
awal-awal pernikahan Cinta dan Yogi berjalan seperti halnya pernikahan pada umumnya, walaupun Cinta belum menjalankan kewajiban sepenuhnya menjadi istri dari Yogi tapi Yogi pun memaklumi hal itu. Ia berpikir mungkin Cinta masih membutuhkan waktu akan hal ini.
hingga suatu ketika Yogi mendadak berubah yang dulunya baik, humoris dan romantis ke Cinta mendadak menjadi jahat dan selalu mencelakai Cinta
sudah berbulan-bulan usia pernikahan mereka dan berbulan-bulan juga Cinta harus merasakan sakitnya kehidupan pernikahan yang ia jalani bersama Yogi. sampai sekarang ia belum mengerti mengapa Yogi yang dulunya baik ke dirinya mendadak berubah.
berbagai luka mendera tubuhnya, setiap hari Yogi selalu menyiksanya tanpa ada alasan yang mendasar, tubuh indahnya kini di penuhi berbagai luka lebam sungguh sakit ia rasakan mungkin luka fisik masih bisa ia sembuhkan tapi bagaimana luka batin yang ia terima sungguh sulit baginya menyembuhkan luka itu sungguh dalam luka yang ditorehkan Yogi di hatinya belum lagi luka penyesalan yang ia rasakan karena telah mengecewakan Raga masih menganga lebar tanpa ada tanda-tanda akan sembuh mungkin sakit itu harus ia rasakan seumur hidupnya dan mungkin ini karma yang harus ia terima, habislah sudah penderitaan yang harus diterimanya, ia dihantam dari dua sisi baik fisik maupun batin.
Tapi Cinta tetaplah Cinta, dia tetaplah gadis yang kuat seberapa pun sakit yang ia terima ia akan selalu tampil ceria di hadapan orang lain, biarlah sakitnya hanya dia yang rasa tak perlu orang lain.
.............Rz...........
Hari ini di kediaman Yogi di Canada sedang melangsungkan acara besar-besaran karena perusahaan cabang yang dikelolah Yogi mengalami peningkatan yang sangat signifikan dan ayahnya Yogi pun yaitu Pak Hirawan memutuskan menyelenggarakan pesta besar-besaran untuk putranya itu semua kolega bisnisnya ia undang bahkan kedua orang Cinta pun hadir di acara itu karena pak Hirawan mengundang mereka dan betapa bahagianya ibunya Cinta akhirnya setelah berbulan-bulan ia bisa bertemu dengan putri semata wayang nya itu
Hari ini Cinta sangat disibukkan dengan berbagai pekerjaan walaupun ibu mertuanya melarang ia melakukan pekerjaan itu dikarenakan sudah banyak pelayan yang bisa mengerjakannya tapi Cinta tetap kekeh ingin mengambil andil dalam acara suaminya itu walaupun ia harus membatasi gerakannya di karenakan semalam Yogi kembali melampiaskan amarah kepadanya dan tentunya luka fisik kembali ia terima disekujur tubuhnya belum kering luka lama sekarang ditimpal luka baru.
Cinta berusaha bergerak seperti pada umumnya di depan semua orang walapun ia harus menahan sakit yang amat di sekujur tubuhnya tetapi ia tak mungkin menunjukkan hal itu kepada orang lain terutama disini ada orang tuannya, mertuanya bahkan kolega bisnis mertua dan suaminya
merasa pekerjaannya telah selesai, Cinta mengistrahatkan diri sejenak i kursi samping halaman rumahnya
"nak kamu apa kabar" sapa ibu Eca ibunda Cinta
"baik bu"
"apakah kamu sakit sayang kenapa kamu jadi kurus begini" tanya ibu Eca sambil mengusap lembut rambut putrinya itu
"aku hanya diet bu. ibukan tau sendiri setelah aku menikah dengan Yogi aku selalu memakai dress seperti ini jadi aku tak ingin ada lemak yang menumpuk di tubuhku sehingga mengurangi kadar kecantikan ku" ucap Cinta yang penuh dengan kebohongan
"maafkan aku bu aku tak ingin ibu kepikiran tentang betapa tragisnya aku saat ini, biarlah aku saja yang menanggung akibat dari keegoisan kalian terhadapku" batin Cinta
sekuat tenaga Cinta menahan agar ia tak menangis dihadapan ibunya, ia selalu menampilkan senyum indah agar ibunya tak curiga akan kondisinya.
