
Pagi hari menyingsing, sinar mentari seketika menyeruak masuk kedalam kamar yang gelap ketika gorden balkon di buka oleh sang ibunda
"sayang bagun dah pagi" ucapnya lembut sembari membangunkan sang putri
"emmm....iya bu" jawabnya serak seraya memperbaiki posisi tidunya
"bangunlah..ibu dan ayah tunggu dibawah yaa" setelah itu dang ibu pergi meninggalkan Cinta yang masih mengulum diri dibawah selimut tebalnya
butuh waktu 5 menit bagi Cinta mengumoulkan kesadarannya dari alam mimpi, setelahnya ia berjalan menuju balkon kamar menyambut mentari oagi yang indah
"hmmmm...segarnya" gumamnya seraya menatap langit cerah diatas sana
pandangannya menyapu keseluruh tempat yang ada di bawah sana, begitu ramai keriuhan dibawah sana dimana para ibu-ibu tetangga sedang mengerumuti pejual sayur keliling, para pejalan kaki balalu lalang dan para pelari pagi, belum lagi yang hanya sekedar kerja bakti membersihkan pekarangan rumah. Sungguh suasana seerti ini sangat di rindukannya dan tidak akan oernah ia temui di Canada sana.
seketika pandangannya menatap tempat yang semalam berdiri sosok yang ia yakini menatap kearahnya malam itu.
tak ingin ambil pusing, Cinta masuk kedalam menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ia tak ingin membuat Ayah dan Ibunya menunggu untuk sarapan
Beberapa menit kemudian....
dengan langkah ceoat, Cinta menuju meja makan dimana disana telah ada ayah dan ibunya yang menatap kearahnya
"pai Yah, bu" sapanya kemudian duduk didepan sang bunda, sedangkan sang ayah duduk di kursi utama
"pagi sayang..yuk sarapan" jawab sang ibu, kemudian melayani suami dan juga putrinya itu
"udah kabarin nak Yogi sayang" tanya sang Ayah
"iya Yah..semalam Yogi nelpon" jawabnya di sela suapannya
"gimana nak sudah ada tanda-tanda kehamilan.."tanya sang ibunda
"uhukk..uhukk..."
"nih..minumlah, makanya kalau makan yang oelan lagian nggak ada yang akan merebut makananmu sayang" ucap sang ayah memberikan air putih untuk Cinta
"maaf Yah" jawabnya selesai minum
"belum bu" sahutnya lagi dengan lesu
"nggak papa..lagian pernikahan kalian masih seumur jagung masih setahun lebih, diluaran sana masih banyak yang menikah udah bertahun-tahun namun belum dikarunia momongan, jangan bersedih sayang" ucap sang ibunda menenangkan
"iya bu"jawab Cinta tak enak hati
selama perjalanan pernikahannya, ia sama sekali tak pernah memikirkan momongan, bagaimana bisa memikirkan jika Yogi saja tak pernah menyentuhnya tapi bukankah dalam hal ini ia juga ikut andil.
Hatinya belum sepenuhnya ia serahkan pada sang suami. Dalam sana masih terpahat indah sebuah nama yang ia cintai, sedangkan Yogi sendiri menjadi sosok dinhin, datar dan kasar membuat ia tak pernah memikirkan soal momongan.
tapi apa ia sanggup jika suatu saat Yogi meminta haknya itu pikirnya
"Yogi lelaki normal pasti ia akan minta, apa aku sangguo menjalankan kewajibanku jika rasa cinta itu tak ada...aisssss" batinnya
"sayang..."panggil sang ibunda membuat ia twrsentak dari lamunnya
"iya bu.."jawabnya
"sudahlah jangan di pikirkan lagi..habiskan makanannya" sahut sang ayah
"iya Yah"
setelah sarapan selesai, kini Cinta berada di halaman samping rumahnya, sembari menatap koleksi bunga sang ibunda yang sempat ia rawat juga sebelum nikah.
Tiba-tiba ingatannya mengarah oada salah satu pohon yang berada di halam belakang rumahnya.
dengan langkah cepat, ia menuju sebuah pohon yang masih berdiri kokoh disana bahkan kini sedang berbuah lebat.
