You are the Reason

You are the Reason
Chap 16 – Pembaca Pikiran



Angkot berhenti di depan gerbang SMA Mendeleev, setelah membayar dengan uang pas Ailen berjalan perlahan menuju halaman sekolah. Cara berjalannya sudah membaik, luka dilututnya pun semakin mengering, meskipun gadis itu masih menggunakan plester luka.


Pagi ini Ailen memutuskan untuk menaiki angkot seperti hari-hari sebelumnya, ia cukup tahu diri meskipun Bara sudah menawarkan tumpangan tadi. Ailen tahu jika Bara harus menjemput Livia, dan menyelesaikan masalah mereka secepatnya.


Citt!


Ailen menghentikan langkah kakinya, ia tercengang dengan aksi seseorang yang tiba-tiba menghentikan sepedanya begitu saja, menghalangi jalan di depannya.


Gadis itu menghela napas gusar saat melihat sosok yang kini tengah menaiki sepeda gunung berwarna hitam, bibirnya terangkat sebelah menandakan senyum kelicikan disana, Ailen yakin ada maksud tertentu mengapa Bintang melakukan ini, mungkin ia ingin membahas kejadian memalukan yang terjadi semalam.


"Pagi, Alien."


Ailen mengerutkan dahi. "Nama aku Ailen, bukan Alien!"


"Terserah gue dong mau manggil lo apa, mulut-mulut siapa? Gue!"


Ailen mendengus kesal, tanpa ingin memperpanjang percakapan, gadis itu pun berlalu meninggalkan Bintang yang masih tetap dalam posisinya. Namun, langkahnya berhenti seketika, ia merasa ada sesuatu yang ganjal dan itu melekat pada tubuh cowok itu.


Ailen pun memilih berbalik menghadap Bintang semula, dan menemukan cowok itu juga balutan jaket abu ditubuhnya yang sangat familiar dimatanya, dan Ailen sangat yakin jika jaket tersebut adalah jaket pinjaman darinya beberapa hari lalu. Ya, jaket milik Bara.


"Kenapa?"


"Itu kamu bawa jaketnya, harusnya kamu balikin dong ke aku bukannya malah kamu pake,"


"Kenapa gue harus balikin ke elo?"


"Karena itu bukan jaket kamu, itu jaket milik—"


"Bara kan? Gue yakin jaket ini milik dia, bukan milik lo! Jadi lo nggak ada hak buat minta gue balikin jaket ini, karena gue yang akan balikin sendiri ke pemilik aslinya. Lagipula.."


Bintang menatap Ailen dengan pandangan meremehkan.


"—gue nggak yakin pembantu kayak lo punya jaket bermerek ini."


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Bintang mengerutkan dahi saat melihat ekspresi Ailen yang diluar perkiraan. Kini, gadis itu sedang tersenyum kearahnya, dan bisa dipastikan jika senyuman itu tidak tulus melainkan hanya paksaan.


"Makasih, udah ingatin hal itu, tapi tenang kok aku nggak akan lupa sama identitas aku yang sebenarnya," ucap Ailen lalu beranjak pergi.


Bintang menatap punggung Ailen yang semakin menjauh dan hilang dibalik keramaian, sebenarnya hati kecilnya sedari tadi berteriak untuk memanggil gadis itu kembali dan mengucapkan kata maaf, namun ego dalam dirinya terlalu besar. Ia tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan mengatakan kata sakral tersebut.


"Ah, sudahlah. Buat apa gue mikirin dia? Toh palingan ntar lupa sendiri,"


ucapnya dalam hati, lalu mengayuh sepedanya itu menuju parkiran.


***


Bintang bersorak dalam hati karena pelajaran olahraga kali ini mengenai bola basket, bukan karena apa, ia memang menyukai olahraga tersebut. Bintang juga menekuni eskul basket, dan menjadi bagian dari tim inti disana.


Berbeda sekali dengan Ailen, gadis itu terlihat pucat saat mendengar langsung dari Pak Tri, guru olahraganya, mengenai latihan praktek olahraga kali ini yaitu memasukkan bola ke dalam ring. Ailen menyukai olahraga, terkecuali dengan bola, ada trauma tersendiri akan hal itu.


"Sekarang kalian boleh duduk dulu, bapak akan memanggil kalian sesuai urutan absen,"


Ailen sedikit lega mendengar ucapan Pak Tri barusan, namanya memang berawal dari huruf A namun karena ia baru masuk beberapa hari lalu, daftar absennya belum dapat diubah sehingga ia diletakkan diabsen paling bawah. Gadis itu pun akhirnya duduk di pinggir lapangan, bersama dengan murid lainnya.


"Lo sakit? Muka lo pucat?"


