You are the Reason

You are the Reason
Bab 84. Permintaan



Kiara memindai sekelilingnya, menjaga jarak untuk tidak berada terlalu dekat dengan Okta dan mulai memasang sikap waspada.


Jemari tangannya erat menggenggam tangan Rio putranya. Sedikit ragu untuk melanjutkan langkahnya lagi mengikuti lelaki di depannya, tapi kini ia justru sudah berdiri di depan ruang kerja Okta.


“Apa tidak sebaiknya kita bicara di tempat lain saja,” usul Kiara merasa tidak nyaman dengan suasana sekitarnya. “Lagi pula kami juga harus segera pulang. Sudah terlalu lama kami berada di luar rumah,” ungkap Kiara menyampaikan alasannya.


Rumah sakit tempatnya berada kini adalah rumah sakit terbesar dan paling lengkap fasilitasnya, namun di hari libur seperti saat ini tetap saja suasana lengang begitu terasa. Hanya sedikit orang yang lalu lalang di sekitar mereka, itu pun hanya perawat yang akan mengambil hasil lab dari para pasiennya.


Kiara menunggu lelaki itu bicara dan menanggapi ucapannya, dari gerakan tangannya Kiara tahu lelaki itu sedang berusaha membuka pintu ruang kerjanya yang terkunci.


Mereka baru saling kenal beberapa saat yang lalu, tapi dengan mudahnya lelaki itu membuatnya menuruti perintahnya.


Ia datang ke tempat ini hanya sekedar untuk mengantar nyonya Mala, dan itu sudah dilakukannya. Sekarang lebih baik ia melihat keadaan nyonya Mala sebelum berpamitan pulang karena hari sudah semakin sore.


“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu berkaitan dengan riwayat kesehatan oma. Aku melakukan ini karena Aku melihat ada yang berbeda dari sikap oma saat berbicara dengan kalian,” ujar Okta.


Lelaki itu memutar tubuhnya setelah berhasil membuka pintu ruang kerjanya, suaranya terdengar lebih halus dan wajah itu terlihat melembut saat menatap tangan Kiara dan Rio yang saling bertaut erat.


“Aku tidak melakukan apa-apa pada nyonya Mala selain berniat menolongnya saja, dan hal itu terjadi begitu saja saat kami berada di dalam tempat yang sama.”


Kiara tak ingin niat baiknya menolong oma dari lelaki itu malah membuatnya harus terlibat dengan urusan keluarga besar nyonya Mala, karena yang ia tahu sampai detik ini keluarga mereka sepertinya memiliki pengaruh yang cukup besar di rumah sakit ini. Terlihat dari cara Okta memberi perintah pada orang di sekitarnya.


“Ayo masuk,” ujar Okta, “ Aku akan meminta pak Joko untuk membawakan kalian kue dan minuman hangat.”


Lelaki itu lalu menghubungi seseorang dan tidak lama kemudian datang ke hadapan mereka lelaki bertubuh kekar yang Kiara kenali sebagai salah seorang dari anak buah nyonya Mala membawa kotak makanan dan minuman di tangannya.


“Wah, kue sosis lagi!” seru Rio dengan mata berbinar saat melihat kue di hadapannya, ia pun menoleh pada Joko yang masih berdiri di dekat pintu menunggu perintah Okta selanjutnya. “Terima kasih lagi Om Joko buat kuenya.”


“Sama-sama,” sahut pak Joko seraya tersenyum.


“Untuk sementara itu saja dulu, Pak. Bapak bisa kembali ke tempat semula, kalau ada yang Saya butuh kan lagi Saya akan hubungi Bapak segera. Terima kasih,” ujar Okta pada pak Joko yang segera undur diri dari hadapan mereka dan kembali berjaga di depan ruangan nyonya Mala.


“Iyo, bilang makasih dulu sama om dokter,” ujar Kiara mengingatkan, ketika Rio hendak mengambil salah satu kue di depannya.


“Terima kasih juga Om Dokter,” ucap Rio malu-malu, membuat Okta terkekeh dibuatnya.


Lelaki itu mengacak rambut ikal Rio dan berucap, “Sepertinya tidak salah Om pesan kue ini buat Kamu, suka ya?”


“Suka,” jawab Rio lalu mencomot salah satu dan mulai menyantapnya.


Kiara duduk menunggu sambil mengusap rambut Rio, lalu menyisir dengan jarinya. Dilihatnya Okta yang sedang berdiri memeriksa tumpukan berkas di rak lemari yang ada di pojok ruangan tidak jauh dari meja kerjanya.


