
Saat ini Cinta berada di sebuah tempat perbelanjaan. memasuki isia kandungan 6 bulan tentunya membuat Cinta tengah di sebukkan untuk mempersiapkan segala kebutuhan calon bayinya.
Walau belum mengetahui jenis kelamin sang buah hati, namun tak menyurutkan tekad dan semangatnya dalam memilih hal-hal apa saja yang ia inginkan. Tentunya warna netrallah menjadi pilihan dan Cinta memilih warna putih. Elegant dan melambangkan kesucian, kejernihan dan ketenangan.
Dengan perut buncitnya Cinta kesana kemari tak lupa berbagai paper bag berada di tangannya. Karena ke asyikan membuat Cinta lupa bahwa kini ia telah menghabiskan waktu 2 jam lebih hanya untuk berbelanja. Dan sepertinya sang bayi menunjukkan rasa protesnya sehingga Cinta kini mengaduh perutnya sedikit kram.
"sepertinya mommy ke asyikan ya sayang sampai lupa kalau kita belum makan" Cinta memilih duduk sebetar di sebuah kursi sambil mengelus lembut perutnya berusaha mengaja sanga anak tetap tenang.
"enakanya kita makan apa sayang, sepertinya sablak enak. Gimana" walaupun tak menjawab namun Cinta tetap menanyakan hal ini kepada sang buah hati
"yaudah kita makan itu aja"
Cinta menuju salah satu resto yang ada disana kemudian duduk dan memesan sablak yang sedari tadi menggugah pikirannya
Di tengah santapannya tiba-tiba seseorang duduk di depannya, membuat Cinta seketika mendongak melihat siapa gerangan orang itu
"makanan pedas dapat menganggu kandungan mu" ucap sosok itu kemudian menarik piring makanan Cinta kedepannya.
Tanpa memperdulikan Cinta yang sedari tadi melongo karena terkejut. Ia dengan santainya menyantap sablak yang ia yakini memang pedas bahkan sangat pedas.
"Raga...ka.. Kamu" lidah Cinta seakan kelu hanya untuk berucap. Pandangannya tetap terpaku pada lelaki tampan yang kini menyiksa dirinya dengan memakan sablak level 5 pesanannya
"astaga bagaimana bisa dia bisa ada disini" batin Cinta berkecamuk
Entah bagaimana bisa Raga menemukannya atau ini hanya sekedar kebetulan semata dilihay dari pakaiannya dapat dilihat bahwa Raga mungkin sedang meeting atau apalah disini.
Karena merasa tak sanggup menghabiskannya Raga segera meraih jus alpukatnya Cinta dan meminumnya
"astaga ini sangat pedas.. Huff..ha.. Hufff..haaa"
"gimana bisa kamu memakan makanan ini, apa kamu tidak memikirkan anak dalam kandungan mu... Ha.. Ha.. Ha"
"astaga ini sangat pedas" Raga kembali meminum jus alpukatnya yang sisa setengah namun rasa pedas itu tak kunjung hilang juga
Cinta tak menyahut, namun berdiri berniat meninggalkan Raga di depannya, sedangkan Raga yang masih merem melek tak menyadari bahwa kini Cinta pergi meninggalkannya.
"Cinta... "Raga terkejut saat tak mendapati Cinta di depannya, ia melohat sekelilingnya namun tetap tak menemukan Cinta. Pandangannya beralih pada beberapa paperbag di dekat meja dan berfikir bahwa Cinta meninggalkan semuanya demi menghindarinya
Raga segera merogoh saku jasnya dan mengeluarkan uang untuk membayar makanan yang di pesan Cinta.
