
Kiara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, di sebelahnya Rio duduk tenang sambil menikmati roti bulat berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa dengan banyak potongan sosis di bagian pinggirnya dan taburan abon sapi di bagian atasnya.
Kiara menoleh sejenak, tersenyum menatap putranya. Satu gigitan besar pada roti di tangannya membuat pipi Rio tampak menggembung dan hal itu terlihat menggemaskan di mata Kiara.
“Enak? Iyo suka?” tanya Kiara yang dijawab Rio dengan anggukan kepala, mulut bocah lelaki itu masih sibuk mengunyah makanan. Matanya lalu melirik pada bungkusan besar di pangkuan Rio.
Sebelum mereka berkendara menuju rumah sakit, nyonya Mala terlebih dahulu meminta keduanya untuk menunggu sejenak setelah sebelumnya menyuruh anak buahnya membelikan makanan untuk Rio.
Satu kotak besar makanan berisi roti dengan berbagai bentuk dan rasa diberikan ke tangan Rio yang menerimanya dengan senang hati seraya mengucap kata terima kasih.
“Mama mau?” Rio menawarkan roti di tangannya pada Kiara.
Lampu di perempatan jalan telah berganti warna menjadi merah, Kiara menghentikan kendaraannya persis di belakang sebuah mobil hitam. “Boleh, dikit aja.”
Kiara bersiap membuka mulutnya, “Aaa ...”
Rio merobek sedikit roti di tangannya lalu memiringkan tubuhnya dan menyuapkan ke mulut Kiara.
“Hem, enak. Makasih sayang,” ucap Kiara tanpa menoleh, matanya fokus menatap jalanan di depannya. Kendaraan di depannya mulai bergerak maju karena lampu telah berganti warna.
“Ma, bukannya kita sekarang lagi antar oma Mala ke rumah sakit ya. Tapi kok malah oma yang kasih kita makanan? Harusnya kan kita yang bawain makanan buat Oma. Kan yang lagi sakit sekarang oma?” tanya Rio membuat Kiara memalingkan wajah padanya.
“Ehm, biasanya sih gitu. Tapi ini kan kejadian tidak terduga, dadakan sayang. Mama itu nemuin oma Mala sudah terjatuh di lantai kamar mandi mall. lagi pula kalau Iyo mau bawain makanan buat oma, kita bisa lakukan hal itu nanti. Yang penting sekarang kita antar oma dulu periksa ke rumah sakit,” jawab Kiara.
“Oke.”
Nyonya Mala sudah berada di rumah sakit ketika Kiara dan Rio sampai di sana. Dilihatnya seorang lelaki muda yang memakai jubah dokter tengah berbicara serius padanya dengan posisi setengah menunduk sambil sesekali menyentuh pelan pinggang nyonya Mala, sementara beberapa orang perawat bersiap menunggu di belakang mereka.
Kiara turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Rio, membantunya keluar.
“Gak usah lari-lari gitu, sayang!” tegur Kiara, bergegas mengunci mobilnya lalu berjalan menyusul. Dilihatnya Rio sudah berdiri di samping nyonya Mala dan tangan kecilnya berada dalam genggaman tangan wanita itu.
“Iyo, sini sama Mama.” Kiara berjalan mendekati Rio yang langsung melepaskan pegangan tangannya pada nyonya Mala, kemudian merapat ke tubuh mamanya.
“Ini Kiara yang Oma ceritakan barusan,” ujar nyonya Mala pada lelaki muda di dekatnya itu yang langsung menegakkan tubuhnya, menatap Kiara tajam dan sorot mata penuh selidik dari kepala hingga ujung kaki.
Kiara tidak pernah melihat ekspresi semacam itu ketika bertemu untuk pertama kalinya dengan seseorang. Senyum yang sedianya ingin ia perlihatkan sebagai tanda perkenalan yang baik karena Kiara menebak laki-laki di depannya itu memiliki hubungan kekerabatan dengan nyonya Mala, berubah menjadi datar.
Ia merasa tertantang, dengan bahu tegak dan mata balas menatap tajam Kiara hanya mengangguk kecil seraya menyebutkan namanya, “Kiara, dan ini putra Saya Rio.”
Lelaki itu tertegun sejenak, tak menyangka akan melihat sikap datar wanita di hadapannya itu. Karena menurut penuturan sang nenek, wanita yang menolongnya tadi adalah wanita dengan sikap yang lembut dan tutur bahasa yang halus.
“Oktavian Mahendra,” jawabnya balas menyebutkan nama. “Segera tempatkan Nyonya Nirmala di ruangan seperti biasanya, minta pada dokter Haris untuk datang ke sana sekarang. Saya akan menyusulnya nanti!” perintahnya kemudian pada perawat di dekatnya yang langsung melaksanakan tugasnya dengan cepat.
“Siap, Dok!”
Kiara melirik ke arah pintu, lalu menggandeng tangan Rio bersiap menyusul para perawat yang membawa nyonya Mala dari belakang.
Namun sebuah lengan kuat terbentang menghadang langkahnya. Kiara mendongak, mengangkat wajahnya. Pandangannya bertemu dengan sepasang mata coklat yang kembali menatapnya dengan tajam.
“Bisa kita bicara sebentar di ruangan Saya?” ucapnya kemudian, lalu tanpa menunggu jawaban ia berbalik dan melangkah meninggalkan Kiara yang heran dengan sikap lelaki itu padanya.
“Apa sih, main perintah seenaknya saja! Kenal juga barusan,” sungut Kiara lalu menghela bahu Rio dan berjalan cepat menyusul langkah lebar lelaki muda di depannya itu.
Meski dengan hati kesal, namun tak urung Kiara mengikuti perintah laki-laki itu dan mengikutinya hingga tiba pada satu buah ruangan yang berada di bagian tengah tidak jauh dari ruang laboratorium rumah sakit.
••••••••