghampirinya dan meletakkan Raina di atas brankar
beberapa saat kemudian....
setelah mendapat penanganan dari dokter, Raina di pindahkan di ruang rawat inap. Disana Angga masih setia mendampingi sang adik yang masih belum sadarkan diri.
kejadian ini mengingatkan ia kembali,dimana waktu itu seseorang yang ia anggap sebagai adik sendiri juga tergeletak tak sadarkan diri di atas brankar rumah sakit. masih teringat jelas dalam benaknya seperti apa ketakutan, kekhawatiran, ketidak becusan dirinya menjadi seorang kakak, dimana seharusnya bisa mengayomi, membimbing dan melindungi adik-adiknya.
dilihatnya wajah Raina yang masih pucat membuat ke gelisan di hatinya tambah gusar, apalagi sang bunda di rumah belum mengetahui keadaan Raina saat ini di tambah lagi menjelang larut malam.
"engggg" suara lirih Raina terdengar membuat Angga yang masih setia duduk disampingnya sambil mengenggam erat jemarinya terlonjat kaget
"Rain....dek..."panggil Angga dengan gembira, sedangkan Raina perlahan-lahan membuka matany menyesuaikan dengan cahaya ruangan.
"aaaaaa......"teriak Raina histeris disaat kesadarannya mulai kembali
"tolong....kakak...tolong..hikss..hikss..tolong...hiksss" teriaknya lagi
Angga dengan cepat memeluk Raina mencoba menenangkannya
"Rein"panggilnya lirih, kini air matanya tak terbendung lagi melihat sang adik histeris dalam dekapannya
lagi-lagi hal ini membuat ia berfikir tak berguna menajaga Raina
"kakak...hiksss....kak Angga" balas Raina yang kini tidak se histeris tadi
"tenanglah...okey" ucap Angga sambil mengelus-ngelus lembut punggung Raina, kemudian dengan cepat menekan tombol untuk memanggil dokter
seorang dokter datang dengan 2 perawat di belakangnya.
lagi-lagi Raina kembali histeris melihat sosok asing melangkah mendekat
"Kak...tolong...hiksss...tolong...PERGI.....PERGI...AAAAAA" histerisnya sambil menjambak rambutnya
melihat itu Angga mencoba menenagkan Raina kembali, tapi taak kunjung berhenti membuat dokter segera mengambil tindakan
"bagaimana keadaan adik saya dok" tanya Angga tanpa melihat sang dokter, ia hanya fokus menatap Raina yang kembali tidur akibat obat penenang
"diagnosa kami saat ini bahwa adik bapak mengalami syok berat akibat sesuatu yang menggunjang psikisnya dan untuk kedepannya tanpa diketahui bahwa adik bapak akan mengalami hal serupa jika tidak di tangani dengan serius" jawab sang dokter dambil menghela nafas berat
"dan yang paling di takutkan adalah adik bapak bisa terkena gangguan jiwa jika terus beralanjut" lanjutnya lagi
Angga kembali merenungi ucapan dokter tadi hingga hanya satu kata yang kini terngiang-ngiang di benaknya
*Gila.....
Gila...
dan Gila*.....
drttt...drrttt.....
deringan ponsel mengejutkan Angga yang asyik melamun
"bunda" ucapnya lirih
penuh keraguan, Angga menjawab panggilan bundanya
"halo bund"
"Angga kamu di mana, kenapa belum pulang bareng nak Cinta" ucap Bunda Mila
"Cinta dah balik bund?" tanya Angga
"iya..kamu ama Raina dimana kok nggak bareng baliknya"
tak ingin menutupi keadaan, Angga menceritakan segalanya
"bunda kesana sekarang...ya allah....."balas Bunda Mila di sela tangisnya
Angga kembali melamun, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi
beberapa saat kemudian...
Bunda Mila dan Cinta datang. Bunda Mioa segera menghampiri Raina yang masih pulas akibat obat penengang
"ya allah...sayang anak bunda..hikss" tangis Bunda Mila kembakti pecah daat melihat langsung kondisi putrinya
sedangkan Cinta memilih duduk di samping Angga yang masih melamun
"kak" panggil Cinta pelan membuat Angga menoleh melihatnya
"aku gagal Cinta..."balasnya lirih
"maaf....maafin Cinta kak..andai saja Cinta nggak pergi mengkin ini nggak akan terjadi" ucap Cinta menyesal menyalahkan segala sesuatu yang terjadi akibat dirinya
"ini bukan salahmu...tapi salahku yang tak becus dalam menjaga adikku" jawab Angga sambil menunduk sedih
mendengar itu seketika Cinta menghambur memeluk Angga dan dengan senang hati Angga membalasnya
"kak Angga nggak boleh ngomong gitu. kak Angga hebat, kakak yang baik buat Raina dan Cinta"
"buktinya saat ini Raina mengalami hal sebejat ini Cinta, andai aku tak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi..."jawab Angga lirih dengan mata berkaca-kaca
"ini musibah kak dan jadikan ini sebagai pelajaran"ucap Cinta menenangkan
"iya"
beberapa saat hening, bahkan Bunda Mila ikut tidur disamping sang putri di atas ranjangnya
Cinta dan Angga masih terjaga dengan pikiran masing-masing
"oh iya..tadi kamu kemana aku nyari-nyariin nggak ketemu" tanya Angga memecahkan keheningan
"hanya jalan-jalan mencari angin kak" jawab Cinta lugas mencoba menyembunyikan kegugupannya
"aku kira kamu di culik atau kemana gitu"
"maaf kak"
"sekarang istirahat lah udah malam"
"iya" Cinta kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa dimana paha Angga menjadi bantalannya
"tadi aku telfon Yogi buat izin pulangnya lusa aja, aku bilang kondisi Raina lagi nggak baik, makanya di ijinin"
"kenapa harus ijin, kasian Yogi disana pasti kesepian"sahut Angga sambil mengelus lembut surai coklat Cinta
"aku mau nemenin Raina kak..kasian dia seperti itu karena Cinta" ucapnya dengan mata sayu menahan kantuk
"Aagler gimana"tanya Angga sesekali tersenyum akan tingkah Cinta yang masih menjawab walau ngantuk menderanya
"tetep disini...hoaammm...pulangnya bareng" jawabnya sesekali menguap bahkan air matanya menetes disudut matanya
"ohhh"Angga manggut-manggut sambil memperbaiki selumut Cinta
"tidurlah"
"hmm"jawab Cinta yang sudah 2 watt
"kakak juga...hoam" dan Cinta pun tertidur
Di Tempat lain.....
seorang pria yang menetap langit-langit kamarnya termenung mengingat pertemuannya kembali dengan Cinta
FALASHBACK.......