You are the Reason

You are the Reason
Bab 28. Cerita sebenarnya



Pagi-pagi sekali Kiara berangkat menuju terminal bis yang akan membawanya menemui El di kota, setelah sebelumnya meminta tolong pada ibu Lastri untuk menjaga pamannya sementara ia pergi.


“Neng, bangun Neng. Sudah sampai!” suara tepukan tangan kernet bis di bangku dekat kepalanya membangunkan Kiara dari tidurnya.


Kiara mengerjapkan matanya berulang, menutup wajah saat kuap lolos dari mulutnya. Pandangannya menyapu sekitar, sebagian penumpang sudah banyak yang turun sementara sebagian lainnya masih berada di dalam bis membereskan barang bawaan mereka.


Sejenak ia memijit tengkuknya, meregangkan otot lehernya yang kaku karena tertidur dengan posisi kepala miring. Bis yang ditumpanginya telah sampai di kota kembali setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam lamanya.


Bergegas Kiara turun, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi matahari masih bersinar cukup terik. Kiara mengangkat tangan melindungi wajahnya dari sengatan panas matahari.


“Ojek Neng!” teriak para tukang ojek menyeret motornya mendekati Kiara, menawarkan tumpangan.


“Gak, Pak. Makasih,” ucap Kiara menggelengkan kepala, lalu pergi menjauh mencari tempat yang lebih teduh untuk beristirahat sejenak.


“Kiara?”


Belum jauh kakinya melangkah, suara seseorang terdengar memanggil namanya. Kiara menoleh mencari asal suara, dan terkejut melihat sosok lelaki yang dikenalnya.


“Mas Edgar,” bisiknya pelan sambil menatap pria yang berjalan cepat ke arahnya itu.


“Kami biasa makan dan ngopi di tempat ini,” ucap Ed menunjuk pada rekannya yang sedang menikmati minuman di kantin terminal. “Gak sengaja lihat Kamu turun dari bis.”


Kiara menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. “Silah kan dilanjut ngopinya, Mas. Aku pamit dulu.”


“Oh iya, kantorku ada di ujung jalan sana. Kami sedang mengerjakan proyek di dekat tempat ini,” lanjut Ed lagi, terus saja bicara tanpa menghiraukan ucapan Kiara padanya.


“Maaf, Aku harus secepatnya pergi dari sini.” Kiara menundukkan wajahnya sedikit, lalu berjalan melewati Ed. Niat hati ingin beristirahat urung dilakukannya.


“Aku antar Kamu pergi ke sana,” ujar Ed, membuat Kiara langsung menghentikan langkah dan menoleh padanya.


“Aku antar Kamu pergi menemui El di tempat peristirahatannya. Bukankah itu tujuanmu datang kembali ke kota ini?”


Tak urung, perkataan Ed membuat Kiara terkejut. Bagaimana lelaki itu bisa menebak dengan tepat tujuannya, dan menilik ucapannya, sepertinya lelaki itu juga mengetahui keberadaan El suaminya.


Kiara memaksakan senyumnya, “Terima kasih, Aku bisa melakukannya sendiri.”


Tak ingin berlama-lama di tempat itu, Kiara pun berbalik dan meneruskan langkahnya kembali. Tapi Ed bergerak cepat dan menghadang langkahnya di depan.


“Lihat lah dirimu saat ini, mata kuyu dan wajah pucat seperti mayat. Tubuh yang terlihat lemah, apa Kamu ingin menemuinya dengan keadaan dirimu yang seperti ini?” Ed menatap kasihan wanita di depannya itu, tubuh Kiara jauh lebih kurus dari pada terakhir kali Ed melihat dirinya bersama El.


Kiara membuang muka, ia sadar bagaimana penampilan dirinya saat ini. Tubuhnya memang lelah luar biasa, dan ia tidak punya banyak waktu hanya untuk memperbaiki penampilan dirinya. Tujuannya hanya satu, bertemu dengan suaminya dan membuktikan kebenaran cerita Bian.


“El sahabatku, dan Aku tidak akan membiarkan om Bian melakukan ini pada kalian.”


Deg!


Kiara menatap Ed lama, “Memang apa yang direncanakan papa kepada kami, dan apa yang Mas tahu tentang masalah ini?”


“Lebih baik kita bicara di mobil saja,” ucap Ed kemudian.


Kiara tidak dapat menolak ajakan Ed lagi ketika lelaki itu dengan cepat menarik lengannya, dan menuntun langkahnya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Ed membuka pintu mobilnya, dan mendorong pelan bahu Kiara memasuki mobilnya. Kemudian ia berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil, menoleh sekilas pada wanita yang kini duduk di sampingnya.


“Sebelum kita pergi menemui suamimu, katakan apa tujuanmu sekarang?” tanya Ed.


Kiara melihat dari balik kaca spion di depannya, garis hitam dan kantung mata tampak jelas menghias wajahnya. Ia lalu kembali menundukkan kepala, menatap pakaian kusut yang melekat di tubuhnya.