Lelaki itu kembali dengan membawa satu file tebal berisi berkas riwayat kesehatan atas nama nyonya Nirmala Dewi, lalu menunjukkannya pada Kiara.


“Buka dan bacalah,” ucap Okta kemudian.


“Beberapa tahun belakangan ini ingatan oma sedang menurun, kami sering kewalahan mencarinya karena oma kerap kali menghilang dan pergi dari rumah seorang diri tanpa ada yang tahu.”


“Di sini ditulis nyonya Mala menderita Alzheimer.” Kiara menatap lelaki di hadapannya itu, “Orang pasti tidak akan percaya bila melihat penampilan beliau, tidak terlihat tanda-tanda kalau ia menderita penyakit itu.”


“Awalnya kami semua juga punya pemikiran yang sama sepertimu. Tapi saat melihat oma sering lupa dengan apa yang baru saja dilakukannya, lalu sering salah menyebutkan nama mama dan mengira beliau sedang berbicara dengan almarhumah adik mama. Tentu saja itu jadi pertanyaan besar buat keluarga, karena setelah kematian tante Ara, mama memilih menemani oma dan tinggal serumah dengannya.”


“Terkadang saat di luar rumah beliau lupa sedang berada di mana, dan saat kami temukan oma sedang duduk sendiri di pinggir warung pedagang kaki lima. Kamu tahu apa yang dilakukannya, duduk melipat kaki di atas tanah sambil memakan ceker ayam pedas kesukaan tante Ara!”


“Tapi saat nyonya Mala berada di mall, ia sadar ketika menyuruh anak buahnya datang untuk menemuinya di sana. Tidak ada yang salah dengan ingatannya saat itu,” ucap Kiara.


“Terkadang ia bisa mengingat dengan baik tempat di mana ia berada saat itu, tapi dalam hitungan menit berikutnya ia akan lupa segalanya.”


“Sejak dulu oma biasa melakukan semuanya seorang diri, ia paling tidak suka ada orang lain yang coba mengatur dirinya. Ia selalu berontak dan menjaga jarak dengan orang yang baru dikenalnya, tapi yang Aku lihat ia nyaman saat berada di dekat kalian berdua.”


“Mungkin saja karena beliau merasa Aku adalah orang yang sudah membantunya saat terjatuh di lantai kamar mandi,” sahut Kiara.


Okta menggeleng kuat, “Bukan itu maksudku, ia bisa marah tiba-tiba dan menyalahkan orang lain bahkan pada mereka yang baru saja ditemuinya.”


Kiara lalu teringat pada Anisa, bagaimana nyonya Mala marah padanya.


“Maaf sebelumnya, tapi kalau boleh tahu apa sebenarnya penyebab kematian adik mama Dokter itu?” tanya Kiara hati-hati.


“Tante meninggal dunia tidak lama setelah ia melahirkan putrinya.”


“Oh, maaf. Aku jadi teringat pada mamaku sendiri,” Kiara tersenyum kecil. “Apa yang dialami tantemu hampir sama dengan yang dialami mamaku, beliau juga meninggal sesaat setelah melahirkan Aku.”


“Maaf, kalau ceritaku membuatmu bersedih. Meski nasib mamamu dan tanteku sama, tapi lihatlah sekarang. Mamamu patut berbangga hati dan pastinya tersenyum di atas sana, melihat putrinya tumbuh dengan baik menjadi seorang wanita yang cantik dan mandiri. Memiliki putra yang juga tampan dan menggemaskan tentunya,” ujar Okta membesarkan hati Kiara.


Kiara tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan seperti yang dilontarkan lelaki itu padanya, terdengar seperti sebuah pujian yang dibalut rasa simpati yang tulus. “Terima kasih pujiannya.”


“Itu bukan pujian tapi ungkapan tulus dari hati yang paling dalam,” balas Okta serius.


Kiara terkekeh mendengarnya, “Pertama kali melihatmu, Aku pikir Dokter orang yang kaku. Ternyata penilaianku itu salah, setelah berbicara banyak denganmu Aku jadi tahu kalau Dokter orang yang baik dan berhati hangat.”


“Tak kenal maka tak sayang, hari ini Aku melihat sikap lain Oma yang tidak pernah ia tunjukkan saat bersama dengan orang lain. Beliau jadi lebih tenang dan kerap memuji sikapmu padanya.” Okta menarik napas sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


“Sekarang Aku punya satu permintaan padamu, Aku harap Kamu bersedia membantuku melakukan itu pada oma.”


Kiara mengerutkan keningnya, menunggu dengan hati berdebar “Ma-maksudnya, bantuan seperti apa yang Dokter inginkan dariku?”


••••••••