~Always Be With You~

~Always Be With You~
Persoalan Jenis Kelamin ( Aagler dan Varen )



semilir angin menerbangkan rambutmya yang tergerai akibat menunduk, menyembunyikan pandangannya seolah tanah adalah objek nyata yang indah dipandang daripada sosok


lelaki yang juga duduk disampingnya.


"seharusnya kamu tidak mengambil langkah sejauh ini Cinta" ucap Aagler memecah keheningan di antara mereka


selama ini ia mencari Cinta ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, mungkin itulah istilah yang pantas untuknya saat itu.


mencari terus mencari tanpa arah dan tujuan berharap segera menemukan sosok wanita yang saat ini hanya duduk menunduk


"kamu tahu apa yang terjadi selama kamu pergi? tidak Cinta kamu tidak tahu sebagaimananya aku dan Angga berusaha mencari kamu, yang khawatir kamu akan kenapa-napa. apa kamu pernah pikir..."


"dan apa kamu pernah mikir gimana aku Gler, aku juga nggak mau kek gini, kamu pikir enak disaat hamil besar gini harus hidup sendirian diluaran sini...nggak" sela Cinta cepat namun dengan suara lirihnya


"kamu nggak tahu gimana sakitnya aku disaat Yogi sendiri ngomong akan nikah lagi, kamu nggak tahu.. hikss.. hikss... " Cinta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. sebenarnya sedari dulu ia berusaha tegar dan sabar dengan mengalihkan perhatiannya akan sosok buah hatinya yang kini bersamanya, selalu menghibur dalam suka dan duka, selalu menjadi penguatnya.


"tapi nggak gini juga Cinta. kamu nggak mikir ada orang tua kamu, ada Angga dan keluarganya yang akan selalu bersama kamu, kalo kamu ada masalah ke mereka Cinta jangan kabur kayak gini yang ada mereka khawatir" balas Aagler membuat Cinta semakin menunduk dalam.


"dan aku Cinta, ada aku yang selalu menunggu kamu bersandar di bahuku mencurahkan segala keluh kesahmu itu" lanjutnya di dalam hati


hening


"udah berapa bulan" tanya Aagler sambil melijat sendu perut buncit itu


"jalan 6 bulan" balas Cinta sembari menatap manik mata tajam itu


"boleh lihat" tunjuk Aagler ada selembar foto yang masih Cinta genggam itu


tanpa kata Cinta memberikan foto usg nya pada Aagler, menerima dan melihat foto itu entah mengapa Aagler merasakan kesedihan mendalam, seolah ia dan calon anak Cinta itu punya ikatan kuat bahkan kini setitik air mata telah jatuh ke pipinya namun buru-buru ia hapus tak ingin Cinta melihatnya.


"tampan" ucapnya lirih membuat Cinta sontak menoleh kepadanya


"maksudnya" tanya Cinta heran baru tadi Varen bilang calon anaknya cantik kenapa pendapat Aagler berbeda.


"iya dia tampan dan lucu" jawab Aagler tanpa mengalihkan pandangannya, tanpa Cinta tahu segaris senyum terbit di bibirnya dibalik masker yang dipakainya.


"tapi Varen bilang dia cantik kenapa sekarang kamu bilang dia tampan kek kalian tahu aja dia cowok aa cewek"


"emangnya kamu belum tahu jenis kelamin dia apa" tanya Aagler heran bukannya seusia kandungan Cinta sudah bisa tahu jenis kelamin calon buah hatinya


"nggak, setiap kali USG nggak mau lihatin"


"tapi aku yakin kok dia cowok"


"kenapa"


"feeling aja"


"tapi Varen.... "


"jangan dekat dengan dia"sela Aagler cepat


"kenapa"tanya Cinta heran


"kita nggak tahu dia gimana bisa jadi dia orang jahat"


"tapi dia baik kok, selama ini dia selalu bantuin aku"


"pernah denger pepatah yang mengatakan serigala berbulu domba"


"ahh tapi mana mungkin sih Varen kek gitu dilihatnya aja dia baik banget, nggak mungkin lah" ucap Cinta merasa tidak percaya apa yang di ucapkan Aagler itu


Aagler diam tak ingin memaksa Cinta, pikirannya kembali pada saat tadi ia bersitatap dengan sosok Varen itu, ada rasa yanhr tidak bisa ia gambarkan saat bersitatap dengan mata tajam nan beringas itu.


"pulang"


"iya pulang, memangnya kamu mau disini terus"


"nggak, aku nggak mau pulang aku mau disini aja" rupamtya Cinta salah mengartikan apa yang di sampikan Aagler. Dikiranya Aagler akan membawanya kembali ke Jakarta.. tidak ia tidak mau


seolah mengerti, Aagler meralat ucapannya


"maksudnya aku akan mengantar mu pulang, disini kamu tinggal dimana"


mendengar itu Cinta sedikit lega


"ohh... yaudah yuk"


selama perjalanan keduanya hanya diam, hingga tiba-tiba menyuruh Aagler berhenti


"kenapa"


"bentar aku mau beli rujak dulu"


"tapi... tempatnya nggak higenis lagi pula belum tentu buahnya masih segar"


"nggak papa pengennya rujak yang itu doang"


"ngidam? " tanya Aagler


"sepertinya" baru saja Cinta ingin turun namun Aagler mencegahnya


"biar aku saja, sebaiknya kamu disini saja"


buru-buru Aagler menuju penjual rujak disana membuat Cinta yang melihatnya terseyum haru


"mestinya papah mu sayang yang nurutin maunya kamu, bukan paman Aagler" gumam Cinta seraya mengelus perutnya dan merasakan tendangan kencil dari sana


"jadi keingat paman baik deh...dede rindu ya ama paman baik" tanya nya pada sang buah hati dan seolah mengerti sang janin menendang pelan


"mommy juga tapi paman baik bukan milik kita sayang, paham yaa" ucapnya mengajak anak bekerja sama jangan sampai suatu hari nanti sang anak menginginkan bertemu dengan Raga kan bisa brabe


"nih... "Aagle menyodorkan sebungkus rujak buah ke tangan Cinta


"pedes nggak" tanya Cinta


"dikit doang" balas Aagler membuat cinta cemberut


"padahal kan maunya yang pedes Gler"


"tapi nggak baik buat kanduunagn kamu" balas Aagler membuat Cinta diam seolah merasa ia dejavu


disaat ia menginginkan bakso berkuah merah yang ada Raga membawakannya bakso yang tidak sesuai apa yang diinginkannya dan malah mengomel saat tiba-tiba ia malah muntah


"Raga" batin Cinta


seolah terkoneksi memanggil nama itu membuat desiran aneh di dada seseorang, berdesir dan berdeguk kencang.


"Aagler" panggil Cinta membuat Aagler yang sedari diam entah mengapa menoleh kepadanya


"jika seandinya suatu hari nanti aku ngidam pengen ngelihat wajah kamu, gimana" tanya Cinta tiba-tiba


membuat Aagler mengehentikan mobilnya mendadak