
Kiara berjalan setengah menunduk sambil sesekali memijit keningnya yang mendadak pusing, ia berniat menyusul Wina yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.
“Begini nih kalau di ajak sarapan malah milih makan es krim, jadi gak nyaman ini perut. Mana kepala ikutan pusing lagi,” gumam Kiara seraya mengusap perutnya yang mual.
Hingga ia tak menyadari di saat bersamaan, seorang lelaki tengah berjalan keluar sambil menelepon dengan mata menatap ke arah arloji di tangan kirinya.
Di ambang pintu nyaris saja mereka bertabrakan, kalau saja Kiara tidak menghentikan langkahnya dan lelaki itu tidak segera menarik cepat tangannya lalu menepi menjauhkan tubuhnya.
Kiara tersentak, menatap wajah yang sepertinya tidak asing itu berdiri begitu dekat dengannya. “Ma-af,” ucap Kiara dengan suara bergetar, masih tidak percaya dengan penglihatannya.
“Ra, sini!” panggil Wina menyadarkan Kiara.
Kiara menoleh melihat Wina melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya. “Ada apa, kenapa bengong di situ?”
“Ya?” sahut Kiara lalu berbalik, dilihatnya lelaki itu sudah tidak ada di dekatnya lagi. “Cepat banget perginya, baru nengok bentar udah ilang aja itu orang.”
“Hei, Kamu kenapa?” Wina mengguncang lengan Kiara dan mengulang kembali pertanyaannya, kali ini ia melongok keluar mengikuti arah pandang mata Kiara.
“Kamu kenal laki-laki yang barusan keluar itu, Win?” tanya Kiara mengarahkan telunjuknya ke arah jalan di depannya.
“Kenal sih enggak, tapi tadi sempat nyapa sebentar sih. Namanya Yuda, dan dia sahabatnya mas Gaafhi.” Jelas Wina, lalu beralih menatap Kiara penuh selidik.
“Sekarang mas Gaafhinya kemana?”
“Lagi nungguin kita sambil nyiapin makan siang di lantai atas rumah ini. Nanti sekitar jam dua siang ini, dia mau ada janji ketemuan sama sahabatnya itu.”
“Si Yuda itu?”
Wina menganggukkan kepala, “Hmm, sepertinya Aku mencium aroma ketegangan di antara kalian berdua. Aku curiga sebenarnya kalian itu sudah saling kenal sebelumnya, tapi pura-pura lupa. Dan anehnya lagi, Kamu seperti takut dan kelihatan gak nyaman lihat dia tadi ada di sini.”
Kiara tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, “Hanya pernah melihatnya beberapa kali bersama seseorang, itu saja. Tidak ada alasan lain,” sahut Kiara tanpa berniat menjelaskannya pada Wina siapa Yuda.
Kiara menghela napas dalam, ketenangannya tiba-tiba terusik. Pertemuan tak terduga dengan Yuda salah satu orang terdekat tuan Bian, membuat Kiara sedikit gelisah.
“Itu saja? Hem, sepertinya dia meninggalkan kenangan buruk buatmu sampai-sampai Kamu terlihat tidak tenang saat bertemu dengannya.”
Kiara terkekeh mendengarnya, “Sok tau ah,” sahut Kiara berusaha menutupi gundah hatinya.
“Tapi emang kelihatan banget loh, Ra. Kamu jadi kelihatan tegang habis lihat dia tadi dan gak enjoy kayak waktu kita berangkat tadi pagi.”
Bagaimana Kiara bisa tenang bertemu dengan laki-laki itu lagi, orang yang selalu ada di dekat tuan Bian mendampinginya ke mana saja.
Orang yang delapan tahun lalu menjadi saksi hidup perpisahannya dengan El. Melihatnya menandatangani surat gugatan cerai, bahkan juga hadir di dalam persidangan menyaksikan saat palu hakim diketuk.
