
Siang itu di lapangan bola sekolah Rio.
Rio dan kawan-kawannya sedang berlatih keras untuk menghadapi pertandingan sepak bola antar sekolah dasar sekabupaten Sola yang akan segera dilaksanakan minggu depan.
Sebanyak tujuh belas siswa terpilih dari perwakilan masing-masing kelas, salah satunya adalah Rio.
Meski baru duduk di kelas 3 sekolah dasar dan usianya terbilang paling muda di antara teman-temannya yang lain, tapi kemampuannya memainkan si kulit bundar tidak bisa di anggap remeh.
Ditambah lagi postur tubuh Rio yang tinggi dan besar, orang yang melihatnya tidak akan mengira kalau putra Kiara itu masih berusia 8 tahun.
Pertandingan sepak bola yang diadakan dalam rangka memperingati hari anak nasional itu diikuti hampir seluruh sekolah dasar yang ada di kabupaten Sola, salah satunya sekolah Rio yaitu SDN 030 yang sudah dikenal banyak sekali mengukir prestasi di bidang olah raga.
"Ipin, oper ke Rio."
Anak lelaki yang dipanggil Ipin itu tengah berdiri di pinggir lapangan mencari-cari keberadaan Rio di tengah lapangan, sementara bola masih berada di tangannya setelah tadi ditendang keluar oleh grup lawan mengakibatkan lemparan ke dalam untuk grup Rio dan Ipin.
"Yo, mundur Yo!" serunya mengambil ancang-ancang saat dilihatnya Rio berlari cepat mendekati gawang lawan.
Rio mengangkat satu jarinya memberi kode untuk menerima umpan, sementara grup lawan terus menghalangi gerakannya.
"Turun!" teriak pelatih dari luar lapangan seraya menarik tangannya, memberi arahan pada para pemain untuk turun membantu Rio yang sudah berada dekat sekali dengan gawang lawan.
Prriitt! Wasit meniup peluit.
Wusshh!
Ipin melempar bola mengarah pada Desta yang menerimanya dengan menahan bola di dada, lalu bersiap mengopernya pada Rio yang sudah berlari dan masuk ke daerah penalti lawan.
Bola jatuh tepat di kaki Rio yang menahannya sejenak sembari memutar badannya dan langsung mengarahkan tendangan kaki kirinya ke gawang lawan.
Goooll ...
Terdengar teriakan gembira teman-temannya saat bola yang ditendang Rio melesat cepat dan langsung masuk menjebol gawang lawan.
"Yess!" Rio melompat ke udara seraya mengepalkan tangan kanannya, dan teman-temannya yang lain langsung berlarian memeluknya.
Priitt!
Peluit panjang berbunyi tanda waktu permainan berakhir, masing-masing pemain dari kedua grup saling bersalaman.
Rio mengusap peluh di keningnya, meski lelah tapi hatinya sangat senang. Latihan kali ini benar-benar ia fokuskan untuk mencetak gol dan mengasah kemampuannya sebagai seorang striker.
"Pertahankan permainan kalian, perhatikan posisi kalian dan terus saling kerja sama. Ingat! Sepak bola bukan permainan perorangan tapi permainan tim."
Pelatih memberikan wejangan saat mereka berkumpul setelah berganti pakaian. "Waktu kita tinggal tiga hari lagi, maksimalkan waktu latihan kalian dan tetap selalu jaga kesehatan. Semangat and good luck!"
"Semangat!" jawab mereka serempak.
Setelah itu semua membubarkan diri, masing-masing dari mereka berjalan ke gerbang sekolah menunggu jemputan tidak terkecuali dengan Rio.
Rio memilih duduk sejenak di bangku panjang yang ada di depan gerbang sekolah, banyak penjual makanan di sana.
“Mang Asep, es dogernya mau satu dong.” Rio memesan minuman, duduk menunggu sambil memperhatikan jalanan di depannya.
“Siap!” sahut mang Asep cepat. “Den Iyo belum dijemput papanya?” tanya mang Asep lagi tanpa menoleh pada Rio.
“Gak, Mang. Papa Iyo lagi ke luar negeri, nanti di jemput sama mbak Kinan.”
“Wah, luar negeri. Jangan lupa oleh-olehnya buat Mamang,” ucap mang Asep mengulurkan mangkok berisi pesanan Rio sambil mengedipkan matanya.
“Beres Mang, ntar Iyo bilangin sama papa biar dibawain kolang-kaling dari sana. Kali aja rasanya beda sama yang Mamang jual di sini. Lebih manis,” ucap Rio dan langsung memasukkan satu suapan besar es ke dalam mulutnya.
“Den Iyo mah gitu, masa kolang-kaling. Kalau itu mah di pasar sini juga banyak.” Mang Asep manyun dan sukses membuat Rio tertawa.
“Canda Mang,” ucap Rio sambil tersenyum lebar.
Mang Asep lalu duduk di samping Rio, menemaninya minum sambil terus bercerita sembari menunggu Kinan datang menjemput Rio.
Tidak berapa lama, sebuah mobil warna hitam berhenti di depan gerbang sekolah.
Dua orang laki-laki turun dari mobil, yang satu berjalan memutar dan langsung memeriksa bagian depan mobil. Sementara yang seorang lagi, berjalan menuju gerobak es mang Asep.
