You are the Reason

You are the Reason
Bab 62. Kebenaran yang mulai terkuak



El memasuki kamarnya, menutup pintu dengan satu kaki lalu membuka cepat pakaiannya dan melemparnya begitu saja ke atas ranjang.


Gerah! Keringat menetes dari leher hingga ke batas dada. El membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka memperlihatkan perutnya yang rata terekspos sempurna dan hanya menyisakan celana jeans ketat yang membungkus kaki panjangnya.


“Apa ia sengaja ingin menggodaku dengan berpakaian terbuka seperti itu.”


El mendengkus kesal, teringat bagaimana ia harus menahan diri untuk tidak menatap Kiara saat berbicara dengannya.


Melihat pemandangan bahu putih Kiara yang hanya ditutupi tali kecil sebagai pengikat juga celana pendek rumahan longgar yang dikenakannya, membuat gairah di tubuh El yang selama ini terpendam bangkit kembali.


El membuka jendela kamarnya lalu menengadahkan wajahnya ke atas, langit sore terlihat begitu cerah. Perlahan ia memejamkan mata menikmati angin sepoi yang berembus masuk ke dalam kamarnya dan mengenai tubuhnya. Lalu bayangan tubuh Kiara melintas dalam benaknya.


Dulu El sudah melihat semuanya, ia bahkan hapal di mana saja titik rawan pada tubuh mantan istrinya itu. Sudut bibirnya melengkung mengingat kebersamaannya dengan Kiara.


Namun sejak peristiwa kecelakaan itu terjadi hingga ia mengalami amnesia dan tidak dapat mengingat Kiara, gairah El seolah mati bersama dengan hilangnya sebagian memorinya.


Hingga akhirnya ia bisa pulih dengan cepat dan beraktivitas kembali, El tetap bisa menahan dirinya dengan tidak berhubungan dengan wanita mana pun. Bahkan hingga akhirnya ia menikahi Raisha, El masih bertahan dan bisa membatasi dirinya tanpa melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri.


Tapi kini, hanya dengan melihat kaki Kiara yang memakai celana pendek saja mampu membuat jantungnya berdesir dan berdegup lebih cepat.


“Ish!” Ed tersadar dan menepuk keningnya berulang, mencoba mengusir bayangan wajah Kiara dari pikirannya.


El keluar dan berdiri di balkon kamarnya, menatap lurus ke depan. Dari arah tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat dengan jelas suasana kamar Kiara yang terbuka.


Tanpa sadar senyumnya mengembang. Sejak awal melihat rumah yang kini ditempatinya itu El paling suka dengan balkon di bagian luar kamarnya yang berhadapan langsung dengan kamar Kiara.


Setelah memastikan kepulangan Raisha yang akhirnya memilih untuk kembali ke rumah mereka di kota Y, El langsung menemui pemilik rumah yang berada tepat di seberang rumah Kiara.


Berkat kepiawaiannya dalam bernegosiasi akhirnya El berhasil meyakinkan pemilik rumah untuk mengontrakkan rumahnya padanya hanya untuk dua bulan ke depan selama ia berada di sana sebelum El kembali ke kotanya.


El bahkan rela asistennya Seno yang menempati apartemen miliknya dan ia lebih memilih mengontrak rumah di daerah yang sama dengan tempat tinggal Kiara hanya untuk bisa dekat kembali dengan wanita itu.


Baginya tidak cukup hanya di kantor saja, karena Kiara selalu menjaga jarak dan bersikap seperti layaknya karyawan pada atasannya bila berhadapan dengannya di sana.


Tok tok ...


El menoleh mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar cukup keras.


El mengerutkan kening, hal penting apa yang membuat asistennya itu bergegas mendatanginya di rumah.


“Masuk saja, No. Gak dikunci kok,” sahut El sambil memakai bajunya kembali.


“Permisi Tuan, Saya bawa laporan yang Tuan minta kemarin.” Seno menyerahkan dua bendel berkas di tangannya pada El.


“Apa Kamu sudah pergi ke rumah lamanya dan mendatangi rumah sakit pamannya dirawat?”


“Sudah Tuan. Dan Tuan pasti terkejut kalau tahu siapa orang yang selama ini bersama dengan nona Kiara dan juga kebenaran tentang kelahiran putranya.”


El perlahan membuka lembar demi lembar berkas di depannya itu, membaca dengan saksama hingga tak ada satu kalimat pun yang terlewatkan.


“Jadi ... Edgar yang selama ini bersama Kiara,” gumam El lirih, lalu menutup berkas di hadapannya. “Jadi dia papanya Rio,” ujarnya lagi dengan nada tak percaya.


El mengepalkan tangan kuat, menepis kuat berkas di depannya hingga jatuh berserakan ke lantai kamar. Marah dan kecewa jadi satu mengetahui fakta yang baru saja diketahuinya.


“Jadi benar ternyata, mereka berdua memang berhubungan di belakangku. Dasar pengkhianat! Mereka semua sama saja, berani mengambil keuntungan di saat aku sedang mengalami amnesia. Papa, Raisha, dan kini Ed sahabat yang sudah kuanggap saudaraku sendiri.”


“Tuan, bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya.” Seno berjongkok memunguti berkas yang jatuh di lantai, belum semua selesai dibaca tapi lelaki muda di hadapannya itu sudah kepalang emosi.


“Kamu tidak perlu membela mereka, No!” Ed menunjuk wajah Seno, tertawa getir menggebrak meja. “Aku pikir dia orang baik, ternyata Aku salah menilainya. Aku harus mendengar penjelasan langsung darinya,” ujar El lagi lalu bergegas mengambil ponselnya bersiap menghubungi Ed.


Seno menghela napas, kalau sudah emosi begini ia seperti melihat kesamaan karakter antara El dengan papanya.


“Tuan harus baca berkas ini semuanya, Tuan hanya membaca sebagian saja.”


Seno kembali menyerahkan berkas dari tangannya, bendel pertama ia singkirkan karena telah dibaca tuannya. Ia yakin setelah membaca semuanya, El akan berterima kasih padanya dan meralat ucapannya.


El meraih berkas di tangan Seno, dan kembali duduk di sofa. Dan beberapa saat kemudian matanya melebar lalu menatap ke arah Seno, dengan tangan gemetar ia memegang kuat berkas di tangannya.


“Ini tidak mungkin, Aku harus menemui Kiara dan memintanya untuk menjelaskan semuanya. Siapa ayah kandung Rio!”


••••••••