
Cinta mengantar Reina sampai lobby apartemennya, selagi menjalani proses Terapi Reina belum bergaul lagi dan untungnya ia tinggal tunggu waktu wisudanya.
"kita kekantor Yogi yaa, tapi sebelumnya singgah di resto dulu buat beli makan" ucap Cinta di tengah perjalanan dan hanya dibalas deheman dari Aagler
...•••••••Rz••••••••...
sesampainya di kantor Yogi.
"sampai jam berapa" tanya Aagler saat melihat Cinta membuka seatbeltnya
"kamu ada urusan yaa, yaudah kamu pergi aja mungkin aku disini sampe sore" jawab Cinta membuat Aaglee diam
"yaudah, dahhhh hati-hati" Cinta melambaikan tangannya dari luar dan tetap melambai sampai mobil Aagler tak terlihat lagi
"permisi....pak Yogi nya ada" tanya Cinta pada salah satu resepsionis disana
"atas nama siapa dan apakah ibu sudah ada janji dengan beliau" balas sang resepsionis ramah
"belum mbak....saya..."ucapan Cinta terpotong saat seseorang berteriak memanggil namanya
Cinta dan resepsionis itu menoleh dan mungkin beberapa orang jiga yang ada disana melihat sosok Angga yang terkenal berkharisma, kalem, pendiam kadang datar dan dingin itu teriak histeris dari depan pintu lift
"astaga nih bocah" batin Cinta
Cinta tersenyun tipis melihat Angga berlari kecil menghampirinya
"sweety disini ngapain" tanya Angga
"ohh ini pacar bapak, maaf pak saya tidak tahu" sahut sang resepsionis menunduk hormat
"bahkan lebih" balas Angga acuh
"ngomongnya kok gitu sih" Cinta kesal sampai menyikut pelan perut Angga
"bagaimana mau dapet jodoh kalo sama perempuan aja nggak bisa baik-baik" omel Cinta disetiap langkahnya disaat Angga menggiring ia menuju lift
"iya-iya"kesal Angga saat mendengar Cinta yang terus mendumel
"kak Angga itu udah tua, sampe kapan nge jomblo"
"iya-iya aku udah tua, nggak usah di ingetin"
"umur 26 dikata tua apa kabar 40, 50 dan seterusnya" cibir Angga dalam hati
"gimana terapi Reina tadi" ucap Angga mengalihkan pembicaraan soal jodoh
"bagus, kata dokter El sudah lebih baik dan peekembangannya juga meningkat, kakak tau nggak...."
"enggak" potong Angga polos
"jangan dipotong" kesal Cinta
"iya maaf, tau apa"
"Reina udah nggak takut ngelihat Aagler loh"
"oh"jawab Angga yang biasa saja
"hanya O"heran Cinta
"lah terus apa dong kuarang K, yaudah OK" balas Angga tanpa dosa
"dasar nyebelin, harusnya tuh kak Angga bahagia dong wong adeknya udah ada kemajuan gitu malah biasa aja"
"astaga ...emang perlu aku tunjukin gitu klo aku bahagia lompat-lompat, guling-gulingan atau lompat dari atas gedung gitu" balas Angga membuat Cinta tambah kesel
"nyebelin" ucap.Cinta seraya menginjak kaki Angga yang terbungkus sepatu mahal yang mengkilap
"awww...shhhh...astaga kok diinjek sih Cin" ringis Angga memegang kakinya yang terkena hantaman sepatu Cinta
"biar tau rasa" jawab Cinta dengan lirikan tajamnya
ting
pintu lift terbuka, Cinta jalan terlebih dahulu meninggalkan Angga yang masih sedikit meringis di belakangya
ceklek
pintu terbuka membuat Yogi yang sibuk dengan tumpukan berkasnya mengalih melihat siapa yang masuk
"loh yank kok disini" tanya Yogi yang beranjak menuju Cinta
cup
satu kecupan mendarat dikening Cinta
"pengen mampir aja, emang nggak boleh atau malah ngeganggu"
"nggak kok, justru aku seneng malah akhirnya kamu bisa datang berkunjung"
"loh Ngga loe kenapa" tanya Yogi saat melihat Angga masuk keruangannya dengan tertatih
"gue minta pertanggung jawaban Gi, sepertinya jari kaki gue patah" ucap Angga saat berhasil mendudukan dirinya di sofa tanpa dipersilahkan, emang bawahan durhaka
"haaa"
"bini loe nyiksa kaki gue, diinjek"
"loh yank kok gitu" tanya Yogi ke Cinta
"emang pantas, siapa suruh bikin kesel" jawab Cinta
"astaga, yaudah kamu duduk gih. kamu bawa apa nih" tanya Yogi sambil berjalan menuju sofa deket Angga
"makan siang, karena tadi terapinya Reina sedikit lama yaudah aku beli makan diluar aja, takutnya nggak sempet masak" jawab Cinta sambil membuaka bungkusan yang dibawahnya
"kamu udah makan" tanya Yogi
"belum"
"yaudah kita makan berdua aja"
