You are the Reason

You are the Reason
Bab 48. Emosi jiwa



Kiara berjalan cepat memasuki kantornya, masih sempat dilihatnya lelaki itu tersenyum dan terus menatapnya.


“Gak jelas! Pagi-pagi sudah bikin emosi saja,” rutuk Kiara, dilihatnya bunga yang ada di tangannya. Perlahan senyum mengembang di bibir tipisnya, aroma wangi bunga yang baru dipetiknya itu pelan-pelan mampu mengembalikan suasana hatinya.


“Dia pikir dengan bicara seperti itu padaku, akan membuatku tidak nyaman dan melemah di hadapan dirinya. Hellow, siapa kamu. Satu kata untukmu, Mantan! Dan aku happy tanpa kamu!” Kiara terus bermonolog dalam hati, berjalan dengan punggung tegak memasuki ruang kerjanya tanpa menoleh lagi.


“Kiara!” terdengar seseorang memanggil namanya.


Kiara menghentikan langkahnya, menolehkan kepala dan tersenyum lebar melihat Wina berlari kecil ke arahnya.


“Selamat pagi Kia Rara,” sapanya dengan senyum hangat di bibirnya.


“Pagi juga Win Win,” sambut Kiara tak kalah hangat.


“Panen lagi?” tanya Wina setelah dekat dengan Kiara dan melihat bunga yang ada di dalam genggaman tangannya.


“Emang buah dipanen?” Kiara memutar bola matanya. “Sayang aja dari pada jatuhan, mending Aku petik. Lumayan kan bikin meja kerjaku lebih berwarna dan wangi,” jawab Kiara lagi.


Wina mengerutkan dahinya begitu mendengar suara Kiara yang serak.


“Kamu sakit, Ra?” tanya Wina cemas melihat wajah Kiara yang terlihat pucat.


“Aku gapapa, Win. Hanya pusing sedikit, bentar juga baikan.” Kiara meyakinkan sahabatnya itu.


“Kamu yakin? Apa tidak sebaiknya Kamu pulang dan beristirahat saja di rumah. Muka Kamu pucat banget loh, Ra.” Wina meraba kening Kiara. “Ih, panas begini Kamu bilang gapapa!”


Kiara menggeleng seraya menurunkan tangan Wina dari keningnya. “Suer gapapa, percaya deh sama Aku. Bolak-balik ijin gak masuk kerja yang ada Aku bisa dipecat, Win.”


Wina menghela napas, “ Dipecat bagaimana? Sekarang kondisi Kamu lagi sakit, gak punya perasaan banget kalau sampai kejadian. Dan Aku gak bakal tinggal diam,” ujar Wina memasang muka serius.


Kiara meringis melihat perubahan pada wajah sahabatnya itu, “Canda ah, kenapa jadi serius banget nanggapinnya?”


“Kamu tuh, ya. Gak liat apa teman khawatir kayak gini, serius gapapa? Atau biar Aku yang bilang sama bos kalau Kamu gak enak minta ijinnya,” ujar Wina lagi.


“Serius Aku baik-baik aja,” tolak Kiara lagi.


Wina mengesah pelan, “Ish, dasar keras kepala. Tidak ada gunanya Aku menyuruhmu pulang, sudah pasti Kamu akan terus menolaknya.”


Kiara nyengir, “Nah, tuh tau. Dah lah, kita masuk yuk.” Kiara lalu mengaitkan tangannya di lengan Wina, berjalan bersama memasuki ruang kerja mereka.


“Ra, Kamu tahu gak?” tanya Wina disela langkahnya.


“Tau,” jawab Kiara santai.


“Apa coba?”


“Apa ya?” Kiara terlihat berpikir, mengetuk dagu dengan ujung jarinya.


“Ish!”


“Ya udah, buruan kasih tau. Mau cerita apa sih?”


Wina menghentikan langkahnya sejenak, menahan lengan Kiara hingga wanita itu memutar tubuh menghadap ke arahnya.


“Kemarin siang bos baru dari pusat datang,” ucap Wina menatap tepat pada manik mata Kiara.


“Terus?”


“Dia juga melihat mejamu dan bertanya pada kami semua kenapa mejamu kosong,” jelas Wina.


“Oh.”