"kalo nggak salah disini nih" gumamnya seraya menatap sisi tanah dibawah pohon itu
Cinta celingak-celinguk memerika sekitaran
"aman" jawabnya kemudian mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menggali
"dapat"
Cinta jongkok dan memulai menggali, beberapa saat dapat terlihat kotak yang terbuat dari aluminium polos dengan semangat ia mengambilnya
"ya tuhan ternyata masih ada" ucapnya antusias
"apa tuh" ucap seseorang dari belakang
deg
"ayah" lirihnya
"itu apa kok di tanam" tanya lnya lagi kemudian membantu Cinta untuk berdiri
"i..ini..ini barang pribadinya Cinta Yah" jawabnya gugup
"memangnya isinya apa" tanya sang Ayah yang masih penasaran
"bukan apa-apa kok Yah..ini cuman kenangan masa sekolah dulu"
"oh..."sang ayah hanya manggut-manggut
"udah gih masuk matahari udah panas benget" tambahnya lagi
Cinta dan yahanya masuk kedalam, kemudian Cinta pamit ke kamar
di dalam kamar Cinta mulai duduk bersila beralaskan karpet berbulu
dibukanya kotak aluminium itu seketika semerbak wangi khas parfum yang dulu menjadi candunya bahkan sekarangoun wangi itu masih disukainya.
berbagai barang ada didalam sana, mulai dari boneka beruang mini, gelang,cincin,surat-suratan bahkan sepasang mawar merah dan putih ada disana dan beberapa barang lainnya
dibongkarnya satu persatu, seakan kenangannya kembali dimasa ia mendapatkan barang itu.
di sebuah pasar malam, Raga memulai sebuah permainan sehingga ia hanya mampu mendapatkan hadiah boneka beruang kecil yang di berikan keoadanya.
kemudian Raga membelikan sebuah gelang dan cincin couple yang waktu itu ia sematkan di jari dan pergelangan tangannya.
sebuah baju kaos putih bertuliskan namanya CINTA yang diberikan Raga untuknya, yang waktu itu ia sangat ingat dimana Raga merengek layaknya anak remaja yang sedang kesemsem merasakan falling in love memaksanya agar membeli baju couple untuk mereka berdua.
mengingat itu membuat Cinta hanya mampu tertawa disela tangisnya, kemudian netranya beralih mentap kumpulan foto yang ada disana
foto mereka berdua
"sangat manis" lirihnya dengan mata berembun melihat foto itu
ingatannya kembali membawanya waktu itu di mall, Raga menariknya ke arah foto box yang saat itu banyak yang mengatri tunggu giliran
"ngapain kesini sih" Cinta
"kita foto yuk..keknya seru tuh" jawab Raga antusias
"ada-ada aja kan bisa pake hp" tanya Cinta seraya terseyum geli melihat kelakuan pria disampingnya ini
"fotomu dah banyak di hp ku bahkan memorinya dah full dan semua karena fotomu" jawab Raga jumawah membuat Cinta tertegun
"yuk" ucap Raga sambil menarik Cinta.
didalam sana mereka berdua asik mengambil gaya mulai dari yang romantis layaknya pasangan sampai yang kocak abis
"hahahaha..ini lucu" tawa Cinta ketuka ia mencoba mengedit fotonya
"iya"
mengingat itu semua Cinta hanya mampu menangis pilu, rasanya waktu itu baru kemarin ternyata udah setahun lebih bahkan kenangannya pun sudah berubah warna di dalam kotak itu. sedikit kusam dan sedikit pudar
Cinta mengambil sepucuk surat berwarna putih yang kini sedikit berbah warna akibat dimakan waktu
......*27,3,21......
...tanggal bulan dan tahun, dimana tuhan mengiring langkah kaki ku menuju sosok gadis cantik yang saat itu sedang bersedih......
...yap...itu kamu..orang yang saat ini membaca surat ini....
...apa kamu tahu betapa bersyukurnya aku kepada tuhan telah mengirim sosok mu untukku...sangaattttt...sangatttt bersyukurrrr....
...awalnya kita teman, kemudian sahabat tapi apakah tidak boleh lebih dari itu*?...
......*aku mencintaimu sangat..........
...tapi aku takut mengatakannya......
...aku takut kamu tak merasakan hal yang sama kemudian menjauh.......
...jika memang tuhan masih memberikan waktu dan menginginkan kita bersama pasti kita akan bersama......
...apakah kamu tak ingin berdoa bersamaku..hmmm*.......