You are the Reason

You are the Reason
Bab 22. Drop



Puk puk ...


“Mas,” suara tepukan ringan tangan Rey di bahu Bian, menyadarkan Bian dari lamunan panjangnya.


“Ya,” sahutnya pelan seraya mengangkat wajahnya, menoleh sekilas pada Rey lalu kembali menatap El lagi.


“Aku balik kantor dulu,” ucap Rey sambil melihat arloji di tangannya.


“Silah kan, Rey. Biar Aku yang akan menemani El di sini sambil menunggu mamanya datang,” sahut Bian, masih terus menatap El.


Rey tersenyum maklum, kemudian bergegas keluar ruangan meninggalkan Bian menunggui anaknya.


Sepeninggal Rey, perlahan tangan Bian terulur ingin mengusap rambut di kening El. Tapi keinginan itu terhenti tiba-tiba saat matanya melihat ujung jemari El bergerak-gerak.


Bian memejamkan matanya dan membukanya cepat, melotot melihat kembali pada jemari El yang kini berhenti bergerak. Bian mengangkat wajahnya, terkesiap melihat mata El mengerjap.


“El!” seru Bian tersenyum lega melihat El sudah sadarkan diri, lalu secepatnya menekan tombol yang ada di atas kepala El. “Dokter, segera kemari. Anak saya sudah sadar dari komanya!”


Tidak lama kemudian dokter Reyhan datang tergesa-gesa bersama dua orang perawat dan langsung memeriksa keadaan El.


Sementara itu di tempat lain pada waktu yang bersamaan, Kiara sedang panik melihat pamannya yang terus-terusan batuk sambil mengerang kesakitan memegangi dadanya.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ucap Kiara lalu berlari masuk ke dalam kamar mengambil mantel untuk pamannya.


“Uhuk uhuk huekk!”


“Astagfirullah, Paman!” Kiara terkejut bukan main saat mrlihat pamannya memuntahkan darah segar dan menahannya dengan tangannya.


Tiin tiin!


Di luar rumah sudah menunggu taksi yang akan membawa mereka ke rumah sakit.


“Ya, tunggu sebentar ya Pak!” teriak Kiara masih sibuk membersihkan bekas muntahan di tubuh pamannya.


•••••


Ya Allah, hanya padamu aku memohon. Berikan aku kekuatan, kesabaran, keikhlasan dalam menjalani setiap ujian yang Engkau berikan. Aamiin.


Kiara memejamkan matanya, mengucap doa dalam hati duduk bersandar pada tembok rumah sakit yang dingin. Menenangkan diri sejenak sembari menunggu dokter selesai memeriksa keadaan pamannya.


Tubuhnya lelah luar biasa, kaki dan tangannya terasa pegal. Bibirnya kering sedari tadi tidak tersentuh air dan perutnya lapar tidak ada makanan yang masuk. Garis di bawah matanya menghitam, wajahnya kuyu kurang tidur. Baju yang dikenakannya kotor terkena noda darah, penampilannya benar-benar mengenaskan.


Beberapa hari terakhir ini Kiara disibukkan dengan kesehatan pamannya yang kembali drop, hingga keesokan harinya ia terpaksa kembali harus meminta ijin untuk tidak bekerja pada bosnya itu yang sepertinya sudah mulai bosan mendengar semua alasannya.


Sebelum pergi, Kiara meminta bantuan pada Kinan untuk menjaga pamannya sebentar sementara ia keluar rumah.


“Kamu itu masih karyawan baru di sini, tapi sudah bolak-balik bolos kerja. Saya tidak bisa terus-terusan kasih Kamu ijin, anak-anak yang lain bisa iri dan mengira Saya mengistimewakan Kamu.”


Subrata menatapnya tak suka, baru sebulan bekerja tapi Kiara sering bolos tak masuk kerja dengan alasan yang sama.


“Maafkan Saya, Pak. Bukan maksud Saya untuk bermalas-malasan atau sengaja mencari-cari alasan supaya tidak masuk kerja, tapi Saya melakukannya karena memang dalam keadaan mendesak. Dan Saya tidak bisa meninggalkan paman Saya yang sakit sendirian terlalu lama di rumah saat ini.”


“Bukannya sekarang Kamu sedang tidak berada di rumahmu dan meninggalkan pamanmu sendirian?” sindir Subrata.


Kiara tersenyum kecut, percuma rasanya dari tadi ia bicara panjang lebar menjelaskan alasannya tapi sama sekali tidak dianggap. Ia harus segera kembali ke rumah.


“Maaf, Saya harus segera pulang.”


“Baik! Saya kasih Kamu ijin hari ini. Tapi besok pagi Kamu harus kembali bekerja. Saya tidak mau mendengar alasanmu lagi, paham!”


Kiara lega mendengarnya, yang penting baginya saat ini ia bisa secepatnya membawa paman ke rumah sakit.


“Terima kasih atas pengertian Bapak. Saya permisi pulang dulu,” ucap Kiara yang langsung bergegas pergi.


“Ck, ada-ada saja. Aku pikir datang pagi mau bantu buka pintu ternyata malah ijin bolos kerja lagi,” rutuk Subrata sambil mendorong pintu besi tokonya.


Setibanya di rumah, Kiara melihat pamannya yang kembali batuk hingga muntah darah.


“Astagfirullah!”


Kinan yang berdiri menyandar di sudut rumah, wajahnya memucat. Ia tidak berani mendekat, sedari tadi hanya memperhatikan paman dari jauh. Setiap mendengar paman terbatuk, wajahnya semakin bertambah pucat.


Kiara menyadari kesalahannya, bergegas mendekati bocah perempuan itu dan langsung memeluknya.


“Maafkan mbak Kia, ya. Kinan harus lihat keadaan kakek seperti ini,” ucap Kiara.


“Kinan mau pulang,” ucap Kinan dengan suara bergetar, melihat paman dari balik bahu Kiara.


“Iya, sekarang Kinan boleh pulang. Terima kasih ya sayang, sudah bantu mbak jaga kakek.”


Kinan menganggukkan kepala, “Apa kakek akan baik-baik saja?”


Kiara balas mengangguk, “Pasti, kakek pasti baik-baik saja.”


Setelah kepulangan Kinan, Kiara kembali sibuk dengan pamannya. Membersihkan bekas muntahan, mengganti baju yang dipakai paman dan menelepon taksi yang akan membawa mereka ke rumah sakit.


••••••••