" bagaimana pernikahan mu, apakah nak Yogi memperlakukan mu dengan baik, apakah Yogi membahagiakan mu"
mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut ibunya itu membuat Cinta diam tak menjawab seolah mulutnya tak bisa ia gerakkan
" apakah kali ini juga aku harus berbohong sunghuh ingin sekali rasanya aku berteriak sekencang mungkin agar rasa sesak didalam dadaku ini sedikit berkurang aku rasa ruang di dadaku tak mampu lagi menampung segala sakit yang aku terima" batin Cinta menatap ibunya
Cinta hanya melontarkan senyum indahnya menanggapi pertanyaan dari ibunya. kemudian ia memeluk ibunya seolah pelukan itu sangatlah ia dambakan saat ini
"Yogi baik bu, Yogi selalu bahagiain Cinta segala sesuatu yang Cinta minta pasti ia kabulkan" ucapnya lirih
tanpa terasa satu bulir bening meluncur kepipinya seberapa besar pun ia mencoba ia tak dapat membendung sakitnya itu sehingga air matanya berani lolos tanpa persetujuan darinya
"syukurlah ibu bahagia dengernya. semoga penikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan kalian" ucap ibu Eca mengusap lembut rambut Cinta dan memberikan pelukan hangat bagi putrinya itu
Tanpa sepengetahuan sang ibu Cinta menangis sejadi-jadinya ia berusaha meredam agar tak sampai mengeluarkan suara bahkan mendengar itu Cinta berusaha mati-matian agar tak samapi sesegukan di pelukan ibunya walaupun sekarang air mata mengalir deras dipipinya
"sungguh pelukan ini sangat nyaman" batin Cinta
"ia bu semoga" ucaonya sambil tersenyum
" kenapa kau menangis sayang hmm" ucapnya menghapus jejak air mata dipipi Cinta
" tidak bu Cinta hanya terharu akan doa ibu dan Cinta juga masih kangen banget sama Ibu" ucapnya sambil memeluk kembali sang ibu
" maafkanlah anakmu ini bu sudah banyak berbohong sama ibu, biarlah dosa Cinta yang tanggung yang penting ibu bahagia" batin Cinta
kemudian ia melepaskan pelukannya dari sang Ibu
"yaudah Cinta masuk dulu ya bu nggak baik beberapa kolega bisnis Yogi ada didalam sedangkan Cinta ada disini nanti Yogi cariin lagi" ucapnya terkekeh walapun harus dipaksakan
dan Cinta pun berlalu pergi meninggalkan sang Ibu yang terus menatap kepergiannya hingga ia hilang dibalik Pintu
"semoga kau bahagia sayang" ucap bu Eca lirih
Tanpa terasa acara itupun selesai semua tamu satu persatu pergi meninggalkan kediaman Yogi meninggalkan orang tua dan mertuannya.
kedua keluarga besar itupun bersaintai ria di tuang tamu membicarakan hal-hal tentang bisnis sampai kehidupan pernikahan Cinta dan Yogi
"bagaimana nak Cinta apakah kamu bahagia menikah sama Yogi, apakah ia memperlakukan mu dengan baik, jika ia berbuat salah marahi lah dia jika perlu jewer telingannya hehehe" ucap pak Hirawan terkekeh
mendengar pertanyaan yang sama yang terlontar dari mulut ayah mertuanya membuat Cinta sedikit gugup menjawabnya, kemudian ia melirik Yogi yang duduk didepannya.
Dilihatnya Yogi memandangnya taajam seolah mengisyaratkan jika Cinta berbicara yang tidak-tidak maka ia akan melukainya
kemudian Cinta mengalihkan pandangannya mengarah ayah mertua karena takut akan tatapan Yogi itu
" tentu ayah" jawabnya singkat dambil tersenyum
"oh iya bagaimana Cinta apakah sudah ada tanda-tanda kehamilan" tanya ibu Citra ibu Yogi
mendengar pertanyaan itu Cinta merasa sebuah bogem mentah melesat kewajahnya sungguh berat pertanyaan sang ibu mertua yang dilontarkannya
" lagi-lagi aku harus berbohong untuk menutupi pahitnya kehidupan pernikahan ini" batinnya
"emmm belum bu" jawabnya menundukkan wajahnya
bukan karena malu melainkan takut akan tatapan Yogi yang sedari tadi menatapnya seolah ia siap menerkam dan mencabik-cabik tubuhnya
"yasudah jangan dipikirkan keturunan itu hanya allah yang tahu kapan ia akan memberikannya kepada kalian, kalian hanya perlu bersabar dan berusaha lagipula pernikahan kalian kan masih muda jadi jangan terlalu dipikirkan" sahut Bu Eca
" seandainya ibu tahu bahkan selama beberapa bulan ini aku harus selalu hidup diambang kematian" batin Cinta
sedangkan Yogi hanya diam sedari tadi memperhatikan alur pembicaraan itu