Ailen mengalihkan pandangannya ke arah samping dan menemukan Livia disampingnya. Gadis itu tengah tersenyum kepadanya.


Ailen mengernyit. "Jadi kamu juga punya kemampuan membaca pikiran yang sama seperti Bara?"


Livia terkekeh.


'Padahal setiap orang akan bicara begitu saat lihat ekspresinya,' ucapnya dalam hati.


"Sepertinya suasana perkenalan kita saat itu tidak begitu mendukung," ucap Livia yang masih bertahan dengan senyumannya, lalu gadis itu mengulurkan tangannya.


"Eh?"


Livia segera menjabat tangan kanan Ailen yang masih saja belum menerima uluran tangannya, gadis itu tidak memberikan reaksi apapun selain mengerjapkan kedua matanya.


"Livia Agista, panggil gue Ivi," ucapnya lalu menarik tangannya kembali. "Sorry ya, ternyata gue salah tentang lo selama ini," lanjutnya.


"Maksudnya?"


"Bara udah cerita semuanya ke gue tadi pagi," ucap Livia, gadis itu mengalihkan pandangannya.


Melihat hal itu, Ailen pun ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sama, dan menemukan Bara diantara kumpulan murid cowok lainnya, cowok itu tengah tersenyum ke arah mereka. Seakan tersadar, Ailen pun akhirnya mengerti arah pembicaraannya mereka, gadis itu pun segera mengalihkan wajahnya ke arah gadis disampingnya yang kini juga tengah menatapnya.


"Tapi kamu nggak marah kan sama Bara karena udah nutupin hal ini dari kamu?"


"Sedikit, kalo aja dia kasih tau gue sejak awal mungkin gue nggak akan salah paham sama lo, Len. Tapi tenang aja, gue ngerti kok."


Ailen tersenyum kecil, sebenarnya ia juga sedikit salah paham tentang Livia, ia kira Livia adalah gadis yang menyebalkan hingga ia sedikit heran mengapa Bara menyukainya. Namun, kini ia sudah mengerti semuanya.


"Mau berteman sama gue?"


Ailen tersenyum. "Kenapa nggak?"


Keduanya spontan mengalihkan pandangannya saat mendengar nama Bara dipanggil, cowok itu berjalan ke arah lapangan dan meletakkan 3 bola basket di dekatnya yang semula sedikit berjauhan. Raut wajah Bara pun terlihat santai. Bagaimana tidak, cowok itu merupakan kapten dari tim basket di sekolahnya, mungkin baginya memasukkan bola ke dalam ring dalam kurun waktu 60 detik cukup mudah.


Tidak hanya Bara, nama Bintang pun dipanggil dan ditempatkan di ring satunya. Sementara Bima, yang melihat kedua sahabatnya maju hanya bisa menyemangati dan menunggu giliran absen selanjutnya. Nama panggilannya memang Bima, namun nama lengkap sebenarnya adalah Robi Maulana.


"Ayo, Baraa!"


Tidak sedikit para siswa menyoraki Livia yang berteriak seperti itu, menyemangati sang kekasih. Bara yang mendengarnya hanya tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.


Priitt!


Semua murid bertepuk tangan setelah Pak Tri menekan tombol di stopwatch-nya dan meniup peluitnya, mengumumkan waktu berakhir. Bara mencetak 32 poin dalam kurun waktu semenit, sementara Bintang mencetak 27 poin. Ini bukan angka yang kecil bagi Ailen, bahkan gadis itu tidak yakin jika dirinya bisa mencetak 1 poin pun.


Absen pun berjalan dengan cepat, dan kini adalah giliran Ailen untuk maju ke depan, gadis itu bisa merasakan tatapan para murid yang kini tertuju kepadanya saat Pak Tri memanggil namanya beberapa detik lalu.


Livia menepuk pundak Ailen. "Santai aja, Len. Lo bisa!"


Ailen pun mulai mengambil bola basket itu dengan kedua tangannya, peluit dibunyikan, ia merasakan tangannya gemetar, melihat bola jingga ini mengingatkan dirinya akan sesuatu. Namun, Ailen berusaha keras memfokuskan kembali pikirannya, gadis itu mulai memantulkan bola basket dan melemparnya ke arah ring, satu dua kali gagal hingga peluit dibunyikan dan Ailen masih tidak mencetak satu bola pun ke dalam ring.


Ailen kembali ke tempat, ia tidak merasa kecewa karena ia sudah tau dari awal jika dirinya tidak dapat mencetak bola meski satupun. Tapi, setidaknya ia sudah mencoba.


"Nggak apa-apa! Tes masih minggu depan lagi, oke?" kata Livia.


Ailen tersenyum.