
apa kabar Yogi?
3 bulan berlalu dan selama itu pula kesendirian, kesunyian dan kehampaan menghampirinya.
semraut masalah mendatanginya apalagi dari keluarganya. Sejak kedua orang tuanya mengetahui kepergian Cinta karena ketidakbecusan anak mereka menjadi seorang suami membuat mereka kecewa berat.
Di jauhi, di diami dan tidak dianggap itulah kondisi Yogi sekarang entah itu orang tuanya, Angga, sang mertua semua menjauhinya hanya Deby seorang yang masih setia berdiri disamping nya menyemangati sosok rapuh lelaki itu.
Yogi berdiam diri di kamarnya memandang kosong langit malam, entah sampai kapan masalah ini berlalu sungguh ia lelah.
Diliriknya 2 botol alkohol yang sudah beberapa bulan ini menemani kesendiriannya. Cih melihatnya saja ahhh tidak bahkan berfikir untuk meminumnya saja tidak, Tapi kenapa sekarang ia kecanduan itu
"aaarrgggg sampai kapan gue kek gini, sial... sial... sial" Yogi melempar botol kosong di samping nya rasanya muak sangat muak dengan semua ini
••••••
wanita cantik dengan perut buncitnya tengah berjalan santai di sebuah mini market didekat ia nge kos
3 bulan ini ia memilih nge kos di salah satu daerah yang agak jauh dari ibu kota demgan begini ia merasa aman dan nyaman
bug
"maaf-maaf saya tidak sengaja, maaf" karena ketidak hati-hatiannya dalam melangkah membuat Cinta tidak sengaja menabrak lelaki yang berdiri di depannya
"nggak papa" balas lelaki itu sambil menunduk memungut barang belanjaan Cinta yang berjatuhan di dekatnya
"makasih"
"iya sama-sama" balasnya dengan senyum ramahnya
"suami kamu kemana kok ngebiarin istrinya jalan sendiri apalagi lagi hamil kek gini" tanya sosok itu.
"maaf" balas Cinta tak nyaman dengan sosok di depannya itu
Cinta segera berlalu meninggalkan sosok lelaki yang masih memandanginya menuju kasir untuk segera membayar belanjaannya
"sekalian ini mbak"
sebuah minuman kaleng terletak di depannya membuat Cunta menileh ke arahnya
"berapa mbak"
"245.000 pak" jawab sng kasir
"ini mbak gesek aja"
"jangan.... "sela Cinta cepat
"barang saya biar saya aja mbak yang bayar tolong pisahin"lanjutnya lagi
"tapi.... "
"ini aja mbak udah" lelaki itu segera menyodorkan uang cashnya ke arah sang kasir
"makasih mas, mbak"
Cinta segera keluar daei mimi market namun karena melangkah terlalu lebar membuat perutnya riba-tiba kram, apalagi di dalam antriannya lumayan juga
"kamu nggak papa" tanya sosok itu yang kini kembali berdiri di samping Cinta
"iya, makasih"
"rumah mu dimana, biar saya antar kasian kamunya"
"nggak papa tuan, makasih saya bisa sendiri kok"
"tapi.... "
"ssshhhh... awwww" Cinta mengelus lembut perutnya mencoba mengurangi rasa sakit yang melilit perutnya
"biar saya bantu mbak, saya bukan orang jahat yakinlah" ucap lelaki itu meyakinkan Cinta
"Varen, nama saya Varen"
"Cinta... "
"yuadah Cinta aku antar pulang yaa kasian bayimu nanti kenapa-napa"
mau tidak mau Cinta menyetujuinya, Varen mengajak Cinta menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka berdiri
"rumahmu dimana"
"depan belok kiri aja" balas Cinta dan Varen menyetujuinya
"nah stop..."
Cinta keluar dari mobil disusul Varen
"makasih Varen" ucap Cinta tulus dibalas anggukan oleh Varen
"iya sama-sama"
"mau mampir dulu? "
"lain kali aja Cinta dan saat itu aku nggak akan nolak" balas Varen dengan senyumnya
"iya"