You are the Reason

You are the Reason
Bab 82. Nyonya tua



Kiara mencoba bersikap tenang, hal pertama yang dilakukannya adalah mematikan air kran yang masih mengalir sambil mengingat semua hal yang pernah ia pelajari dulu dari dokter Bobby saat membantu lelaki paruh baya itu bekerja paruh waktu di kliniknya.


“Jarum!”


Benda itu terlintas begitu saja di benaknya, spontan Kiara berlutut bertumpu pada satu kakinya dan segera mencarinya di dalam tas tangannya. Beruntung ia tak pernah lupa membawa kotak p3k kecil setiap kali bepergian.


Kiara ingat bagaimana ia pernah melakukannya dulu pada salah seorang rekan kerjanya saat mendapati rekannya itu terjatuh dan tak sadarkan diri di dalam kamar mandi, sebelum dibawa ke klinik dan ditangani dokter.


Sempat mendapat protes dari teman yang melihatnya melakukan hal itu karena takut berakibat infeksi, tapi Kiara berhasil meyakinkannya karena alat yang digunakannya dalam keadaan steril dan ia pun membersihkan tangannya terlebih dahulu.


Selain itu juga yang ditusuk pun hanya satu jari dan satu kali tusukan saja, agar racun yang ada di dalam tubuh keluar bersama aliran darah.


“Apa yang Kamu lakukan?” terdengar suara lemah di dekatnya, membuat Kiara mengangkat wajahnya.


“Syukurlah Nyonya sudah sadar,” sahut Kiara seraya mengembuskan napas lega.


Wanita itu melihat ujung jarinya lalu tersenyum kecil, “Sebagian orang mengatakan yang Kamu lakukan ini hoax, tapi sebagian lagi mempercayainya. Dan sepertinya Kamu salah seorang dari yang Aku sebutkan terakhir tadi.” Wanita itu memperhatikan Kiara membereskan kotak p3k miliknya.


“Saya mendapatkan pengetahuan ini dari seorang dokter, dia selalu mengingatkan Saya jika ada saudara kita yang jatuh pingsan entah itu di kamar mandi atau di mana saja. Jangan langsung diangkat, usahakan cari jarum dan tusuk jarinya agar racun dalam tubuh keluar. Setelah itu baru diangkat. Satu jari satu tusukan saja, yang penting racun keluar bersama aliran darah. Seperti itu yang beliau katakan pada Saya,” jelas Kiara.


“Karena Kamu sudah melakukannya, sekarang bantu Aku berdiri!” pinta wanita itu kemudian.


“Baiklah,” jawab Kiara, “Pelan-pelan saja. Ini tas Nyonya biar Saya bantu membawanya,” ujar Kiara mengambil tas wanita itu yang berada di atas tabung closed di dekatnya.


“Nyonya pegang kuat tangan Saya,” ujar Kiara lagi sambil membantu wanita itu berdiri dan memapahnya keluar dari dalam kamar mandi.


Dilihat dari penampilannya wanita tua itu sepertinya orang berada, terlihat dari pakaian dan tas yang dikenakannya. Dandanannya pun rapi dan rambutnya tertata dengan apik.


Meski terbilang sudah berumur senja, tapi dari caranya berbicara wanita ini terlihat memiliki sesuatu yang membuat orang sekitarnya tidak kuasa menolak ucapannya.


Tak lama kemudian satu persatu orang bergantian masuk ke dalam sana, termasuk wanita muda yang bekerja sebagai cleaning service yang datang dengan membawa alat pel di tangannya.


Kiara lalu meminta tolong pada wanita muda itu untuk membantunya membawakan satu kursi plastik yang kebetulan berada tidak jauh dari pintu masuk.


“Terima kasih,” ucap Kiara pada wanita pemilik nama Anisa itu, terlihat dari name tag di dadanya.


“Sama-sama, Mbak.” Jawab Anisa, lalu menatap pada pakaian yang dikenakan wanita di depannya itu. “Baju Mbak sama Nyonya ini kenapa bisa basah begini?” tanyanya kemudian.


“Karena Kamu tidak melakukan pekerjaanmu dengan benar, sampai Saya jatuh terpeleset di dalam sana. lantai licin seperti itu akan membuat siapa saja bisa celaka!” sembur wanita tua itu dengan telunjuk mengarah pada Anisa, lalu meringis memegangi pinggangnya membuat Kiara terkejut dibuatnya.


