
Ditinggal berduaan saja di rumah pada hari libur nasional seperti saat ini membuat Kiara memilih untuk bermalas-malasan di kamarnya. Setengah jam yang lalu Rio menghubunginya, menanyakan makanan apa yang ingin dibawakan pulang untuknya.
“Apa ya? Terserah Iyo aja deh, bebas.”
“Apa dong, Ma. Di sini banyak pilihannya, ada bakso, soto ayam, sate, ayam bakar, ikan bakar, banyak Ma.”
“Memang Iyo lagi di mana sih?” tanya Kiara penasaran.
“Lagi di rumah makan tempat temannya om El, Ma. Rame banget di sini,” jawab Rio.
“Iyo gak boleh minta macem-macem sama om El, ya. Kalau mau es krim atau beli roti pakai uang yang Mama kasih tadi,” pinta Kiara pada putranya.
“Iyo gak minta kok, Ma. Kalau om El yang mau belikan bagaimana?” tanya Rio.
“Tentu saja boleh Iyo terima, karena itu kemauan om. Bukan karena Iyo yang minta,” sahut Kiara.
“Tuh, dibawain bakso sama soto ayam. Katanya om, Mama suka itu.”
Kiara meringis, pas banget dia memang lagi kepingin makan makanan itu. “Jangan lupa bilang terima kasih sama om.”
“Oke, Ma.”
Kiara menunda makan siangnya dan memilih untuk menunggu sambil berbaring di ranjang menonton televisi, karena dipikirnya Rio akan segera pulang.
Bosan lama menunggu, Kiara turun ke lantai bawah. Tapi tak banyak yang bisa dilakukannya karena semua pekerjaan rumah sudah beres dikerjakan oleh asisten rumah tangganya yang datang tiga kali dalam satu minggu, hanya untuk mencuci dan menyetrika baju juga bersih-bersih rumah. Soal memasak ibu Lastri sendiri yang turun tangan melakukannya.
Melihat segalanya beres, Kiara naik ke kamarnya dan kembali berbaring sambil membaca novel kesukaannya hingga kantuk mulai menyerangnya.
Baru saja Kiara memejamkan matanya, telinganya mendengar suara derit pintu pagar rumahnya dibuka orang. Seketika matanya terbuka lebar, siapa yang datang sore-sore begini?
Tidak mungkin Kinan, karena adik perempuannya itu sedang pergi bersama teman kuliahnya dan baru akan pulang malam nanti.
Rio? Seketika Kiara teringat ucapan El yang berjanji akan pulang sebelum siang hari, tapi ini sudah lewat jam tiga sore dan kedua laki-laki beda generasi itu belum juga kembali.
Kepalanya berdenyut karena kantuk yang tak tersalurkan. Sebenarnya bukan disebut tidur namanya kalau baru sekejap memejamkan mata ia sudah harus terbangun lagi.
Sembari memijit keningnya, Kiara bangun dari tempat tidurnya lalu membetulkan letak tali daster rumahan yang dikenakannya.
Perhatiannya kini tertuju pada rumah di seberang yang masih terlihat sepi, Kiara mengintip dari jendela kamarnya. Pagar rumah El masih tertutup rapat, hanya ada seorang asisten rumah tangga paruh baya yang terlihat sedang menyapu di halaman depan.
Kiara menarik napas lega tatkala dilihatnya ibu Lastri keluar membuang sampah di tong besar depan rumah lalu menutupnya kembali. Rupanya derit suara pintu pagar yang terbuka itu ibu yang melakukannya.
Tak lama berselang mobil El datang, dilihatnya lelaki itu turun lalu berjalan memutar dan membuka pintu mobilnya.
Kiara terkesiap melihat pemandangan di bawahnya. Rio tertidur pulas dan di gendong El keluar dari mobilnya. Kiara langsung keluar kamar dan berlari menuruni anak tangga, lupa kalau hanya memakai daster bertali kecil dan berpotongan pendek di atas lutut.
“Itu anak pasti ngantuk bangun pagi-pagi tadi, makanya ketiduran di mobil.”
