
Entah mengapa malam ini Cinta merasakan hal aneh pada dirinya, sesuatu yang di tolak oleh perutnya namun diinginkan tenggorokannya.
Cinta melirik jam yang tertempel pada dinding
"7 malam" gumamnya
dan sampai jam ini pun Raga belum juga menampakkan batang hidungnya
"ehhh kenapa aku harus harapin dia nya sih" batin Cinta sembari menggeleng-gelengkan kepalanya menhusir sesuatu yang baru saja muncul itu
kembali Cinta pada keinginannya ini sembari mengetuk jemari telunjuk di dagunya, Cinta memikirkan apa yang harus ia lakukan
"tapi aku mau" ucapnya sedikit frustasi rasanya sungguh tak mampu menolak keinginannya ini
"pengen nangis dehhh" gumamnya, matanya kini berkaca-kaca sungguh pengen nangis rasanya saat keinginannya ini belum terwujud juga
walaupun sudah malam dan waktunya makan malam Cinta belum juga menyentuh makanan yang di pesankan Raga melalui delivery, melihatnya saja nafsunya udah hilang
"aku pergi aja kali yaa, pengen banget soalnya" gumamnya lagi berfikir
5 menit kemudian Cinta memutuskan untuk pergi, selesai ganti pakaian Cinta keluar dari unit apartemen Raga menuju lantai bawah karena kebutulan unit ini berada di lantai 20
sesampainya di bawah Cunta mencari taksi online yang tadi di pesannya
"mbak Cinta"
"iya pak"
"sesuai aplikasi ya pak" ucap Cinta lagi dibalas anggukan oleh pak supirnya
didalam perjalanan Cinta hanya melamun menapat keindahan kota dimalam hari. dalam situasi ini sungguh ia merindukan Angga, Reina dan Bunda Mila tapi ia tidak ingin merepotkan mereka karena masalah yang dihadapi nya.
berpikir karena sudah dewasa ia harus mampu mengatasi segala masalah tanpa melibatkan kedua orang tua dan juga keluarga Angga, walau nyatanya ini sulit
ingin telfon tapi nggak berani karena posisinya saat ini kabur dari rumah, ia tak ingin orang mengetahui keberadaannya makanya ia memblokir nomor Angga, Reina, Yogi, Aagler dan Bunda Mila bahkan orang tuanya pun ia blokir.
sejenak ia ingin menghilang....
"sudah sampai mbak" ucap pak sopir membuat Cinta sadar bahwa kini ia telah sampai di tempat tujuan
"ahh iya pak, makasih yaa" balas Cinta kemudian turun setelah membayar ongkos taksinya
pandangannya berbinar melihat tempat di depannya kini
•••••
Raga memasuki apartemenya, seperti biasa bahkan sesaat ia melupakan sesuatu. Ia tetap melakukan aktivitasnya saat di apartemenya ini.
selesai mandi, Raga menuju dapur dan bingung saat mendapati sebungkus kotak makanan berada di diatas meja makan.
ia berfikir siapa yang masuk di apartemennya ini.
"astaga" pekiknya kemudian berlari menuju kamar satunya
ceklek
ia tak mendapati seseorang disana membuat jantungnya berdegup kencang
"Cinta... CINTA" teriaknya menggema namun sosok yang divarinya tidak muncul juga.
sedikit frustasi dan panik Raga menghubungi Cinta setelah semalam ia mencuri nomor hp wanita itu
"sial"
Raga menyambar kunci mobilnya berlari keluar untuk mencari Cinta.
hampir sejam Raga berkeliling kesana kemari mencari Cinta namun sampai detik ini belum juga ia temukan
"kamu kemana Cinta, kamu nggak tahu apa seberapa khawatirnya aku" gumamnya kesal sembari memukul stir mobilnya
•••••••
Cinta merasa puas setelah keluar dari tempat itu, dilihatnya jam di pergelangan tangannya dan sekarang sudah hampir jam sembilan malam
Cinta merogoh hp dalam tasnya dan mengernyit bingung saat ada nomor baru yang menelponnya beberapa kali
tak ingin ambil pusing Cinta memesan taksi online. kini rasanya sangat lelah dan ingin tidur saja.
selama hamil Cinta selalu merasa ngantuk bahkan sebelum ia mengetahui hamil pun kebiasaan baru itu muncul secara tiba-tiba
"mbak Cinta"
"iya pak, sesuai lokasi yang pak"
menempuh perjalanan yang memakan waktu 20 menit barulah taksi yang di tumpanginya sampai di apartemen Raga
"makasih ya pak" ucap Cinta
dengan perasaan senang Cinta melangkah menelusuri lorong menuju unitnya
ceklek
sedangkan di dalam sana Raga yang sedari tadi duduk gelisah mendengar pintu yang terbuka segera bangkit melihat siapa yang memasuki apartemennya
"dari mana kamu hah" bentak Raga tiba-tiba. entah mengaota ia sangat marah saat tidak mendapati Cinta di apartemennya rasanya sangat frustasi dan panik dan mungkin amarahnya ini bentuk dari rasa itu
Cinta yang mendengar bentakan dari Raga menunduk takut tanpa terasa air matanya menetes saja. Ia kembali teringat Yogi yang suka membentaknya akhir-akhir ini
"kamu tahu sedari tadi aku nyariin kamu kesana-sini, aku kan udah bilang jangan keluar kenapa kamu langgar hah" amuk Raga lagi
"apa susah nya sih kamu nurut ini juga demi kebaikan kamu kalo kamu kenapa-napa gimana. pelase jangan egois Cinta saat ini kamu sedang mengandung kalo bayi mu kenapa-napa gimana" lanjut Raga lagi
Cinta hanya diam menunduk tanpa berani melihat amarah Raga itu
ahh ia teringat sesuatu selama ia kenal Raga dulu ia belum pernah melihat amarah laki-laki itu pasti menyeramkan
"jawab" bentak Raga lagi rasanya sungguh kesal saat melihat Cinta menunduk saja tapi disisi lain ia bahagia karena Cinta kembali lagi ke tempatnya
"aku pengen makan seblak jadinya pergi bentar" cicit Cinta namun masih di dengar Raga
astaga! sepertinya mereka melupakan statusnya kini. mereka seperti sepasang suami istri dimana sang istri yang sedang di marahi oleh suaminya
"kan bisa pesan online"
"tapi aku pengennya makan disana" teriak Cinta kesal sedari tadi di marahi. Apakah keinginannya ini salah, taoikan ia pengen makan sablak di tempatnya langsung.
Cinta kesal sangat kesal dan sungguh kesal
Raga menghelak nafas kasar saat Cinta beralri menuju kamarnya
"dia ngidam ternyata"Raga tersenyum gemas, rasanya kini ia memiliki seorang istri yang tengah mengidam