
SEMBILAN BELAS
●○•★•○●
Pagi ini, seperti biasa Ailen menunggu di trotoar dekat pangkalan setelah berjalan cukup jauh dari rumah Bara. Jawaban yang sama juga selalu dilontarkan Ailen saat Bara menawarkan tumpangan kepadanya.
Namun, kali ini dengan alasan yang berbeda, Ailen mengatakan jika dirinya harus mulai terbiasa melakukan hal kecil secara mandiri, dengan kata lain tidak bergantung pada Bara. Seperti pergi sendiri ke sekolah, baik hari ini maupun hari-hari berikutnya.
"Yakin?"
Tanya Bara memastikan kala itu, dan dibalas anggukan mantap oleh Ailen.
"Gue izinin, tapi—"
"Jangan ajukan syarat lagi!" seru Ailen, mengingat kejadian beberapa hari lalu.
Bara tertawa mendengarnya.
"Karena itu mau lo, gue turuti."
Tinn.. Tinn..
Suara klakson menyadarkan Ailen dari lamunannya, ia menatap mobil yang entah kapan sudah berada di depannya. Kaca mobil bagian depan perlahan terbuka. Wajah sosok yang familiar muncul saat kaca tersebut sudah terbuka sempurna.
"Pagi, Ailen!"
"Lintang?"
Lintang tersenyum tipis. "Mau berangkat bareng?"
"Eh? Ng-nggak usah, angkotnya—"
"Len, bisa nggak nolak?"
Ailen diam. Ia merasa tidak enak, dan akhirnya menganggukan kepala terpaksa.
Lintang tersenyum lega, dan membukakan pintu disebelahnya dari dalam, mengisyaratkan Ailen untuk masuk.
"Masuk, Len"
Ailen mengangguk.
"Kok Lintang bisa ada disini?" tanya Ailen, setelah menutup pintu mobil itu kembali.
"Tiap pagi gue emang berangkat lewat jalan ini. Lo inget kan, waktu pertama kali kita ketemu juga disini,"
Ailen manggut-manggut.
"Gue juga kebetulan ngeliat lo tadi, karena tujuan kita searah jadi nggak ada salahnya kan gue ajak lo berangkat bareng?"
Ailen menggeleng.
'Ailen kira Lintang sengaja lewat jalan ini buat jemput, secara kemarin 'kan Ailen minta diturunin disini' batin Ailen berseru.
"Jadi, gue harap lo nggak sampe berpikir kalo gue lewat sini buat nge-jemput lo" ucap Lintang sambil tertawa pelan.
'Hah? Kok dia bisa tau? Apa kepala Ailen tembus pandang ya?'
"Bercanda, Len. Ekspresi lo kayak ucapan gue bener aja,"
'Emang bener,'
Ailen menatap sekitar dan baru menyadari jika sedari tadi Lintang tidak menjalankan mobilnya, namun mesinnya tetap menyala.
"Lintang, kenapa belum jalan?"
"Lo lupa satu hal,"
"Hah?"
Tanpa menunggu reaksi dari Ailen lagi, Lintang mendekatkan tubuhnya dan menarik seatbelt yang sedari tadi tidak Ailen pakai. Ya, gadis itu emang selalu lupa tentang itu.
Ailen terdiam, entah kenapa perlakuan kecil yang Lintang lakukan membuat jantungnya berdetak tak karuan. Cuma Lintang saja yang berani memasangkan seatbelt ditubuhnya seperti barusan, bahkan Bara saja hanya mengingatkan.
***
"Woi!"
Ailen tersentak dari lamunannya, ketika Livia datang mengagetkan dirinya.
"Ivi, ngagetin aku aja" kata Ailen, sambil mengeluskan dada.
"Lagian senyam-senyum aja daritadi, nih makanan lo," ujar Livia sambil menyodorkan semangkuk bakso pada Ailen.
Ailen mendengus pelan. "Thanks, Vi"
"Mikirin apa sih?" tanya Livia.
