
Dengan semangat Cinta menyeruput kuah baksonya walau sedikit dongkol karena tidak se merah sesuai keinginan tapi beginipun tidak papa lah
Raga hanya melihatnya karena Cinta menahan ia harus disini untuk menemaninya
"makan sendiri tidak enak" alibi Cinta agar Raga menemaninya
Baru saja kuah terakhir masuk ke perutnya tiba-tiba perutnya memberontak tak tertahankan
"huekkkk" Cinta bergegas menuju dapur memuntahakan bakso yang baru saja di makannya, melihat itu Raga menyusulnya dengan raut kahawatir di wajahnya
"kamu nggak papa" Raga dengan telaten memijat tengkuk Cinta sedangkan Cinta tidak menjawab sama sekali rasa mual di perutnya sungguh menyiksa
"apa ku bilang pasti karena baksonya terlalu pedas makanya kek gini" omel Raga sambil menuju meja makan mengambil air minum dan memberikannya ke Cinta
"makasih"
setelahnya Raga menuntun Cinta untuk duduk di sofa
"udah enakan" Tanya Raga yang duduk di sofa depan Cinta
"hmmmm" Cinta memejamkan matanya meresapi rasa tidak enak dalam perutnya itu
"lebih baik kamu istirahat di kamar aja, Tidurlah" ucap Raga yang sangat-sangat khawatir akan kondisi Cinta dan Cinta hanya menganggukan kepalanya.
Cinta melangkah pelan menuju kamarnya dan itu tak luput dari pandangan Raga karena terlalu lelet makanya Raga berinisiatif untuk...
"aaaaaaa" Cinta terpekik karena tiba-tiba Raga menggendongnya
Raga menurunkan Cinta diatas tempat tidurnya kemudian menyelimuti tubuh mungil itu.
"sekali lagi makasih" ucap Cinta tulus
"iya" balas Raga singkat
"usia mu berapa sih? " tanya Cinta tiba-tiba pasalnya selama ia kenal Raga dulu ia belum tahu umur lelaki itu apakah lebih tua atau lebih muda darinya
"kenapa kamu menanyakan itu"
"nggak aja cuman pengen tahu"
"26 emangnya kenapa" tanya Raga berdiri sedikit jauh dari tempat Cinta sebisa mungkin ia sedikit menjaga jarak walau nyatanya hatinya memberontak dan ingin merengkuh tubuh mungil itu seperti beberapa saat yang lalu
Cinta menggelengkan kepalanya tanda tidak apa-apa
"kenapa belum cari pendamping, menurutku kamu sudah mapan untuk memiliki kekasih" tanya Cinta
ada rasa enggan bagi Raga untuk menjawabnya rasanya ia berpikir apakah Cinta tidak tahu alasannya kenapa?
maka dari itu Raga memilih membelakangi Cinta
"seseorang memberiku trauma akan cinta dan mungkin butuh waktu lama untuk menyembuhkannya"jawab Raga dingin membuat Cinta tersentak
"maaf" cicit Cinta menunduk
"kamu tahu? kisah cintaku sedikit lucu intinya aku menyukai seseorang saat pertama kali aku melihatnya dan disaat aku sudah mengatakan cintaku dia malah menikah dengan orang lain" ucap Raga yang kini memghadap Cinta dan melihat Cinta yang menunduk
"kadang aku berpikir apa alasan dia memilih orang lain ketimbang diriku" lanjutnya lagi
Cinta meresapi setiap kalimat yang di ucapkan Raga itu dan ia merasakan sakit di dalamnya dan membuat air matanya jatuh kian deras
ia tahu ia salah dan ia mempunyai alasan untuk itu.
"kisah kami tak usai, dia pergi setelah mengatakan hal bodoh yang menurutku sangat lucu"
"kenapa kamu menangis" tanya Raga yang kini melangkah mendekati Cinta dan sedikit menunduk kearahnya
"maaf... hiksss" cicit Cinta lagi rasanya sangat keluh menagatakan kalimat yang sedikit panjang dari kata MAAF
hufffff... Raga menghembuskan nafas kasar rasanya tak tega melihat air mata itu kian deras saja, maka dari itu Raga memilih duduk di kursi yang ia ambil dan duduk di hadapan Cinta
"aku seperti orang bodoh yang selalu menunggu kamu membalas cintaku tapi apa kamu malah membalasnya lebih sakit dari penolakan itu sendiri....
"aku tidak marah kamu menolak cintaku hanya saja aku kecewa merasa segala kenangan yang kita lewati bersama tidak ada apa-apanya malah kamu menekankan agar kedepannya kita seperti orang asing saja tanpa perlu menyapa satu sama lain"
Cinta hanya menangis tergugu kemudian memandang Raga dengan mata sembabnya
"mungkin sebaiknya seperti itu Raga, jangan seperti ini lebih baik kita bersikap seperti orang asing saja" ucap Cinta membuat dada Raga sesak bukan main dan memilih meninggalkan Cinta
••••••
Sudah dua bulan sejak kejadian itu dan kini Raga mengabulkan keinginan Cinta itu
bersikap layaknya orang asing
Cinta duduk termenung di depan tv hingga suara bel memburyakan lamunannya
ceklek
Cinta terkejut saat mendapati sosok wanita yang paruh baya dan sosok wanita cantik disampingnya
"loh kamu siapa" tanya sosok wanita paruh baya itu
"ini benerkan tante tempatnya jangan-janagn kita salah tempat lagi" sela wanita yang lebih muda
"bener kok ini apartemennya Raga" jawab wanita paru baya itu
mendengar itu Cinta yakin bahwa sosok wanita paru baya itu bisa jadi orang tua Raga
"bener nyonya ini apartemen Raga" jawab Cinta
"loh kan bener tapi kenapa ada perempuan disini" ucap Wanita paru baya itu
"masuklah nyonya" ajak Cinta dan tanpa menunghu dua wanita itu mmasuk dan duduk di sofa ruang tamu sedangkan Cinta menuju dapur membuat minuman
"silahkan nyonya"
"kamu belum menjawab pertanyaan saya kenapa kamu bisa ada di apartemen anak saya" tanya wanita paru baya itu lagi
"sepertinya dia hamil deh tan" sela wanita di sebelahnya membuat wanita paru baya itu sontak melihat perut Cinta yang memang sedikit berisi
dia sudah pernah mengandung dan ia tahu mana yang buncit karena lemak dan yang hamil
"iya tanye saya sedang hamil dan saya hanya wanita beruntung yang kebetulan bertemu dengan anak tante" balas Cinta
"jadi anak itu anak..."
"bukan nyonya ini anak suami saya dan bukan anaknya anak nyonya" sela Cinta cepat yang seakan mengerti isi pikiran wanita itu
"ahhh... syukurlah" ucao Wanita paru baya itu lega
"hampir saya salah paham kirain situ siapanya anak saya" lanjutnya lagi
"tapi tante apa nggak sebaiknya dia pergi dari sini takutnya nanti orang-orang salah paham" ucap sosok wanita di sampingnya
"iya juga sih tapi... "wanita paruh baya itu menatap Cinta bingung
"ahh saya mengerti kok memang sebaiknya saya tidak disini takutnya menjadi fitnah" balas Cinta
"bagus apalagi kamu tinggal diapartemen calon suami saya" ucap wanita itu lagi
deg
"ahh maaf mbak saya jadi tidak enak hati" tidak menanggapi omongan Cinta, wanita itu malah memilih menuju dapur
"maaf nak bukan saya menyuruh kamu pergi hanya saja..."
"tidak papa nyonya saya mengerti" sela Cinta sambil tersenyum