“Mau minum juragan? Siang-siang begini minum es doger mah segar,” ujar mang Asep sembari menawarkan dagangannya.
Lelaki itu melirik sekilas pada Rio yang masih asyik dengan minumannya, terlihat begitu menikmati. Lalu beralih menatap sekelilingnya dan tersenyum kecil. Cukup bersih, pikirnya dalam hati.
“Boleh,” ucapnya kemudian. “Pesan dua deh.”
“Siap juragan!”
“Dih, den Iyo mah modus. Bilang saja minta tambah lagi,” sahut mang Asep mencebikkan bibirnya, namun tak urung menuruti permintaan Rio juga.
Rio tergelak mendengarnya, “Mang Asep mah paling baik sedunia, apalagi kalau ditambah kolang-kalingnya.”
“Dih, ngelunjak ya.”
“Hahaha.” Rio tertawa keras, membuat lelaki yang duduk di hadapannya tersenyum melihat tingkahnya.
“Kamu suka?” tanyanya ramah lalu menyorong mangkuk es miliknya pada Rio. “Ini, silah kan.”
“Terima kasih, Om. Tapi Iyo sudah kenyang,” jawab Rio balas tersenyum ramah.
“Oh.”
“Den Iyo mah gitu, malu-malu meong. Biasa juga gak pakai nolak langsung gaskeun,” celetuk mang Asep melihat penolakan Rio.
“Ish mang Asep, beneran Iyo dah kenyang.” Rio manyun.
“Gapapa, kalau Iyo mau nambah silah kan.”
“Gak Om, makasih. Iyo beneran sudah kenyang,” tolak Rio.
Lelaki itu kembali tersenyum, apalagi saat melihat kedua sudut bibir Rio yang memerah karena sirup. “Usap bibirnya biar bersih,” ucapnya kemudian lalu mengulurkan sapu tangan miliknya pada Rio.
“Terima kasih, Om.” Rio mengusap bibirnya, setelah itu mengembalikan sapu tangan itu pada lelaki di depannya.
“Namamu Iyo, nama panjangnya siapa? Umur Kamu berapa?”
“Rio Om, suka aja kalau dipanggil Iyo.” Rio menjawab malu-malu, “Tahun ini usia Iyo genap 8 tahun bulan Desember nanti.”
“Sebentar lagi ulang tahun dong.”
“Hehe, iya Om.” Rio tersenyum lagi. “Emang Om mau kasih kado buat ultah Iyo?”
“Boleh, kalau Kamu mau. Biar nanti orang Saya yang kirim ke rumahmu.”
“Hehe, gak usah Om. Iyo cuman canda barusan,” jawab Rio salah tingkah.
Percakapan keduanya terputus saat sang asisten datang mendekati tempat keduanya bicara.
“Tuan El, mobil sudah selesai diperbaiki. Sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan,” ucap lelaki yang bernama Seno itu pada lelaki yang duduk sambil menikmati semangkuk es doger bersama Rio yang ternyata adalah Elvan.
“Oke.” El beranjak berdiri dan dari balik saku celana panjangnya ia mengeluarkan dompet dan memberikan selembar uang merah pada mang Asep. “Sekalian sama punya Iyo tadi.”
“Eh, gak usah Om. Iyo bisa bayar sendiri kok,” tolak Rio. “Mang, Iyo bayar sendiri aja. Ini uangnya,” ucap Rio lalu merogoh saku bajunya dan memberikan uang sepuluh ribu pada mang Asep.
“Ini jadi gimana juragan, den Iyo mau bayar sendiri katanya?”
“Ya sudah gapapa, gak usah dikembalikan uangnya. Buat Mamang saja,” ucap El kemudian.
“Nuhun juragan, kalau rejeki gak ke mana.”
“Sama-sama, kalau begitu Saya balik dulu.” El lalu berjalan menuju mobilnya bersama Seno dan melambaikan tangan pada Rio.
“Iyo, ayo pulang.” Kinan tiba-tiba muncul dan datang menjemput Rio, menepikan motornya tepat di depan gerobak mang Asep.
Saat tangannya mengulurkan helm pada Rio, matanya terbelalak menatap pada sosok El yang berjalan menuju mobilnya. Tanpa sadar tangannya mengucek-ngucek matanya tak percaya.
“It-tu kan ...”
“Heh, mbak Kinan kenapa bengong. Ayo pulang!” Rio menepuk lengan Kinan menyadarkannya dari keterkejutannya melihat El.
“Iyo tadi bicara apa saja sama om yang tadi,” tanya Kinan penasaran karena sempat melihat dari jauh Rio dan El bicara berdua.
“Bicara apa ya, om itu nanya nama Iyo sama umur doang. Itu aja, kan kita barengan minum es doger tadi.”
“Beneran cuma nanya itu doang?”
“Beneran, itu doang. Memang kenapa sih, kok mbak Kinan sampai kaget gitu?”
“Gapapa, Mbak cuman kaget aja. Ayo naik,” perintah Kinan lagi.
“Ish, masa liat cowok cakep aja sampai kaget kayak gitu. Gantengan juga papanya Iyo!” sungut Rio tak suka.
•••••••