You are the Reason

You are the Reason
Bab 54. Pengakuan



El menepikan mobilnya persis di depan pagar rumah Kiara yang bernuansa warna abu-abu itu. Rumah yang halaman depannya dipenuhi berbagai macam tanaman bunga tampak teduh dan asri.


Kiara turun dari mobil, membuka pintu pagar dan melangkah masuk. “Terima kasih sudah bersedia mengantar Aku pulang,” ucap Kiara seraya menundukkan wajahnya.


“Rumah Kamu nyaman, adem. Banyak bunganya,” cetus El dari dalam mobil, memutar pandangan menatap sekeliling rumah Kiara yang dipenuhi berbagai macam tanaman bunga.


“Pantas saja taman kantor kita banyak bunganya, sepertinya bunga yang ada di sana berasal dari rumahmu karena sama bentuknya. Baru ngeh soalnya. Awalnya Aku pikir petugas taman yang menanamnya,” imbuh El lagi.


“Oh, itu. Kami semua di rumah ini memang suka sekali bercocok tanam, terutama bunga.” Kiara tersenyum kecil, tetap berdiri di tempatnya.


Kiara sengaja tidak menawarkan pada El untuk singgah ke rumahnya berharap laki-laki itu segera pamit pulang dan tidak berlama-lama di sana.


“Ekhem, ehm.” El berpura-pura batuk seraya mengusap lehernya, menatap Kiara yang juga berpura-pura tidak paham dengan kode yang ditunjukkannya.


“Bapak kenapa, tenggorokannya sakit juga? Apa jangan-jangan Bapak ketularan Aku.” Kiara memasang wajah khawatir. “Sebaiknya Bapak segera pulang, angin di tempat Aku ini lumayan kencang. Berlama-lama di sini yang ada batuk Bapak tambah parah nanti.”


“Kering tenggorokan, haus kayaknya.”


Kiara meringis, “Bentar, Aku ambilkan air minum. Tapi Bapak tunggu di dalam mobil saja, ya.”


Kiara bergegas masuk ke dalam rumahnya, sebelum El sempat bersuara.


“Ish, bener-bener nih orang. Ditawari turun kek, malah disuruh tunggu di mobil.” El tak mengindahkan ucapan Kiara, ia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam teras rumah Kiara. Duduk tenang di sana sambil memainkan kunci mobilnya.


Kiara membuka lemari pendingin di depannya dan mengambil air mineral dalam botol kemasan, lalu matanya menatap brownies coklat keju dalam wadah kue yang ada di sana.


“Kasih gak ya.” Kiara berpikir sejenak. “Kalau aku kasih itu artinya dia harus turun ke rumah, bisa-bisa lama di sini malah gak pulang-pulang nanti.”


“Gak ada salahnya juga sih, kan dia sudah berbaik hati mau antar aku pulang. Tapi, ntar dia kira Aku kegeeran lagi sok perhatian kasih dia kue.”


“Nah kan, hampir lupa. Mantel dia kan masih ada sama aku.” Kiara menutup lemari pendingin dan menaruh botol air ke atas meja, lalu berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya mengambil mantel milik El.


Sementara di teras, El melirik arlojinya. “Lama amat, niat gak sih nawarin minum. Apa dia ketiduran di dalam, lupa kalau masih ada orang yang nunggu di luar rumahnya?”


El berdiri lalu berjalan mengitari halaman rumah Kiara, tidak lama kemudian dilihatnya seorang bocah laki-laki turun dari boncengan motor dengan pakaian olahraga dan bola di tangannya.


“Terima kasih Om Arif sudah antar Iyo pulang, salam buat bunda Rima ya Om. Maaf Iyo gak sempat pamitan, bunda lagi salat tadi.” Rio mencium punggung tangan lelaki yang dipanggilnya Arif itu.


“Iya gapapa, nanti Om sampaikan sama bunda.” Lelaki itu mengusap rambut ikal Rio. “Om balik dulu ya, sudah sore.”


“Ya Om.” Rio mengangguk seraya melambaikan tangannya, “Hati-hati Om.”


Rio balik badan menatap sejenak pada mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya. “Bukan mobil mama,” pikirnya seraya menggelengkan kepala, lalu melangkah masuk ke dalam sembari mengucap salam.


El menjawab salam Rio, tersenyum menyambut kedatangan Rio di depan. “Hai, ketemu lagi. Apa kabar Iyo,” sapanya ramah.


Rio tertegun sesaat lamanya, heran melihat ada laki-laki asing berada di rumahnya. “Om siapa?”


“Ingat gak waktu itu kita minum es doger bareng di depan sekolah Iyo,” ucap El mengingatkan.


Rio menatap lama pada lelaki di hadapannya itu, lalu sedetik kemudian senyumnya mengembang. “Aha, Iyo ingat sekarang. Om yang waktu itu mobilnya mogok terus bilang mau kasih kado kalau Iyo ultah kan?”