“Sudah lah, kita naik aja sekarang. Kasihan mas Gaafhi Kamu nunggu,” ucap Kiara menghela lengan Wina dan mengajaknya naik ke lantai atas.
Wina menghentikan langkah mereka, menggenggam erat tangan Kiara. “Mendengar Kamu menyebutnya Gaafhi Aku, rasanya jantung Aku mau meledak saking senangnya Ra.” Ujar Wina dengan mata berbinar.
“Semoga saja dia jodohmu,” ucap Kiara balas menggenggam tangan Wina.
“Lebay!” keduanya pun tertawa bersama, lalu berjalan beriringan menuju lantai dua rumah itu.
Sesampainya mereka di lantai atas, di sebuah ruangan yang cukup luas sudah tersaji makanan lengkap dengan berbagai menu masakan di atas meja. Dengan dibantu asistennya, Gaafhi menepati janjinya untuk menjamu mereka saat makan siang.
Setelah selesai menyantap makan siang, tanpa banyak membuang waktu lagi Wina langsung membicarakan tujuannya datang ke tempat itu.
Setelah melewati waktu hampir satu jam lamanya, akhirnya terjadi kesepakatan dan Wina berhasil meyakinkan laki-laki itu untuk menjual rumahnya padanya.
Terbukti dengan Wina yang mentransfer sejumlah uang sebagai syarat pembelian awal setelah sebelumnya memegang bukti kepemilikan rumah atas nama yang bersangkutan.
Lega! Wina pulang dengan wajah bahagia, dan Kiara bersyukur melihat sahabatnya berhasil mendapatkan keinginannya.
Hujan sudah berhenti dan langit pun kembali terang. Cuaca cerah mengantar kepulangan Kiara dan Wina, sepanjang perjalanan pulang Wina tak berhenti membayangkan bagaimana menata dan mengisi rumah barunya dengan berbagai perabot yang dimilikinya.
“Bukanya Gaafhi jual sekalian perabotnya,Win?”
“Gak semua, Ra. Sebagian di bawa ke tempat saudaranya di kota ini, Aku sih gak ambil pusing. Aku toh punya banyak perabot, tinggal gimana cara mindahinnya doang.”
Kiara terkekeh mendengarnya, hingga tawanya mendadak terhenti saat mendengar bunyi letusan dari ban belakang mobil yang mereka naiki.
“Waduh, pecah ban lagi!”
Kiara melirik jam mungil di tangannya, waktu sudah menunjukkan angka 5 dan mereka sudah melewati banyak pemukiman warga. Tak ada bengkel terlihat di sana, alhasil pak Yanto harus mengganti ban mobilnya sendiri.
“Bakal kemalaman di jalan nih, Win. Mana gak ada sinyal lagi mau nelpon Iyo,” keluh Kiara memainkan ponsel di tangannya.
“Namanya juga di hutan, gimana mau ada sinyal Ra.”
Kiara mengusap tengkuknya, senja mulai merangkak naik berganti malam. Kiara meringkuk di pinggir jalan, terus mengutak-atik ponselnya. Hingga satu panggilan dari seseorang mengejutkannya.
Kiara mengucap syukur, dan langsung menggeser ikon warna hijau di ponselnya.
“Ma, Kamu di mana. Dari tadi Aku telpon gak diangkat?” terdengar suara Ed memenuhi pendengarannya.
Namun sebelum ia sempat membalasnya, ponselnya meredup lalu mati tiba-tiba kehabisan daya. “Aarghh!” Kiara hanya mampu menjerit kesal dan duduk dengan muka ditekuk.
“Win, pinjam hpmu.”
Wina langsung menyerahkan ponselnya pada Kiara yang mengerutkan keningnya, “Kok mantul terus gak bisa buat nelpon?”
“Abis pulsa, Ra. Lupa ngisi tadi,” jawabnya enteng.
Astaga! Sama juga boong.
••••••••