You are the Reason

You are the Reason
Bab 44. Fakta baru



Kiara mengusap kasar kaca depan mobil dengan tangannya, hujan deras yang turun memperpendek jarak pandangnya. Di sana sini banyak terdapat genangan air, Kiara memilih untuk memperlambat laju mobilnya.


Sesaat kemudian wajahnya terlihat meringis menahan nyeri, Kiara melihat dari kaca spion mobilnya. Dirasa jalanan yang dilaluinya aman, ia pun kemudian menepikan mobilnya.


“Aoww!” desisnya saat melepas sepatunya dan mendapati luka lecet di bagian tumitnya.


Kiara menundukkan badannya lalu memijit betisnya yang kaku, dan mantel yang dipakainya di bahu jatuh tepat di bawah kakinya.


“Bodoh!” Kiara mengepalkan tangan lalu memukul keningnya berulang merutuki kebodohannya, menyadari kalau lelaki itu sudah berhasil memaksa dirinya untuk memakai mantel miliknya.


Mau tidak mau ia harus menemui laki-laki itu nanti, dan mengembalikan mantelnya. Tapi bagaimana caranya? Mereka baru bertemu kembali secara kebetulan di kota ini, setelah sekian lama terpisah. Dan ia tidak mengetahui di mana laki-laki itu tinggal.


Kiara menarik napas dalam, dilemparnya begitu saja mantel itu ke samping tempat duduknya. Ia tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan mantan suaminya itu dengan penampilan dirinya yang terlihat kacau seperti saat tadi.


“Meski Kau mengubah penampilanmu sekalipun, Aku akan tetap mengenalimu Kiara.”


Kiara bisa melihat bagaimana laki-laki itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ia terlihat sehat dan bisa mengingat dengan mudah siapa Kiara seolah tidak pernah terjadi hal buruk padanya di masa lalu.


Melihat El seperti itu orang lain tidak akan pernah mengira kalau ia mengalami amnesia, sikapnya tampak wajar sekali.


Satu jam kemudian Kiara sudah sampai di depan rumahnya, ketika hendak turun dari mobil ia merasa kepalanya berdenyut nyeri dan hidungnya mendadak mampet.


Hujan sudah mereda, Kiara turun dari mobilnya sambil menjinjing sepatu di tangan kirinya dan kantong plastik makanan di tangan kanannya.


Saat membuka pintu rumah, dilihatnya Rio sedang menonton acara kartun di televisi sambil berbaring di atas ambal tebal ruang keluarga.


“Sayang,” panggil Kia mengulurkan bungkusan plastik di tangannya, “Bantu Mama bawain ke meja dong.”


“Mama kehujanan, pakaian Mama basah semua. Dan ini mantel siapa, kenapa Iyo gak pernah lihat Mama memakainya?”


Rio menoleh, berdiri menyambut kedatangan Kiara dengan rentetan pertanyaan. Tangannya sigap meraih kantong plastik dari tangan Kiara dan menyimpannya di atas meja. Sementara Kiara menaruh mantel milik El di atas kursi kosong di dekatnya.


“Nenek di mana, sayang?” Kiara balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rio padanya.


“Nenek lagi di kamarnya. Tadi Iyo lihat nenek masih salat,” jawab Rio, lalu berjalan mendekati Kiara.


“Ma?” Rio memegang mantel di atas kursi dengan raut wajah masih penasaran.


“Satu-satu dong pertanyaannya.” Kiara mengulas senyum, mengerti dengan rasa penasaran putranya itu padanya. Rio tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya.


“Oh itu mantel punya teman Mama. Tadi kami bertemu di jalan dan dia meminjamkan mantelnya pada Mama karena baju yang Mama pakai basah semua,” jelas Kiara.


“Oo gitu. Oke, Iyo mengerti. Teman Mama itu pasti khawatir kalau Mama nanti jatuh sakit karena kehujanan, makanya dia pinjamkan mantelnya untuk Mama.” Rio manggut-manggut mengerti layaknya orang dewasa, dan hal itu terlihat menggemaskan di mata Kiara.


“Ya udah, Mama mau mandi dulu.” Kiara mengecup pucuk kepala Rio sayang, dan segera berlalu dari hadapannya.


“Oke, Ma.” Rio kembali ke depan televisi, sambil berbaring menonton acara kesukaannya.


“Kamu kenapa, Kia?” tanya ibu Lastri ketika berpapasan dengan Kiara di depan pintu kamarnya, sembari menatap pakaiannya yang basah.


“Kia kehujanan, Bu. Kelamaan nunggu reda jadi Kia terobos aja hujannya,” jawab Kiara sambil memijat keningnya. “Sekarang kepala Kia mendadak pusing dan hidung jadi mampet rasanya, huaachim ...”


Kiara tidak dapat menahan bersinnya, kepalanya berdenyut nyeri dan tenggorokannya jadi ikutan sakit.


“Cepat bersihkan badanmu, dan mandi dengan air hangat. Sebentar Ibu buatkan wedang jahe biar badanmu hangat,” ucap ibu Lastri kemudian.


“Iya, kalau begitu Kia mandi dulu.”


Satu jam kemudian Kiara sudah selesai dengan dirinya, ia kini duduk meringkuk di sofa panjang ruang keluarga dengan selimut tebal yang menutupi pinggang hingga kakinya.


Rambutnya sudah kering dan ia telah berganti pakaian rumahan. Meski sudah berendam air hangat namun sakit kepala dan tenggorokannya tidak berkurang juga.


“Ma, besok siang tim sekolah Iyo bertanding main bola. Mama bisa datang gak lihat Iyo main?” tanya Rio sambil menyandarkan punggungnya di sofa dekat kaki Kiara.