Kiara bergegas membuka pintu, dan El sudah berdiri di hadapannya sambil menggendong Rio di pundaknya.
“Kenapa gak dibangunin aja,” sambut Kiara lalu membuka pintu rumahnya lebar.
“Aku gak tega banguninnya, kelihatan pulas banget. Iyo pasti ngantuk berat karena harus bangun pagi-pagi sekali,” ucap El mencium pelan lengan Rio yang melingkar di lehernya.
“Kalau pulangnya sesuai janji, Rio gak bakal ketiduran di jalan. Ini sudah lewat tengah hari,” sela Kiara, jantungnya berdenyut lebih cepat melihat keduanya begitu dekat seperti itu.
“Kenapa gak telpon kasih tau, bikin orang khawatir saja.” Gerutu Kiara.
“Udah dulu deh marahnya, ini gimana. Masa digendong terus kayak gini,” ujar El mengingatkan, tangannya mulai pegal menahan tubuh Rio yang berisi.
“Makanya Aku bilang bangunin aja anaknya, pegal kan tangan gendong.”
“Iya sih, pegal.” El nyengir.
“Iyo, bangun sayang.” Kiara menjawil pipi Rio, bukannya terbangun Rio malah berpaling dan semakin erat memeluk leher El.
“Dih, malah pules!”
El tersenyum melihatnya, “Sudahlah, biar Aku gendong sampai kamarnya.” El berjalan masuk ke dalam rumah.
“Kamar Rio di atas, udah mending baringkan di sofa situ aja.”
“Gapapa, biar langsung tidur di kamarnya saja.”
“Terserah deh.”
Kiara berjalan di belakang El, lalu menunjukkan kamar Rio yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Huffh!” El membaringkan Rio di tempat tidurnya, lalu berdiri tegak sambil memegangi pinggangnya.
“Capek?” tanya Kiara mengulum senyum melihat El memijit lengannya, ia lalu duduk di dekat kaki Rio kemudian melepas sepatu dan kaos kaki yang dipakainya.
“Lumayan,” jawabnya sambil tersenyum. “Badannya padet banget. Kalau makannya terus seperti tadi, Aku gak yakin bakal kuat gendong Rio lagi.”
Kiara tertawa mendengarnya, “Gapapa, yang penting anakku sehat.”
Untuk sesaat El tertegun melihat tawa di wajah Kiara, sudah lama sekali ia merindukan momen seperti ini. Sepanjang pertemuan mereka di kantor selalu diwarnai dengan perdebatan.
“Terima kasih sudah bersedia menemani Rio ke lapangan besok,” ucap Kiara tulus.
Kiara berdiri di dekat pintu, ia tidak nyaman berada dalam satu kamar bersama seperti ini. Apalagi saat menyadari bajunya yang sedikit terbuka di bagian kaki dan lengannya. Tapi sudah terlanjur El melihatnya, dan lelaki itu hanya terus menatap Rio saat berbicara padanya.
“Aku dengar dari Rio, Kamu harus pergi ke luar kota besok bersama Wina.”
“Iya, ada urusan sedikit.”
El manggut-manggut, ia tidak berani menatap wajah Kiara. “Astaga, Aku hampir lupa. Tadi kita berdua beli makanan buat Kamu, masih di mobil sih. Sebentar Aku ambil,” ujar El cepat lalu bergegas keluar dan turun ke lantai bawah.
Huh! El mengembuskan napas lega, berada dalam satu ruangan yang sama dengan Kiara membuat napasnya sesak. Dan ada sesuatu yang membangkitkan gairahnya yang selama ini seolah mati.
“Oh my God!” El mengusap kasar wajahnya.
Ia lalu bergegas menuju mobilnya, mengambil makanan di sana lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya dan menyerahkan makanan di tangannya itu pada asisten rumah tangganya.
“Bik, tolong kasih makanan ini sama rumah di depan. Kalau ditanya bilang saja Saya lagi kebelet,” ujar El lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya.
“Baik Tuan,” sahut si bibik yang langsung menyeberang ke rumah Kiara yang melihat semuanya dari balik korden jendela kamarnya.
••••••••