“Ke rumah kami saja dulu. Aku ingin berganti pakaian terlebih dahulu.”


Ed tersenyum samar, “Oke.”


Rumah itu masih sama seperti saat terakhir Kiara pergi, hanya teras depan saja yang terlihat kotor dan berdebu.


“Aku ke dalam dulu,” pamitnya pada Ed setelah membuka pintu.


“Silah kan, biar Aku menunggu di teras saja.”


Kiara mengangguk. Tidak butuh waktu lama, Kiara sudah siap dengan dirinya. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal El.


“Aku harap apa yang akan Aku ceritakan padamu ini tidak akan membuatmu menyalahkan El sepenuhnya, seperti yang terjadi saat ini.”


“Maksudmu, memintaku menandatangani surat gugatan cerai secara tiba-tiba bahkan saat dirinya selama hampir dua bulan tidak pernah ada kabar beritanya. Hilang begitu saja, dan saat keadaan kami sedang terpuruk seperti saat ini adalah tindakan yang dapat dibenarkan?”


“El menderita amnesia setelah kecelakaan yang dialaminya saat menolong mamanya, sebagian besar memorinya hilang dan hanya beberapa orang saja yang diingatnya termasuk orang tua juga mantan tunangannya.”


“Amnesia? Abang mengalami kecelakaan?” Kiara menatap tak percaya. “Mengapa papa tidak pernah menceritakan keadaan abang yang sebenarnya dan berusaha menutupi semuanya?”


“Om Bian menggunakan situasi ini untuk memisahkan kalian, saat El amnesia dan tidak dapat mengingatmu sama sekali.”


“Semua berawal saat El berpamitan hendak pulang menemuimu, dan mereka kembali bertengkar setelahnya. Tante Winda minta El untuk tinggal lebih lama di rumahnya tapi El menolak, dan om Bian marah mendengar El terus menyebut namamu.”


“Saat El pergi, tante Winda berlari menyusul dan terjadilah kecelakaan itu.”


Ed menghela napas dalam, “Saat ini yang ada dalam ingatannya justru mantan tunangannya dan mereka akan segera menikah dalam waktu dekat.”


Wajah Kiara memucat mendengar cerita sebenarnya, teringat pada paman juga janjinya pada Bian.


“Aku harap Kamu bisa meyakinkan El untuk membatalkan rencananya menikahi mantan tunangannya, dan bisa membuatnya mengingatmu kembali.”


Kiara menelan ludah dengan susah payah, menoleh menatap Ed dengan sorot mata terluka. “Waktuku tidak banyak, Aku hanya punya waktu dua hari. Bagaimana caranya Aku bisa meyakinkan dia?”


“Jangan mudah menyerah, Kiara. Aku akan membantumu membuat El kembali mengingatmu.”


Kiara menggeleng pelan, “Aku bahkan sudah berjanji pada papa untuk menandatangani surat itu setelah bertemu dengan bang El, kalau tidak semua yang diberikan pada pamanku akan dicabutnya kembali. Aku tidak mungkin membiarkan nyawa pamanku dalam bahaya.”


“Aku akan mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan om Bian untuk pamanmu!”


Kiara tersenyum, matanya kini sudah basah dengan air mata. “Kenapa mas Ed begitu baik pada kami, Aku bukan siapa-siapa Mas. Kita bahkan baru kenal.”


“El sudah seperti saudara buatku, kami tumbuh bersama sejak kecil. Jangan pertanyakan hal yang tidak masuk akal itu, Kamu istri El. Sudah sewajarnya saudara saling membantu!”


“Andai semuanya bisa diselesaikan semudah itu, alangkah tenangnya hidup kami.” Kiara menahan isaknya, “ Sejak awal pernikahan papa bahkan tidak pernah menganggap Aku ada, berkali-kali kami harus pindah dan menghindar darinya demi untuk bersama.”


Ed termangu mendengarnya, wanita di sebelahnya itu sedang berusaha keras menahan isak tangisnya meski pipinya sudah basah air mata.


Mereka sudah sampai di depan sebuah bangunan megah, Ed turun dan membuka pintu untuk Kiara.


Kiara terpaku menatap bangunan di depannya itu, selama ini ia tidak pernah bertanya pada El sekaya apa keluarga suaminya itu.


“Masuklah, El ada di dalam.” El menggeser tubuhnya membiarkan Kiara masuk dan melewatinya.


“A-aku ...” Kiara menatap ragu pada Ed, kakinya terasa berat untuk melangkah.


“Kenapa ragu? Sudah sejauh ini, apa Kamu ingin mengurungkan niatmu bertemu dengan El dan membiarkan om Bian menang semudah itu?”


Kiara menggeleng kuat dan memantapkan hatinya, melangkah masuk diikuti Ed dari belakang.


••••••••