
Cinta mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu yang terasa menusuk netranya.
nuansa putih pada ruangan serta aroma obat khas membuatnya mengernyit heran, dimanakah ia sekarang pikirnya.
mencoba bangkit dari posisi tidurnya, seketika kepalanya berdenyut hebat memaksanya kembali berbaring
ceklek....
"yank kamu udah sadar" ucap Yogi senang yang kini mendekat kearahnya
"aku kenapa Gi, kok aku disini"
"tadi kamu pingsan sayang dan Aagler yang membawamu kesini"
seketika ingatan Cinta melanglang buana membawanya pada waktu kejadian tadi, air matanya tidak dapat ia bendung lagi mengingat ketika dengan teganya ia dilecahkan oleh sosok brengsek itu
"Gi..."panggil Cinta lirih
"udah jangan diingat lagi dan maafkan aku sayang jika waktu itu aku tidak disampingmu, menolongmu dari penculikan itu"
Cinta tidak menyahut lagi, kini ia memeluk erat sang suami. Rasa hina pada dirinya serta jijik ia rasakan ketika mengingat bahwa tubuhnya sempat di jamah oleh orang lain walau tidak sampai se intim itu tapi tetap saja ia merasa kotor sangat kotor.
Yogi mengelus lembut kepala hingga kepunggung Cinta mencoba menenangkan, tentunya sebagai seorang suami rasa tidak berguna hinggap dalam dirinya betapa tidak becusnya ia menjaga istrinya ini.
dalam benaknya mencoba menerka siapa gerangan dibalik ini semua, apakah memang benar musuhnya tapi kenapa, kenapa mereka melakukan cara kotor dan rendahan seperti ini. seketika ia juga mengingat jika ini adalah kali keduanya Cinta di culik pertama di Canada dan kedua disini berarti hal ini tidak bisa dianggap sepele lagi.
aaarrrgggg....memikirkannya membuat kepalanya pusing tujuh keliling, ia harus bertindak cepat mengingat Cintalah menjadi sasarannya jika ia lengah
tanpa Yogi sadari kini Cinta kembali tertidur lagi, dengan lembut Yogi menidurkan Cinta kembali. Dipandangnya wajah sembab itu penuh Cinta bahkan kini cintanya sangat besar untuk wanitanya ini
"aku sayang kamu istriku" bisiknya
•••••
siang berganti malam, rungan yang tadinya sepi kini heboh oleh para penjenguk siapa lagi kalau bukan Reina, Bunda Mila dan Angga
"nak Cinta udah makan" ucap Bunda Mila lembut yang kini duduk disamping brankar Cinta
"udah bunda tadi disuapin Yogi" balas Cinta
sedangkan Reina, Angga dan Yogi hanya duduk disofa
"kak kok kak Cinta bisa masuk ke sini sih" tanya Reina ke Angga namun sebenarnya pertanyaan itu ia tujukan ke Yogi, tapi karena takut maka Angga menjadi perantaranya
"kakak juga nggak tahu dek, Gi emangnya Cinta kenapa sih sampe-sampe bisa masuk ke RS perasaan tadi siang fine-fine aja deh" jawab Angga dan kini bertanya ke Yogi
Yogi hanya diam, bukannya tidak ingin menjawab, namun karena ada Reina ia tak ingin membuat gadis itu takut jika ia bercerita yang sebenarnya, apalagi Reina baru saja bisa terlepas dari rasa Traumanya.
"tiba-tiba dia nggak enak badan jadinya pingsan" jawab Yogi sembari meng kode Angga , Angga yang melihatnya antara mengerti dan tidak mengerti ia hanya mengangguk membalas tatapan Yogi, yang dipikirnya sesuatu serius sedang terjadi.
kembali suasana hening diantara mereka bertiga, hingga Yogi memecah keheningan
"Rein..." panggil Yogi membuat Reina mengalihkan pandangannya dari Hp nya
"iya kak..."
