
Pagi yang cerah kini melanda kota jakarta, kota metropolitan padat akan penduduk yang super dubper sibuk, kini sangat terlihat dipagi hari yang cerah ini.
pagi ini Cinta telah siap-siap untuk sekedar jalan-jalan, hanya sendiri tanpa Aagler karena malam tadi Aagler sempat mengabarkannya hari ini ia izin sebentar ada urusan mendadak katanya, sedangkan Angga sudah berangkat ke kantor, mau ajak Reina tapi sekolah masa ajaknya Bunda Mila
"Bunda..Cinta pamit bentar ya..mau jalan-jalan habisnya ajak bunda nggak mau sihh" pamit Cinta
"hati-hati..maaf ya bunda nggak bisa nemenin, bunda di rumah aja lagi banyak kerjaan sayang"
"baiklah bunda Cinta pamit ya.. assalamualaikum"
rencananya Cinta hanya ingin duduk di taman saja, sebuah taman yang tak jauh dari apartemen tempat Angga. Tempat yang selalu menjadi fovoritenya walaupun bukan di daerah tempat tinggalnya intinya yang penting sebuah taman.
sepanjang kakinya melangkah, ia hanya mampu menatap kagum keramaian yang ada layaknya seorang wisatawan, maklumlah ia hanya sesekali ke Jakarta.
deringan ponsel menghentikan langkahnya sejenak
"Yogi" gumam Cinta tersenyum senang. jarang-jarang Yogi menelponnya jika bukan dia duluan entah itu sekedar menanyakan kabar atau apalah
"halo... Gi udah bangun" ucap Cinta
"hmmm" jawab Yogi dengan suara seraknya
"tapi suaranya kek ngantuk gitu...semalam lembur"
"iya..."
"ngapain telefon kalau masih ngantuk Gi..tidur lagi aja lagian disana masih dini hari kan"
"iya hanya saja..."
"hanya saja apa Gi" ucap Cinta heran
"nggak..nggak papa kok..kenapa jarang nelponnya"
"maaf...aku takut ganggu perbedaan waktu buat aku takut ngeganggu kamu"
"hufff..."terdengar helaan nafas dari sebrang sana
"lagi ngapain"
"jalan-jalan mau ketaman dekat apartemen mu"
"sendiri"
"iya..semalam Aagler ngabarin kalau hari ini ia nggak bisa kerja ada urusan mendadak katanya"
"hati-hati yaa"
"iya...kemarin makan apa aja" pertanyaan yang selalu ia lontarkan sejak ia di Indonesia karena memang Yogi lebih suka makanan rumahan dari pada makan diluar,kecuali jika ada pertemuan diluar saja
"kemarin Bibi masakin opor ayam..yaa walaupun rasanya agak beda"
"hihihi...sabar yaa...kenapa nggak makan diluar aja Gi"
"lagi nggak selera doang"
"oh iya semalam lembur sampai jam berapa"
"kerjaan pada numpuk sejak Angga kesana aku jadi keteteran makanya semalam lembur sampai jam 11"
"Gi..jangan terlalu dipaksakan nggak baik, aku kan dah bilang cukup samlai jam 10 aja nanti kamu sakit"
"baiklah....masih ngantuk"
"iya..."
"yaudah tidur lagi yaa...istirahat yang cukup"
"baiklah...bye"
"bye" dan panggilan pun berakhir, ada sedikit rasa senang di hati Cinta rasanya Yogi sudah berubah tidak ada lagi bentakan, amarah, dingin dan datar yang membuat ia takut saling bertegur sapa, tapi semenjak ia disini seketika Yogi berubah
"aku rindu kamu yang dulu Gi...sahabat yang selalu ada buat aku yang ceria, penyayang, dan baik hati...semoga kamu beneran udah berubah" batinnya sambil menggenggam hp yang diletakkna di dadanya
Cinta kembali melanjutkan langkahnya menuju taman yang kini sudah terlihat di depan mata
sesampainya disana, ia duduk disebuah bangku dibawah pohon Trambesi. Menyaksiakan keramaian.
Lama ia berdiam diri disana berpangku tangan menatap jauh kedepan, entah mengapa perasaan yang masih terpendam kini menyeruak naik ke permukaan, seketika membuat dadanya sesak, mata memerah menahan kesedihan
tapi sayang pertahannya masih sama belum kuat dan kokoh, sehingga air yang ia bendung di pelupuk matanya kini lolos juga
seakan ia Dejavu, ingatannya kembali menariknya kemasa lalu dimana disebuah taman yang jauh disana, ia telah melepas dan menyakiti cintanya meninggalkannya begitu saja tanpa perpisahan yang manis
"aku masih kalah...aku kalah..ketegaranku masih kalah akan duka ku..kenapa rasa ini masih disini ya allah" batinya seraya meremas dadanya
pandangannya kembali menatap lurus kedepan, dimana sepesang kekasih kini saling bercanda
"dulu aku suka tawanya, senyumnya...hikss tapi mungkin hikss karena aku tawa dan senyum itu hilang...maaf...hiks...aku minta maaf"
"apakah kamu masih sama ...jujur aku rindu tapi hiks apalah dayaku aku telah terikat hubungan dengan pria lain sehingga rasa yang kurasakan padamu menjadi salah dan dosa..tapi mungkin rasa ini salah tapi baik bagiku"
Cinta menengadah menatap langit pagi yang indah diatas sana, seulas senyum kini terbit diwajah cantiknya yang kini sembab dengan lelehan bening di pipinya
setelah cukup lama duduk di taman, kini ia mulai beranjak, baru saja ia membalikkan badan netranya menagkap sosok yang baru saja ia ridukan
"Raga"
Cinta masih berdiri diam mematung di tempatnya, seakan tanah mengikat kuat kakinya sehingga ia tidak bisa beranjak
dari jarak lebih dari 10 meter, ia bisa melihat dengan nyata sosok yang masih tersimpan rapi di hatinya
seketika ia sadar ketika sosok itu juga terpaku melihatnya
dengan langkah cepat Cinta membalikkan badannya melangkah cepat meninggalkan tempat itu
ia tak ingin rasa ini semakin membuatnya jauh dan jatuh semakin dalam akan perasaan yang belum bisa ia kendalikan
ia harus ingat bahwa kini keadaan berbeda, ia seorang wanita yang telah menikah tapi mau bagaimana lagi ia tak bisa membohogi perasaanya...rasa cinta, sayang, rindu itu masih ada
di sisi lain....
Raga..ya pria itu Raga yang juga masih terpaku di tempatnya.
sebenarnya hari ini ia ada meeteng pagi di salah satu resto dekat taman, baru saja ia akan masuk tapi hpnya ketinggalan di mobil, makanya ia meminta Reza sang asisten untuk duluan saja sedangkan ia kembali keparkiran untuk mengambil hp yang ketinggalan
tapi entah mengapa....seakan ada ikatan tiba-tiba netranya menangkap sosok yang masih bahkan sangat ia cintai di depan sana yang juga melihatnya
"Cinta" gumam Raga