You are the Reason

You are the Reason
Chap 20 – Kejahilan Doddy



DUA PULUH


●○•★•○●


Suara tepuk tangan menggema di area lapangan saat seorang siswa telah melewati tes praktik basket yang diadakan hari ini.


Kini, giliran absen terakhir yaitu Ailen. Setelah namanya dipanggil, gadis itu mulai memasuki area lapangan yang mulai panas terkena sinar matahari. Ailen menatap bola basket itu dengan tangan yang bergetar, pikirannya kacau, bola basket ini lagi-lagi mengingatkan dirinya akan suatu hal.


"Semangat Ailen, lo pasti bisa!" teriak Bara menyemangati. Begitupun dengan teman-teman lainnya yang bertepuk tangan dengan maksud menyemangati gadis itu agar tidak gugup.


'Baik Ailen, kamu pasti bisa!'


Dengan cepat Ailen menepiskan memori yang menggangu pikirannya itu saat peluit dibunyikan, pertanda bila tes praktik basket ini sudah dimulai.


Dengan lihai Ailen mendrible bola jingga tersebut dan mencoba memasukannya ke dalam ring. Lemparan pertama gagal, Ailen mencoba mengingat perkataan Lintang yang selalu cowok itu ucapkan kala ia mengajarkan Ailen bermain basket seminggu ini.


'Santai saja, jangan terburu-buru. Fokuskan pikiranmu, lihat ring didepan sana. Perlahan tapi pasti, lempar bola itu. Lo pasti bisa!'


Suara tepuk tangan terdengar lagi saat Ailen berhasil memasukan bola pertamanya ke dalam ring. Ailen semakin bersemangat, terlebih saat sudut matanya menangkap sosok Lintang yang tengah menatap ke arahnya sambil menyenderkan tubuh di tiang koridor.


"Lin,"


Lintang menoleh ke sumber suara. Disana, Doddy yang telah selesai memenuhi panggilan alamnya, keluar dari toilet pria dan menghampiri Lintang.


Namun, Lintang tidak merespon lebih, cowok itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lapangan.


"Woi, ayo balik ke kelas!"


Lintang hanya bergeming dengan perkataan Doddy barusan, cowok itu masih menatap satu titik disana, dimana sosok Ailen terlihat tersenyum puas saat mendengar peluit dibunyikan, tes praktik basket telah usai dan gadis itu berhasil mencetak 7 poin dalam satu menit.


"Liat apaan sih?"


Merasa jengah sekaligus penasaran, Doddy pun menatap ke arah yang sama, cowok itu dapat melihat sosok Ailen yang kini tengah berjalan ke pinggir lapang. Sebelum mendudukkan dirinya disana, Ailen sempat melihat ke arahnya, tepatnya melihat ke arah sahabatnya yang kini tengah tersenyum ke arah gadis itu.


Doddy terkekeh geli saat melihat interaksi keduanya. Merasa gemas dengan ini semua, Doddy pun tersenyum saat pikiran jahil mulai bersarang di kepalanya. Tanpa mempedulikan Lintang lagi, Doddy menatap Ailen dari kejauhan dan..


"Ailen!"


Lintang terkejut saat Doddy meneriaki nama gadis itu dengan intonasi yang cukup keras, dan keterkejutannya bertambah saat Lintang tidak menemukan keberadaan Doddy disampingnya.


'*****, Doddy' batin Lintang berseru saat menyadari jika semua siswa kelas XI IPA 4 kini tengah menatap dirinya yang mungkin dianggap sebagai sumber dari pemanggilan nama Ailen barusan.


"Itu Lintang bukan? Dia manggil lo?" ucap Livia pada Ailen yang kini tengah bersiap bangkit dari duduknya.


"Aku kesana dulu ya"


Tidak jauh dari sana, tepatnya disudut lapangan. Sepasang mata tengah mengamati interaksi dari dua manusia yang telah berhasil menarik perhatian seisi kelas beberapa detik yang lalu.


Bintang tahu betul bila bukan saudara kembarnya yang memanggil Ailen, itu semua ulah Doddy, cowok itu memang sudah mengamati gerak-gerik Lintang sejak tadi. Terlebih melihat Lintang yang tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya saat Ailen datang menyahuti panggilan tersebut.


"Mereka udah jadian?" tanya Bima.


"Setau gue sih belum. Ailen nggak cerita apa-apa ke gue soal itu" jawab Bara.


Bara kembali menatap Ailen yang masih asik berbincang dengan Lintang. Sudah seminggu sejak kedekatan mereka dan Bara sama sekali tidak keberatan tentang hal itu.


Toh, siapa dia jika melarang Ailen untuk tidak berdekatan dengan cowok lain?


Terlebih mengingat jika Lintang sering mengantar Ailen pulang ke rumahnya, membuat Bara berpikir bila Lintang adalah spesies cowok yang baik dan bertanggung jawab. Dan berdasarkan apa yang Bara dengar dari Ailen, Lintang pun sudah tau mengenai identitas Ailen yang sebenarnya, dan kabar baiknya, Lintang sama sekali tidak peduli dengan itu semua.


"Jadi, Ailen di friendzone?" tanya Bima tidak terima.


Bara hanya mengendikkan bahu, lagipula kedekatan mereka baru berjalan kurang lebih seminggu, bagi Bara cukup logis jika keduanya masih belum merubah status. Mengingat jika dirinya dan Livia dulu yang bahkan membutuhkan waktu lebih dari 5 bulan.


"Eh Bintang, bilangin ya ke abang lo, kalo sampai dia cuma main-main sama Ailen, awas aja!" kata Bima mendadak sewot.


