You are the Reason

You are the Reason
Bab 25. Tak percaya



“Papa.”


Aldi menoleh seketika, mengerutkan dahi mendengar Kiara menyebut kata papa pada lelaki di depannya itu.


“Serius Kia, Aku tanya sekali lagi. Apa benar Kamu gak kenal sama mereka berdua ini?” Aldi mengulang pertanyaannya pada Kiara sembari menolehkan kepala dan mengarahkan telunjuknya pada Bian juga lelaki kekar di hadapannya itu.


“Bukan urusanmu, bocah!” Lelaki itu menepuk keras bahu Aldi, lalu menyerahkan kunci motornya ke dalam genggaman tangan Aldi.


“Lebih baik sekarang Kamu pulang sebelum kedua orang tuamu kebingungan mencarimu,” imbuhnya lagi.


“Gak bisa gitu, dong.” Aldi langsung menarik lengan Kiara untuk berlindung di belakang tubuhnya.


“Apaan, sih!” Kiara menepis tangan Aldi di lengannya, menyadari tatapan tajam mata Bian yang sedari tadi terus saja memperhatikan dirinya.


“Udah! Kamu diam di belakang Aku saja,” ucap Aldi pada Kiara. “Aku gak akan membiarkan Kamu bersama orang asing seperti mereka.”


“Cih! Dasar bocah ingusan, Kamu belum kenal siapa kami!” sentak lelaki itu mendorong dada Aldi dengan ujung jarinya hingga mundur selangkah, lalu berdiri saling berhadapan dengan sikap tubuh saling menantang.


“Yuda, berhenti bermain-main dengan anak itu!” ucap Bian pada lelaki yang ternyata adalah Yuda.


“Siap Tuan!” mendengar perintah majikannya, Yuda langsung mundur satu langkah meski matanya masih terus mengawasi Aldi.


“Sudah lah, Di. Lebih baik Kamu pulang saja, Aku bisa jaga diriku sendiri.”


Kiara menarik lengan pemuda itu supaya menjauh, ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Yuda dan Bian kalau saja Aldi masih terus berkeras melawan mereka.


“Oke. Kalau Kamu yang suruh Aku bakal nurut. Aku pulang sekarang,” sahut Aldi menurut. “Tapi kalau sampai kalian berdua mencoba-coba menyakiti Kiara, Aku gak akan tinggal diam. Ingat itu!” ujar Aldi masih mencoba melawan.


“Ish!” Yuda berjalan mendekati Aldi yang langsung naik dan menghidupkan mesin motornya, berlalu seraya mengepalkan tangannya.


Yuda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aldi, ia pun kemudian menoleh pada Kiara yang masih berdiri kaku di dekatnya.


“Silah kan, Nona. Tuan sudah menunggu Anda dari tadi,” ucap Yuda mempersilahkan Kiara untuk mengikutinya.


Kiara melangkah perlahan mendekati Bian yang masih berdiri di samping mobilnya, ia masih tidak percaya bagaimana papa mertuanya itu bisa sampai ke rumahnya seperti sekarang ini. Pertanyaan itu kini berputar di kepalanya.


Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan di dalam rumah, sementara Yuda berdiri menunggu di depan pintu.


“Mudah bagiku untuk mengetahui tempat tinggal kalian selama ini,” ucap Bian seolah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Kiara saat itu.


“Ck! Apa uang yang diberikan El padamu terlalu sedikit, sampai-sampai Kamu tidak dapat membeli pakaian yang layak untuk dikenakan.” Bian menatap Kiara dari kepala hingga kaki.


Kiara merapatkan kakinya, tersenyum miris memandang pada kemeja dan celana panjang kain yang dikenakannya.


Dreet dreet ...


Ponsel Kiara yang berada di atas meja bergetar, terlihat nama Subrata menghubunginya.


“Maaf, Kia harus menjawab telepon dulu.” Kiara melangkah ke sudut ruangan.


Bian terus memperhatikan, berkali-kali didengarnya Kiara mengucap kata maaf pada orang yang menghubunginya.


“Saya masih ada tamu, tapi saya usahakan secepatnya kembali. Maaf harus merepotkan bapak lagi,” ucap Kiara sebelum menutup teleponnya.


“Maaf, membuat Papa harus menunggu.” Kiara kembali duduk di hadapan Bian, “Maaf, waktu Kia tidak banyak. Dan Kia harus segera kembali bekerja, apa ada sesuatu hal yang ingin Papa bicarakan dengan Kia?” ucap Kiara pelan, bertanya sambil menundukkan kepala. Tidak berani menatap langsung wajah Bian.


Bian lalu memanggil Yuda, yang masuk dengan membawa berkas di tangannya lalu menyerahkannya pada Kiara.


“Apa ini?” tanya Kiara, mendongak menatap pada Bian.


“Buka, baca dan tanda tangani segera!” ucap Bian lebih seperti sebuah perintah.


Dengan tangan gemetar, Kiara membukanya dan matanya terbelalak saat membaca berkas di tangannya.


Kiara menatap tak percaya pada tulisan yang tertera di berkas yang ada di tangannya itu. “Apa maksud semua ini, Pa. Bagaimana bisa bang El melakukan semua ini pada Kia, kami bahkan belum bertemu sama sekali.”


“Kamu bisa melihat tanda tangan El di sana, dia sudah tidak dapat melanjutkan pernikahan kalian lagi.”


“Tidak!” Kiara menggeleng tak percaya. “Bang El tidak mungkin melakukan hal ini, abang sangat mencintai Kia. Tidak mungkin.”


“Apa Kamu pikir Saya yang melakukan semua ini? Apa Kamu tidak bisa mengenali tulisan dan tanda tangan El di sana? Cih, omong kosong apalagi yang mau Kamu sampaikan pada Saya.”


Kiara menatap Bian dengan sorot mata memohon. “Tolong, ijin kan Kia bertemu dan mendengar langsung dari mulut abang. Kalau memang benar semua ini keinginan bang El, Kia akan menerimanya.”


Bian balas menatap, mencari kejujuran di mata bulat Kiara. “El bahkan tidak mengingatmu sama sekali, dia sudah melupakanmu.”


Deg!


Seperti ada palu godam yang menghantam dadanya, membuat jantungnya seakan remuk tiba-tiba.


Bagaimana pun juga, Kiara tidak mau percaya begitu saja semua ucapan Bian padanya. Sebelum ia mendengar langsung dari mulut El sendiri kalau laki-laki itu memang sudah melupakan dirinya.


••••••••