You are the Reason

You are the Reason
Bab 29. Menemuimu



Rumah itu sangat besar dan luas namun terlihat sepi. Kiara mengedarkan pandangannya sejenak, tidak tampak seorang pun yang berjaga di depan seperti rumah orang kaya kebanyakan. Hanya ada dua orang asisten rumah tangga wanita yang menyambut kedatangan mereka di sana.


“Bik Asih, Rima, kenalkan ini Kiara istri tuan muda Elvan.” Ed tersenyum kecil, memperkenalkan Kiara pada perempuan setengah baya yang dipanggil bik Asih itu dan perempuan yang terlihat lebih muda bernama Rima yang menatap Kiara dengan kening berkerut.


“Is-istri tuan muda El?” Rima terlihat bingung menatap kedua orang di hadapannya itu bergantian, jari telunjuknya lalu mengarah pada salah satu ruang yang tertutup. “Lah, yang di dalam sana katanya ...”


“Aduh, Bik!” Rima langsung menghentikan ucapannya kala jemari tangan bik Asih mencubit kecil pinggangnya dan menarik lengannya ke samping memberi kode untuk berhenti bicara.


Ed menatap tajam pada Rima, yang terlihat menundukkan kepala sambil memegangi pinggangnya. “Apa yang ingin Kamu katakan, Rima. Kenapa berhenti bicara?”


Rima menggelengkan kepala, dan menundukkan wajahnya semakin dalam menjawab pertanyaan Ed dengan terbata-bata. “Bu-bukan apa-apa, Tuan. Ma-af, Saya salah bicara.”


“Maafkan kami, Tuan. Silah kan duduk terlebih dahulu.” Bik Asih membungkukkan sedikit badannya dan mengarahkan keduanya untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Siapa yang ada di dalam kamar tuan muda kalian? Katakan, apa ada orang lain yang datang kemari selain kami berdua!” tanya Ed marah dan bergerak cepat hendak menemui El langsung di kamarnya.


“Mas Ed, tolong jangan seperti itu.” Kiara menahan lengan Ed, melihat wajah pucat Rima yang ketakutan dan meminta pada lelaki itu untuk lebih menahan emosinya.


“Tu-tuan besar tadi yang datang bersama nona muda Raisha,” sahut Rima lagi, yang membuat Ed langsung mengurungkan langkahnya.


“Gak bisa begitu, Kiara. Kamu masih istri sahnya. Mereka tidak bisa seenaknya dan melakukan hal itu padamu!” ucap Ed lagi.


“Haish!” Ed hanya bisa menghela napas kasar melihat Kiara menggeleng lagi padanya.


“Biar Bibi yang antar Non Kiara menemui tuan muda di kamarnya,” sela bik Asih yang langsung berjalan di depan mendahului Kiara, dan Rima menggunakan kesempatan itu untuk bergerak menjauhi mereka semua dan segera menghilang di balik pintu.


“Ini kamar tuan muda,” ucap bik Asih sesaat setelah mereka tiba di depan pintu kamar El.


“Terima kasih, Bik.”


“Kalau begitu Bibi permisi dulu,” pamit Bik Asih kemudian.


“Iya, Bik.”


Kiara terdiam di depan pintu kamar El dengan wajah tertunduk dan kedua tangan saling bertaut, ragu sesaat. Ia merasa seperti seorang istri yang sedang menguntit suaminya yang ketahuan selingkuh.


“Kiara,” panggil Ed.


Kiara menarik napas dalam, dengan mata terpejam. Wajahnya yang tadi menunduk kini terangkat, menoleh dan tersenyum pada Ed seraya menganggukkan kepalanya yang dibalas Ed dengan melakukan hal yang sama.


Perlahan tangannya terulur memegang kenop pintu dan membukanya pelan tanpa menimbulkan suara.


Deg!


Kiara terdiam di tempatnya berdiri saat itu. Wajahnya berubah pucat, bibir yang tadinya tersenyum kini mengatup rapat.


“Kiara, ada apa?” tanya Ed heran, “Apa sebenarnya yang Kau lihat, mengapa tidak segera masuk dan hanya berdiam diri di depan pintu saja?”


Ed memang sengaja berdiri menjauh dari depan kamar El, ia ingin memberi ruang pada Kiara untuk bertemu dan berbicara berdua saja dengan El.


“Kiara!” panggil Ed tak sabar, kali ini laki-laki itu berjalan mendekat.


Kiara tetap bergeming di tempatnya dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya. Pandangannya lurus ke depan menatap pada dua orang anak manusia yang ada di dalam sana.


Di atas tempat tidur, El duduk bersandar pada bantal besar di belakang punggungnya. Sementara di sampingnya seorang wanita cantik duduk rapat menyandarkan kepala di bahunya dan memeluk erat lengannya.


Pemandangan di depan matanya itu membuat dadanya sesak tiba-tiba. Dan laki-laki di depannya itu bahkan tidak terusik sama sekali dengan kehadirannya, matanya fokus menatap wanita cantik yang kini tengah bergelayut manja di lengannya.