"kamu udah luluskan..."
baru aja Reina mau menjawab, Angga sudah menimbruk pembicaraan
"oh iya Gi, gue baru inget boleh nggak kalo Reina kerja di perusahaan loe" tadinya Cinta sempat ngusulin sih" sahut Angga
"tapikan kalian adek kakak dan syarat kantor jika memiliki hubungan keluarga nggak boleh satu kantor"
"yaelah Gi, loe kan bosnya boleh lah diberi keringanan dikit"
"ck...nanti gue pikirin lagi deh emangnya Reina mau kerja di kantor kak Yogi" tanya Yogi ke Reina yang hanya bengong sedari tadi
"emm...gimana ya kak, emangnya boleh padahalkan nilai Reina nggak bagus-bangus amat loh kak hehehe" ucao Reina diakhiri cengengesannya
"ck...punya adek kok bego-bego amat sih" cibir Angga pada sang adik pasalnya jika dibandingkan dengan dirinya yang pintar bagaimana bisa adiknya bodoh
seketika Reina cemberut bukan main, kesal akan cibiran sang kakak
"Reina nggak bodo kak hanya saja Reina lulusnya nggak cumlode" balas Reina
"aaaa...Bunda kak Angga ngeselin" pekik Reina kesal yang justru mendapat teguran dari sang Bunda
"adek kok teriak sih ini RS loh" ucao sang Bunda yang malah membuat Reina tambah cemberut bukannya di belain malah diceramahin
"tapi kak Angga nya ngeselin Bund, masa adek dibilang bodoh sih kan enggak"
"udah-udah jangan pada ribut ganggu pasien aja" ucap sang Bunda yang kini kembali bercengkrama dengan Cinta
Reina memandang penuh permusuhan pada Angga yang dibalas wajah menjengkelkan dari Angga
"udah-udah...nilai tidak penting yang terpenting bagaimana cara kinerjamu dan cara menyikapi suatu masalah tanpa masalah, berkas lainnya hanya formalitas saja" sahut Yogi
"tuh....tuh denger kak..kak Yogi aja ngomong nilai nggak penting yang penting kerjanya ,bos sendiri loh yang bilang bawahan bisa apa" ucap Reina penuh kemenangan dibela Yogi dan memandang penuh cibiran ke Angga
"bodoh kok dibanggain...iyain ajalah" balas Angga pasrah namun dibalas tabokan maut dari Reina
"awww....sakit dek" ucapnya meringis sembari mengelus lengannya
Yogi hanya menggeleng-geleng saja melihat perdebatan itu
malam kian larut, Angga dan keluarganya udah pamit pulang dari tadi menyisahkan Yogi dan Cinta disana
"kok belum tidur"ucap Yogi yang kini tiduran sambil memeluk Cinta sembari mengelus punggungnya
"belum ngantuk Gi" balas Cinta dalam dekaoan sang suami
"kenapa hmmm" tanya Yogi yang kini menatao lekat wajah Cinta
"Gi...."panggil Cinta lirih dalam benaknya kini penuh ketakutan akankah Yogi dapat menerima dirinya yang kotor ini
"hmmm"
"aku kotor Gi" ucap Cinta lirih yang kini mengalihkan pandangannya ke arah lain
sejenak Yogi menghelak nafas mendengarnya
"aku kotor Gi...dia...dia menyentuhku hikss...hikss..aku kotor, aku tidak berguna hikss..menjaga kehormatanku untuk suamiku...hiksss"
"hei...hei...denger-denger yaa, lihat aku" seketika Cinta menatap manik yang dulunya selalu tajam memandangnya kini teduh dan lembut
"siapa yang bilang kamu kotor hmm, emangnya dia nyentuh kamu dimana saja"
"disini,sini dan sini" jawab Cinta polos sembari menunjuk bagian mana saja yang brengsek itu menyentuhnya
cup..cup..cup
3 kecupan mendarat di tempat itu
"udah..udah aku hilangin bekasnya" ucap Yogi setelah memberi kecupannya membuat Cinta menunduk malu
"bereskan.."
"tapi tetep aja Gi..dia udah menjamah tubuhku, aku merasa udah kotor banget"
"mau aku hilangin nggak bekasnya" balas Yogi sembari mengedipkan mata nya nakal ,membuat Cinta mencubit perutnya gemas
"aww..kok di cubit sih yank"
"kamunya mesum nggak tau tempat"
"kan mesumnya ama istri sendiri"
"au ahh gelap" Cinta menutup matanya mencoba tidur membuat Yogi terkekeh geli melihatnya, bukannya ia tidak prihatin akan kondisi Cinta namun ia berusaha agar tetap bisa membuat Cinta tersenyum dan melupakan semuanya
mereka berdua tidur saling memeluk lebih tepatnya Yogi yang memeluknya
saat Yogi sudah terlelap berbeda dengan Cinta, seketika ingatannya mengingat sosok yang samar-samar sempat ia lihat sebelum akhirnya ia pingsan
"ahh nggak mungkin, mungkin aku cuma halu aja..nggak mungkin dia disana dan nyelamatin aku...iya nggak mungkin"batinnya
"Aagler gimana yaa kok nggak muncul-muncul" pikir Cinta lagi