~Always Be With You~

~Always Be With You~
Konsul Buat Reina



Dengan berat hati Raga membantu sang adik dalam menyelesaikan skripsinya.


Raga termasuk anak yang cerdas, bahkan di usia 20 tahun ia telah menyelesaikan S1 nya dan 22 tahun untuk S2


berani meminta bantuan berani pula menerima resikonya, mungkin itulah kata yang pas buat Excell saat ini


kondisinya sudah sangat mengenaskan, lelaki berudia 20 tahun itu harus rela menderita menerima pukulan jika sewaktu-waktu ia salah atau mendapat jitakan jika ia menutup mata karena ngantuk


"ayolah kak, badanku sakit semua"keluh Excell kesal bagaimana tidak badannya terasa sakit semua dipukul inilah itulah. Andai saja ia tak butuh sudah pasti ia balas


"nggak usah protes, cepet" balas Raga dengan melotot membuat Excell mau tak mau melanjutkan skripsinya walau dalam hati merutuki kakaknya itu


2 jam berlalu, tanpa terasa jam sudah menunjukkan waktu makan siang


Raga menghentikan diktenya pada sang adik, kemudian menelpon seseorang untuk membawakan makanan untuknya dan Excell


"uhhhhh....akhirnya selesai juga" ucap Excell lega, akhirnya skripsinya jadi juga. Mungkin jika dipikir ia adalah satu-satunya mahasiswa yang menyelesaikan skripsi dalam hitungan jam


selesai meregangkan otot yang terasa kaku, ia beranjak menuju sofa panjang untuk meluruskan punggung yang terasa bengkok itu


mungkin saking lelahnya tanpa sadar ia ketiduran, memikirkan skripsi membuat rambutnya terasa griting ditambah lagi desakan sang daddy yang meminta skripsinya sudah ada di meja kerja sebelum ia serahkan ke dosen nanti


tak heran jika sang daddy memeriksa skripsi, dulunya sang daddy asisten dosen dan sudah hal biasa katanya dalam memeriksa sripsi, katanya


Raga hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan sang adik, tak heran karena dulu ia juga seperti itu.


Raga membereskan meja yang dipenuhi buku cetak yang terbuka, kemudian nge print skripsi sang adik yang lembarannya tak banyak hanya berisi 50 lembar termasuk kata pengantar, sampul,daftar isi, penutup dan refrensi


tak perlu berapa banyak lembaran, walau sedikit yang penting bisa di kuasai dan dimengerti


tak berselang lama ketika semua kerjaanya selesai, Reza sang asisten datang sambil membawa makanan pesanannya


"udah makan Za" tanya Raga


"udah Tuan" jawab Reza kemudian undur diri


Raga membangunkan Excell kemudian makan siang bersama


...•••••••Rz••••••••...


di tempat lain , tepatnya di sebuah rumah sakit ternama Angga kini duduk saling berhadapan dengan dokter bernama Eldric


dokter Eldric mulai menjelaskan soal Trauma kepada Angga setelah Angga menjelskan keluhan yang dialami sang adik


"seperti yang ditahu bahwa trauma adalah keadaan yang timbul akibat kejadian buruk menimpa seseorang, membuat orang tersebut merasa syok, marasa tak nyaman dan selalu terancam akan lingkungan sekitar. orang yang mengalami trauma mungkin juga akan tersiksa dengan emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa tersebut, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Bahkan, Anda mungkin juga menjadi tidak bisa percaya lagi kepada orang lain.. Dari reaksi mental mungkin akan selalu mengingat-ngingat kejadian yang membuat ia seperti itu, reaksi emosional seperti takut, cemas,panik, depresi, selalu merasa waspada dan sulit percaya akan sekitar.


Dari segi Reaksi Prilaku, Berusaha menghindari berbagai hal yang mengingatkan terhadap kejadian traumatis, Sulit berhenti untuk memikirkan apa yang telah terjadi, Tidak melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, perubahan terhadap nafsu makan, seperti makan lebih banyak atau justru lebih sedikit, gangguan tidur,Mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan tak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, atau minum kopi secara berlebihan."


Angga masih mendengarkan dan sesekali membenarkan dan bersyukur setidaknya ada bebarap hal yang tak Reina alami


"lalu tindakan apa yang harus saya ambil dok" tanya Angga


"Sebenarnya, ada benerapa cara seperti:


• Terapi


Salah satu cara yang bisa Anda tempuh adalah dengan menjalani psikoterapi atau terapi psikologi. Cara ini dianggap salah satu yang paling efektif, khususnya jika sudah tidak bisa mengatasi kondisi ini secara mandiri atau dengan bantuan orang terdekat


•Penggunaan obat-obatan tetapi tetap harus atas resep dokter bukan keinginan sendiri, tapi dokter juga akan tetap memeriksa walau sudah mengkonsumsi obat obatan untuk meninjau perkembangannya


• Tindakan mandiri di rumah


Sebagai hal yang wajar setelah mengalami kejadian traumatis, trauma sebenarnya bisa hilang tanpa bantuan ahli medis. Namun, harus ada kemauan dari diri sendiri untuk terlepas dari trauma yang dialami. Untuk mengatasi trauma tanpa bantuan ahli medis, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, misalnya, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergisi, olaharaga, dan tetap beinteraksi dengan sekitar" ucap dokter Eldric panjang lebat


dalam penjelasan ini Angga mengambil keputusan dan langkah awal yaitu Terapi dan didukung dengan tidndakan mandiri di rumah


"baiklah jadwal terapi minggu depan dan setiap 2 bulan sekali di minggu awal dan akhir" ucap Dokter Eldric


"iya dok...makasih" balas Angga


...••••••Rz••••••...