Ed membuka pintu dengan kuat hingga menghantam dinding kamar membuat kedua orang yang berada di atas ranjang itu terlonjak dan langsung menoleh padanya.


“Edy!” seru El melihat pada Ed, ia melirik sekilas pada Kiara yang berdiri diam merapat di tembok kamarnya.


“Edgar, apa yang Kamu lakukan!” ucap Raisha gusar, wanita itu mendelik sebal pada Ed dan menatap sinis pada Kiara.


“Harusnya Aku yang bertanya pada kalian berdua, apa yang sudah kalian lakukan di dalam kamar seperti ini. Orang baik-baik tidak akan melakukan perbuatan yang hanya akan merendahkan dirinya seperti ini!” sahut Ed kesal.


“Apa yang Kau lihat tidak seperti apa yang Kau pikirkan. Kami berdua tidak melakukan hal yang tercela dan merendahkan diri kami seperti yang Kau tuduhkan. Jangan berpikir yang bukan-bukan tentang kami berdua!” ucap El menatap tajam pada Ed.


“Masalah buat Lo! Toh kami berdua juga akan segera menikah,” timpal Raisha tak peduli. Bukannya turun dari ranjang, wanita itu malah semakin merapatkan pelukannya di lengan El.


“Menikah katamu? Apa Aku tidak salah dengar. Sampai detik ini lelaki di sampingmu itu masih sah sebagai suaminya!” balas Ed menunjuk pada Kiara.


“Bang El,” lirih suara Kiara menyebut nama El, sedari tadi ia hanya diam menyaksikan perdebatan yang terjadi di depannya. Matanya nanar menatap wajah lelaki yang sekian lama dirindukannya itu.


“Pakai ngaku-ngaku jadi istri El segala. Hellow, situ siapa? Ngaca Lo!” cibir Raisha menatap sinis Kiara dari kaki hingga kepala.


Kiara menelan ludah kasar mendengar ucapan Raisha padanya. Ia terus menatap El tak melepaskan pandangannya sedikit pun pada lelaki itu, meski dilihatnya El seperti tidak mengenalnya dan bersikap acuh padanya.


“Mas, Aku tidak berharap ada keributan di tempat ini.” Kiara menahan lengan Ed yang berjalan cepat ke arah El, menggelengkan kepala memberi isyarat untuk lebih bersabar.


Kiara sadar dan berusaha menekan perasaannya melihat sikap El padanya. Lelaki itu saat ini sedang mengalami amnesia dan tidak mengingat dirinya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku pada Ed yang sudah terlanjur emosi.


“Oh my God!” Ed mengusap kasar wajahnya. “Kiara, sadarlah! Lihat apa yang sudah mereka lakukan di depanmu.” Ed mengguncang bahu Kiara pelan.


“Bukankah Mas yang bilang kalau bang El amnesia dan tidak dapat mengingatku?” ujar Kiara mengingatkan.


“Wanita itu sedang memanfaatkan kondisi kesehatan El suamimu. Dan lelaki bodoh di sana itu dengan mudahnya terperangkap rayuannya. Dia sahabatku dan Aku mengenalnya lama. Meski amnesia sekali pun tidak mungkin secepat itu dia bisa dengan mudah dekat dengan wanita lain,” desis Ed menatap dalam mata Kiara.


“Apa Mas mencurigai wanita itu melakukan sesuatu pada bang El?” bisik Kiara.


“Aku tidak tahu pasti, tapi yang jelas Aku tidak mungkin hanya diam saja melihat apa yang terjadi dan membiarkan mereka melakukan hal bodoh di depan mataku.”


Ed lalu meraih lengan Kiara dan berjalan mendekati El.


“Kedatangan kalian mengejutkan kami. Apa tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu dan bertamu secara baik-baik?” ucap El menatap malas pada Kiara dan Ed.


“Kami datang baik-baik, kalian saja yang terlalu asyik berduaan di dalam kamar!” sahut Ed.


“Huh, menyebalkan. Bisanya hanya mengganggu saja!” gerutu Raisha, membuat Ed bertambah emosi.


“Dan Kamu, Aku harap Kamu cukup tahu diri. Lebih baik tinggalkan mereka berdua sekarang juga. Biarkan mereka bicara dan menyelesaikan masalah mereka berdua,” ucap Ed lagi.


“Tidak bisa. Aku tidak mau meninggalkan El berdua saja dengan wanita itu!” tolak Raisha.


“Diam!” teriak El yang sejak tadi bingung melihat keributan di dekatnya, sejenak ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


“Abang!” seru Kiara khawatir melihat El seperti menahan sakit, tangannya bergerak ingin menyentuh kepala suaminya itu namun urung dilakukannya saat melihat El mendongak dan menatap ke arahnya.


“Apa sebenarnya yang kalian inginkan. Mengapa wanita ini mengaku sebagai istriku?” tanya El terus menatap Kiara.


••••••••