
Saat semua orang telah kembali ke rumah masing-masing tinggal lah Yogi dan Cinta. Karena saat awal-awal pernikahan Yogi sudah memutuskan untuk tinggal dirumah yang telah ia beli setelah menikah.
saat kedua orang tua dan mertuannya pergi suasana seakan mencekam bagi Cinta bagaimana tidak dirumah sebesar ini hanya mereka berdua yang menjadi penghuninya, padahal Cinta sudah bersusah payah membujuk kedua orang tuannya untuk menginap tetapi di tolak oleh mereka dengan alasan tidak enak hati dengan menantunya jadi mereka memutuskan untuk menginap di hotel selama mereka di Canada
Cinta dan Yogi masih berdiam diri mematung satu sama lain dengan posisi duduk saling berhadap-hadapan yang mana hanya meja kaca yang menjadi penghalang diantara mereka, entahlah apa yang menjadi pusat pemikiran mereka berdua.
Cinta hanya menundukkan pandangan dan memelintir ujung dressnya, ia merasa sangat takut jika hanya berdua dengan suaminya itu tentu saja ia takut jika Yogi kembali menyakitinya.
sedangkan Yogi yang bersedekap dada sedari tadi memperhatikan tingkah istrinya itu dengan sesekali menyungging kan senyum yang tak bisa diartikan bagi yang melihatnya
" Cinta" panggil Yogi memecah keheningan
mendengar Yogi memanggilnya sungguh jantung Cinta berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, rasa takut langsung datang menghampirinya saat ini
" habis lah aku lagi malam ini" gumamnya
" i..iya" jawabnya tanpa memandang Yogi
sungguh saat ini Cinta sangat lah takut ibaratkan ia sekarang sedang berada bersama mafia yang siap-siap membunuhnya kapan pun dia mau
hanyalah pertolongan yang ia ingin kan saat ini tapi sayang tidak ada orang yang datang menolongnya
"jika suami mu memanggil maka lihatlah dia, aku panggilnya disini kamu lihatnya kebawah apaan tuh" gerutu Yogi
seketika Cinta merasa bahwa orang yang dihadapannya kini adalah Yogi sahabatnya, bukanlah Yogi suaminya yang selalu memukulinya
ada kehangatan hadir di hatinya berharap Yogi bisa berubah.
"iya" kali ini Cinta memandangnya
"Terima kasih" ucap Yogi datar
"buat apa"
" karena kamu rela berbohong ke semua orang tentang kehidupan pernikahan kita ini"
"jika aku tidak berbohong maka aku pastikan kamu bakalan digantung sama ayahku dan pastinya ayahmu mendukung" batinnya
" tidak masalah sudah semestinya seperti itu, aku tidak mungkin mengumbar aib kehidupan rumah tanggaku ke orang lain walaupun kau selalu menyiksaku, menyakiti ku aku tidak akan memberitahukan orang lain cukup diantara kita saja yang tau" jawabnya sambil tersenyum simpul
walaupun ia tersenyum manis tapi kesedihannya tak bisa ia tutupi sedemikian rupa dibalik senyumnya tanpa terasa air matanya jatuh ke pipinya menunjukkan bahwa ia sangat sakit dan sedih saat ini
Ia kembali menundukkan kepalanya tak ingin Yogi sampai melihat air matanya walaupun Yogi sudah melihatnya tanpa perlu di tutupi lagi.
Hening...hanya keheningan menyapa mereka berdua. Hanya suara sesegukan yang terdengar pilu di telinga yang menjadi irama
cukup lama Cinta menangis meluapkan segala kesedihan yang melanda hatinya saat ini, bagaimana tidak sejak ia menikah hanya awal saja ia bisa merenggut manisnya madu dan sisanya hanya pahit empudu bahkan lebih pahit lagi yang dirasanya
bahkan waktu yang ia habiskan untuk menangis belum bisa mengeluarkan segala sakitnya. Dan Yogi masih setia memperhatikannya sampai Cinta mulai tenang kembali
"maaff" ucap Cinta
"aku ingin ke kamar ku kalau begitu aku permisi" ucapnya sambil berlalu pergi
Yogi tak menjawabnya ia hanya memandang kepergian Cinta dengan ekspresi datarnya hingga se ulas senyum tipis penuh arti hadir di bibirnya
sesampainya dikamar Cinta kembali menangis entahlah ia merasa tak cukup puas jika hal yang mengganjal hatinya belum juga hilang
ia menutupi dirinya dengan selimut serta mematikan lampu kamarnya hingga suasana seperti ini merasa pas baginya untuk mengaduh pada sang pencipta akan pahitnya kehidupannya saat ini
sesekali ia memukul gemas dadanya seolah ia merasa sangat sesak hingga susah bernafas. sungguh sulit jalan hidup mu Cinta
" tuhan tolonglah hamba. sungguh besar ujian mu ini rasanya Cinta tak sanggup lagi menghadapinya. sudah banyak kebohongan yang terlontar dari hamba tuhan demi menutupi segala sakit dan kesedihan yang mendera hamba, hamba harus melontarkan kebohongan ke pada orang lain agar mereka bisa melihat bahwa aku ini baik-baik saja. maafkan Cinta bu..ayah aku tau aku salah berbohong ke kalian tapi mau gimana lagi biarlah Cinta yang tanggung semuanya cukup kalian melihat Cinta bahagia walaupun sebenarnya aku terluka aku sayang kalian" ucapnya dan kembali terbayang saat ia harus berbohong ke ibunya
"ya tuhan mudah-mudahan Yogi bisa berubah bahkan dari ekspresinya tak menunjukkan rasa belas kasih kepada hamba, hamba hanya ingin pernikahan hamba tak terasa hambar hanya dengan rasa sakit dan kesedihan yang mendera. mudah-mudahan Yogi bisa berubah seperti dulu lagi hamba mohon kembali kan Yogi yang dulu yang baik dan humoris"
seketika pikirannya berkelana ke oada seseorang yang telah mencuri hatinya itu
"dan hamba mohon tuhan lindungilah ia yang jauh disana sampaikanlah maafku padanya karna telah menyakitinya..maafkan aku Raga aku juga mencintai mu"....