Cinta dan Yogi menuju rumah sakit, lebih tepatnya Yogi yang mengantar Cinta kesana sedangkan ia harus ke kantor tempat Angga di utus


"makasih" ucap Cinta saat sampai


"iya...nanti ku jemput" balas Yogi


"sampaikan maafku sama bunda dan Angga yaa, soalnya nggak sempat mampir" tambahnya lagi


sejak Angga libur sesaat saat itu pula pekerjaannya pada numpuk


"iya"


Cinta melambai saat mobil Yogi sudah menjauh, senang rasanya kini kehidupan pernikahannya telah berubah, walau hati masih terpatri akan satu nama yaitu Raga namun ia akan berusaha membuat ruang baru untuk Yogi dihatinya bukan sebagai teman tetapi sebagai seorang suami


"cantik"gumam sosok itu


Cinta melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Reina


"assalamualaikum...."ucapnya saat pintu terbuka


Bunda Mila yang saat itu menyuapi Reina buah beralih tersenyum padanya


"waalaikumsalam"balas Bunda Mila


"gimana Bunda keadaan Reina" tanya Cinta yang kini duduk disampingnya


"yah seperi nak Cinta lihat"jawab Bunda Mila beralih menatap Reina yang masih menatap kosong


"emm...bunda udah makan belum"tanya Cinta dijawab gelengan oleh Bunda Mila


"yaudah bunda makan dulu yaa nanti bunda sakit lagi kasian Reina ama kak Angga kalo bunda ikutan sakit" ucap Cinta


"yaudah Bunda ke kantin dulu yaa, bunda titip Reina"ucap Bunda kemudian berlalu meninggalkan Cinta dan Reina


"Rein...."panggil Cinta namun tak mendapat respon


"Rein..."panggilnya lagi namun lagi-lagi tak mendapat respon


karena kesal, Cinta menangkup dua pipi Reina agat Reina menatalnya dan berhasil walau pandangan Reina masih kosong


Cinta menguyel-nguyel pipi Reina sedikit mencubit agar Reina beraksi tapi tidak


plak....


satu tamparan keras mendarat keras di lipi Reina membuat Reina menoleh kesamping


Cinta mencengkram kerah baju Reina dan mengguncangnya


"sampai kapan kamu kek gini hah, kamu nggak kasian ama bunda ama kak Angga yang khawatir ama kamu....sadar Rein sadar jika bukan kamu sendiri yang menolong dirimu lalu siapa huh...sadar...sadar" ucap Cinta bukwn marah hanya saja agar Reina bisa sadar


dan sekali lagi tamparan medarat di pipi Reina tak terlalu keras namun mampu membuat Reina sedikit beraksi menunjukakn bahwa ia sedang ketakutan


baru saja Reina ingin hisreris namun suara bentakan dari Cinta mampu membungkamnya


"DIAM....."Bentaknya membuat Reina diam seketika


"liat aku...semuanya akan baik-baik saja disini ada kak Angga, aku dan bunda yang akan lindungi Reina okeyyy" tambahnya lagi kali ini dengan nada merendah penuh kelembutan


"kakak hanya ingin Reina sembuh dan kembali seperti semula, Reina maukan kuliah lagi terus kerja buat banggain Bunda dan kak Angga" ucap Cinta yang mamou membuat Reina menangguk


"mulai sekarang lawan ketakutan Reina, jika memang tak mampu sesekali berteriak menagis juga nggak papa tapi jangan keseringan takutnya bunda khawatir lagi" tambahnya lagi


dan tanpa Cinta sadari Angga dan Bunda Mila memperhatikan ia sedari tadi, sempat terkejut namun melihat reaksi Reina mereka membiarkannya, walau ketakutan terjadi adegan smake dawn tapi syurlah tak terjadi


"ekhem..."deheman Angga mengalihakan eksistensi Cinta


"eh kak Angga, bunda" sapa Cinta sopan seolah tak pernah terjadi sesuatu


"ada apa nih" ucap Angga pura-pura tak tahu membuat Cinta dengan polos menggeleng


"ya allah nak..pipi kamu kok merah" ucap Bunda mendramatisir walau ia tahu yang sebenarnya


dan dengan polosnya Reina menunjuk Cinta membuat Cinta melotot tak percaya


"ya allah Cinta kamu ngapain Reina" ucap Bunda penuh selidik


"nggak bund...nggak...nggak sengaja maksudnya tadi itu ada nyamuk disana jadi nggak sengaja Cinta tabok deh" elak Cinta gugub dan kembali melotot tajam ke Reina sedangkan Reina hanya tersenyum saja


Angga memeluk Cinta kemudian berbisik


"makasih, kamu memang hebat" bisiknya sambil mengelus lembuat surai Cinta


Cinta yang sedari tadi menahan gejolak perasaan dalam dirinya tak dapat lagi ia bendung


maka luruhlah air bening itu juga dari peluk matanya


"aku juga nggak tega kak nampar dia, tapi aku lebih nggak tega ia seperti itu" lirihnya dalam dekapan Angga


"makasih kak" sahut Reina walau terdengar lirih


membuat Bunda dan Angga kini beralih memeluknya tak lupa Cinta juga


"lain kali kalo kamu diem la)i aku bakalan jitak nggak papakan Bund" kali ini Cinta mohon izin


disambut gelak tawa dari Bunda dan Angga