El tergelak mendengarnya, “Masih ingat saja, Om hampir saja lupa.”


“Barusan Om antar mama Iyo pulang, sekarang ke dalam lagi ambilkan minuman buat Om.”


“Memang mama kenapa kok pakai diantar pulang?”


“Mama Iyo sakit, kelihatannya lagi demam. Makanya Om antar pulang,” jelas El. “Iyo dari mana pakaian kayak gini, latihan bola?”


Rio menganggukkan kepalanya, “Iya, Om. Besok siang Iyo tanding bola lagi. Tim kesebelasan sekolah Iyo kan masuk semi final,” ujarnya dengan wajah berbinar, tapi sedetik kemudian wajah itu berubah mendung. “Kalau mama sakit, berarti gak bisa lihat Iyo main dong. Mana papa belum pulang lagi,” ujarnya lagi sambil menundukkan wajah sedih.


“Memang papa Iyo ke mana, kok belum pulang?” tanya El penasaran tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.


“Papa lagi ke luar negeri, belum tau kapan baliknya. Kemarin-kemarin waktu telepon sih bilang minggu ini mau pulang, tapi sampai hari ini belum ada kabarnya lagi. Ditelepon juga gak aktif,” ujar Rio sambil memutar bola di tangannya.


“Gak usah sedih gitu dong, siapa tahu papanya Iyo sedang dalam perjalanan pulang dan ponselnya memang tidak diaktifkan. Bisa juga mau kasih kejutan buat Iyo tiba-tiba saja muncul pas Iyo lagi main besok,” ujar El menenangkan meski jauh di lubuk hatinya ada rasa perih yang tidak bisa ia ungkapkan saat melihat bocah lelaki itu terlihat bersedih teringat papanya.


“Gitu ya, Om. Senangnya kalau papa beneran datang besok lihat Iyo main,” ucap Rio polos yang sukses membuat hati El berdenyut nyeri.


“Iyo, kok gak langsung masuk ke rumah. Ayo cepat bersihkan badannya!” Kiara yang muncul tiba-tiba menyela obrolan kedua lelaki berbeda usia itu.


“Mama!” Rio berlari memeluk pinggang Kiara dan melempar bolanya begitu saja.


“Ih bau acem peluk-peluk Mama lagi,” ucap Kiara mengangkat botol minum dan mantel di tangannya.


Rio terkekeh dan menarik bahu Kiara yang langsung merendahkan tubuhnya, menyorongkan kedua pipinya pada Rio yang langsung menciumnya. “Mandi dulu sayang, setelah itu makan. Sudah disiapkan nenek di meja,” ucapnya kemudian seraya mengusap sayang kedua pipi putranya.


“Oke! Om, Iyo masuk dulu ya. Mau mandi,” pamitnya pada El yang tersenyum menatapnya lama.


“Bawa bolanya sekalian, sayang. Taruh di tempatnya,” ucap Kiara namun Rio sudah berlari masuk ke dalam rumah.


“Ini minumnya, dan ini mantel Bapak. Terima kasih sudah meminjamkannya waktu itu,” ucap Kiara mengulurkan mantel di tangannya pada El yang masih bergeming di tempatnya menatap ke dalam rumah.


“Kamu pasti bahagia punya putra seperti Iyo, dia anak yang polos dan menggemaskan.” El menerima mantel dan botol minuman dari tangan Kiara.


“Rio segalanya buat Aku, tawanya, cerianya, hari-hari bersamanya terlalu berharga untuk dilewatkan.” Kiara tersenyum kecil, hatinya menghangat setiap membicarakan Rio putranya. “Bagaimana dengan putra Bapak, pasti usianya lebih dewasa dari putraku?”


Dari balik pintu rumahnya ia mendengar percakapan antara El dan Rio, sengaja berdiam diri di sana. Sempat dilihatnya perubahan pada raut wajah El setiap kali menatap pada Rio saat putranya itu berbicara.


El menggeleng lemah, lalu mengangkat wajah menatap Kiara lekat. “Apa Kamu bahagia setelah perpisahan kita? Apa Kamu sudah benar-benar melupakan Aku dan bahagia hidup dengannya?”


Kiara tersentak, membelalakkan mata menatap tak percaya pada lelaki di hadapannya yang terlihat seperti memendam kesedihan yang teramat dalam.


“Kamu ...”


“Ya, ini Aku. Lelaki bodoh yang tidak mempercayai ucapanmu dulu. Ini Aku, ingatanku sudah kembali.” El tak dapat menahan dirinya lagi, melangkah mendekati Kiara, membuat wanita itu memundurkan langkahnya.


“Mama! Papa telepon.”


Suara teriakan Rio yang berlari keluar hanya dengan memakai handuk di pinggang menyelamatkan Kiara.


“Maaf, Aku harus terima telepon dari papanya anakku.” Kiara berbalik berlari cepat masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Rio, meninggalkan El yang terdiam menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


••••••••