
Yogi diam tak tahu harus menjawab apa. Lidah terasa keluh bahkan otaknya tak mampu mencari satupun jawaban yang tepat atas pertanyaan sederhana itu.
"kenapa kamu kesini, ada apa? apa kamu kesini ingin memberikan surat cerai atau membawa undangan pernikahan kalian" tanya Cinta lagi
"tidak keduanya" balas Yogi cepat
"lalu"
"aku kesini karena anakku" jawab Yogi membuat Cinta marah
"anak, anak mana yang kamu maksud? ini...( tunjuknya pada perut buncitnya)
"dia bukan anakmu" Cinta menjauhkan tangan Yogi dari perutnya
"dia anakku dan selamanya akan tetap seperti itu" sela Yogi
"hahahahaaaaa....kamu bercanda Gi? hmmm"
"kenapa harus mencarinya bukannya kamu juga akan mendapatakan seorang anak dariĀ selingkuhan mu itu pedulikan saja mereka mungkin saat ini wanita mu itu sedang menunggu mu dirumah" cibir Cinta kesal
Yogi diam tak berkutik
"Cinta...."
"jangan egois Gi, biarkan anak ini bersamaku, aku tak mau anakku harus mempunyai ayah seberengsek kamu ini" setelahnya Cinta bangkit ingin pergi meninggalkan Yogi, namun cekalan ditangannya membuatnya harus berhenti
"sebrengsek-brengsek nya aku, aku tetap mempunyai hak atas anak itu karena aku adalah ayahnya. Jangan lupa darah lebih kental dari pada air" ucap Yogi yang kini tersulut emosi merasa tak terima jika Cinta menjauhkan ia dan calon anaknya
Cinta berbalik dan menghadap Yogi perlahan mendekat mencoba menyelami mata coklat gelap di depannya
"kenapa kamu seperti ini Gi, bahkan Yogi yang ku kenal tidak ada lagi di dirimu. kamu udah terlalu jauh buat ku gapai entah itu sebagai suami atau sebagai sahabat ku yang dulu"
"sekarang kamu mempermasalahkan sebuah hubungan antara kamu dengan anak ini, tanpa merasa bersalah karena telah merusak hubungan yang lain" Cinta menunduk membuat air matanya tumpah saat itu juga namun tak lama ia kembali menatap Yogi
"iya aku egois, kamu benar soal itu. aku juga bodoh karena tak bisa mempertahankan suami ku, memertahankan rumah tangga ku, bahkan aku bodoh karena lebih memilih pergi dari pada harus tetap berjuang untuk pernikahan ini sehingga suamiku sendiri lebih memilih wanita lain dari pada aku"
"katakan! sekarang aku kurang bodoh apa lagi? apa aku salah jika tak ingin berbagi anakku dengan kamu sedangkan kamu sendiri akan tetap bahagia dengan anak dan wanita itu. Jika kamu mengambilnya aku sama siapa? hiks...hiksss" tangis Cinta pecah saat semua yang dipendamnya keluar juga, rasanya dadanya plong melompong
kali ini ia ingin di mengerti, masa bodoh jika saat ini pun ia belum memahami Yogi sepenuhnya.
mendengar itu hati Yogi bagai tersayat ribuan pisau tak kasat mata perih dan sakit itulah yang dirasakannya saat melihat wanita yang sedang mengandung anaknya tengah menagis tersedu-seduh karena ulahnya
Sungguh ia menyesal karena kembali membuat mata indah itu menangis
Perlahan Yogi mendekat kemudian merangkul Cinta dan membawa kepelukannya, Cinta tak menolak karena memang saat ini pelukan seperti ini yang ia butuhkan, ia tak segan membasahi kemeja yang di kenakan Yogi saat ini
"maafkan aku untuk yang terakhir kalinya Cinta...maafkan aku. Aku janji setelah ini air matamu ini tak akan jatuh untuk menangisi aku lagi...aku janji"
"mungkin berpisah memang jalannya, kamu berhak bahagia dan berhak mendapatkan lelaki lain yang mampu membuat kamu bahagia dan tidak bersedih lagi"
Tangan Cinta yang menggantung perlahan terangkat membalas pelukan Yogi itu, kini mereka berpelukan erat namun tetap memberi jarak pada perut Cinta
"sekali lagi maafkan aku Cinta, segala perlakuan ku selama ini aku minta maaf"
hening
"sebelum aku pergi, boleh aku berbicara dengannya" pinta Yogi dibalas anggukan oleh Cinta
Yogi kemudian berlutut sehingga kini wajahnya berhadapan langsung dengan perut buncit Cinta
tangannya terulur mengusap perut itu rasanya sangat sedih saat sang anak didalam sana bergerak mengikuti gerakan tangannya.
"hai sayang ini ayah, ayah tidak berharap terlalu banyak apakah kedepannya kamu akan tetap menganggap aku ini ayahmu atau tidak, tidak papa. Ayah hanya berharap semoga kedepannya kamu menjadi anak yang baik dan penurut sama...."Ucap Yogi terhenti sejenak ia mendongak menatap Cinta yang juga menatapnya dengan berurai air mata
seolah mengerti Cinta menjawab
"Mommy" balas Cinta lirih membuat Yogi tersenyum
"mommy...jangan susahkan mommy ya sayang karena ayah tidak ada disamping mommy, jadilah anak yang anteng didalam sana oke" Yogi menghelak nafas panjang dan menghembuskannya perlahan
"ayah sayang kamu dan selamanya tetap seperti itu" Yogi menunduk membuat air matanya jatuh membasahi celananya
"jangan benci ayahmu yang brengsek ini yah...oh iya satu lagi jika kedepannya setelah kamu dewasa jangan pernah sakiti wanita yang kamu cintai, jangan seperti ayah yang selalu menyakiti dan membuat mommy mu menangis...ayah sayang kamu" setelahnya satu kecupan mendarat di perut Cinta membuat Cinta kian terisak karena merasa bajunya basah dan ia yakin Yogi menangis saat ini.
"maafkan ayah sayang, karena kesalahan ayah kita berpisah tapi yakinlah ini semua karena ketidakberdayaan ayah" batin Yogi
Yogi memejamkan matanya merasakan tendangan sang anak di dalam sana, mungkin anaknya mengerti masalah apa yang dihadapi orang tuanya sekarang ini
"sudah..makasih" ucap Yogi yang sudah kembali berdiri
"iya" balas Cinta tangannya terangkat mengusap sisa air mata di pipi Yogi
"sekarang izinkan aku mengantarmu pulang"
Cinta dan Yogi meninggalkan hotel itu tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi dirinya dengan senyum smrik di bibirnya
"akan ku buat kamu tidak akan bahagia Yogi, akan ku buat kamu merasakan bagaimana sakitnya di tinggalkan wanita yang kita sayangngi....secara paksa" ucap sosok itu yang berdiri tidak jauh dari Yogi dan Cinta yang berjalan keluar dari lobby
"bagaimana langkah selanjutnya bos" ucap sosok di sebelahnya
"sepertinya bermain sedikit lebih seru, agar ia kembali mengingat aku ini...ikuti dia" perintahnya kemudian berlalu bersama sosok di dekatnya itu.