
Ed merengkuh bahu Kiara, menuntunnya menjauh dari pinggir jalan menuju bangku taman yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat itu.
“Apa Aku tidak berhak bahagia. Apa Aku salah bila mencintainya dan berharap bisa terus hidup bersama dengannya?” Kiara menatap Ed dengan wajah berurai air mata, menunggu jawaban darinya.
Ed menghela napas dalam, menengadahkan wajahnya menatap langit malam.
“Tidak ada yang salah dengan cinta. Terkadang kita pun harus rela melepaskan saat hati ingin mendekapnya erat. Cinta akan memahami, menerima, dan rela untuk berkorban. Karena sejatinya cinta membuatmu bahagia bukan terluka. Jika cinta itu milikmu, ia akan kembali padamu. Jika cinta itu bukan milikmu, maka lepaskanlah.”
Ed memalingkan wajahnya, menoleh pada Kiara dan balas menatapnya. “Aku yakin Kamu tahu apa yang harus Kamu lakukan, ikuti kata hatimu jangan dengarkan kata orang.”
“Katakan padaku, apa yang harus Aku lakukan agar ia bisa mengingatku lagi? Katakan, Mas! Aarrghh ...” Kiara mengepalkan tangannya dan memukuli dadanya sendiri, sesak rasanya hingga membuatnya sulit bernapas.
“Menangislah Kiara, menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega.”
Ed menarik tangan Kiara, dan meraih tubuhnya masuk dalam dekapannya. Membiarkan wanita itu menangis di bahunya, menumpahkan semua beban berat yang selama ini mengimpit di dada.
Ed tahu benar bagaimana kisah cinta El dan Kiara yang menikah tanpa restu kedua orang tua El, yang berharap suatu hari nanti seiring berjalannya waktu bisa membuat mereka mau menerima Kiara sebagai bagian dari keluarga. Meski kenyataannya tidak sesuai harapan.
Hingga beberapa saat kemudian tidak terdengar lagi isak tangisnya dan Kiara mulai tenang kembali.
“Maaf, Aku hanya wanita cengeng yang lemah. Tidak bisa menahan diriku dan tanpa rasa malu menangis di depanmu.” Kiara mengusap air mata di pipinya, lalu beringsut menjauh dari Ed.
Ed tersenyum tipis mendengarnya, “Menangis bukan berarti cengeng, Kiara. Jika Aku berada di posisimu saat ini mungkin saja Aku akan melakukan hal yang sama seperti dirimu.”
“Terima kasih sudah bersedia mendengarkan semua keluhanku dan membantuku menemuinya di sini. Kalau saja tidak ada mas Ed yang membantuku, mungkin Aku tidak akan punya keberanian dan melakukannya sampai sejauh ini. Terima kasih,” ucap Kiara tulus.
“Tidak perlu berlebihan seperti itu menilaiku. El sahabatku. Aku akan melakukannya bahkan tanpa diminta sekalipun,” sahut Ed.
Ed mengulurkan air minum dalam botol kemasan pada Kiara, “Kamu sudah terlalu banyak menangis hari ini, minumlah. Sedikit banyak air ini bisa membuat tenggorokanmu lega kembali.”
Kiara tertawa mendengarnya, hingga matanya menyipit dan tanpa dikehendaki air matanya mengalir lagi.
“Terima kasih, Mas.” Kiara menyeka sudut matanya yang berair, lalu membuka tutup botol dan meminumnya.
“Sekarang, apa yang akan Kau lakukan setelah ini?” tanya Ed kemudian.
“Pulang,” jawab Kiara pelan.
“Pulang? Bukankah rumah kalian di kota ini, dan Kamu baru saja kembali. Mau pulang ke mana lagi, Kiara?”
Kiara menggeleng lemah, “Itu bukan rumahku lagi, besok pagi-pagi sekali Aku sudah harus pergi dari sana.”
“Bukankah itu rumah dibeli atas nama pribadi El, suamimu. Dia membeli rumah itu untuk tempat tinggal kalian setelah menikah. Dan Kamu berhak menempatinya, karena Kamu istrinya.”
“Sekarang tidak lagi,” ucap Kiara menggeleng kuat, setengah mati menahan diri untuk tidak menangis lagi di hadapan Ed.
“Setelah semua yang terjadi hari ini, Aku berharap ini hanya mimpi. Aku datang ke mari memenuhi janjiku menemuinya untuk yang terakhir kalinya,” jelas Kiara tanpa menyinggung hal yang terjadi sebenarnya tentang janjinya pada Bian.
“El sakit, ia belum bisa mengingat semuanya termasuk juga Kamu. Kecelakaan itu membuatnya harus kehilangan sebagian memorinya, tapi bukan berarti dia sengaja ingin melupakan atau menghapus dirimu dari ingatannya. Butuh waktu banyak untuk bisa mengembalikan semua memorinya seperti dulu lagi. Aku harap Kamu mau bersabar dan mengerti keadaannya.”
Kiara mengangguk, “Aku mengerti,” ucapnya lirih, tetap memasang senyumnya meski matanya kembali berkabut.