“Tapi Aku sudah jelaskan kalau Kamu lagi sakit, dan sudah minta ijin pak Is pulang cepat.”


“Terus?”


Wina mendelik sebal, “Ah oh iya gak terus! Gak ada yang lain apa jawabnya.”


“Hahaha.” Kiara tergelak melihat wajah Wina yang kesal padanya. “Terus Aku harus jawab apa, Wina sayang?”


“Ya gak gitu juga kali, Kia Rara sayang.”


Wina pun akhirnya ikut tertawa, dan sepanjang jalan keduanya tak berhenti bercanda hingga tak terasa mereka sudah sampai di lantai 2.


Beberapa jam berikutnya semua orang mulai disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing, demikian pula dengan Kiara. Setengah hari ia melewatkan waktu kerjanya, kini mejanya penuh dengan tumpukan file yang harus segera diselesaikannya.


“Ups, baru setengah hari terlewatkan sudah begini banyak. Bagaimana kalau satu minggu,” gumam Kiara menatap tumpukan file di depannya.


“Ssttt, gak usah dibayangin. Dikerjakan saja biar cepat selesai,” ucap Wina terkekeh. “Nih, vitamin buat tambah semangat!”


“Kenapa gak dari tadi sih, Win.” Kiara tersenyum lebar menatap coklat batangan di tangan Wina. Dengan cepat benda bercita rasa manis itu sudah berpindah ke dalam tangannya.


“Aku tau apa yang Kamu mau, ayo semangat kerjanya!” ucap Wina lagi.


“Makasih Win Win.”


Keduanya kembali melanjutkan pekerjaannya, hingga tak terasa waktu istirahat pun tiba.


Sementara di ruangan lain, El tengah sibuk memeriksa data para karyawannya. Matanya tertuju pada satu nama, menelusuri dari as hingga bawah setiap detail tulisan mengenai data diri Kiara Larasati. Menatap intens gambar diri pemilik mata bulat indah yang tersenyum manis itu dengan rambut panjang yang tergerai di bahunya.


“Ternyata dia bekerja di kantor ini,” gumam El seraya mengetuk ujung jarinya ke atas meja, teringat pertemuannya dengan Kiara di lapangan bola kemarin. Bagaimana wanita itu berteriak penuh semangat di sana.


Tok tok ...


Suara ketukan di pintu terdengar, tapi El masih sibuk dengan pikirannya tentang Kiara.


“Bos!”


Seno masuk membawa kotak makanan di tangannya, merasa aneh dengan tingkah tuannya itu yang berbicara sendiri dengan raut wajah masam.


“Tuan El,” sapanya lagi, kali ini lebih nyaring dan tepat di depan wajah El.


El menoleh, melirik tajam pada asistennya itu. “Ada apa?”


“Waktunya makan siang, istirahat dulu Bos.” Seno menunjuk arloji di tangannya.


“Ya sudah, Kamu istirahat saja.” El menutup berkas di depannya, bangkit berdiri mengambil jasnya lalu beranjak pergi dari ruangannya.


“Lah, makanannya terus gimana ini?” tanya Seno bingung.


“Gak usah bingung, No. Kamu makan saja, Aku mau keluar sebentar!”


“Aeh si bos mah gitu, tadi minta dibelikan makanan. Sekalinya datang malah dibiarin,” keluh Seno menatap punggung El yang semakin menjauh.


El berjalan melewati meja Kiara, melirik sekilas pada vas bunga di atas sana. Matanya tiba-tiba menatap sesuatu yang menarik perhatiannya, tersembul di antara tumpukan file di atas meja.


Penasaran, El membuka dompet milik Kiara yang tertinggal. Jantungnya berdegup kencang melihat foto yang tersimpan di dalamnya, cepat-cepat di taruhnya kembali benda itu ke tempatnya semula dan El langsung berjalan keluar dengan tergesa.


Sayup-sayup didengarnya suara tawa serak di depannya, dilihatnya Kiara sedang berjalan bersama Wina menuju kantin dalam gedung kantornya.


“Ra, Aku ke toilet sebentar. Kamu duluan deh, nanti Aku nyusul.”


“Gak, Aku tunggu di sini aja. Males sendirian ke sana,” saut Kiara lalu memilih bersandar di salah satu pilar besar yang ada di sana sambil menunggu Wina kembali.