"Biasa yang abis PDKT mah, pasti bawaannya senyum-senyum terus," timpal Bara tiba-tiba yang baru saja datang bersama kedua temannya dan ikut bergabung dimeja.
Ailen mengerutkan dahi. "Bara! Kok Bara ikut-ikutan sih?"
"Hah, PDKT? Sama siapa? Jangan bilang sama kembaran nih anak," kata Bima sambil menunjuk Bintang.
"Maksud lo Lintang, Bim? Yang bener, Len? Pantes kemarin dia dateng ke kelas lo ya, ciee" goda Livia.
Meja mereka mendadak menjadi ramai seketika dengan candaan yang ditujukan untuk menggoda Ailen. Livia dan Bima yang semangat menggodanya dengan Bara yang sesekali ikut menimpali.
Bahkan, candaan mereka semakin jadi saat Bima tak sengaja mendapati sosok Lintang yang tengah memasuki area kantin bersama dengan Doddy.
"Ekhem, Doi dateng tuh," kata Bima.
"Mana?" Livia menoleh, saat mendapati sosok tersebut gadis itu tersenyum. "Lintang!" panggilnya.
Lintang menoleh ke sumber suara, disana segerombolan orang yang diyakini sebagai teman Ailen sedang menatap ke arahnya, bahkan Lintang bisa melihat keberadaan Bintang disana.
"Ivi!" Ailen berusaha membuat Livia duduk dan menghentikan aksi gilanya itu. Tapi sayang, aksinya sia-sia saat—
"Sini, Lintang!"
—Bima ikut meneriaki hal serupa.
'Ya Tuhan, tolong Ailen'
Ailen menatap ke arah Bintang, baguslah anak itu tidak bereaksi apa-apa sejak tadi. Tapi, Ailen masih tidak menyangka seorang Bara bereaksi seperti itu. Bahkan lihat, cowok ini sedang menertawainya. Benar-benar menyebalkan.
"Ada apa?"
Ailen meneguk salivanya, kepalanya menoleh dan mendapati Lintang sedang berdiri tepat disampingnya. 'Oh, ayolah! Kenapa Lintang harus menyahuti mereka' pikirnya.
"Kata Ailen—" ucapan Livia menggantung, gadis itu menatap Ailen yang kini juga tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut. Melihat ekspresi Ailen seperti itu, rasanya Livia ingin tertawa saat itu juga. "—dia bilang, nanti pulang sekolah bareng ya!"
Ailen menepuk dahinya pelan, tamatlah riwayatnya.
Lintang mengangguk. "Iya, gue emang udah ada rencana pulang bareng sama Ailen"
Lagi, semua orang dimeja itu meneriaki kata 'cie' saat mendengar pengakuan dari Lintang secara langsung. Ailen menatap Lintang yang tengah tersenyum kepadanya. Gadis itu hanya berharap waktu cepat berlalu dan ia tidak perlu berada dalam situasi seperti ini lagi.
Bara bangkit dari duduknya, dan merangkul Lintang. Baginya, Ailen sudah ia anggap sebagai adik sendiri jadi setiap cowok ingin mendekati Ailen, Bara harus memastikan bila cowok tersebut memang layak untuk adiknya.
"Tapi kali ini lo jangan asal turunin Ailen dijalan gitu aja. Walaupun itu dia yang minta, ngerti lo?"
"Tenang aja, bro. Gue paham kok,"
"Bagus!" ucap Bara sambil menepuk pundak Lintang, sebelum kembali duduk di bangkunya.
"Yaudah, gue balik dulu ya semua," kata Lintang. "Gue balik ya, Len"
Setelah kepergian Lintang, Ailen menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Gadis itu yakin wajahnya pasti sudah seperti kepiting rebus saat ini.
Ketiga temannya hanya tertawa melihat tingkah Ailen seperti itu. Terkecuali dengan Bintang, yang sama sekali tidak menyukai drama yang dibuat barusan. Jika ada yang lebih tidak ingin berada di situasi seperti ini selain Ailen, maka orang itu adalah Bintang.