You are the Reason

You are the Reason
Bab 86. Harapan



Berbagai persiapan telah dilakukan sebelumnya oleh seluruh anggota keluarga untuk menyambut kedatangan nyonya Mala di rumah Kiara.


Nyonya Mala akan menempati kamar Kiara, karena hanya kamarnya saja yang memiliki kamar mandi dalam. Kiara memilih untuk pindah sementara di kamar Rio dan mulai membereskan barang-barangnya.


Bukan hanya orang dewasa saja yang sibuk berbenah rumah, Rio bahkan bekerja keras seorang diri dan menolak bantuan papa Ed karena ingin membuat kejutan untuk tamunya.


Belajar dari penjual mainan anak di sekolahnya, Rio membuat lonceng dari pipa aluminium seukuran sedotan yang dikaitkan dengan tali nilon kecil yang nantinya akan ditempatkan di dekat pintu kamar yang akan ditempati nyonya mala.


Saat orang keluar masuk di ruangan itu, lonceng buatannya akan berbunyi karena terpaan angin dari daun pintu yang terbuka.


“Entar kalau oma kaget dengarnya, gimana?” tanya Kiara memeriksa hasil karya putranya.


“Oma gak bakal kaget, karena suara yang ditimbulkan dari lonceng ini terdengar seperti suara gemerincing. Coba Mama dengar,” ucap Rio mencoba menggerakkan lonceng pipa buatannya di dekat Kiara sebelum di pasang.


“Tring tring,” ucap Rio menggerakkan lonceng di tangannya sambil menirukan bunyinya. “Lucu kan suaranya, Ma.”


“Ya ya ya, lucu. Gak nyangka anak Mama jago bikin mainan,” puji Kiara.


“Sekarang giliran Papa yang pasang di plavon. Talinya panjangin ya, Pa. Loncengnya usahain jaraknya dekat dengan pintu. Harus rapi dan gak boleh ada satu pun tali yang terbelit. Harus lurus, ” ujar Rio menyerahkan lonceng buatannya pada papanya.


“Siap bos. Jadi sekarang Papa sudah boleh bantu nih, ceritanya?” tanya Ed berusaha menahan senyum, cara Rio menyuruhnya mengingatkan dirinya pada mandor di tempat kerjanya saat memberi perintah pada anak buahnya.


Rio tergelak, “Kalau buat yang satu ini, Iyo nyerah deh. Biar naik pakai tangga juga Iyo gal bakal nyampe.”


“Biar Papa saja yang pasang,”


Tawa Rio pecah saat papanya berdiri di atas tangga dengan kaki gemetar dan harus berpegangan kuat pada dinding tembok di sampingnya karena takut jatuh.


“Mama pegang tangganya kenapa goyang-goyang gitu, kalau Papa jatuh gimana?” tegur Ed pada Kiara yang sepertinya sengaja menggoyang tangga yang dipijaknya. Kepalanya mendadak pusing dan tangannya berusaha mencari pegangan di pintu.


“Dih Papa, udah gede takut ketinggian.” Rio tidak tahu kalau papanya diam cukup lama untuk menenangkan diri.


“Ini tangga tingginya cuman satu setengah meter loh, Mas. Masa takut, sih. Sampai pucat gitu mukanya,” ucap Kiara heran melihat wajah Ed yang berubah pucat.


Hufh! Setelah cukup tenang Ed turun dengan cepat. Trauma masa lalu saat melihat sahabat yang juga rekan kerjanya terjatuh dari ketinggian ketika melakukan pemasangan rangka baja di bawah jembatan gantung tanpa sempat menolongnya, masih melekat kuat dalam ingatannya. Membuat Ed trauma akan ketinggian sejak saat itu.


“Mas.” Kiara mengulurkan gelas berisi minuman di tangannya, “Minum dulu. Maaf, Aku gak tau kalau Mas takut ketinggian.”


“Tiba-tiba saja pusing tadi waktu lihat ke bawah. Kamunya juga iseng sengaja goyangin tangganya,” ujar Ed menyentil kening Kiara.


“Ish, sakit tau!” protes Kiara.


“Habisnya Kamu iseng, patut dihukum.” Ed menatap lama Kiara, membuat pipi wanita itu merona tiba-tiba. “Aku suka lihat wajah Kamu kalau merah gitu, gemes pengen nyentil jidat Kamu lagi. Hahaha!”