“Ekhem!”


Kiara menoleh, melengos melihat pada El yang tengah berjalan ke arahnya.


“Kamu lagi, ngapain sih ngikutin Aku terus!”


“Ck, gak usah kegeeran deh. Memang siapa Kamu sampai Aku harus terus mengikutimu?”


“Terus ngapain ke sini, mau ke kantin? Silah kan lewat dan gak usah berhenti diam-diam di dekatku seperti tadi,” ucap Kiara melangkah maju, berdiri di samping pagar tembok memberi jalan pada El.


El terdiam, keningnya berkerut menatap wajah pucat Kiara. Dengan acuh Kiara balik badan memunggunginya, menaruh kedua tangan di atas pagar tembok setinggi satu meter di depannya itu.


“Uhuk uhuk huachim!”


Kiara tidak dapat menahan bersinnya, saat penciumannya menghirup asap rokok dari beberapa lelaki yang berjalan lewat di depannya.


Kiara mengusap hidungnya yang gatal, matanya berair dan ia kembali bersin.


“Kamu beneran sakit?” tanya El menatap kasihan pada Kiara, ia tahu Kiara paling tidak tahan dengan bau asap rokok.


“Apa sih! Memang ada sakit pura-pura?” sungut Kiara.


“Ada, seperti seseorang. Mengaku sakit tapi malah asyik menonton pertandingan bola dan berpanas-panasan di pinggir lapangan di waktu jam kerja sedang berlangsung,” sindir El.


“Bawel!” sentak Kiara, lalu beranjak pergi dari hadapan El. Niat menunggu Wina ia batalkan, lebih baik ia langsung ke kantin saja.


“Apa sikapmu akan terus seperti ini?” ucap El merentangkan tangan menghadang langkah Kiara pergi darinya, ia belum selesai bicara dan ada hal yang ingin ditanyakannya pada wanita itu.


“Maksudnya apa sih?” Suara yang keluar dari mulut Kiara makin serak dan nyaris hilang.


“Harusnya kalau sakit itu pergi ke dokter, istirahat di rumah. Bukannya malah panas-panasan nonton bola, apa Kamu tidak sayang dengan tubuhmu itu. Hujan kehujanan, panas kepanasan. Jangan bersikap sok kuat di depan semua orang kalau pada akhirnya Kamu tidak mampu menahannya!”


“Gak usah sok peduli sama Aku, Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula kenapa jadi rese gitu sih, Aku hanya flu biasa. Kalau takut ketularan mending jauh-jauh deh sana, gak usah dekat-dekat.”


“Ya, Aku memang peduli padamu. Andai Kamu tahu betapa khawatirnya Aku melihatmu sakit seperti ini,” bisik El dalam hati.


El menahan diri untuk tetap menjaga jarak dan bersikap sewajar mungkin pada Kiara, ia hanya ingin bisa melihat dan terus berdekatan dengan wanita itu untuk mengganti waktunya yang terbuang setelah sekian lama.


“Ada apa ini?” Wina datang dan langsung terkejut melihat ketegangan yang terjadi antara Kiara dan bos barunya itu.


“Maaf Pak, ucapan Rara gak usah diambil hati. Dia mah orangnya gitu, tapi aslinya baik kok. Baik banget malah,” ucap Wina sambil menggamit lengan Kiara.


“Baru ditinggal sebentar saja sudah ngajak perang sama orang. Kamu tau gak siapa dia,” ujarnya pelan berbisik di telinga Kiara.


“Apa sih, Win.”


“Udah jangan emosi gitu. Coba dengar suaramu tambah hilang tau!”


“Habisnya itu orang rese banget pakai ngatain Aku pura-pura sakit lagi, emang dia pura-pura lupa!” cetus Kiara yang sontak membuat El melihat padanya.


“Maaf Pak, kita duluan.” Wina berpamitan pada El. “Ish ngambek sih, cepat tua tau.”


El termangu di tempatnya, menatap kepergian dua wanita di hadapannya itu. Masih terngiang ucapan Kiara padanya, apa wanita itu tahu dan menyadari kalau ia sudah pulih dan bisa mengingatnya lagi.


••••••••