
"degg"
"Ra..Ga" batin Cinta gugup
dengan cepat Cinta membalikkan badan, netranya sibuk menyapu kesegala penujuru. Ia yakin sangat yakin bahwa sosok yang bernyanyi tadi adalah RAGA
"kenapa sweety" tanya Angga
"eng..nggak kak..nggak kenapa-napa" jawabnya gugup
"oh..aku ke toilet bentar yaa" pamitnya, sedangkan Cinta kembali sibuk mencari Raga yang ia yakini ada di sini
"aku yakin tadi itu dia"
"ya tuhan..apakah dia berusaha memberitahuku seberapa sakitnya ia...hikss..hikss"
Di sisi lain...
Dengan langkah lebar, Angga berjalan menuju toilet setelah tadi ia bertanya pada salah satu pelayan disana
saat memasuki toilet khusus pria netranya menangkap sosok yang tak asing baginya
"loh Aagler" panggilnya membuat yang di panggil menoleh seketika
"loh Angga" jawabnya terkejut
"elo disini"
"iya lagi jalan-jalan doang"
"tumben loe nggak make hoddie ama masker biasanya juga gitu"
"hmm..ya gitulah"
"oh iya Cinta bilang loe sibuk"
"iya...ada urusan dadakan" jawabnya membuat Angga hanya manggut-manggut
selesai dengan hajatnya, Angga mengajak Aagler buat gabung dengannya dan Cinta
"nggak makasih..gue kesini bareng temen-temen nggak enak kalo di tinggal" tolaknya halus
"ohh..baiklah"
"oh..iya jangan bilang ke Cinta kalo gue disini yaa"
"loh kenapa"
"ya nggak aja"
"baiklah" setelah itu Angga meninggalkan Aagler disana
Dari jauh , Angga dapat melihat Cinta yang sedari tadi celingak-celinguk seolah mencari sesuatu yang membuat dia sedikit bingung
"sweety nyari apa sih" tanyanya
"enggak kak..tadi nyari orang aja keknya tadi ada orang yang mirip temen aku di sekolah dulu"bohongnya
"oh...yaudah balik yuk udah malem banget nih"
"iya kak"
Kemudian Angga dan Cinta pergi meninggalkan tempat itu dan lagi tanla mereka sadari sepasang mata terus memandanginya.
"aku rindu kamu Cinta...sangat" batinnya
Selama perjalanan pulang, Cinta hanya diam dengan memandang arah luar jendela. Ia masih memikirkan dan yakin bahwa yang tadi itu adalah Raga, ia yakin bahwa Raga seolah memberitahunya lewat lagu tentang apa yang ia rasakan saat ini. Mulai dari lagu Andmesh Tiba-Tiba dan lagu Pas sayang-sayangnya dimana 2 lagu itu mencerminkan perasaan dan pristiwa yang dialaminya dulu.
"sweety...kenapa" tanya Angga
"eh..enggak kak..nggak kenapa-napa" jawabnya gugup
sedikit helaan nafas, Cinta mulai cerita. Memang yang dibutuhkan kini teman curhat dan ia tahu bahwa Angga memang tepat menjadi pendengarnya
"tadi dia disana, yang perfome tadi itu dia entah mengapa aku rasa dia seolah menyampaikan sesuatu padaku lewat lagu tadi kak...aku rasa dia..dia..hikss...hikss"ucapnya tak sanggup lagi hanya tangis yang mampu menggambarkan seberapa terlukanya dia akibat rasa yang tak bisa ia hilangkan itu
"suttt...sudahlah" ucal Angga mencoba menenangkan
"tapi...rasanya sakit banget kak..hikss..hikss"
"kenapa aku nggak bisa lupain di kak..kenapa..hikss..hikss..kenapa"
Angga menepikan mobilnya, kemudian memiring menghadap Cintaz kmlemudian memeluk Cinta hangat
"boleh kakak kasih saran" tanyanya membuat Cinta menatapnya dengan linangan air mata seraya menangguk
"hufffff....aku rasa kalian harus mengakhirinya dengan baik-baik"
"temuilah dia..disini kamulah yang bersalah sweety, kamulah yang bertanggung jawab akan sakitnya dia, dari lagu yang tadi ia nyanyikan memang menggambarkan seberapa sakitnya ia, jadi saran kakak lebih baik kalian saling bertemu dan menyelesaikan masalah yang memang harus selesai sedari dulu"
"tapi...aku belum siap" cicitnya
"aku tahu dia baik dan ku yakin pasti dia akan mengerti kondisi kamu waktu itu"
"aku..aku takut kak"
"takut kenapa"
"aku takut dia akan membenciku, aku belum siap melihatnya lagi, aku belum berani berdiri di hadapannya seraya menatap mata yang dulunya teduh dan menenangkan itu menatap benci padaku hikss..hikss..aku takut" cicitnya lagi
"kakak tidak akan memaksamu sweett..tunggulah sampai kamu memang yakin untuk bertemu dan selesaikanlah semuanya" ucap Angga membuat Cinta menangguk lemah
"udah jangan nangis lagi nanti bunda marah lagi kiranya aku yang ngapa-ngapain kamu"
"hehehe iya kak" jawabnya seraya menghapus air matanya
Di tempat lain, tepatnya masi di cafe itu
lelaki tampan dengan tatapan kosongnya masih asyik duduk merenung di temani sang asisten yang selalu setia kemanapun bosnya pergi
"bos" panggil Reza
"aku harus gimana Za" tanya membuat Reza bingun
"gimana apanya bos"
"aku masih mencintainya" tanyanya lagi dengan tatapan yang menatap lurus kedepan
"hufffff......mencintai tak harus saling memiliki bos, apalah daya jika memang takdir menakdirkan ia dengan orang lain mau marah tapi dengan siapa. terkadang melihatnya bahagia saja juga membuat kita bahagia walau bahagianya itu bukan dengan kita, relakanlah dia bos..aku yakin pasti ada kebahagiaan yang juga menanti bos kedepannya"
"aku selalu berharap jika takdir sedikit baik padaku Za, aku berharap tawa itu karena aku, aku berharap cintanya untukku, apa aku salah jika menginginkannya walupun itu hanya sekedar berharap"
"nggak salah bos sama sekali tidak salah, hanya saja bos jangan egois untuk merebutnya secara paksa"
"dari dulu sampai sekarang aku selalu bertanya-tanya Za, seolah kisah ini belum usai"
"mungkin memang belum usai bos dan harus segera diselesaikan"
"iyaa...tapi aku takut Za, aku takut jika suatu saat yang ia katakan bahwa kini ia telah bahagia dengannya, netra yang dulunya memancarkan cinta untukku kini tidak adalagi" ucapnya lesu
"itulah konsekuensi dalam cinta bos...ada saatnya ia datang ada saatnya di pergi tanpa kata seperti halnya angin yang akan membawa kesejukan sementara kemudian pergi meninggalkan hawanya saja"
"merelakan dan mengiklaskan memang sesuatu yang sangat sulit dilakukan tapi jika mau berusaha apa yang tidak mungkin bos...jadi semangat lah"
"makasih Za"
"sama-sama"
"oh iya bos...besok Nyonya Erika menyuruh bos datang ke mansion katanya udah lama bos nggak ngabarin"
"iya... besok aku akan berkunjung"