Bintang yang masih mengamati interaksi keduanya hanya memutar kedua bola matanya, malas menanggapi celotehan Bima. Kini Lintang terlihat sedang tertawa, ekspresi cowok itu sudah terlihat lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.


'Lintang, jika lo bisa ngerebut kebahagiaan gue dirumah, sekarang giliran gue yang ngerebut kebahagiaan lo di sekolah,'


Sore ini, setelah pulang sekolah, Bara mengajak Livia ke rumahnya. Gadis itu ingin mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian casual yang lebih santai sebelum pergi dengan Bara sore ini. Livia lebih memilih berganti di rumah Bara, daripada pulang ke rumahnya yang tergolong jauh dari area sekolah.


"Bara pulang," ucap Bara ketika memasuki rumahnya, diiringi oleh Livia yang membawa sebuah paperbag berisikan pakaian casualnya.


"Kamu ganti baju duluan sana,"


"Yaudah, aku ke atas ya"


Bara mengangguk. Matanya memandangi Livia yang mulai menaiki tangga, menuju ke arah kamarnya yang berada diatas. Cowok itu tidak perlu memberitahu lagi dimana letak kamarnya, karena ini bukan pertama kalinya Livia datang untuk alasan yang sama.


"Ini minumannya," kata Bi Asri yang baru saja keluar dari dapur


"Makasih, Bi"


"Sama-sama. Bibi ke belakang lagi ya, Den" kata Bi Asri yang sudah meletakkan nampan berisikan dua gelas air dingin diatas meja.


"Eh, Bi.. Bara boleh nanya sesuatu nggak?"


"Mau nanya apa, Den? Kalo pelajaran bibi nggak bisa,"


Bara terkekeh pelan. "Duduk dulu, Bi" ucapnya, cowok itu mulai mendudukkan dirinya di sofa, begitupun dengan Bi Asri. "Masalah Ailen," lanjutnya.


Bi Asri terdiam.


"Bara penasaran, udah beberapa kali Bara liat Ailen mimpi buruk dan selalu meneriaki nama ibunya. Sebenarnya, Ailen ada masalah apa sih Bi, dimasa lalunya?"


"Den Bara ingin tau?"


Bara mengangguk. "Iya Bi, kalo boleh"


Bi Asri menghela napas pelan, pandangannya mulai menerawang mengingat kejadian dimasa lalu.


"Dulu, ketika Ailen masih memiliki ayah dan ibu. Pernikahan kedua orang tuanya memang tidak berjalan cukup baik. Hingga suatu hari mereka bertengkar saat sedang mengendarai mobil, Ailen ada disana. Bibi kurang tau penyebab pasti mereka bertengkar apa, yang bibi dengar dari Ailen, ibunya sempat mengatakan tentang perceraian hingga membuat ayahnya marah. Mobil itu kehilangan kendali dan menabrak sebuah bangunan tua.


Renata, ibunya Ailen, tewas ditempat kala itu. Ailen dan Ayahnya selamat. Tapi Ali, ayahnya, mengalami gangguan jiwa karena merasa bersalah atas kematian istrinya, dan dia melakukan bunuh diri saat itu juga."


"Bagaimana dengan Ailen?"


"Butuh waktu beberapa bulan untuk Ailen sadar dari komanya. Saat itu, Ailen sangat terpukul saat tahu tentang kematian ibunya. Jika bibi mengatakan bila ayahnya bunuh diri, mungkin Ailen tidak akan sanggup menghadapi kenyataan itu. Jadi bibi bilang padanya, jika ayahnya sedang pergi mengurus urusan di luar kota."


"Bibi berbohong padanya?"


Bi Asri tersenyum simpul. "Bibi nggak punya pilihan lain selain itu. Kadang, beberapa bulan sekali, bibi berpura-pura menjadi ayahnya dan menulis surat untuk Ailen, agar gadis itu tau bila ia masih memiliki seorang Ayah di dunia ini. Ayah yang selalu memperhatikannya, mengajarinya bermain basket—"


"Tunggu bi, basket?"


"Iya, ayahnya suka mengajarinya bermain basket waktu itu. Mungkin basket akan menjadi satu-satunya kenangan bagi Ailen, untuk mengenang ayahnya"


'Apa itu alasan, kenapa Ailen terlihat sedih jika memegang bola basket?'


"Dulu Ailen anak yang aktif dan ceria, dia sering ke luar rumah untuk bermain bersama teman-temannya. Tapi sekarang berbeda, dan bibi sangat berterima kasih pada Den Bara, karena sudah bisa menerima Ailen dan maaf jika anak itu merepotkan, Den"


"Jangan berterima kasih pada Bara bi, Ailen memang pantas mendapatkan itu dan Bara sama sekali nggak merasa direpotkan Ailen. Bibi liat sendiri setiap Bara ajakin pergi sekolah bareng, Ailen selalu nolak. Dia anak yang mandiri, Bi."


Bi Asri tersenyum mendengar ucapan Bara tersebut, dan mereka pun harus menghentikan pembicaraan ketika samar-samar mendengar suara Ailen yang sedang berbincang di luar.


"Ailen sudah pulang, Bi"


"Iya Den, bibi ke belakang lagi ya. Bibi juga minta yang tadi bibi ceritain jangan Den ceritain ke Ailen yah,"


Bara mengangguk. "Tenang bi, Bara nggak akan bilang apa-apa. Cuma kita berdua aja yang tau,"


Bara terdiam setelah kepergian Bi Asri. Mendengar cerita Ailen seperti itu, Bara merasa menjadi anak yang paling beruntung didunia karena masih memiliki seorang ibu dan ayah. Mungkin Bara harus berhenti mengabaikan panggilan telepon Bundanya setiap pagi. Ya, Bara akan berusaha mencoba.


Demi Bunda.