mungkin terdengar egois bagaimana bisa seorang wanita yang bersuami memikirkan lelaki lain tapi mau bagaimana lagi hatinya sudah terpaut akan Raga susah payah baginya untuk belajar mencintai Yogi tapi tidak bisa seolah benih cinta yang ia tanam tak bisa tumbuh dihati yang gersang
cukup lama Cinta menangis dan berbicara mengaduh nasib ke sang pencipta hingga tak terasa ia pun terlelap dalam ruangan yang gelap gulita seperti hidupnya
Pagi hari menjelang....
pagi sekali Cinta sudah bangun dari tidurnya kemudian berlari kecil ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh mukanya
dilihatnya pantulan dirinya di cermin mata yang bengkak serta wajah yang lesu menandakan bahwa semalam ia menangis cukup lama
tak ingin berlama-lama ia langsung mengikat tinggi rambutnya dan menyanggulnya agar tak mengganggu aktivitasnya bahkan ia tak menyadari masih memakai baju yang semalam saking terburu-burunya agar Yogi tak marah kepadanya
jam masih menunjukkan 6:30
"waduh hampir telat nih aku harus segera buat sarapan kalau lambat dikit aja habis aku" gerutunya
dengan lincah ia mengerakkan segala peralatan yang ada memasak dengan cepat untuk menghidangkan sarapan pagi untuk Yogi
30 menit berkutat di dapur akhirnya sarapan pagi ini sudah siap, ia kemudian menatanya di atas meja makan dan menunggu Yogi keluar dari kamar atas
5 menit menunggu akhirnya Cinta melihat Yogi turun dari tangga dan berjalan ke arah meja makan
sejak awal pernikahan sampai sekarang Yogi selalu menyuruh Cinta untuk memasakkannya dan memasangkan dasi kerjanya. yahhh jika dilihat diantara mereka tak ada perselisihan tapi itu hanya bagi orang yang melihat covernya saja tanpa melihat isinya yang sebenarnya lebih buruk dari covernya
selesai sarapan Yogi memberikan dasinya ke Cinta dan Cinta menerimanya dan memakai kannya ke leher Yodi
karna tinggi badan yang berbeda Cinta sedikit mengalami kesulitan dan hal ini sudah menjadi hal yang lumrah baginya hanya saja Yogi yang selalu tidak peka akan hal ini dan Cinta harus spot jantung setiap pagi jika ingin memakai kan dasi ke Yogi karena ia harus mengajaknya berbicara
"emm...anu itu apakah kamu bisa menunduk sedikit aku sedikit kesusahan" ucapnya gugup tanpa memandang Yogi
tanpa menjawab Yogi menundukkan sedikit badannya agar Cinta bisa menyimpulkan dasi kelehernya
Cinta pun memakai kannya susah payah baginya agar tak melihat ke arah Yogi, setelah selesai Yogi pun pamit tak lupa ia menyodorkan tangannya ke Cinta dan Cinta pun menerimannya dan menciummnya sudah menjadi hal yang lumrah baginya sejak awal pernikahan
sangat indah bukan jika dilihat, dilihatnya pasangan yang harmonis tapi nyatanya pasangan yang tragis
setelah Yogi pergi Cinta kemudian mengambil alih pekerjaan rumah tangganya
" let's do this...fighthing...." ucapnya menyemangati diri sendiri
dan Cinta pun larut dalam pekerjaannnya itu. karena Yogi melarangnya untuk bekerja dengan alasan sebagai istri jadi tugasnya hanya urusan rumah.