Ed tergelak melihat Kiara yang melengos seraya memutar bola matanya, “Gak lucu!”


“Ma, semalam El ngubungin Aku. Katanya ulang tahun Rio bulan depan dia pulang.” Ed menunggu reaksi Kiara mendengar ucapannya, tapi wanita di hadapannya itu terlihat biasa saja saat mendengar mantan suaminya akan datang saat hari jadi putranya yang ke delapan.


“Ya terus Aku harus bilang wow gitu, mantan suami Aku datang khusus untuk melihatku lagi di sini. Gitu?”


“Ish, jangan memancing rasa cemburuku ya.”


Kiara meringis mendengarnya, “Makanya jangan mulai,” balas Kiara. “Bagiku dia masa laluku, dan Kamu adalah masa depanku. Paham?” Kiara lalu memalingkan muka, malu. Tapi ia harus mengatakannya agar laki-laki di hadapannya itu tak lagi ragu padanya.


“Aku percaya!”


Kiara tersenyum mendengarnya, lalu menghela napas dalam. Dilihatnya Rio sudah berlari ke arah kolam di depan rumah, sibuk memberi makan ikan piaraannya.


“Sudah sore, Aku pamit pulang dulu. Besok sore pulang kerja Aku mampir, sekalian bawakan ikan koi pesanan Iyo.”


“Hem.” Kiara mengangguk dan ikut mengantar Ed sampai di depan pintu. Dilihatnya laki-laki itu berpamitan pada Rio, yang langsung berlari memeluknya.


Pemandangan biasa yang selalu dilihat Kiara saat Ed pulang dari rumah mereka, karena besok lusa laki-laki itu akan kembali pergi ke luar kota menyelesaikan proyek kerjanya.


Sore itu tak lama setelah kepergian Ed dari rumahnya, sebuah mobil mewah warna hitam berhenti di depan rumahnya. Rio yang masih asyik bermain di kolam dan Kiara yang tengah sibuk menyiangi tanamannya terkejut saat melihat nyonya Mala turun dari mobil bersama Okta.


“Omaa!” Rio berlari menyambut kedatangan nyonya Mala, kali ini dua pengawal pribadinya hanya berdiri menunggu di dekat mobil.


“Ayo, ajak Oma menemui nenekmu.” Nyonya Mala meraih tangan Rio yang langsung menggenggamnya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.


“Nenek lagi keluar rumah bareng mbak Kinan, katanya ada keluarga dari kampung yang sakit dan nenek di ajak buat besuk bareng saudaranya yang lain.”


“Iyo kenapa gak ikut?”


“Kalau Iyo ikut, nanti pulangnya malam. Iyo gak bisa antar Oma lihat lonceng buatan Iyo,” jelas Rio lagi.


“Oh ya? Ayo dah, sekarang bawa Oma lihat loncengnya.”


“Kemon Oma.”


Kiara dan Okta terkekeh melihatnya, Kiara lalu mengajak Okta berkeliling rumahnya.


“Seperti inilah keadaan kami sekeluarga, begitu banyak rencana yang ingin kami lakukan untuk membuat nyonya Mala merasa betah dan nyaman tinggal bersama kami seperti di rumahnya sendiri.”


Sore itu Okta menyempatkan diri mengantar omanya menginap di rumah Kiara. Selama beberapa bulan terakhir, baru hari ini lagi Okta melihat omanya begitu bersemangat saat hendak bertemu dengan banyak orang.


Setelah memeriksa ruangan yang akan ditempati nyonya Mala, Okta berpamitan pulang. “Terima kasih buat semua yang sudah kalian lakukan untuk oma. Aku bersyukur bisa mengenal kalian saat ini. Terima kasih sekali lagi, Aku titip oma pada kalian. Kalau ada apa-apa, kabari Aku secepatnya.”


Kiara mengangguk, tersenyum melepas kepergian Okta yang akan berangkat ke luar daerah esok hari.


Saat kembali ke kamarnya, ia tersenyum melihat Rio yang bercerita sambil memperlihatkan album fotonya pada nyonya Mala. Wanita itu terlihat bahagia, tak ada gurat kesedihan tergambar di wajah tuanya. Semoga saja semua berjalan baik selama beliau menginap di rumahnya.


••••••••