You are the Reason

You are the Reason
Bab 53. Nyasar



“*Please*, biarkan Aku pulang sendiri. Aku tidak ingin diantar pulang olehmu ...”


Untuk kedua kalinya, sebelum Kiara menyelesaikan ucapannya, lelaki di depannya itu membuktikan ucapannya.


Kiara merasakan kepalanya berputar dan tubuhnya diangkat tiba-tiba. El menggendongnya begitu saja dan membawanya ke mobilnya, tak peduli teriakan protes wanita itu padanya.


“Lepasin!” Kiara berontak berusaha melepaskan diri, tapi lelaki itu bergeming terus berjalan dan semakin menguatkan pelukan di tubuhnya.


“Bagaimana dengan mobilku!” protes Kiara lemah, tapi terus berontak dengan memukul kuat dada El.


“Nanti biar orangku yang akan mengantarnya ke rumahmu.”


“Turunkan Aku! Aku gak mau diantar sama Kamu.”


“Ish, hentikan. Dadaku sakit tau,” ujar El sambil meringis. “kalau Aku kenapa-kenapa, apa Kamu mau tanggung jawab?”


“Gak! Itu semua bukan urusanku. makanya turunin cepat!”


“Bisa diam bentar gak, hah! Kalau Kamu terus gerak-gerak berontak kayak gini, yang ada Aku gak bakal lepasin Kamu. Badan menggigil demam begitu masih saja berkeras mau nyetir sendiri,” ujar El menatap marah pada Kiara, kesal karena wanita itu tidak mau menurut ucapannya ditambah lagi dadanya nyeri karena wanita itu tidak berhenti memukulnya.


“Aku benci Kamu!” gumam Kiara hampir menangis, tangannya masih terkepal di dada El meski tak lagi bergerak memukul.


Kiara menggigit bibirnya, air matanya mulai merebak. Ia marah pada dirinya sendiri karena berada di dalam situasi seperti saat ini, di mana dirinya terlihat begitu lemah di hadapan laki-laki itu.


“Begitu lebih baik,” ucap El terdengar lebih lembut, tersenyum melihat Kiara yang mulai tenang dalam pelukannya.


Senyum di wajah El membuat Kiara terdiam sesaat, dalam jarak yang begitu dekat seperti saat ini Kiara bisa merasakan degup jantung El yang berdetak lebih cepat.


Sejenak Kiara terhanyut dalam bayangan masa lalu saat masih bersama dengan El, dekapan hangat lelaki itu di tubuhnya membuatnya terlupa sesaat.


“Abang,” desis Kiara, tanpa sadar mengangkat wajahnya.


Lelaki itu menunduk balas menatap Kiara, rona terkejut tampak jelas di wajahnya yang terlihat sedikit menegang saat mendengar Kiara memanggilnya. “Ya yank,” jawab El hanya dalam hati.


Air mata Kiara akhirnya tumpah begitu saja, sekian lama ia berusaha melupakan laki-laki itu. Menghapus bayangan El dari ingatannya, tapi sepertinya usahanya selama delapan tahun ini seolah terhapus begitu saja dengan satu pelukan hangat dari El.


Ternyata ia belum bisa melupakannya, belum sanggup melepaskan laki-laki itu dari hatinya.


“Ya Tuhan, setelah sekian lama Aku berusaha melupakannya. Tolong hentikan rasa ini, ini semu. Ini salah, karena laki-laki ini bukan lagi milikku. Dia milik wanita lain.”


Kiara memejamkan mata kuat, menghapus kasar sudut matanya yang berair. Dan kesadaran akan hal itu merasuki hatinya membuat dirinya berontak lagi. “Turunkan Aku!”


El menghela napas, Kiara mulai berontak lagi. Sesampainya di depan mobilnya, El menurunkan Kiara dengan hati-hati. Sebelah tangan menyangga tubuhnya dan sebelah lagi membuka pintu mobil.


“Masuklah,” perintahnya dengan tangan berada di atas kepala Kiara.


Wanita itu menurut, duduk diam lalu menyandarkan punggungnya pada kursi mobil El yang empuk.


El berjalan memutar, masuk ke dalam dan menghidupkan mesin mobilnya. Diliriknya Kiara yang bersandar nyaman di kursinya sambil memejamkan matanya, masih belum memakai sabuk pengaman di tubuhnya.


“Maaf.” El bergerak mendekat, memangkas jarak di antara mereka.


Kiara mengerjap, sentuhan tangan El di lengannya membuatnya membuka mata.


