~Always Be With You~

~Always Be With You~
Ngidam 2



Ceklek


Raga memasuki kamar Cinta dengan pelan sembari membawa segelas susu dan buah di atas nampan.


sejak pertengkaran tadi ia belum melihat Cinta keluar dari kamarnya


Raga meletakkan bawaannya di atas nakas sembari melirik Cinta yang tiduran sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"aku bawakan susu untukmu bangunlah dan segera minum selagi masih hangat"


tidak ada respon sama sekali, Cinta tak bergeming


"Cinta... " panggil Raga, ia merasa bersalah telah membentak wanita itu tadi.


"Cinta...jangan kek anak kecil deh" tambahnya lagi


perlahan Cinta membuka selimut dan duduk di pinggir tempat tidurnya. menatapa nanar Raga yang berdiri di depannya


"makasih" balasnya kemudian meminum susunya.


"Raga boleh aku ngomong sesuatu" tanya Cinta saat selesai meminum susunya


"hmmm"


"aku mau pulang"


"kenapa"


"aku wanita yang telah menikah tentunya aku masih terikat dan rasanya tidak etis jika aku tinggal dengan pria lain di sini" ucap Cinta tegas


"kamu mau kemana biar aku yang mengantar mu pulang" saran Raga


"nggak perlu aku bisa sendiri"elak Cinta


"tidak" tolak Raga tegas


"atau setidaknya hubungi suami mu itu untuk menjemput mu disini" usul Raga


"tidak" tolak Cinta cepat


"kenapa, bukannya kamu sendiri yang bilang jika kamu wanita yang telah menikah tentunya sudah tugas seorang suami menjaga istrinya dan kenapa kamu menolak menelpon suami mu itu" ucap Raga tegas


"ak.. aku... aku hanya ingin pulang ke rumah ibu" cicit Cinta sedikit menunduk tidak mungkinkan ia menghubungi Yogi kan dia lagi kabur


"dimana rumah ibumu aku akan mengantar mu kesana"


"tidak...maksudku jangan, ahhhh tidak usah" elak Cinta gugup kembali menolak usulan Raga itu


"kenapa bukannya kamu ingin kerumah ibumu "tanya Raga heran


"maksudku.... "Cinta menggerakkan matanya liar mencoba mencari alasannya yang menurutnya tepat


"ahh.. kenapa harus kamu, aku bisa naik taksi kesana" kesal Cinta


"tidak aman akan lebih aman lagi jika aku yang mengantarmu langsung"


Cinta menghembuskan nafasnya kasar merasa sangat kesal karena tidak berhasil mengelabui Raga


"kamu mau kabur?" tanya Raga membuat Cinta tersentak


"kabur.. hahaha... kabur"ucap Cinta tertawa canggung


"tidak"lanjutnya lagi


"dasar pembohong ulung" cibir Raga


"mulai hari ini tinggal lah disini sampai suamimu sendiri yang menjemputmu" ucap Raga kemudian beranjak pergi


"Kenapa? " tanya Cinta pelan membuat Raga menghentikan langkahnya


"tidak ada alasan lain Cinta, aku hanya ingin melihat seperti apa sosok yang telah kamu pilih itu" ucap Raga kemudian kembali melanjutkan langkahnya


"maaf" cicit Cinta memandang punggung Raga yang hilang di balik pintu


Cinta sedih karena telah menyakiti lelaki sebaik Raga. Rasa yang disangka telah hilang ternyata semu belaka, kini sakit itu kembali menyeruak menyakiti kalbunya


•••••••


Tanpa terasa sudah sebulan Cinta tinggal di sini. kegiatannya hanya duduk, nonton dan tiduran saja hingga membuat berat badannya bertambah pesat


Cinta tidak pernah lagi keluar tanpa izin Raga sejak kejadian itu dan soal ngidamnya mau tidak mau ia harus merepotkan Raga


"siapa suruh"gumamnya


"jadi lapar" ucapnya sambil mengelus lembut perutnya


"anak mommy lapar yaa... yaudah kita minta om baik yaa hihihi"


"tapi kalo dia sibuk gimana yaaa" ucapnya lagi rasanya sangat bimbang. disisi lain ia berpikir sudah sangat merepotkan Raga tapi sisi lain ia teringat ucapan Raga yang waktu itu


"aku siap menanggung ngidam mu itu, jadi jika kamu menginginkan sesuatu jangan sungkan hubungi aku"


mengingat itu Cinta menghilangkan rasa tidak enak hatinya kan Raga sendiri yang menawarkan diri


tut....


tut....


"kok nggak diangkat yaaa" guam Cinta


sementara di tempat lain...


suasana ruang rapat kali ini sangat mencekam, dimana pimpinan mereka murka karena mendapat informasi bahwa di perusahaannya terdapat money laundry yang berimbas pada perusahannya


tapi kali ini bukan rapat melainkan Raga mengumpulkan orang-orang yang berani main curang di perusahannya


"brengsek" Raga benar-benar murka mendengar pagi tadi dari asistenya bahwa terjadi penggelapan dana di perusahaannya


"maafkan kami pak" ucap salah satu diantara mereka


"maaf" ucap Raga pelan membuat mereka yang ada disana bergetar ketakuan


"maaf...kamu bilang maaf" Raga menendang lelaki itu membuatnya tersungkur


"kamu pikir maaf bisa mengembalikan uang saya, 7 triliun bukan uang sedikit bangsat"


getaran di saku jasnya membuat Raga merogoh dan melihat siapa yang menghubungi. sejenak ia mengatur nafasnya yang memburu mencoba meredakan emosi yang sungguh membuncah ini


"segera selesaikan mereka, aku tidak mau tahu minggu depan dana itu harus kembali jika tidak..... "sejenak Raga melirik beberapa orang yang berlutut di sana


"kamu pasti mengerti... "tambahnya lagi pada sang asisten kemudian melenggang keluar


"halo"


"halo.... " suara lembut menyapa indra pendengerannya membuat emosinya sedikit mereda


"kamu sibuk" tanya Cinta


"tidak..kenapa? "


"emmm.... itu... aku"


"katakan kamu mau makan apa" tanya Raga yang sudah tahu maksud Cinta menelponnya


"kamu beneran nggak sibuk"


"tidak.. katakan saja" balas Raga lagi sedikit gemas karena Cinta yang selalu mengulur-ulur cerita


"mau bakso dixxxx" cicit Cinta pelan sangat pelan sehingga Raga harus menajamkan terlinganya


"bakso"


"iya.. tapi kalo sibuk... "


"tunggu bentar nanti akan kusuruh.... "potong Raga


"tapi maunya kamu... "potong Cinta membuat Raga menghelak nafas. bohong bila Raga tidak sibuk dia pikir Cinta hanya meminta sesuatu dan dia akan memesankannya kemudian menyuruh asisten membawakannya


"tapi kalo kamu sibuk nggak papa kok nanti aku pesan online aja" lanjut Cinta lagi


"alasan basi" kesal Raga dalam hati yang sudah tau maksud dari kalimat itu. katanya nggak papa nanti klo nggak di turutin baru nangis


"baiklah 30 menit lagi aku nyampe disana" Raga pasrah


"beneran nggak papa"


"astaga.... iya Cinta nggak papa kok. bilangin dedeknya om baik akan datang bawa bakso" gemas Raga dibalas kekehan di seberang sana


"yaudah aku tutup yahh"


Raga menghelak nafas panjang, sudah sebulan ini ia berperan sebagai suami yang nurutin ngidam istrinya


"aku keluar bentar nanti balik lagi" Raga menelpon asistennya kemudian berlalu menuruti keinginan bumil di apartemennya