“Besok siang ya? Mama usahain datang, Iyo yang semangat mainnya. Cetak gol buat Mama ya,” ucap Kiara menyemangati anaknya.


Rio tersenyum lebar, “Pasti Ma, Iyo bakal cetak gol indah buat Mama.” Rio berjanji pada Kiara.


Sroott! Kiara mengusap hidungnya yang berair. Ah, ia tak ingin sakit. Tapi flu dadakan ini mengganggunya, ia harus tetap sehat dan hadir dalam pertandingan anaknya besok siang.


Rio menengadahkan wajahnya, “Mama sakit, ya. Pasti gara-gara kehujanan tadi.”


“Kalau Mama sakit, jadi gak bisa lihat Iyo main bola dong.” Rio menundukkan wajah sedih. “Kalau saja papa sekarang ada di sini, pasti papa bakal datang lihat Iyo main. Duduk di barisan paling depan, teriak paling kencang kasih semangat Iyo.”


Kiara tertegun mendengarnya, sepertinya putranya itu kangen berat pada papanya.


“Hei, ini hanya flu biasa. Mama janji bakal datang lihat jagoan Mama main bola,” ucap Kiara.


“Benaran ya, Ma.” Mata Rio berbinar mendengar ucapan mamanya.


Kiara menganggukkan kepalanya, “Iya, Mama janji.”


“Ayo Ma, kita tidur sekarang. Biar besok bangun Mama sudah gak pilek lagi.” Rio berdiri mengulurkan tangan pada Kiara.


“Iya, kita tidur sekarang.”


Kiara bangkit berdiri lalu berjalan beriringan menuju kamar Rio, ditemaninya sebentar anaknya itu hingga terlelap sebelum kembali ke kamarnya sendiri.


Keesokan harinya ketika Kiara sampai di kantornya, ia langsung menghadap atasannya meminta ijin terlebih dahulu untuk pulang lebih awal siang nanti.


Saat berjalan ke ruang kerjanya, kepalanya berdenyut dan wajahnya kembali pucat.


Wina yang melihatnya seperti itu menawarkan obat padanya dan menyarankan padanya untuk beristirahat saja, namun Kiara menolaknya dan berkata ia hanya mengalami flu biasa dan sudah minum obat dari rumah.


Ia mulai sibuk menyelesaikan pekerjaannya sambil sesekali menanggapi ucapan Wina padanya.


“Siang nanti, akan ada orang dari kantor pusat yang datang berkunjung ke kantor kita ini.”


“Hem, siapa. Klien baru pak Is atau bakal bos baru kita seperti gosip yang santer terdengar di antara para pegawai di kantor kita ini?” tanya Kiara tanpa mengalihkan perhatiannya pada berkas di depannya.


“Bos baru, atasannya pak Is. Aku dengar orangnya masih muda, tampan, baik, dan sikapnya hangat pada karyawannya. Beda banget sama pak Is yang kaku,” jelas Wina.


Kiara tersenyum menanggapinya. “Oh ya? Siapa bilang pak Is kaku. Beliau baik kok, buktinya gak pernah nolak kalau Aku minta ijin pulang cepat.”


“Ish, kalau itu sih Aku percaya, Ra. Apalagi kalau yang minta ijin Kamu, mana bisa dia nolak. Bukan rahasia lagi kalau pak Is suka sama Kamu.”


“Hadeh, gosip lagi.”


Wina meringis, “Kalau itu mah bukan gosip ya. Kita semua tahu kok bagaimana sikap pak Is sama Kamu. Dasar Kamunya aja yang cuek pura-pura gak tahu soal itu,” ledek Wina.


“Terserah deh, males nanggapinnya.” Kiara melengos. “Ayo kerja, gosip mulu dari tadi.”


Tepat jam satu siang selepas istirahat makan siang, Kiara berpamitan pulang lebih awal pada Wina. Saat keluar dari halaman parkir kantornya, tanpa disadarinya mobilnya berpapasan dengan mobil El yang hendak masuk ke dalam gedung parkir kantornya.


El yang melihat Kiara dari balik kaca mobilnya yang terbuka, bergegas menyuruh Seno asistennya untuk mengikuti Kiara.


“Putar balik, No. Ikuti mobil putih di depan itu. Ayo, jangan sampai kita kehilangan jejaknya!” perintahnya pada Seno.


“Tapi Bos, bukannya kita bisa terlambat hadir di kantor dan tuan Bian akan marah besar kalau tahu hal ini?”


“Ikuti perintahku kalau Kamu masih mau bekerja denganku, atau ...”


“Siap Bos, laksanakan!”


Mobil itu pun berputar dan melaju meninggalkan gedung kantor Abian Grup. Beruntung lampu merah menyala dan El dapat melihat mobil Kiara berada di depannya.


El terus mengikuti Kiara, dan berhenti saat mobil itu berbelok masuk ke dalam stadion yang berada di tengah kota.


Dari dalam mobilnya, El melihat Kiara berlari kecil masuk ke dalam stadion. Ia pun bergegas turun dan mengikuti Kiara dari belakang.


“Mama!”


Langkah El terhenti, ia tertegun seketika saat melihat pemandangan yang terjadi di depannya.


Kiara berlari memeluk bocah lelaki menggemaskan yang memakai seragam bola yang tengah bersiap untuk masuk ke tengah lapangan bersama rekannya yang lain.


“Mama? Bukankah itu bocah lelaki yang bersamaku minum es doger waktu itu, dan dia memanggil Kiara Mama,” gumam El dalam hati.


Tiba-tiba saja rasa sesak itu datang menghantam dadanya lagi, saat menyadari fakta baru kalau Kiara ternyata sudah memiliki seorang putra.


••••••••