"nggak deh kalian aja, aku mau pesen mie ayam aja"
"loh kenapa nggak sekalian beli pas dijalan" tanya Yogi
"nggak ada penjual, tenang aja nanti aku pesan online"
"nih kalian makan" Cinta menyodorkan makanan ke Yogi dan Angga, sedangkan ia memesan makanan yang diinginkan nya
"aku ke toilet bentar yaa, oh yah kak nanti klo pesananya udah sampe tolong ambilin yaa" ucap Cinta membuat Angga hanya berdehem di sela kunyahannya
baru aja Cinta akan beranjak, si kurir udah nelpon aja
"oh iya....tunggu ya"
"kak kurirnya ada di bawah tolong yaa, aku kebelet banget" setelahnya Cinta berlari menuju toilet, sedangkan Angga dengan kesel beranjak dari duduknya,.menatap nanar makanan yang baru dimakan setengahnya itu
"nggak bakal gue ambil kok" ucap Yogi
"awas aja....ayam goreng gue masih utuh loh" ucap Angga sebelum keluar
sesampainya di lobby dapat Angga lihat seorang kurir yang menuggu di kursi duduk
"atas nama Cinta" ucap Cinta
"loh bapak namanya Cinta, bukan harusnya cewek ya kok laki" heran sang kurir membuat Angga berdecak kesal
dipikirnya hanya satu, ayam gorengnya terancam jika ia tak kunjung kembali
"iya namanya saya Cinta kenapa, nggak suka lapor ama pak RT mu sana" balas Angga kesal
"yeay...pke sensi segala kek lagi PMS aja" cibir sang kurir sambil memberikan pesanan yang dibawanya
"25 ribu" ucap sang kurir
"100 juga gue bayar" Angga
"sombong" cibir sang kurir menerima uang seratus ribu dari Angga
"ambil aja sisanya"
"eh..eh..nggak-enggak" ucap sang kurir sambil mencekal tangan Angga yang akan berbalik
"astaga mana nggak ada kembalian lagi" gerutu sang kurir
"gue bilang ambil aja, astaga ayam gue nanti hilang gara-gara elo tau nggak" kesal Angga membuat sang kurir berdecak kesal
"gue bukan pengemis"
"yaudah ambil aja anggap sedekah" ucap Angga tak kalah kesal
"yaudah, gue hapalain mukan loe kalo kita ketemu lagi gue balikin kembaliannya"
"hapal baik-baik wajah ganteng gue"
"ihhh narsis" karena kesal sang kurir menginjak kaki Angga
"astaga kaki gue,,,DASAR LOE KAMVRETTTTTTTT" teriak Angga menggema,sedangkan sang kurir hanya berbalik menjulurkan lidahnya
"lihat aja bakalan mampus loe ditangan gue, gue hajar-hajar..dasar kamprer" batin Angga kesal
Angga kembali berjalan tertatih masuk kedalam ruangan Yogi. Tatapan Angga langsung tertuju pada ayam gorengnya dan syukurlah masih utuh tanpa cacat
"napa lagi loe" tanya Yogi yang sudah selesai makan
"ketiban sial"jawab Angga
"alhamdulillah" ucap Yogi
"kampret loe" balas Angga kesel
"nih..."Angga menyodorkan pesanan Cinta dan kembali duduk menikmati makanannya yang terasa hambar karena kekesalan dihatinya.
Di sisi lain.....
Aagler sampai pada suatu tempat yang terdapat bangunan tua.
dengan langkah lebar Aagler menasuki ruangan yang agak tamaran karena hanya di sinari oleh lampu 4 watt
"siapa yang nyuruh loe" tanya Aggler to the point
"lepas Njing" ucap sosok itu murka
plak
satu tamparan mendarat di pipinya
"siapa yang nyuruh loe" teriak Aagler
"loe pikir gue nggak tau sedari tadi loe ngikutin perempuan itu hah"
Flashback
Aagler hanya berdiri agak jauh dari tempat Reina dan Cinta yang duduk menunggu giliran, namun matanya tak sengaja melihat sosok yang tadi ia lihat waktu di apartemen Angga sedang duduk tak jauh dari tempat ia berdiri, karena Cinta dan Reina sedari tadi melihat kearahnya membuat Aagler menjauh agar tak membuat sosok itu curiga
"bukannya tuh tadi..."pikirnya
Aagler segera menjauh saat melihat Cinta dan Reina telah masuk kedalam ruangan dokter El
Aagler terus memantau sosok itu yang masih setia duduk disana seoalah memang sedang menunggu Cinta dan Reina, tapi Aagler sempat menepis pikirannya mana mungkin Cinta atau Reina punya musuh
tapi tuduhannya benar saat sosok itu kembali mengikuti Cinta dan Reina menuju parkiran
namun puncaknya saat sosok itu berusaha menculik Cinta dengan membiusnya, untung saja di gercep dan mendahului aksi sosok itu
setelah menyuruh anak buahnya untuk membawa sosok itu di markas, barulah Aagler menghampiri Cinta dan Reina
Flasback off