“Sa-saya ...” Anisa terdiam di tempatnya, seingatnya semua pekerjaan telah dilakukannya sesuai prosedur. Semua lantai kamar mandi telah bersih saat ditinggalkannya tadi untuk melakukan pekerjaan lainnya.


Kiara menyentuh lengan Anisa, menyuruhnya bersabar dan pergi meninggalkan mereka di sana.


“Maaf, kalau apa yang Saya kerjakan salah menurut pandangan Nyonya. Saya bersedia menerima konsekuensinya, permisi.” Anisa menangkupkan kedua tangan dan menundukkan kepalanya sebelum berlalu dari sana.


Sesaat setelah Anisa pergi dari sana, Kiara merendahkan tubuhnya sedikit dan bertanya dengan nada lembut pada wanita di depannya itu.


“Berikan tas Saya!” perintah wanita itu pada Kiara tanpa menghiraukan ucapannya.


Kiara menurut, memberikan tas wanita itu yang langsung mengambil ponsel miliknya dari dalam tas dan menelepon seseorang dengan nada tinggi. “Joko! Cepat datang kemari dan bawa kursi untukku. Lalu perintahkan pada Joni untuk segera menghubungi Okta di rumah sakit. Sekarang!”


Kiara bengong saat tak lama kemudian dua lelaki bertubuh kekar datang tergopoh-gopoh membawa kursi roda ke hadapan mereka.


“Mama!”


“Astaga!” Kiara yang sedang fokus memperhatikan kesibukan di depannya itu terpekik kaget saat jari tangan Rio menyentuh lengannya. Kiara menoleh sambil mengurut dada, “Bikin kaget Mama, ih!”


“Abisnya Mama lama banget, jadi Iyo susul aja ke sini.”


Kiara tersenyum, “Iya, maaf. Tadi ada insiden sedikit, ada oma jatuh di dalam kamar mandi tadi.”


“Oma yang barusan naik kursi roda itu?” tunjuk Rio pada wanita tua yang kini memutar kursi rodanya mengarah pada mereka berdua.


“Ho oh,” jawab Kiara, “Mama coba bantu tadi, terus ...” ucapan Kiara menggantung di udara saat wanita tua itu mengarahkan telunjuknya padanya.


“Kamu! Ikut denganku ke rumah sakit dan jelaskan pada Okta cucuku apa yang sudah terjadi padaku di dalam sana!” ucap wanita itu seraya menyebutkan nama rumah sakit yang akan mereka tuju.


“Maksud Nyonya, Saya harus ikut Nyonya ke rumah sakit?” tanya Kiara mengulang ucapan wanita itu padanya barusan.


“Bukankah Kamu berniat ingin mengantarku ke sana tadi, apa Kamu lupa dengan ucapanmu barusan?” wanita itu balik bertanya.


“Oma ini siapa, Ma?” tanya Rio menyela ucapan wanita tua itu, sedari tadi ia terus memperhatikan para orang dewasa itu berbicara di dekatnya.


“Kamu sendiri siapa?” Wanita itu mengalihkan pandangannya dan menatap pada Rio yang terlihat memegangi lengan Kiara, kali ini suaranya terdengar lebih lembut ketimbang saat berbicara dengan Kiara.


“Dia putra Saya, Nyonya.”


“Namaku Rio Feriandra, suka dipanggil Iyo. Putra satu-satunya Mama Kiara,” jawab Rio lugas memperkenalkan dirinya.


“Lalu papamu di mana sekarang, kenapa kalian hanya jalan berdua saja?”


“Ehm.” Rio menoleh pada Kiara, lalu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang terdapat dua gingsul di bagian depannya.


“Iyo punya dua orang papa sekarang dan dua-duanya lagi tugas di luar kota,” jawab Rio dengan polosnya yang sukses membuat wanita tua itu mengerutkan kening dan menatap tajam Kiara yang hanya bisa menahan napas, sementara kedua laki-laki di belakang wanita tua itu terlihat berusaha menahan senyum saat mendengar jawaban Rio barusan.


“Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum Okta cucu Nyonya menunggu terlalu lama,” sela Kiara lalu menggandeng tangan Rio berjalan mendahului mereka semua.


Sepanjang perjalanan mobil yang dikendarainya seolah melaju otomatis, pikiran Kiara sibuk mencerna kejadian yang dialaminya barusan. Bagaimana dirinya bisa terlibat dan berurusan dengan seorang nyonya tua yang ditemuinya saat terjatuh di dalam kamar mandi mall.


••••••••