Glek! Kiara menelan ludah kasar, spontan menegakkan tubuhnya. “Apa yang ingin Bapak lakukan?” tanya Kiara gusar, menyilangkan kedua tangan di dada sebagai perlindungan diri menatap wajah di depannya itu dengan mata mendelik waspada.


Jarak yang begitu dekat membuat jantung Kiara berdegup kencang, dan embusan napas El terasa hangat menyentuh keningnya.


“Hanya melaksanakan prosedur sesuai aturan yang benar saja dan memastikan kalau penumpangku malam ini pulang dalam keadaan selamat,” ucap El tenang seraya mengulas senyum dan balas menatap mata bulat indah itu dari jarak dekat.


Dengan gerakan cepat El menarik sabuk pengaman di sisi kiri Kiara lalu memasangkannya di tubuh wanita itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


Klek!


Sabuk pengaman itu pun terpasang sempurna dan El kembali ke posisinya semula, duduk tenang sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Kiara menurunkan tangannya, menoleh sesaat pada El sebelum kemudian menundukkan wajah lalu merapikan bajunya yang tertarik keluar dari tempatnya.


Rupanya gerakan tubuhnya tadi membuat sebagian kemejanya menyembul keluar dari rok yang dipakainya, Kiara lalu mengancingkan blazer yang dikenakannya.


“Jangan berpikir buruk tentangku. Aku hanya berniat membantumu, tidak ada terbersit niat sedikit pun di hatiku untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani demi mengambil keuntungan darimu,” ujar El menoleh sekilas pada Kiara, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


Jleb! Seketika pipi Kiara memerah, malu mengetahui lelaki di sampingnya itu bisa menebak dengan benar apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


“Maaf, bukan bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti yang Bapak lakukan barusan.”


“Memang Aku ngapain coba, apakah yang Aku lakukan barusan bikin Kamu gak nyaman? Atau jangan-jangan Kamu beneran ngarep Aku macam-macam lagi,” ucap El sambil terkekeh.


Kiara memutar bola matanya, “Terserah deh Bapak mikir kayak gimana juga, silah kan percaya saja apa yang ingin Bapak percaya!” ucap Kiara mendengkus sebal.


“Kenapa? Kalau pikiran Aku salah bilang saja, jangan Cuma diam melotot kayak gitu.”


“Bapak itu emang rese ya, kepo pula.” Kiara melipat tangan di dada, memalingkan muka menatap keluar kaca jendela.


“Ish, dia ngambek pula!” El mengusap tengkuknya.


Hingga beberapa saat kemudian hanya keheningan yang tercipta, Kiara benar-benar tidak mau bicara lagi dan hanya duduk diam saja membuat lelaki di sampingnya itu kelabakan. Masalahnya wanita itu belum menyebutkan alamatnya, dan El belum tahu benar arah jalan di kota itu.


Saat tiba di perempatan jalan utama El mengambil jalan yang salah dan sukses membuat Kiara menoleh dan berseru padanya.


“Eh salah, kenapa harus ambil jalan yang lurus? Buruan putar balik. Lampu merah terus belok kanan,” ucap Kiara lalu menyebut alamat rumahnya.


“Ngambek melulu, sih. Dari tadi juga diam saja gak mau kasih tau alamatnya dulu,” gerutu El sengit.


“Makanya gak usah sok-sok an pakai mau ngantar pulang segala. Bapak kan orang baru di daerah sini. Dikasih tau juga belum tentu tau, yang ada malah nyasar!” balas Kiara tak kalah sengit.


“Kamu ternyata beneran bawel ya, tapi bagus sih. Mending Aku dengar Kamu ngoceh dari pada diam kayak tadi,” cibir El sembari memutar setir mobilnya, mengikuti arahan Kiara.


“Salah siapa coba, Bapak gak nanya.


“Oke, Aku yang salah. Puas!”


“Dih, ganti dia yang marah.” Kiara mengulum senyum, melihat wajah di sampingnya manyun.


“Udah gak usah emosi. Ntar malah nyasar lagi,” ucap Kiara berusaha mencairkan suasana. “Maaf tadi gak langsung kasih tau alamatnya.”


“Hmm.”


“Hufh.” Kiara mendekap mulutnya, berusaha menahan tawanya.


“Kalau mau ketawa ya ketawa saja, ngapain coba pakai ditutup segala.”


Dan akhirnya Kiara pun tertawa. Perlahan suasana di dalam mobil mulai mencair, hingga tak terasa mereka pun sampai di tempat tujuan.


••••••••