Raga berlari menuju lobby dengan belanjaan Cinta di tangannya berharap Cinta ada disana
Raga semakin berlari saat melihat Cinta sedang menuggu taksi di pinggir jalan. Ia tak ingin Cinta pergi lagi
"aaaaa" pekik Cinta saat tiba-tiba seseorang mencekal tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil
"apa yang kamu lakukan ha" ucap Cinta marah saat melihat bahwa Raga lah yang membwanya kesini
"kamu hutang penjelasan padaku Cinta" setelahnya Raga melajukan mobilnya
"aku tak ingin mejelaskan apapun padamu, turunkan aku sekarang"
"tidak"
"turunkan aku"
"tidak"
"Raga..turu... "
"DIAM" bentak Raga membuat Cinta tak mampu lagi berbicara dan seketi diam. Melihat pandangan dari luar jendela sesekali mengelus perutnya, sejak Raga membentaknya tadi hingga kini anaknya semakin aktif bergerak bahkan sesekali menendangnya
"om baik memang jahat sayang" gumam Cinta mencoba menengkan sang buah hati namun sepertinya tak di gubris bahkan semakin aktif saja membuat ia akhirnya mengaduh
"shhhhshhh"
"kamu kenapa Cinta, apa perut mu sakit" panik Raga menoleh kearahnya setelahnya menghetikan mobilnya
"kamu kenapa, apa perut mu sakit, jawab Cinta" Raga semakin khawatir saat Cinta tak menjawab ucapannya malah semakin mengaduh dengan mengelus perutnya
Dapat Raga rasakan perut Cinta kencang dan bergerak gerak sana-sini dan Raga mengikuti arah gerakan itu. Ada kesenangan tersendiri baginya saat merasakan tendangan dari bayi yang ada didalam sana seperti sesuatu yang menyenangkan dan aaaaaaarrrrggg tak tak dapat ia ungkapkan rasanya
"halo... Hai... "sapa Raga sedangkan Cinta masih mengaduh menahan sakit namun pandamgannya tetap ke arah Raga melihat lelaki itu kini sedikit condong ke arah perutnya
"kamu rewel yaa aktif banget sih om ramal kalo gede nanti kamu mau jadi pemain bola yaa" Raga kini larut dalam percakapannya dengan bayi yang ada di dalam sana, ia semakain exaited saat mendapat respon
"wahhh kamu mau, tapi saat kamu lahir yaa nendangnya jangan dulu kasian mommy mu kesakitan sayang" ucap Raga lagi dan seperti mengerti tendangan yang ia rasakan semakin melemah
"good boy" Raga tersenyum membuat Cinta terpana olehnya saat Raga mendongak pandangannya bersibubruk dengan Cinta membuat Cinta mengalihkan pandangannya cepat.
"sepertinya dia mengerti dan rindu akan om baiknya ini"
"om baik apaan karena kamu ngebentak makanya dia marah rewel"
"emang ia... Astaga seerti aku sama dia sudah ada koneksi"
"cihhh" Cinta kembali melihat keluar jendela sedangkan Raga kembalielajukan mobilnya dengan senyum yang tak penah hilang menghiasi bibirnya
"alamat mu diamana" tanya nya dan Cinta menjawabnya
30 menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai depan rumah sederhana
"kau tinggal disini"
"hmmm" Cinta keluar tanpa menghiraukan Raga
Langkahnya terhenti saat melihat sosok Varen kini duduk di teras rumahnya
"Varen" panggil Cinta
"hai... "
"dari tadi"
"nggk kok, kebetulan lewat makanya aku mampir ehh ternyata kamu tidak di rumah"
Pandamgan Varen beralih akan Raga yang kini mendekat dengan membawa paper bag di tangannya dan berdiri tepat disamping Cinta
Pandangan Varen tak ber alih sedikitpun dengan Raga yang juga membalasnya tak kalah tajam
"dia siapa Cinta" tanya Raga membuat Cinta menoleh dan memperkenalkan mereka berdua
"dia Varen teman aku dan Varen ini Raga dia.... " Cinta keluh tak tahu Raga sekerang sebagai apa di hidupnya
"Raga"
"Varen" mereka berdua saling memperkenalkan diri tanpa berjabak tangan
"yaidah Cinta saya pamit dulu kebetulah ada meeting dekat sini" pamit Varen di balas anggukan oleh Cinta kemudian pergi.
"kamu? "
"aku tetap disini karena ada hal yang harus kamu jelaskan... Cepat buka" balas Raga membuat Cinta berdecih dan membuka pintunya
Raga duduk di kursi plastik yang ada di dalam rumah Cinta membuat hatinya teriris melihat penjuru ruangan yang ada di dalam sana
Tak ada sofa, tv, kulkas dan untungnya masih ada tempat tidur di dalam kamar namun dapat ia lihat sepertinya tidak membuat nyaman saat di tiduri
"apa tidak ada tempat lain selain disini"
"memangnya apa yang aku harapkan, masih beruntung dapat tempat ini kalau tidak. Lagi pula aku kabur dari rumah makanya uang dan tabunganku hanya seadanya makanya aku irit"
Cinta meletakkan air putih yang dibawanya untuk Raga
"maaf hanya ini, aku tidak menyediakan teh ataupun kopi karena aku tidak meminumnya"
"tidak papa, sekarang jeaskan kenapa kamu pergi dari apartemen ku?"