“Ya Tuhan, mengapa sulit sekali menahan air mata ini. Jangan biarkan Aku menangis lagi di hadapannya,” bisik Kiara dalam hati.
“Baiklah, Aku antar Kamu pulang sekarang.” Ed lalu berdiri, menunggu sejenak Kiara melakukan hal yang sama dengannya kemudian berjalan bersama menuju mobilnya.
“Kamu harus bahagia, Kiara. Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua,” suara Ed dalam hati, ia melirik pada Kiara yang duduk tenang di sampingnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Kiara hanya duduk diam menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil di sisinya. Tidak terusik sama sekali dengan suara musik yang sengaja diputar Ed untuk mencairkan suasana hening di dalam mobil, karena sedari tadi pikirannya terus tertuju pada El.
•••••
Semalaman ia terus terjaga, baru pada dini hari tadi ia bisa memejamkan matanya meski suara ayam tetangga kembali terdengar nyaring hingga membuatnya terbangun kembali.
Kiara menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi, dan mulai membersihkan diri kemudian melaksanakan kewajibannya.
Saat berganti pakaian, Kiara baru menyadari kalau kalung yang biasa dipakainya tidak ada di lehernya. Sempat bingung mencari, lalu teringat semalam ia melepasnya dan memberikannya pada El.
Kiara sempat berpikir untuk pergi ke sana mengambil kalungnya kembali, namun niat itu dia urungkan. Melihat El lagi hanya akan membuat Kiara semakin sulit melepaskan lelaki itu dari hidupnya.
“Lupakan dia!” Kiara menatap pantulan dirinya di cermin.
Benarkah bibirnya yang barusan berucap tadi. Mampukah ia melakukannya? Begitu banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama.
Pikirannya menyuruhnya untuk melupakan El, tapi hatinya belum bisa merelakannya.
“Meski Kamu tidak bisa mengingatku sekarang, setidaknya ada benda milikku yang kamu simpan yang mungkin saja bisa membuatmu dapat mengingatku lagi nanti.”
Kiara terduduk di atas ranjang, meraba lehernya lalu memegang dadanya yang berdegup kencang.
Kiara sadar sesungguhnya sampai detik ini ternyata ia belum bisa menerima kenyataan dan masih begitu berharap El akan kembali padanya. Meski ia tahu benar hal itu akan sulit terjadi dalam waktu dekat.
Kiara mengerjapkan mata berulang, berusaha menepis pikiran itu dari kepalanya dan kembali fokus pada tujuannya. Pulang!
Pagi ini ia kembali harus pulang untuk menemui pamannya dan memenuhi janjinya pada Bian. Kiara pun mulai berkemas, bersiap untuk pulang.
Dipandanginya untuk terakhir kalinya, ruangan kamar yang dulu ditempatinya bersama El.
“Huuhh!” Kiara mengembuskan napas kuat, “Aku pasti bisa. Aku bisa melewati ini semua walau tanpa ada kamu di sisiku.”
Kiara beranjak dari dalam kamar, menutup kembali semua pintu. Saat melewati ruang tamu, ia tertegun sejenak menatap kantong plastik besar berisi roti dan makanan ringan lainnya tersimpan di atas meja.
Teringat semalam Ed membelikan banyak makanan untuk dibawanya dalam perjalanan pulang.
“Sekali lagi terima kasih untuk semua kebaikan yang kau berikan untukku,” gumam Kiara mengingat kebaikan Ed, lalu duduk sejenak mengambil salah satu makanan dan mulai menyantapnya.
Setitik air mata jatuh di pipinya, Kiara mengusapnya kasar. “Aku harap ini adalah air mata terakhirku untuknya. Ke depannya lagi aku tidak akan pernah lagi menangis untuknya. Tidak akan pernah!”
Beberapa saat kemudian Kiara sudah berada di dalam bis yang akan membawanya kembali pulang ke rumah paman.
Menjelang sore, Kiara tiba di rumahnya. Setelah membersihkan diri ia langsung berangkat ke rumah sakit menemui pamannya. Di sana sudah ada Bian yang menunggu kedatangannya.
Sesuai janjinya, tanpa banyak bicara lagi Kiara langsung saja menandatanganinya.
Sejenak Bian tertegun menatap wajah di hadapannya itu. Tidak ada air mata atau ucapan memohon lagi padanya untuk menunda apalagi memintanya untuk membatalkan.
“Saya sudah menepati janji Saya pada Tuan,” ucap Kiara mengubah panggilannya, tidak lagi memanggil papa pada Bian. “Terima kasih untuk semua yang sudah Tuan lakukan pada paman Saya, Saya tidak akan pernah melupakannya.”
Kiara membungkukkan badannya menahan diri untuk tetap menjaga sikapnya.
“Setelah hari ini Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi,” ucap Bian menutup berkas di tangannya, menatap Kiara sesaat lamanya sebelum meninggalkan rumah sakit.
“Itu juga harapanku selanjutnya,” bisik Kiara dalam hati, memandang langkah kaki Bian yang semakin menjauh.
••••••••